
*Saat servis laptop*
Setelah pulang kerja, aku menyempatkan diri untuk pergi ke tempat servis laptop yang resmi. Karena kebetulan merk laptop yang aku miliki ada tempat servis resminya di Tangerang. Perjalanan kesana membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit. Hanya perlu satu kali jalan dengan menaiki satu rute angkot. Tempatnya persis di pinggir jalan raya.
Saat sudah sampai di sana, aku melihat tempatnya seperti ruko kecil biasa, dengan lantai bertingkat. Ketika aku masuk, tempatnya sudah cukup ramai karena ini sudah sore hari dan sebentar lagi mungkin toko akan tutup. Aku mengambil nomor antrian kemudian menunggu hingga nomor antrianku dipanggil.
“Nomor antrian... , Silahkan pergi ke loket 1.” Aku langsung beranjak dari kursi saat nomorku dipanggil.
Tidak terlalu lama aku menunggu, mungkin hanya sekitar 15 menit. Saat menunggu giliran, seperti biasa aku hanya melihat berbagai macam berita dari handphone ku yang untungnya tidak terkena banjir karena sedang dibawa saat kejadian itu terjadi di kontrakan. Namun sayangnya, barang elektronik lain yang ada di kontrakan tidak ada yang terselamatkan.
“Ada yang bisa kami bantu pak?” Ucap petugas servis sambil mempersilahkan diriku untuk duduk.
Setelah duduk, aku mengeluarkan laptop kemudian menceritakan kronologi kejadian “Kemarin ini laptop kena banjir mbak, coba di servis kira-kira bisa gak dibetulin.”
Kulihat selain diri ku, juga ada pelanggan lain yang mengeluhkan hal yang sama. Sayangnya, merk laptop yang aku pakai sekarang tidak memberikan asuransi saat terkena banjir. Mbak service center menanyakan berbagai macam detail kejadian yang menimpa laptopku.
“Baiklah pak, tunggu satu minggu ya, nanti kesini lagi untuk melanjutkan pembayaran berikutnya. kemudian akan dikenakan cas kalau melakukan pengambilan laptop.”
“Baik, mbak, terima kasih.”
Aku awalnya sempat heran kenapa sampai harus ada biaya tambahan kalau barang dibatalkan saat di service. Namun hal ini nantinya akan ku ketahui nanti satu minggu lagi.
Setelah memberikan informasi kontak kepada pihak servis. Aku kembali ke kontrakan untuk menjalani kehidupanku seperti biasa. Betapa terkejutnya aku, saat melihat harga servis yang pihak merk laptop berikan. Tidak menyangka biayanya akan seperti itu.
*Satu minggu kemudian*
Setelah menunggu selama satu minggu, akhirnya aku mendapatkan kabar dari service center untuk kelanjutan laptopku.
[Customer Ray, silahkan kembali datang ke service center untuk melakukan proses service selanjutnya. Kami tunggu kehadiran anda]
Membaca pesan tersebut, aku langsung melonggarkan waktu untuk mampir ke tempat itu. Karena meskipun tempatnya mudah dijangkau, tetap saja aku yang memang dasarnya malas keluar ini harus menyiapkan beberapa persiapan sebelum menuju ke sana. Terutama harus membawa tas untuk menyimpan laptop ini nantinya.
__ADS_1
Ketika sudah sampai kembali di tempat service, aku membuka pintu kemudian mengambil nomor antrian seperti biasa. Kemudian ketika sudah waktunya tiba, aku pergi menuju counter untuk mengurus langkah berikutnya.
“Ada yang bisa kami bantu pak?”
“Ini mbak, kuitansi laptop minggu lalu.”
Kwitansi kuberikan untuk menunjukkan kalau aku memang menyerahkan laptop di tempat service yang ini. Setelah melakukan pengecekan dokumen. Petugas service kembali dengan membawa data serta biaya service yang harus dibayar untuk membetulkan laptop. Aku terkejut saat mendengar biaya servisnya.
"Benerin ini mbak?" Tanyaku kepada Mbak customer service agar lebih yakin
"Betul pak, total biayanya sekitar…"
'ya ampun, duit segitu mending buat beli laptop baru' ucapku dalam hati.
Biaya servis yang harus dikeluarkan sama dengan membeli laptop baru. Aku terdiam sebentar untuk memproses hal yang baru saja aku baca. Biaya tersebut aku cek berkali-kali dan aku memastikan tidak ada kesalah saat melihat harganya. Dengan harga seperti ini, daripada service laptop. Lebih baik aku beli laptop baru saja.
"Jadi gimana pak servisnya?" Tanya petugas service saat melihatku terdiam membaca kwitansi.
"Baik pak. Mohon tunggu sebentar."
Mbaknya mengurus proses administrasi kemudian aku membayarkan sejumlah uang untuk pembatalan. Awalnya aku kenapa ada biaya tersebut, ternyata memang aku sendiri sudah mengalaminya. Melakukan pembatalan servis dan pengambilan barang.
Menguntungkan sekali model bisnis seperti ini. Teknisi tidak perlu betulin, cuma dari biaya pembatalan saja. Kalau ada 100 customer yang melakukanya, hasilnya lumayan besar. Sambil membayangkan hal-hal seperti ini, petugas sudah kembali dengan laptop yang minggu lalu aku berikan kepada mereka untuk diperbaiki.
"Ini barangnya pak. Terima kasih sudah datang kemari. Kami tunggu kedatangan ada kembali."
'nanti laptopnya coba aku kasih ke Pak Dani. Siapa tahu bisa dibetulkan.' ucapku dalam hati sambil keluar dari tempat servis
Aku menelpon pak Dani setelah pulang ke kontrakan. Tidak enak kalau melakukan telepon saat berada di jalan. pak Dani ini merupakan rekan kerjaku saat bekerja sebagai guru. Ia juga melakukan jasa service laptop dan HP.
"Pak Dani? Lagi sibuk gak?
__ADS_1
"Ngak pak, ada apa?"
"Mau servis laptop nih. Kira-kita kapan ada waktu?"
Kami menyusul jadwal kemudian bertemu kembali di sekolah. Meskipun aku sudah tidak bekerja disana, aku sewaktu-waktu masih main kalau ada waktu. Sekalian silaturahmi agar tidak putus mampir ke tempat kerjaku sebelum nya.
Saat akhir pekan, aku kembali pulang dan menuju sekolah tempat pak Dani berada. Sebenarnya bisa saja sih ketemuan dengan pak Dani di rumahnya. Namun karena lokasi tempat tinggalnya jauh sekali dari rumahku, lebih nyaman kalau kami ngumpulnya di sekolah saja.
"Eh pak Ray, apa kabar? Lagi libur ya?"
"Iya pak, lagi libur. Makanya main ke sini "
"Gimana kerja di sana pak?"
Ketika aku masuk ke ruang guru, semua orang yang ada di sana menyambutku dan menanyakan kabarku terkini. Aku menceritakan beberapa hal mengenai pekerjaanku dan ngobrol ringan dengan mereka. Kemudian, aku pergi ke tempat pak Dani berada untuk menyerahkan laptop yang akan dibetulkan.
"Halo pak Dani."
"Eh, pak Ray. Masuk pak, Mau ngemil Tah? Ambil aja pak." Ucap pak Dani sambil menawariku minum.
"Gak pak, makasih. langsung saja. Ini laptopnya, nanti cek aja pak Dani. kira kira bisa dibetulkan tidak.”
Pak Dani mengecek secara cepat laptopnya kemudian berkata. "Dibongkar dulu nanti pak. Lama kering nya biasanya. Gak buru buru kan?"
"Gak pa, santai saja"
Setelah masalah laptop selesai. Kami melanjutkan ngobrol hingga waktunya aku pulang. Aku tidak suka ngobrol terlalu lama karena nanti akan kecapean. Paling tidak kalau mau ngobrol panjang, harus disertai dengan minuman yang memadai. Memang tidak biasanya aku ngobrol lama-lama.
Ketemuan untuk ngobrol juga jangan terlalu sering. Karena nanti bisa-bisa malah udah abis topik obrolan karena selalu sering ketemu. Rasa kangen juga jadinya tidak ada kalau sering nongkrong dan ngobrol terus menerus dengan orang yang sama. Bagaimana dengan kalian? apakah kalian juga suka nongkrong?
*bersambung*
__ADS_1