Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 74 Jalan-Jalan ke Jawa Timur


__ADS_3

Selama aku kerja di Tangerang sebagai programmer. Aku berkesempatan untuk melakukan perjalanan panjang dengan teman-temanku. Tujuan tempat pertama kali kami pergi adalah Daerah Jawa Timur. Awalnya ini dimulai ketika aku bersama dengan teman-temanku kumpul di salah satu rumah temanku di kampung halaman, ia bernama Zul.


“Bro, nanti semuanya datang ya. Harus datang loh. saya sudah kangen sekali.” Ucap salah satu teman kami, Jiran.


Jiran merupakan salah satu temanku dari SMA. Kami memang beda tempat kuliah, namun beruntungnya komunikasi masih jalan terus. Hal ini juga karena kami dahulu merupakan ketua dan juga wakil dari ekskul ROHIS saat SMA. Jiran sebagai ketua dan aku sebagai wakilnya. Setahuku saat ini ia bekerja di salah satu sekolah daerah Sukabumi sebagai tenaga pengajar.


Chatnya ini cukup membuat kami penasaran. Karena selama ini, ia jarang sekali ngajak kumpul bareng atau membalas pesan kami di chat. Tapi kali ini, ia malah yang inisiatif untuk mengajak kumpul. Pada akhirnya, kami memutuskan untuk berkumpul di rumah Zul karena hanya rumahnya yang saat ini ideal untuk menerima tamu (Karena keadaan rumah sedang kosong).


Ketika semua orang sudah berkumpul, kami memulai obrolan kami. Dari awal sampai akhir, kami semua sangat bersemangat membahas mengenai topik jodoh. Baik dari sisi agama, maupun dari segi logika secara normal antar manusia. Tiba-tiba, di akhir sesi pembicaraan, JIran memberikan sebuah undangan pernikahan kepada kami.


"jangan lupa ya Guys, nanti datang ke acara nikahanku. Tanggal dan tempatnya bisa lihat di undangan" Ucap JIran sambil mengeluarkan undangan pernikahan dari dalam tas yang ia bawa.


Undanganya cukup indah, dengan warna dominan hitam. Namun undangan kami hanya dibagikan satu untuk semua. Tidak masalah sih, karena toh, yang penting undangan ini nantinya cukup untuk kami semua masuk ke dalam resepsi.


"Waw! selamat ya Jiran. Semoga bisa menjadi keluarga yang samawa"

__ADS_1


Kami semua satu per satu mengucapkan salam kepada Jiran. Karena ia adalah orang pertama dari rombongan kami yang akan menjalani kehidupan yang baru. Salah satu teman kami, Roja. Sebenarnya sudah mengetahuinya. Namun ia menyembunyikan nya atas permintaan Jiran. Mendadak kami semua menjadi kembali bersemangat dan langsung ngobrol mengenai pernikahan Jiran hingga kami menginap di rumah Zul.


Tentunya, kami langsung mengajak semua teman yang bisa berangkat untuk menghadiri pesta pernikahan teman kami yang merupakan ketua ROHIS pada zaman kami SMA dulu itu. Alhamdulilah setelah rencana beres, jumlah orang yang akan berangkat adalah sebanyak 5 orang. Aku, Rendra, Zul, Roja, dan Ade.


Kami berlima memutuskan untuk berangkat dengan kereta. Dilihat dari durasi perjalanan, bisa dipastikan kami akan capek sekali nanti di jalan .Namun aku tetap semangat, karena ini momen langka menghadapi teman nikahan di luar kota. Kalau yang cuma di sekitaran kampung halaman mah, sudah sering aku datangi. Semoga saja, segera aku bisa menyusul teman-temanku yang lain untuk menempuh hidup baru.


Saking semangatnya, kami baru pulang dari rumah Zul setelah menginap dan menjalankan shalat subuh di rumahnya. Memang banyak sekali hal yang bisa kita obrolkan kalau sudah ngumpul seperti ini. KEbetulan momen yang pas dan Zul tidak keberatan kalau kami semua menginap satu malam di rumahnya. Aku tidak sabar menantikan hari keberangkatan kami ke acara nihakan Jiran.


*Satu Hari Sebelum Pernikahan Jiran*


Dari awalnya saja, aku sudah mulai mendapatkan masalah. Supir yang seharusnya mengantar kami tiba-tiba tidak bisa mengantar karena mendadak sakit. Awalnya aku sempat pasrah dan berniat untuk tidak jadi berangkat. Karena tidak mungkin aku nyetir sendiri karena nanti mobilnya tidak ada yang mengantar balik. Kemudian kalau yang nyetir bapak dan ibu, mereka berdua nantinya akan capek melakukan perjalanan yang cukup jauh.


Pada akhirnya, beruntung kami menemukan supir dan berhasil mengantar aku dan Roja berangkat ke Stasiun Rawa Buntu. Sebelum kesana, kami mampir ke kontrakanku terlebih dahulu. Karena aku ingin membawa beberapa baju dan sepatu dari sana. Dari kontrakanku di tangerang, barulah kami pergi ke stasiun Rawa Buntu.


Saat sampai disana, Zul sudah menanti kami dan sempat protes karena datangnya terlambat dari jadwal .Aku dan Roja hanya bisa tertawa saja karena sempat nyasar di jalan. Supirnya tidak tahu jalan, kemudian aku tidak bisa membuka aplikasi maps karena internet error. Kemudian Roja sendiri masih ditelpon atasan sehingga tidak bisa melihat jalan. Karena itulah kami agak telat sampai ke stasiun.

__ADS_1


Kami akhirnya melanjutkan perjalanan untuk melaksanakan shalat jumat di masjid yang katanya terbesar di Jakarta itu. Aku cukup takjub karena dari stasiun, aku bisa ke masjid ini melewati JPO.


“Gimana Ray, udah pernah ke masjid ini belum?”


“Belum pernah bro, keren sih ini tempatnya.” Ucapku sambil melihat masjid Istiqlal secara keseluruhan.


Sayangnya, aku tidak sempat menikmati pemandangan masjid karena kami dikejar waktu. Waktu jumatan sebentar lagi akan tiba. Tentunya kami harus mengambil wudhu terlebih dahulu sebelum melaksanakan shalat Jumat. Karena masjid ini cukup besar, kami harus naik tangga karena tempat shalat yang ada di lantai satu semuanya sudah penuh.


Ketika wudhu sudah selesai, kami pergi menuju shaft yang masih kosong untuk melaksanakan shalat. Sayangnya, kami tidak membawa sajadah sehingga shalat jumat kali ini langsung kepala menyentuh lantai tanpa ada alas. Iya juga ya, kenapa gak kepikiran untuk membawa sajadah dari awal?


Selesai jumatan, kami langsung pergi ke tempat stasiun kereta kami akan berangkat ke Jatim. Dari masjid, kami bertiga menggunakan ojek online untuk pergi secara bergantian ke tempat itu. Jaraknya tidak terlalu jauh, kira-kira tidak sampai 10 menit perjalanan yang kami tempuh untuk sampai ke stasiun.


Untungnya kami tidak telat sampai ke sana. Aku masih sempat untuk membeli beberapa bekal, karena aku, Zul, dan Roja tidak sempat untuk mencari makan siang. Kami semua terburu-buru untuk tidak telat naik kereta. Untungnya di stasiun menyediakan banyak tempat membeli makan, kami bisa membungkusnya untuk makan di jalan.


“Kereta … akan berangkat ke Jatim. Penumpang yang akan menaiki kereta diharapkan untuk segera naik. Kereta sebentar lagi akan berangkat.”

__ADS_1


Mendengar pengumuman stasiun, kami segera bergegas untuk menuju kereta yang akan kami tumpangi. Kami sempat lari-larian karena takut akan terlambat. Bisa repot nantinya kalau kami telat menaiki kereta. Apalagi aku tidak enak karena merupakan salah satu orang yang cukup telat datang ke stasiun kami janjian ngumpul. Karena aku, Zul, dan Roja harus melalui perjalanan yang cukup jauh sebelum sampai ke Jakarta.


__ADS_2