Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 37 Liburan di Jogja 2


__ADS_3

"Ambil bukunya satu atau dua saja. Jangan banyak-banyak" Ucap ibuku kepada semua anaknya.


Karena aku sudah kerja, aku tidak mendapatkan jatah dibelikan buku. Kalau ada buku yang aku butuhkan, tinggal beli sendiri. Namun karena orangtua menawarkan bayarin buku. Badanku secara otomatis bergerak ke satu rak buku.


Bukan rak buku komik, kali ini aku memilih untuk membeli buku untuk tes pegawai negeri. Saya masih bingung dengan negeri ini, tes masuknya susah tapi pas udah masuk malah kerjanya ada yang tidak benar. Apakah mereka merasa ada kekurangan dalam penghasilan sehingga lebih malas saat bekerja?


Tentunya tidak semua staff, hanya beberapa OKNUM saja yang melakukanya. Semua bidang rata-rata memiliki oknum-oknumnya tersendiri. Entah dari staf kelurahan hingga provinsi. Mungkin saja guru-guru sekolah negeri yang ada di setiap wilayah.


Aku ingat dulu pernah ada guru yang kalau ngasih ulangan selalu soal olimpiade. Alhasil banyak murid yang remed. Namun kudengar, ia juga membuka les atau bimbel materi yang ia ajar. Karena Itulah biasanya yang lulus dari ujian, hanya murid yang mendapatkan les darinya. Entah itu termasuk curang atau tidak. Pada masa itu aku hanya murid SMA biasa yang masih polos dan belum tahu dunia luar.


Kehadiran OKNUM ini tidak hanya di dalam pegawai negeri. Mungkin saja ada juga di tempat lain. Namun aku harap tidak pernah berurusan dengan mereka. Allah maha adil, pasti kalau sudah waktunya, mereka juga akan mendapatkan ganjaran dari apa yang mereka buat.


Seperti kata pepatah "apa yang kau tanam, itulah yang akan kau tuai. " Yakinlah suatu saat nanti, tindakan buruk itu akan kembali kepada pelakunya. Entah datangnya akan segera, atau suatu saat nanti di masa depan.


"Bu, aku beli ini ya. Siapa tahu nanti ada tes masuk pegawai negeri. " Tanyaku sambil memperlihatkan buku yang aku pilih.


"Boleh nak, jangan lupa nanti dibaca ya. "


Setelah memasukkan buku ke kantong belanja. Aku pergi ke lokasi adiku berada untuk melihat apa yang mereka beli.


Kalau kalian belum tahu, toko gra*edia ini biasanya sudah ada tas belanja sendiri. Biasanya berbentuk hitam atau merah dengan logo toko mereka. Kalian yang sering membeli banyak buku tidak perlu repot membawanya dengan tangan kosong.


Namun tentunya pastikan kalian membawa barang sesuai dengan kemampuan kalian. Karena kalau tidak, nanti malah kerepotan membawanya saat sudah sampai di rumah. Buku itu kalau bertumpuk, beratnya bukan main. Mungkin benar kata pepatah “ilmu itu mahal harganya dan berat isinya”.


Pertama-tama aku menuju ke tempat Yana. Kali ini ia pergi ke rak novel. Banyak novel Indonesia maupun terjemahan yang ada di rak ini. Karena adikku yang satu ini cewek, seperti biasa ia membeli novel sesuai dengan gender dan usianya saat ini. Sayangnya genre yang beli agak kurang cocok dengan seleraku. Sehingga kemungkinan untuk aku meminjam novel yang ia beli cukup sedikit.


Tidak mungkin ku dan orang tua membiarkan adikku membeli novel erotis di umur remaja. Akan fatal akibatnya kalau kita menikmati sesuatu yang tidak sesuai dengan umur kita. Setelah memastikan buku apa yang Yana beli, aku melanjutkan pergi ke arah ibu.

__ADS_1


Ibu seperti biasa pergi ke rak masak memasak. Meskipun pada akhirnya ia tidak membeli buku apapun, karena ibuku rata-rata malas masak. Akibat sibuk bekerja pagi hingga siang hari.


Ketika sudah pulang kerja, ibu hanya masak ketika badanya tidak capek. Masa iya orang tua capek kerja kita paksa masak ini dan itu. Hal itulah yang membuat ibuku jarang membeli buku masak. Namun biasanya ketika ia mulai masak, masakannya pasti enak. Aku menantikan momen seperti itu setiap harinya. Daripada beli di luar, lebih enak masakan ibu pastinya.


Bapak seperti biasa pergi ke berbagai tempat. Kali ini ia sedang tertarik untuk bisnis bengkel. Karena itulah ia pergi ke rak genre otomotif. Aku hanya bisa tersenyum saja melihat bapak. Biasanya ia hanya beli saja tapi lupa untuk dibaca. Sudah ada beberapa buku yang kulihat di rumah masih terbungkus plastik dengan rapi. Sepertinya belum bapa sentuh sama sekali.


Terakhir aku melihat adikku Lamda, ia juga sama seperti Yana pergi ke genre novel. Namun novel yang ia pilih cukup berani. Dilihat dari cover dan tegal buku. Kemungkinan besar buku ini adalah kisah dewa dewi Yunani.


Aku saja heran kenapa ia memilih buku seperti ini. Padahal biasanya saat membuka Youtube ia hanya melihat kalau tidak anime ya youtube tentang game. Kenapa tiba-tiba membalikkan buku seperti ini. Mungkin hanya perasaan sesaat saja ia memilih novel ini. Kulihat buku yang ia beli cukup tebal isinya.


Semoga saja buku ini tidak memiliki rating dewasa. Karena cerita mengenai mitologi bisa saja diberikan bumbu bumbu erotis untuk membuat pembaca nya lebih tertarik. Kreativitas manusia kadang hampir tidak mengenal batas sehingga kebablasan.


Adikku Arip sama denganku. Tidak memilih buku komik namun ia mencari buku untuk menunjang kuliahnya.Karena ia kuliah di jurusan teknik, dia membeli beberapa buku yang kelihatan sulit sekali untuk dipahami. Ia tidak getol diriku untuk masalah komik.


Biasanya dulu aku yang selalu memilih komik apa yang akan dibeli. Arip hanya ikut baja saja kalua penasaran. Hampir tidak pernah ia membeli komik atas inisiatif sendiri, berbeda denganku.


Setelah semuanya memilih buku sesuai pilihan, kami gabungkan ke dalam satu tas kemudian mengantri di kasir. Daripada repot harus ngantri berkali-kali, lebih baik gabungkan menjadi satu tas dan bayar secara bersamaan.


Generasi cashless pastinya cukup senang menggunakan fitur ini. Tidak perlu repot membawa uang kertas dalam jumlah banyak di dalam dompet. Hanya tinggal bayar pakai kartu saja. Entah apakah suatu hari aku akan mengikuti jejak mereka. Namun sepertinya, itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat.


 "Selamat datang di Gra*edia, ini saja kak buku yang mau dibeli." Tanya petugas kasir dengan ramah dan senyum


"Ya, cukup itu saja" Aku membalas senyumnya dan memperhatikan dengan seksama proses scan barcode buku.


Petugas kasir melakukan scan barcode yang ada di dalam buku satu per satu. Barang di dalam tempat ini semuanya sudah memiliki barcode, sehingga tidak perlu menghitung nilai barang secara manual. Selesai memeriksa semua buku, harga total dari buku yang kubeli muncul di mesin kasir.


"Totalnya … rupiah. Mau bayar tunai atau dengan kartu."

__ADS_1


"Tunai saja mbak" jawabku sambil memberikan uang sesuai dengan jumlah yang tertera.


Kami langsung bergegas untuk pulang setelah selesai membeli buku yang diinginkan. Beban dari buku yang kami beli cukup berat juga ternyata. Apakah semua buku akan dibaca oleh orang yang membelinya?


Perjalanan di Jogja itu cukup lucu dan menarik.Kadang berangkat nya cepat, tapi jalan pulang lebih lama daripada saya berangkat. Hal ini karena lalu lintas Jogja cukup kompleks. Beberapa jalur ada yang hanya satu arah dan juga ada banyak jalan tikus.


Kalau kalian sudah hafal jalan Jogja, pasti lebih mudah saat pergi kemana-mana. Untuk jalan kota Jogja aku kurang terlalu hafal. Karena aku lebih sering nongkrong di bagian Utara Jogja. Sehingga jarang pergi ke pusat kota. Meskipun aku sudah punya motor sendiri saat itu. Hafal sekali diriku mengenai daerah utama Jogja.


Kami ingin pulang lebih cepat karena adik-adik ingin segera membaca buku yang mereka beli. Sedangkan aku hanya ingin bermain seperti biasa saja. Karena di dalam laptop masih ada beberapa game yang belum aku mainkan.


Saat di jalan aku melihat ada banyak turis yang lewat kesana dan kemari. Dengan warna kulit yang berbeda dengan orang Indonesia dan pakaian yang lebih terbuka daripada penduduk lokal.


Entah apa daya tarik Jogja bagi bule untuk liburan ke sini. Apakah mereka ingin tahu sejarah Jogja ? Atau karena adanya keraton Jogja? Sayang aku tidak mempunyai teman bule sehingga hanya bisa menerka-nerka saja. Kalau Bule di bali, mereka memang mengincar pantai untuk tempat berjemur. Karena memang matahari di sana lebih panas daripada di Jogja.


Setelah sampai rumah, kami semua makan malam dan melanjutkan kegiatan seperti biasa. Kadang ngobrol dengan nenek sambil ngumpul di satu ruangan. Selesai makan malam, aku lanjut main sebentar sebelum tidur.


*Keesokan harinya*


"Papah, mamah, mau jalan-jalan ke mol" Adikku Yana tiba-tiba ingin pergi ke mol.


Berbeda dengan mol di kampung halamanku. Di Jogja molnya rata-rata lebih besar dan bagus. Mol merupakan tujuan kami pergi setiap mampir ke Jogja. Apalagi sekarang mol di Jogja sudah cukup banyak. Karena di keluarga kami, tidak ada yang suka jalan-jalan ke tempat bersejarah seperti museum atau tempat wisata.


Hitungan kasar kira-kira sudah ada 5 mol di Jogja. Pada saat aku kuliah dulu, semua mol yang ada sudah pernah aku datangi. Beberapa ada yang rutin aku datangi, ada juga yang jarang aku masuki.


Biasanya yang sering aku datangi adalah mol yang memiliki bioskop di dalamnya. Namun bukan sembarang bioskop, tapi bioskop yang menayangkan film-film jepang. Terutama movie anime yang belakangan sudah mulai masuk ke Indonesia. Masa yang indah saat menonton anime tersebut bersama dengan adik kelasku, Gusti.


Salah satu alasan aku ingin cari kerja di Jogja adalah karena bioskop itu tidak ada di kotaku bekerja sekarang. Namun aku rasa hal itu tidak perlu menjadi masalah. Aku yakin suatu saat nanti, film secara legal bisa ditonton secara online. Jika waktunya tiba, tinggal masalah apakah rumahku memiliki koneksi internet yang stabil atau tidak.

__ADS_1


Melihat adik yang ingin jalan-jalan. Semua anggota menyiapkan diri untuk pergi ke luar. Mulai dari mandi, pakai baju yang bagus, dan hal-hal lainnya.


Kami baru berangkat setelah semuanya siap. Kurang lebih kami berangkat ketika sudah shalat Dzuhur dan sebelum makan siang. Karena kami ingin sekalian makan siang di mol. Kira-kira akan makan apa ya di sana? Seharusnya banyak sekali pilihan kuliner yang bisa kita pilih di pusat perbelanjaan. Namun harganya juga bukan main, harus menyiapkan ongkos yang cukup untuk menikmatinya.


__ADS_2