Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 120 Pernikahan Pak Dani


__ADS_3

“Hwah…Sudah pagi ya?” Aku terbangun dari tempat tidurku dan melihat kalau sekarang sudah waktunya subuh.


Seperti biasa, aku mengambil wudhu kemudian menjalankan ibadah seperti biasa. Setelah semua itu selesai, aku ngobrol sebentar dengan orang yang ada di rumah. Lalu aku kembali ke meja kerjaku yang ada di kamar. Laptop dinyalakan sambil aku mengecek apakah ada informasi baru di hpku. Lumayan untuk menunggu booting komputer.


Sudah satu hari berlalu semenjak aku pergi ke Villa. Karena ini hari senin, kami sekeluarga kembali menjalankan aktifitas seperti biasa. Yana dan Lamda sekolah, Arip, ibu, serta bapak pergi bekerja. Sedangkan aku? kembali mencari pekerjaan seperti biasa. Karena statusku saat ini adalah pengangguran.


Ketika berpikir tentang villa, aku teringat melewati satu jalan yang aku lewati saat mengunjungi acara pernikahan pak Dani. Karena saat aku pergi ke acara pesta pernikahan, jalan yang kulewati ada yang sama saat aku pergi liburan ke villa tempo hari.


*Hari pernikahan pak Dani*


Pak Dani merupakan teman baikku saat aku bekerja sebagai guru. Meskipun saat ini sudah tidak terlalu sering kontak karena covid dan juga akibat aku sudah pindah kerja di Tangerang. Aku masih berharap kalau hubungan kami dapat dibilang sebagai teman. Suatu hari, aku mendapatkan undangan dari pak dani saat aku sedang ngantor di tangerang.


“Hm? Ada pesan dari pak Dani? tumben di chat”


[Datang pak Ray, acara pernikahan nih. Saya tunggu ya kedatangannya] Kurang lebih itulah kalimat chat yang disampaikan beserta dengan undangan elektronik.


[Wah, selamat ya pak Dani. Semoga menjadi keluarga Samawa]


Setelah membalas pesan tersebut, aku meluangkan waktu beberapa menit untuk chat dengan pak Dani. Kemudian aku melanjutkan pekerjaanku kembali. Tentunya aku juga mencatat jadwal acara akan diadakan. Bisa repot nanti kalau kelupaan. Nggak enak kalau tidak  datang padahal sudah diundang.


Kurang lebih itulah yang aku lakukan sebelum hari H acara pernikahan pak Dani. Sebelum hari itu tiba, aku sudah stand by berada di rumah agar tidak jauh harus berangkat dari Tangerang ke tempat resepsi diadakan. Aku memutuskan untuk pergi bersama-sama dengan rombongan yang lain. Karena guru-guru juga akan berangkat bareng menuju pernikahan pak Dani.

__ADS_1


Sampai ke tempat ngumpul, aku menyapa seuma guru yang ada di sana.


“Halo, bapak-bapak, ibu-ibu, apa kabar?”


“Eh, ada pak Ray. Sehat pak Alhamdulillah. Ayo masuk.”


Aku masuk ke ruang guru kemudian mulai duduk di sofa. Memang kalau sudah lama tidak mampir ke tempat ini. Ada beberapa perabotan di dalam ruang guru yang berubah, kadang juga ada guru baru yang masuk sehingga ada beberapa wajah baru, dan juga ada kalanya wajah lama sudah tidak terlihat lagi. Karena mereka sudah pindah tempat mengajar atau sudah berhenti bekerja.


Di ruang guru, aku ngobrol dengan beberapa guru di sana sambil menunggu waktu rombongan berangkat. Beberapa menit mengobrol, akhirnya kami semua mulai beranjak dari kursi kami dan mulai berangkat menuju tempat resepsi pak Dani.


“Bagaimana pembagian mobilnya pak?” Tanya salah satu staf guru menanyakan perihal kendaraan. Karena semuanya akan naik mobil bersama dan tidak ada yang naik motor sendirian.


Pembagian tempat duduk dilakukan dengan mobil yang ada. Setelah dilakukan proses ini, terlihat kalau ternyata jumlah supirnya kurang. Mobilnya sih ada, tapi supirnya yang gak ada.


“...Ok. Boleh, Sini yang nyetir” Ucapku sambil mengambil kunci tersebut dan agak gugup dalam hati.


Memang sih aku pernah kursus mengemudi. Namun skill dari sekolah itu tidak pernah aku latih kembali. Sehingga masih belum tahu, kira-kira sebenarnya skor berapa untuk nyetir mobil aku miliki sebenarnya. Kebetulan aku pernah sekolah mobil kopling sehingga kalau untuk menyetir normal, aku bisa melakukannya. Semoga saja medan menuju tempat pak Dani tidak terlalu ekstrem.


Sebelum berangkat, aku menanyakan dengan detail bagaimana rute perjalanan menuju tempat pak Dani. Setelah semuanya beres, semua orang yang akan berangkat satu per satu masuk ke dalam mobil. Aku sendiri sekarang tidak duduk di kursi penumpang, tapi di kursi pengemudi. Jarang sekali aku berada di posisi ini. Biasanya selama ini duduk di kursi penumpang sambil melihat bapak yang menyetir kendaraan.


“Sudah siap pak? ayo kita berdoa sebelum berangkat”

__ADS_1


Semua orang yang ada di mobilku berdoa dahulu sebelum berangkat. Jumlah penumpang di dalam mobil yang aku tumpangi hanya 6 orang termasuk diriku. Orang yang naik mobilku adalah pak Irfan, pak Jayus beserta istri dan anaknya, dan terakhir adalah Danis.


Pak Jayus merupakan staf bersih-bersih sekolah. Dia Sudah bekerja lama di tempat ini, bahkan sebelum aku masuk mengajar di sana. Sedangkan Danis adalah staff IT yang mengurusi lab TKJ. Saya dengar, ia merupakan alumni dari SMK ini dan ditawari untuk bekerja di tempat ini.


Kami semua berangkat secara rombongan dan aku berada di posisi paling belakang. Karena aku tidak tahu persisnya jalan menuju tempat pak Dani. Dari arah gerakan kami, sepertinya wilayah kami tuju dekat dengan kota A. Kota A ini merupakan kota yang terkenal akan pantainya di wilayahku.


Sepanjang perjalanan menuju kota A, kita harus melewati wilayah pabrik terlebih dahulu. Baik di kanan atau kiri jalan, semuanya penuh dengan pabrik. Lengkap dengan mobil dan truk-truk besar yang keluar masuk gerbang pabrik. Barulah setelah melewati wilayah tersebut, kita akan sampai ke wilayah penuh dengan pantai dan tempat penginapan.


Namun tempat tujuan kami tidak masuk ke kota A, kami akan belok sebelum perbatasan kota A dengan Kota C, kota tempatku dan orang tuaku tinggal. Dalam perjalanan, aku juga mengobrol dengan pak Irfan dan yang lain agar tidak mengantuk saat di jalan. Tentunya aku harus fokus melihat jalan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.


“Lihat pak Ray, itu perbatasannya. Berarti di sini harus belok ke kiri.” Ucap pak Irfan sambil menunjuk ke arah monumen. Monumen itu di bangun persis sebagai perbatasan dari Kota A dengan kota C.


Aku belok sesuai dengan arahan pak Irfan sambil mengikuti mobil di depan. Saat mulai belok, dalam hati aku mulai gugup karena jalan semakin sempit. Untungnya lalu lintas cukup sepi sehingga aku tidak mengalami masalah yang berarti. Awalnya aku sempat ingin bernafas lega namun tidak jadi saat tiba-tiba mobil di depan mulai mengambil jalan yang cukup ekstrim.


Jalanan itu penuh dengan lumpur dan becek, serta jalan yang berkelok-kelok dan memiliki turunan yang tajam. Aku menengok ke arah pak Irfan dan bertanya.


“Bener nih lewat sini pak?”


Pak Irfan geleng-geleng sambil berkata ”Saya juga kurang tahu pak Ray. Ya sudah lah, bismillah saja lewat sini.”


Semua orang di dalam mobil berdoa dengan keras sambil aku perlahan menuruni jalan. Alhamdulillah, tidak ada halangan yang terjadi dan kami sampai ke tempat tujuan dengan aman dan selamat. Saat turun dari mobil, kami sudah melihat dari kejauhan kalau ada tenda yang sepertinya merupakan tempat resepsi diadakan.

__ADS_1


Awalnya aku mengira sudah tidak ada halangan untuk menuju tempat pak Dani. Namun ternyata dugaanku salah, setelah turun dari mobil, kami harus mendaki jalan menuju tempat pak Dani. Sudutnya cukup tinggi, mungkin hampir 45 derajat kemiringannya. Ditambah dengan jalanan yang penuh dengan baru dan lubang. Ternyata, hadangan kami menuju tempat tujuan kami masih belum selesai.


*Bersambung*


__ADS_2