Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 122 Positif Covid


__ADS_3

Beberapa hari setelah perjalanan ke Villa. Aku menjalani kegiatan seperti biasa. Kerja di pagi hari, kemudian bermain saat malam hari. Tidak ada yang spesial sampai momen tiba-tiba ibu teriak saat malam hari.


“Ray, Arip,  ayo cepat kesini!” Teriak ibu dari ruanganya.


Jarang sekali ibu berteriak seperti ini. Karena itulah kami setelah mendengar panggilan itu, dengan gerakan secepat kilat pergi ke sumber suara. Sampai di sana, ibu memberikan kunci mobil lalu berkata.


“Bapakmu sesak nafas, ini tabung oksigen. Segera pergi ke klinik kemudian ganti dengan yang baru. Karena yang ini sudah kosong isinya.” Ucap dengan dengan nada penuh cepat dan berbicara dengan nada cepat.


“Baik bu, kami pamit dulu ya.”


“Hati-hati nak di jalan”


Kami berpamitan dengan ibu setelah menerima kunci mobil tersebut. Tentunya bapak yang sesak nafas tidak bisa ikut dengan kami. Sedangkan ibu sendiri harus merawat bapak. Karena itulah hanya aku dan Arip yang pergi berdua saja ke klinik. Kedua adik kami Lamda dan Yana tidak ikut karena mereka masih harus belajar saat malam hari.


Perjalanan kali ini cukup menegangkan, karena kami lakukan saat malam hari. Apalagi, kami berdua masih belum terbiasa untuk mengendarai mobil sendirian. Namun apa boleh buat, dalam keadaan darurat seperti ini. Cuma bisa berkata bismillah kemudian mencoba yang terbaik. Semoga saja kami bisa selamat sampai ke tujuan.


Memang semenjak mbah meninggal, kondisi kesehatan bapak semakin menurun. Sering ia menggunakan oksigen tambahan untuk bernafas. Biasanya hanya orang yang di rumah sakit menggunakan alat itu. Namun bapak membeli tabung oksigen sendiri karena ia memerlukannya. Karena ia mengeluh sering sesak nafas..


Aku tidak tahu persis apa penyakit yang menimpa bapak. Namun dari yang aku dengar, kemungkinan besar organ dalamnya yang kena. Karena bapak saat dirawat diperiksa oleh dokter organ dalam. kemungkinan besar organ yang rusak adalah paru-paru, jantung, dan ginjal.


Sempat ada isu juga katanya bapak akan menerima donor ginjal. Namun adiknya yang ingin menjadi donor sepertinya juga memiliki ginjal yang kurang sehat. Sehingga sampai sekarang, bapak masih belum mendapatkan donor untuk organ tersebut.


Kemungkinan lain hal ini terjadi adalah karena gaya hidup bapak  yang kurang sehat. Masih sering merokok dan juga ngopi. Padahal sudah sering diingatkan berkali-kali untuk berhenti atau paling tidak, mengurangi dosisnya. Namun saran kami tidak diindahkan sampai pada akhirnya, bapak berada dalam kondisi seperti ini.

__ADS_1


Sambil berpikir mengenai keadaan bapak, Arip yang sedang memegang setir kemudi telah menancapkan gas dan kami sudah dalam perjalanan menuju klinik. Klinik yang akan kami kunjungi dikelola oleh keluarga kami, karena itulah alasan utama kami pergi ke sana. Sehingga kami tidak menggunakan klinik lain yang lebih dekat. Karena jarak dari rumah kami ke klinik tersebut sekitar setengah jam lebih. Dalam perjalanan, aku selalu mengingatkan Arip untuk jangan terlalu ngebut dan juga berhati-hati saat sedang di jalan.


Perjalanan yang menyenangkan itu berakhir saat kami sudah sampai di klinik. Tempat parkiran klinik ini cukup kecil dan hanya bisa muat sedikit mobil. Beruntung tidak ada kendaraan lain yang parkir sehingga kami bisa berhenti di pintu masuk. Setelah parkir dengan sempurna, aku dan Arip langsung turun dan pergi menghampiri petugas yang sudah stand by.


“Ada yang bisa kami bantu mas?” Tanya petugas itu sambil melihat ke arah kami.


“Kami yang akan mengambil tabung oksigen mbak. Ibu saya sudah bilang kan? kami anakanya bu xxx dan pak xxxx.”


Mendengar ucapanku, petugas itu langsung mengangguk dan berkata “Oh, yang mau ngambil tabung oksigen ya? Ini, silahkan ambil yang ini. Tabung yang kosong di taruh ke sini ya.” Ucap perawat sambil menunjuk ke dalam ruangan.


Kami mengikuti instruksi darinya dan langsung mengangkat tabung yang ada isinya, kemudian memberikan tabung yang sudah kosong ke klinik. Melihat proses ini, aku jadi teringat saat pembelian tabung gas. Karena proses dari keduanya memiliki kemiripan. Setelah memastikan semua alat sudah terbawa, aku menutup pintu bagasi mobil kemudian berterima kasih kepada perawat sebelum kembali naik ke dalam mobil.


“Sudah siap Arip, yuk langsung cabut”


Sebagai supir, Arip langsung menancapkan gas setelah tabung oksigen kami masukkan ke dalam mobil. Tentu saja dalam perjalanan kami masih harus berhati-hati. Meskipun kami tidak boleh berlama-lama karena kondisi bapak sangat membutuhkan tabung oksigen. Namun kami tetap saja tidak boleh melewatkan keselamatan kami berdua.


“Alhamdulillah sampai juga” Ucap Arip sambil mematikan mobil yang telah masuk ke dalam rumah.


Perjalan berhasil kami lakukan dengan aman. Meskipun ada sedikit hambatan karena jalanan gelap saat malam hari. Secara keseluruhan, perjalanan kami bisa dibilang berjalan lancar. Setelah turun dari mobil, aku langsung mengeluarkan tabung oksigen dan memberikanya kepada bapak.


“Ini pak, tabung oksigen”


“Uhuk..uhuk..Lama amat sih! Cepat pasangin alatnya! Bapak sudah sesak ini!” Ucap bapak sambil teriak dan memberikan sebuah alat kepadaku.

__ADS_1


Melihat kondisi bapak, aku tidak banyak komentar dan berusaha untuk memasangkan alat tersebut meskipun ini pertama kali aku menyentuhnya. Tentu saja hal ini membuat proses pemasangan alat berjalan agak lama dan aku kembali mendapatkan omelan dari bapak.


Setelah alat terpasang, bapak akhirnya bisa bernafas lega dan kembali anteng. Namun sebelum alat terpasang, bapak banyak batuk dan batuknya langsung tepat ke arah mukaku. Tanpa adanya filter dan tidak ditutupi sama sekali. Tentu saja aku marah, emosi yang aku miliki ku pendam dalam-dalam karena tidak ingin menjadi anak durhaka. Masa iya saat kondisi bapak sedang seperti ini, aku malah ngomelin dia balik.


Tadinya aku mengira masalah akan selesai sampai di sini, namun ternyata masalah belum selesai. Kejadian ini bermula saat bapak sedang melakukan cuci darah di rumah sakit.


*Saat cuci darah*


Cerita ini kudengar hanya dari ibuku sebagai sumber pertama. Karena bapak orangnya pendiam dan tidak banyak bicara. Aku juga tidak secara langsung berada di lokasi. Pada saat ini, ibu seperti biasa mengantarkan bapak ke rumah sakit untuk melakukan kegiatan cuci darah rutin. Namun pada cuci darah kali ini, ada sesuatu yang terjadi.


Ketika sedang menunggu bapak cuci darah, ibu melihat salah satu pasien cuci darah lainnya diantarkan oleh orang yang berbeda. Ibuku tahu kalau biasanya pasien yang dipanggil dengan bu Haji itu biasanya diantar oleh suaminya. Namun kebetulan kali ini yang mengantarnya ke rumah sakit adalah anaknya.


Berbeda dengan sang suami yang selalu menemaninya saat cuci darah. Anaknya yang satu ini hanya mengantarnya ke ruang cuci darah kemudian ditinggal begitu saja. Melihat kondisi bu Haji yang seperti itu, ibuku berinisiatif untuk ngobrol dengan nya dan mengoleskan balsem ke kedua kakinya.


“Bagaimana ibu Haji? sudah enakan badanya?” tanya ibuku sambil mengoleskan balsem.


“Alhamdulillah, sudah enakan. Terima kasih ya bu, sudah mau ngolesin balsem ke kaki ibu.”


“Sama-sama”


Mereka kembali melakukan obrolan kecil saat ibuku sudah selesai mengoleskan balsem. Obrolan mereka berlangsung selama bapak sedang melakukan cuci darah. Namun ku dengar kabar kalau beberapa hari kemudian bu Haji itu…..


Meninggal karena covid…

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2