Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Chapter 97 Bapak Jatuh Sakit


__ADS_3

Masih dalam masa yasinan 7 harian mbah kakung. Aku setiap malam habis selesai menjalankan sholat Isya. Pergi ke tempat almarhum untuk ikut doa yasinan. Berdoa berjalan lancar meskipun hari kedua dan seterusnya pengunjung masih ramai seperti biasa. Awalnya aku merasa tidak akan ada masalah lagi selain mengurus pengajian ini.


Karena akibat melakukan kegiatan ini, jam tidur saya agak sedikit terganggu. Apalagi dengan asap rokok yang membuatku semakin tidak nyaman saat mengaji. Untungnya aku pakai masker untuk protokol kesehatan, sehingga asap rokok tidak terlalu tercium. Aku sangat benci rokok, karena itulah aku sampai sekarang tidak pernah menghisap benda itu.


Hal ini terjadi karena saat kecil mungkin aku sempat trauma dijejali temanku rokok sehingga dalam alam bawah sadar, aku tidak menginginkan kembali menghisap benda itu. Entah apa yang terjadi dengan teman SD ku dulu yang pernah menjejali aku dengan rokok. 


Rokok ini juga menyebabkan beberapa masalah kesehatan, paling tidak itulah yang dikatakan banyak jurnal. Meskipun para perokok itu mempunyai beribu macam alasan untuk tetap mengkonsumsi benda yang mengandung nikotin itu. 


Tetap saja yang lebih absolute ya merokok itu menguras kantong. Itu lebih tidak terbantahkan lagi! Apalagi bagi kalian yang untuk pendapatan dan pengeluaran sudah pas pasan


Masalah kesehatan menjadi cukup personal bagiku apalagi karena akibat merokok terlalu banyak…Kesehatan bapak menjadi drop.


Seusai melakukan yasinan, aku kembali melakukan aktivitasku seperti main hingga agak larut malam. Sebelum tidur, aku sempat meminum air terlebih dahulu dan lihat kalau bapak tidur di kursi ruang tamu. Memang pernapasan bapak sudah agak bermasalah sehingga kalau tidur dalam posisi telentang, nafasnya sering sesak.


Melihat tidak ada yang aneh, aku kembali ke kamar dan mulai tidur untuk malam ini.


*Kriing…kriiing…kriing*


Saat subuh, terdengar suara handphone ku berdering. Sepertinya ada yang sedang berusaha menghubungi diriku. 


‘Tumben ada yang nelpon, jam berapa ini?.... Wah, masih jam lima kok mamah nelpon?’ Ucapku dalam hati karena aku masih setengah tidur dan sempat heran kenapa mamah yang biasanya serumah menghubungiku melalui telepon.


“Assalamualaikum”


“waalaikumsalam. Nak Ray sudah bangun? nanti pagi tolong belikan mamah makanan dan bawakan beberapa minuman ya. Papah tadi pagi ngedrop sekarang lagi di rumah sakit.”

__ADS_1


Karena aku masih belum beres mengumpulkan nyawa, aku bertanya kepada ibu “Bapak siapa?”


“Bapak kamu lah! bapaknya siapa lagi!”


Mendengar suara ibu yang mengatakan kalau bapak sakit. Sontak aku langsung melompat dari kasur kemudian mengecek siapa saja yang ada di rumah. Aku cek memang Ibu dan bapak sudah tidak ada di rumah. Mobil juga sudah tidak ada. Sepertinya memang ibu dan bapak sedang di rumah sakit.


“Adik-adik, ayo bangun. Doain papa nya biar cepat sembuh.”


Setelah mendapatkan arahan untuk membeli beberapa barang, aku membangunkan semua adikku untuk melaksanakan shalat sekaligus mendoakan kesembuhan bapak. Pada saat ini, aku belum tahu apa penyebab bapak drop. Namun dari keterangan yang ibu berikan, sepertinya bapak sulit bernafas sehingga paru parunya sesak. Entah seperti apa kondisinya sekarang.


Aku memastikan adik-adik sudah bangun, kemudian aku langsung bersiap-siap dan berangkat ke rumah sakit seorang diri. Karena adik-adik yang lain harus menjaga rumah. Di perjalanan, aku mampir ke suatu tempat untuk membeli nasi uduk.


“Beli berapa dek nasi uduknya.”


“tiga bu ya. Lauknya pakai telor sama gorengan”


Saat sudah sampai di rumah sakit, aku kembali mencoba menghubungi ibu.


“Halo, ibu lagi di mana? aku sudah sampai rumah sakit ini?”


“Di bagian UGD Ray, masuk saja terus nanti ke sebelah kiri.”


Posisi diriku saat ini sudah berada di parkiran rumah sakit untuk motor. Karena tempat parkir motor dan mobil dipisahkan di rumah sakit ini. Rumah sakit yang aku kunjungi merupakan salah satu rumah sakit BUMN yang sering sekali digunakan oleh keluargaku. Mbah juga sebelum dibawa ke Bogor di rawat di sini. 


Setelah bertanya kepada satpam, akhirnya aku menemukan dimana ruang UGD berada. Aku melangkahkan kakiku dari parkiran menuju tempat tersebut. Tidak terlalu jauh, paling hanya 3-5 menit. Saat sampai di UGD, aku langsung mencuci tangan dengan hand sanitizer.

__ADS_1


Sebelum adanya pandemi, biasanya tidak ada tempat mencuci tangan di dekat pintu masuk. Sekarang sepertinya sudah menjadi kewajiban untuk setiap tempat umum terdapat tempat cuci tangan atau hand sanitizer di pintu masuk. Aku akhirnya menemukan bapak dan ibu di ruang tunggu UGD. Tante Yeni juga hadir di sini untuk mengecek keadaan bapak. Secara, Tante Yeni adalah dokter sehingga ia orang yang tepat untuk tanya-tanya mengenai kondisi bapak. Kebetulan ia juga masih berada di sini untuk mengikuti yasinan mbah. 


“Akhirnya datang juga, sudah bawa nasinya Ray?”


“Sudah, ini bu nasinya, mau taruh di mana?” tanyaku karena bingung mau naruh makanan di sebelah mana. 


Ibu menunjuk ke arah meja kemudian aku menaruh semua barang yang aku bawa di sana. Kemudian aku melihat kondisi bapak yang masih terkulai lemas di ranjang ruang tunggu rumah sakit. Ruangan ini berisi dua kasur dan hanya ditempati oleh bapakku untuk saat ini. Aku menanyakan kondisi bapak sambil memegang tangannya yang sedang lemas itu.


“Jadi begini Ray, kayaknya bapak kamu itu kelelahan habis mengaji. Kemudian karena merokok terlalu banyak, sehingga berpengaruh ke paru-parunya”


Penjelasan detailnya lebih panjang dari itu. Namun intinya yang aku tangkap adalah akibat kelelahan dan kebanyakan merokok, kondisi bapak menjadi seperti ini. Memang dari sebelum kejadian ini bapak sudah sering banyak minum obat dan suntik insulin. Kemudian akibat kejadian beberapa hari ini, mungkin badan bapak sudah tidak kuat dan akhirnya drop. 


Setelah selesai mengurus proses perawatan, aku keluar ruangan untuk menikmati sarapan yang tadi aku beli. Karena tidak enak kalau makan di sana, lebih bagus makan di luar untuk mendapatkan udara segar. Sarapan kali ini aku bersama dengan Tante Yeni dan juga ibuku. Bergantian mereka sarapan sambil menjaga bapak.


Ketiak makan, aku juga sempat melihat ibu berbicara dengan calon pasien UGD yang ditolak. Saat aku tanya lebih lanjut, ternyata ia ditolak hanya karena kondisi pasien belum terlalu parah. Entah seperti apa detail masalahnya namun dari yang aku tangkap, masalahnya ada di perut. Susah buang air besar sehingga perutnya kesakitan namun ia tidak bisa mengeluarkannya. 


Makan juga jadi takut karena nanti takutnya gak bisa keluar. Hal ini terjadi akibat dari pola makan yang berantakan. Bisa juga karena stress. Memang dari yang aku baca, sumber dari penyakit kebanyakan adalah stress. Karena itulah kita perlu melakukan kegiatan yang menyenangkan dan menghindari kegiatan  yang bisa menimbulkan banyak pikiran pikiran negatif. 


Selesai sarapan, aku menanyakan apakah ada hal lain yang bisa aku bantu. namun kata ibu dan tante Yeni, sekarang aku pulang saja dulu, nanti siang baru kalau butuh apa-apa. Akan dihubungi lagi nanti. Mendengar hal itu, aku pamitan dengan ibu, tante Yeni, kemudian juga dengan bapak. Barulah aku kembali pulang ke rumah.


“Gimana mas keadaan papah?” Tanya Arip dan Yana keadaku


“Alhamdulilah, sekarang sih mendingan. Katanya sih dirawat karena nafasnya sesak.”


Aku menjelaskan detail penyebab bapak sakit sebanyak yang aku ingat. Setelah selesai menjelaskan, aku menambahkan kalau nanti mungkin setelah ini, akan ada lagi yang harus pergi ke sana untuk mengantarkan barang-barang keperluan menginap lainnya. Namun untuk berikutnya, giliran Arip dan Yana yang mempersiapkanya.

__ADS_1


Sedangkan aku melanjutkan istirahat karena pagi ini sudah melakukan banyak hal. Semoga saja bapak cepat sembuh. Karena meskipun kami tidak begitu akrab, tidak mungkin ada anak yang tega melihat bapaknya dalam kondisi lemah dan sakit seperti itu. Cepat sembuh, bapaku yang hebat dan perkasa, Aamiin. 


*bersambung*


__ADS_2