
Aku terbangun siang hari setelah beres mengantar Mbah Kakung. Untungnya ini hari minggu sehingga aku tidak perlu khawatir akan ada telepon dari kantor. Apakah kantor kalian masih ada yang nelpon saat akhir pekan? Kalau kalian mengalami hal itu dan keberatan akan hal tersebut. Mungkin sudah waktunya mempertimbangkan untuk mencari tempat kerja yang baru.
Kantorku sendiri masih WFH sehingga aku sore ini tidak perlu berangkat ke Tangerang. Ketika saat masih kerja normal dulu, biasanya sore ini aku berangkat kembali ke tempat kerjaku itu. Gak kebayang capeknya dulu itu bolak balik dari rumah ke Tangerang dengan menggunakan kereta atau bus. Apalagi dengan waktu yang berdekatan. Berangkat dari tangerang Jumat sore, minggu sore sudah harus kembali ke Tangerang.
*Beberapa hari kemudian*
Mbah sudah hampir satu minggu lamanya semenjak dirawat di rumah sakit Bogor. Saat hari Kamis, rumah tempat sepi karena orang tua menginap di Bogor. Hal itu karena amerika ingin menjenguk mbah kakung karena kebetulan hari Jumat tanggal merah. Seperti biasanya, kami yang stay di rumah makan dengan go food saja. Karena kami malas masak dan hanya memasak nasi saja, lauknya beli dari luar.
Saat Hari Jumat, aku dapat kabar kalau bapak dan ibu setelah shalat subuh baru berangkat pulang ke rumah. Kami semua di rumah senang sekali karena ruma akhirnya kembali ramai lagi. Sambil menunggu mereka pulang, aku nyantai seperti biasa karena tanggal merah seperti ini tidak ada pekerjaan WFH yang aku lakukan. Masa iya tanggal merah masih tetap kerja juga karena WFH. Manusia butuh istirahat bosque.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Orang tua kami akhirnya sampai ke rumah dan mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam rumah. Aku membantu membawakan barang bawaan mereka yang cukup banyak. Beres menurunkan barang, kami bersiap-siap karena sebentar lagi sholat jumat akan dilakukan. Aku pergi bersama dengan Papah, Arip, dan Lamda ke sana.
Arip sekarang juga sudah di rumah karena ia telah lulus dan sekarang sedang melakukan pelatihan secara online. Sedangkan Lamda juga sekolahnya masih selang-seling. Kadang tatap muka kadang juga online. Kami shalat jumat seperti biasa, mendengar ceramah dan aku berusaha untuk tetap melek, kemudian kembali pulang ke rumah setelah kegiatan shalat jumat selesai. Saat aku sampai dirumah, aku kaget karena melihat ibu sedang menangis terisak-isak di ruang tamu.
“Papah, Mbah baru saja meninggal tadi pas jumatan” Ucap ibu dengan suara yang bergetar.
“!!!” Semua yang berangkat jumatan kaget mendengar hal itu. Hanya Lamda yang seperti biasa ekspresinya datar apapun yang sedang terjadi.
Padahal baru saja tadi pagi pada pergi menjenguknya, siangnya malah beliau sudah tiada. Mendengar kabar mengejutkan ini, aku hanya berdiam diri sebentar kemudian merenungkan diri di kamar. Lamda kembali ke kamar dan Arip ikut denganku juga ke kamar. Karena aku dan Arip menggunakan kamar yang sama.
__ADS_1
Bapak berusaha menenangkan ibu dan ia mulai telepon ke sana kemari untuk mengurus proses pemakaman. Dalam waktu relatif cepat, semua orang di sekitar kami sudah mengetahui kabar ini dan memulai persiapan penyambutan jenazah mbah kakung. Karena kami harus menyambut ambulans serta melakukan berbagai macam hal yang lain.
Aku sendiri hanya mengucapkan banyak doa saja untuk mbah serta membantu kegiatan-kegiatan kecil. Seperti mengatur posisi kursi untuk tamu dan hal-hal lainnya. Mbah akan dipulangkan dari Bogor menuju rumah sekitar sore hari, karena ia harus ada proses dimandikan, dikafankan, dan proses-proses lain nya.
Mbah meninggal karena covid, karena itulah semua proses dilakukan dengan protokol covid. Beliau dimasukkan ke dalam peti dan orang yang menguburkan harus menggunakan APD. Untungnya keluargaku tidak ada yang protes dan mengikuti seluruh aturan yang ada. Karena ini untuk kebaikan bersama, tidak perlu ngotot protes pemakaman dengan peti akibat covid. Apalagi sampai memaksa gali kubur nya kemudian dipindah ke kuburan yang lain.
Setelah semua persiapan beres, aku mendapatkan kabar dari ibu.
“Nak, Mbah sudah otw dari Bogor, mungkin nanti malam baru sampai. Nanti malam ikut doa-doa ya.”
“Siap mah”
Sebelum acara nanti malam di mulai, aku menggunakan kesempatan yang ada untuk istirahat. Karena nanti malam masih banyak acara yang akan dilakukan. Beres shalat isya, kami sekeluarga ngumpul kembali ditempat mbah. Tempat yang biasanya sepi itu sekarang sudah banyak ramai oleh kerabat yang akan melayat.
Ustad juga sudah siap untuk memulai doa dan acara. Bapakku sebagai anak pertama memberikan sambutan kemudian mulai membaca yasin serta doa-doa perlengkapanya. Aku cukup senang sekali karena melihat banyak sekali orang yang datang untuk mendoakan mbah. Semoga saja amal ibadah beliau diterima di sisi-Nya.
Beres melakukan doa, akhirnya datang ambulan yang membawa jasad mbah.
“Ambulans sudah mau datang, berikan jalan” Ucap salah satu bapak-bapak yang membantu proses ambulans parkir.
Karena rumah mbah berada persis di pinggir jalan, sehingga harus berhati-hati saat kendaraan mau masuk. Banyak sekali motor dan mobil lalu lalang di jalan ini. Setelah memastikan ambulans parkir dengan sempurna. Jenazah mbah diangkut ke dalam rumah.
Ambulans itu kemudian kembali ke Bogor karena tugasnya sudah selesai. Kami sudah tidak punya urusan lagi dengan ambulans tersebut. Jenazah sudah berada di dalam rumah, kami sekeluarga mendoakan beliau semoga semua amalan ibadahnya diterima disisinya. Beres mendoakan, kami sekeluarga meninggalkan rumah mbah untuk istirahat di kediaman masing-masing.
__ADS_1
Kami masih memiliki beberapa hal yang harus dilakukan. Mulai dari pemakaman hingga shalat jenazah. Dari yang aku dengar, sepertinya mbah hanya akan dishalatkan secara ghoib karena ia tidak boleh masuk ke dalam masjid akibat covid.
‘Semoga saja besok semuanya lancar.’ ucapku sambil memejamkan mata untuk istirahat.
*Keesokan harinya*
Aku menjalankan kegiatan seperti biasa. Namun selesai subuhan, aku langsung kembali ke tempat mbah untuk memanjatkan doa-doa. Kami juga mulai menerima tamu yang hendak melayat. Banyak dari mereka yang membawa amplop yang sampai sekarang aku tidak tahu jumlahnya berapa. Karena semuanya diurus oleh tante dan omku dari pihak ayah.
Dari pagi hari hingga sekitar jam 9 nan kami menerima tamu, Kemudian kami semua berangkat ke tempat peristirahatan terakhir mbah kakung. Aku pergi bersama dengan yang lain menggunakan mobil. Jalan menuju pemakaman cukup sempit sehingga kami hanya bisa parkir di masjid terdekat. Masih harus jalan lagi karena jalan masuk ke dalam pemakaman sulit untuk mobil parkir.
Sisa perjalanan kami lalui dengan berjalan kaki. Saat hendak menuju pemakanan, aku melihat ada beberapa orang yang sudah siap siaga dengan APD mereka. Saat aku tengok, ternyata om Beni juga termasuk salah satu seorang yang menggunakan APD.
“Eh, ada Ray, mau ikut pakai baju ini tah?” Ucap Om Beni sambil menyodorkan setelah APD yang belum terbuka.
“Gak om, makasih. Hehehe.” Aku menolak tawaran Om Beni dengan lembut.
Kami masih menantikan mobil jenazah sampai ke sini. Karena kalau tidak salah memang kami berangkat duluan agar tidak terjadi kemacetan di jalan. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya mobil yang kami tunggu telah tiba.
“Itu Mobilnya, ayo semuanya siap-siap” Om Beni berkata kepada bapak-bapak yang lain. Karena beberapa dari mereka masih ada yang merokok dan sedang minum kopi.
Mendengar aba-aba dari Om Beni, semua yang menggunakan APD menghentikan kegiatan mereka dan akhirnya mengenakan APD secara lengkap. Karena dari proses membawa jenazah hingga penguburan. Mereka harus menggunakan pakaian ini sampai jenazah telah terkubur selama beberapa meter.
Khawatir akan terjadi penyebaran cluster baru. Kita semua berusaha untuk mengikuti aturan yang sudah dibuat oleh pemerintah sebaik mungkin mengenai covid 19. Om Beni dan yang lain mulai membuka pintu jenazah setelah mobil itu diam dengan sempurna. Semua orang gotong royong membawa peti yang berisi mbah ke tempat yang telah disediakan.
__ADS_1
Kami semua melihat proses tersebut dari awal hingga akhir. Rombongan juga mengikuti iringan untuk mengantar mbah menuju tempat istirahat terakhirnya.
*bersambung*