Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 80 Bandung 3


__ADS_3

Sama seperti sebelumnya saat berangkat menuju resepsi Hasan, awalnya aku ingin tidur lagi saat di dalam mobil. Namun kali ini giliran aku yang harus melek, karena Rendra gantian yang mau tidur. Hal ini cukup sulit karena aku terbiasa untuk tidur saat berada di dalam mobil. Tidak mudah untuk tetap terjaga saat menjadi penumpang mobil. Karena sangat sulit untuk merubah kebiasaan lama.


Perjalanan kami lalui dengan menggunakan map yang ada di aplikasi driver. Zul juga mengecek apakah rute yang kami lalui sudah benar atau belum. Karena dia yang memesan kamar untuk perjalanan kita hari ini. Aku juga ikut mengecek rute sambil menikmati pemandangan di kota Bandung.


Kami akhirnya sampai ke penginapan tempat kami tidur malam ini. Aku, Rendra, dan Zul turun dari mobil kami sambil membawa ransel yang kami jinjing. Kulihat tempat ini lumayan bagus. Memiliki gedung yang tinggi serta di dalamnya ada minimarket dan juga kolam renang. Terdapat lift juga serta hotel, sehingga kita tidak perlu capek naik tangga. Sebelum memasuki lift, kami harus mengambil kartu terlebih dahulu. Tanpa adanya kartu, kami tidak bisa menggunak lift. Keamananya cukup meyakinkan.


“Bro, udah dapat kuncinya belum?”


“Belum nih, orangnya belum datang, lagi makan siang mungkin.”


Meskipun sudah memasuki waktu check in, namun kami tidak melihat sama sekali petugas di ruangan. Kemungkinan besar mereka sedang istirahat makan siang. Tidak heran kalau tempat seperti ini agak renggang, karena jarang sekali menghadapi peak hour kecuali saat liburan. Namun kurasa kurang profesional sekali kalau bilangnya check in jam berapa tapi ketika tamunya sudah datang, tidak ada petugas yang stand by.


Tidak ingin menunggu lama, Zul inisiatif langsung menelpon petugas yang dihubungi untuk memesan kamar. Setelah ngobrol selama beberapa menit, ia menutup telepon dan bilang kalau petugasnya sebentar lagi akan datang. Mau tidak mau, kita hanya bisa menunggu stafnya datang saja dan tidak bisa berbuat apa-apa.


Setelah menunggu selama beberapa menit, akhirnya datang juga petugas yang akan mengurus kunci. Kami akhirnya mendapatkan kunci setelah sempat protes terhadap layanan yang mereka berikan. Selain kunci kamar, kami juga mendapatkan selimut dan handuk untuk kami gunakan.


Kamar yang kami pilih adalah sekamar untuk bertiga. Tadinya Zul sempat menyarankan untuk tidur kamar masing-masing. Namun setelah mengetahui kalau sekamar bertiga lebih murah, sudah jelas kamar apa yang harus kami pilih.


Ruangan kami cukup luas, dengan ukuran sekitar 3x4 meter. Dengan double bed serta di bawahnya ada satu kasur lagi. Dengan TV dan dapur berada di dalam kamar. Ada juga kamar mandi serta balkoni tempat kami bisa menjemur handuk dan yang lainnya. Secara keseluruhan saya cukup puas dengan kamar ini. Kamar mandinya juga ada shower dan juga wastafel. Meskipun tidak ada bathtub, saya rasa sudah cukuplah kamar dengan harga yang kami beli dapat fasilitas seperti ini.


Meskipun sempat ragu karena melihat bagian lantai satu kamar ini agak kumuh, namun tidak disangka-sangka kamarnya cukup nyaman juga. Setelah menaruh barang, kami memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu. Karena badan ini lelah setelah perjalanan jauh seharian.


*Sore Hari*


Ketika sudah sore, kami semua langsung mandi kemudian bersiap untuk pergi setelah melaksanakan shalat maghrib. Tidak enak kalau pergi tapi belum shalat, masa iya shalat di jalan, lebih tidak nyaman lagi. Karena tidak ingin menggunakan grab, kami memutuskan untuk jalan-jalan di tempat hiburan sekitar sini saja.


Perjalanan kami hanya berlangsung selama beberapa menit, dan kami telah sampai di sebuah tempat yang memiliki jembatan di atas jalan. Berbeda dengan JPO biasa, jembatan di atas lebarnya seluas jalan yang di bawahnya.. Entah apa itu namanya, jadi ada jalan biasa, kemudian di atasnya ada jembatan penyebrangan yang juga merangkap sebagai tempat stand dan toko juga di sana. Namun aku tidak sempat ke sana karena merasa nanti capek naik turun. Kami memutuskan untuk pergi di mall terdekat saja.

__ADS_1


Saat sudah sampai mall, tempatnya lumayan lucu. Mall dengan sensasi gabungan indoor dan outdoor. Jadi ada bagian mall yang berada di dalam ruangan, ada yang di luar ruangan. Untung saat ini tidak hujan, sehingga kami tidak kebahasan. Di tempat ini kami memutari segala sudut tempat ini.


Setelah puas berkeliling, kami tidak membeli apa-apa karena tidak ada yang menarik. Lagipula kami sudah sering pergi ke mall Jakarta sehingga biasa saja ketika mengunjungi tempat ini. Memang kalau kita sudah terbiasa akan sesuatu, lama-lama jadi bosan juga.


“Gimana bro menurut lu tempat ini?” tanya Rendra kepadaku


Aku melihat ke arah mall kemudian berkata “Biasa saja sih, udah sering ke mall jadi mungkin ada sedikit bias juga mungkin ke tempat ini. Bagaimana dengan lu bro?”


“Hahaha, sudah jelas kan menurutku gimana?”


“Iya juga ya”


Tidak heran Rendra merasa biasa saja ke tempat ini. Karena ia setiap hari kantornya di salah satu Mall besar di Jakarta. Tempat sebaik apapun kalau kita kunjungi tiap hari, jadinya juga akan biasa saja. Karena itulah kita membutuhkan yang namanya variasi dalam hidup.


“Kalau begitu mau ke tempat ini gak, gua cari sih sepertinya bagus” Ucap Zul sambil menunjukkan hasil searching tempat dari handphonenya


Dari mall tempat kami berada sekarang, restoran yang kami tuju kurang lebih sekitar beberapa ratus meter. Gak capek lah kalau cuma jalan segitu. Ketika sudah sampai di tempat, aku melihat banyak sekali orang yang datang ke tempat ini.


“Waduh, kira-kira dapat tempat ngak ini?” Tanyaku kepada Zul


Zul hanya bisa tertawa kecil dan berkata “Semoga saja, ayo masuk dulu. Tempat nya di lantai satu. Lantai dua menunya beda.”


Ketika kami memasuki restoran. Benar saja, sudah banyak orang yang makan ditempat ini. Kami bertanya kepada staf dan mereka berkata kemungkinan harus menunggu selama beberapa menit untuk mendapatkan tempat.


“Bagaimana menurut lu bro? Tetap makan di sini.” Tanya Rendra kepada kami berdua.


“Lanjut aja lah, nanggung udah terlanjur sampai sini.”

__ADS_1


Aku dan Zul memutuskan untuk makan di tempat ini. Karena kami juga belum makan malam. Beberapa menit kemudian, akhirnya kami mendapatkan tempat duduk. Kami mengambil menu dan nota untuk pesan.


“Mau pesan apa bro?” Ucap Zul sambil menuliskan menu yang akan ia pesan.


Aku dan Rendra masing-masing mengucapkan apa yang ingin kami makan. Sebelum memanggil petugas, aku mencatat dulu berapa harga makanan yang aku pesan. Agar tidak repot nanti pembagian bayarnya. Karena masalah uang ini adalah salah satu yang bisa memecah pertemanan. Harus hati-hati dan teliti dalam menyingkapinya.


“Mas, pesan mas.”


Pelayan yang kami panggil langsung sigap mengambil pesanan kami. Setelah selesai mencatat menu, petugas itu langsung melanjutkan nya ke bagian dapur untuk diproses. Sedangkan  kami kembali menunggu beberapa menit sambil ngobrol ringan dan bermain handphone.


“Ini pesanan untuk meja nomor 3, silahkan menikmati. Pesanannya sudah semua ya kak?”


“Sudah mbak, terima kasih.”


Sebelum pesanan datang, mereka menempelkan kwitansi pesanan di atas meja. Sekarang, setelah semua pesanan datang, mereka mengambil nota tersebut. Kami menyantap makanan yang sudah kami tunggu. Tentunya kami tidak lupa untuk berdoa dulu sebelum makan. Jangan sampai lupa untuk melakukan hal ini.


‘Hmm, rasanya lumayan, ditambah dengan menikmati pemandangan kota Bandung. Membuat makanan ini menjadi lebih enak.’ Ucapku dalam hati.


Memang benar katanya kalau lokasi juga mempengaruhi rasa makanan. Tidak mungkin kita akan nafsu makan kalau tempat kita berada tidak cocok untuk menyantap makanan. Rendra dan Zul juga sama-sama menikmati makanan yang telah disajikan.


Selesai makan dan puas ngobrol di restoran, kami melanjutkan perjalanan untuk mencari jajanan lainnya. Kali ini kami bablas melewati hotel tempat kami tinggal. Karena sepertinya ada minimarket terdekat dimana kami bisa membeli kopi. Karena Hotel tidak menyediakan minuman saset di dapur mereka.


Beruntung kami menemukan minimarket yang kami cari. Tanpa pikir panjang, kami langsung mengambil kopi, snack, dan makanan kecil lainnya untuk malam ini. Senang sekali bisa membeli snack untuk dimakan saat malam hari.


Tidak lupa kami juga membeli roti bakar yang jualan dekat situ. Puas mendapatkan makanan, kami kembali ke hotel dengan gembira karena di tangan kami sudah ada saset kopi dan snack lain yang sudah kami beli.


Sampai di hotel, aku sempat kepikiran seram juga ya kalau malam hari di sini. Namun kali ini aku bersama dengan Zul dan Rendra. Sehingga rasa ketakutan itu tidak terlalu terasa. Kira-kira apa yang akan kami lakukan malam ini?

__ADS_1


*bersambung*


__ADS_2