
Kami langsung pergi ke rumah setelah menonton di bioskop. Hari-hari berikutnya, kami pergi ke tempat yang serupa, tidak ada yang spesial. Kurang lebih setiap harinya saat liburan ke Jogja kami melakukan kegiatan yang sama. Melakukan ibadah seperti biasa, jalan-jalan saat siang seperti biasa, kemudian istirahat hingga waktunya tidur.
Satu minggu lamanya liburan di Jogja kami lalui dengan cara seperti itu. Meskipun sebenarnya aku ingin sekali pergi sendirian keliling Jogja. Karena merasa tidak enak dengan keluarga yang lain, kegiatan itu urung aku lakukan.
Tidak terasa sudah seminggu lamanya kami menetap di Jogja. Karena Sebentar lagi sudah waktunya kami kembali bekerja, kami bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Sebelum berangkat pulang, kami memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Repot nanti kalau bisa ada yang ketinggalan, jauh nanti ngambilnya lagi. Selain itu juga, nanti pastinya bapak ngomel lagi kalau ada barang yang ketinggalan.
Tetapi kalau yang meninggalkan barang dia sendiri, bingung dia mau marah sama siapa karena memang dia yang lupa membawa barang. Kalau marah ke orang lain karena kita yang lupa barang tersebut, apakah bukan gila itu namanya.
Perjalanan menuju rumah berjalan lancar. Alhamdulilah kami sampai kembali dengan selamat ke rumah. Arip masih menetap di Jogja karena masih harus mengurus skripsi. Sebentar lagi ia seharusnya sudah wisuda dan akan kembali ke rumah. Sambil mencari pekerjaan, ia berencana untuk kembali ke rumah. Tidak menetap di jogja saat mencarinya.
*Beberapa minggu kemudian*
Meskipun liburan akhir semester sudah usai, namun perjalanan masih belum selesai. Sekolahku akan mengadakan liburan beberapa hari ke Bali. Aku sempat penasaran karena belum pernah ke Bali sama sekali. meskipun tetap ada rasa malas pergi karena memang aku tidak terlalu suka jalan-jalan.
Namun karena ini acara yang sekolah adakan, tidak enak kalau tidak hadir. Memang ada beberapa guru yang tidak ikut karena tidak diperbolehkan oleh suaminya. Pastinya guru wanita tidak akan pergi kalau tidak mendapatkan restu dari mereka. Untungnya aku bebas karena masih belum mempunyai pasangan.
"Bagaimana bapak ibu sudah siap untuk pergi ke Bali?" Ucap kepala sekolah sambil membuka rapat.
Kali ini pertemuan membahas kepergian ke Bali. Wacana ini sudah ada lama sekali, mungkin sudah beberapa bulan yang lalu. Bahkan Rangga yang sudah pindah kerja masih kebagian kuota. Karena wacana ini sudah dibahas sebelum ia keluar dari sekolah.
Kami membahas rundown acara nanti akan pergi ke mana dan tempat-tempat apa saja yang akan kami datangi. Ini adalah pertama kalinya aku akan pergi ke pulau Dewata itu. Penasaran apa yang nanti akan aku temukan di sana.
Aku memang orangnya tidak suka jalan-jalan. Apalagi darma wisata seperti ini. Namun karena sudah diajak, aku terima saja. Semoga saja nanti masih bisa dapat sinyal di sana. Karena mungkin akan sangat membagongkan kalau sampai pergi keluar dan tidak mendapatkan sinyal.
Setelah selesai membahas prosedur keberangkatan, kami mengumumkan kepada murid bahwa beberapa hari ke depan, mereka akan belajar di rumah.
"Wooh" suara kegembiraan siswa sampai terdengar ke seluruh penjuru sekolah.
Sepertinya mereka senang sekali bisa belajar di rumah. Itu Bahasa halus saja. Kita sudah tahu maksudnya adalah libur untuk beberapa hari kedepan. Murid rata-rata senang sekali mereka libur. Tapi ada juga yang pura-pura sedih karena mereka tidak bisa bertemu dengan para guru mereka.
Karena tidak mungkin kita ke Bali sambil mengajari mereka.semua staf ikut dalam acara kali ini. Semua staff pulang ke rumah untuk mempersiapkan keberangkatan. Pastinya mereka harus mempersiapkan apa saja yang akan mereka bawa. Terlalu banyak membawa barang saat perjalanan juga akan merepotkan nantinya.
Aku sendiri sudah bersiap-siap, terutama barang apa yang harus dibawa. Tentunya aku tadinya ingin membawa laptop, namun tidak jadi karena hal itu akan memberatkan nantinya. Lagipula bahaya sekali kalau membawa barang seperti laptop saat melakukan perjalanan. Selain rawan hilang, juga rawan akan kerusakan.
Dahulu aku pernah layar lcd laptop retak karena aku lupa menaruh laptop di posisi sebelah bawah. Akhirnya akibat guncangan saat berada dalam bus, lcd laptop tidak tertolong. Biaya perbaikan laptop itu lumayan mahal. Hampir satu juta rupiah.
Dalam perjalanan ke bali ini, semua keluargaku juga ikut. Meskipun ini acara sekolah, namun keluarga dari para staf boleh ikut juga. Selama mereka sudah mendata dan membayar biayanya tentunya. Masa iya semuanya bisa ikut secara gratis. Kalau gitu caranya nanti bisa buyar acara karena ongkosnya terlalu mahal.
__ADS_1
Kami berangkat ke bandara pada tengah malam. Aku ingat sekali kalau jam berangkat pesawat adalah setelah subuh (sekitar jam 5 an). Kalau dilihat dari jarak waktu tempuh, harusnya kita tidak mungkin akan telat, kecuali ada yang datangnya sangat telat.
Karena itulah kami berangkat tengah malam agar sampai tepat waktu. Banyaknya jeda dari waktu pesawat adalah untuk antisipasi kalau ada yang ngaret. Biasa lah, budaya yang seharusnya tidak boleh dirawat. Jarang sekali diriku melakukan ngaret, datang jam 5 ya datang jam 5 kurang. Masa iya malah datangnya telat, kecuali memang ada kejadian yang tidak terelakkan.
Repot nantinya kalau karena ada yang telat, jadi terlambat untuk naik ke pesawat. Untungnya selama ini, aku tidak merasakan hal seperti ini. Pastinya repot sekali karena menuju bandara saja kita sudah memerlukan tenaga dan ongkos yang tidak sedikit. Masa iya pulang begitu saja karena ketinggalan naik pesawat.
Bersama dengan keluarga, aku pergi ke tempat berkumpul. Bapak menggunakan mobil pribadi untuk mengantar kami. Setelah mendapatkan tempat parkir, kami pindah kendaraan dan naik ke bus.
Terdapat dua buah bus yang akan membawa kami. Sepertinya satu bus dapat menampung puluhan orang. Sehingga total orang yang ikut mungkin hampir mencapai 50 orang lebih, aku tidak tahu persisnya berapa. Karena sudah ada panitia yang mengurus segalanya.
"Sudah siap semua pak Dani?"
"Iya pak, tinggal nunggu beberapa orang lagi."
Aku ngobrol dengan staf lain sambil menunggu orang yang belum datang. Kulihat sudah ada orang yang menjadi ahli hisap. Benci sekali aku dengan asap rokok. Sehingga aku menghindari orang yang sedang merokok. Banyak sekali alasan untuk para perokok membenarkan kegiatan yang ia lakukan.
Meskipun bapak termasuk perokok berat, sebagai anaknya aku tidak mengikuti jejaknya menjadi perokok aktif. Entah karena memang aku lebih melihat sisi kesehatan, atau karena memang tidak suka saja mengikuti jejak bapak.
"Ayo semuanya naik, di absen dulu." Panitia sudah mulai meminta semua orang naik ke dalam bus. Karena masih ada yang menunggu di luar. Akan lebih mudah untuk mengecek kehadirans semua orang kalau berada di dalam bus, daripada harus mengecek satu-satu dari luar.
Kudengar kalau di tempat lain mungkin dilakukan pengecekan bersamaan dengan saat menaiki bus. Namun kalau di sini, proses absensi dimulai setelah semua orang duduk dengan manis di dalam bus.
"Hadir"
"Sip, semua sudah lengkap. Jalan pir."
Bus mula berjalan perlahan atas arahan panitia. Sepertinya bus sebelah juga sudah lengkap penumpangnya. Sama seperti saat aku menaiki mobil ke Jogja. Perjalanan hanya aku habiskan dengan mendengarkan musik atau tidur di bus.
Mudah sekali untuk tidur mengingat sekarang sudah jam 12 malam. Semoga saat bangun nanti sudah langsung sampai ke tujuan. Karena pemandangan semuanya gelap gulita dan tidak kelihatan banyak pemandangan
*beberapa jam kemudian*
"Bangun semuanya, sudah sampai bandara. Jangan sampai ada barang yang tertinggal"
"Ehmm…"
Aku terbangun kemudian melihat semua orang mulai turun dengan tertib keluar dari bus. Mereka semua menurunkan barang bawaan mereka. Untungnya proses turun ini dilakukan dengan tertib dan tidak desak-desakan.
__ADS_1
Karena keluargaku berjumlah 6 orang. Barang bawaan kami termasuk cukup banyak. Bapak lepas tangan dan tidak mau membawa barang sama sekali. Memang dia maunya barang di bawakan oleh orang lain saat liburan. Memang aneh sih namun karena tidak mau mencari masalah, aku tidak berdebat dan dengan tenang menurunkan dan membawa beberapa barang.
Untungnya masih ada adiku Arip yang sudah bela-belain datang dari Jogja untuk mengikuti perjalanan ini. Ia membawakan barang juga dalam perjalanan ini. Sehingga aku tidak sendirian.
Aku sendiri lengkap membawa koper sebanyak dua dan tas ransel di punggung ku. Tentunya dari barang bawaan ini, hanya ransel yang merupakan barang bawaanku. Sisanya milik keluarga. Kami masih menunggu di depan bandara untuk mengurus proses administrasi. Karena kalau satu per satu di cek, prosesnya akan lebih lama nantinya.
Setiap KTP penumpang diminta satu per satu untuk pendataan. Sempat ada masalah seperti ada yang KTPnya ketinggalan, atau tidak sesuai dengan aslinya. Bingung saya ada yang seperti ini. Untungnya proses boarding berhasil berjalan dengan lancar. Tidak ada orang yang tertinggal atau disuruh pulang akibat tidak bawa KTP dan lain lain.
Akhirnya setelah menyelesaikan proses ini, kami memasuki gate bandara satu per satu.
Sayangnya, waktu keberangkatan pas sekali setelah adzan subuh berkumandang. Kami yang mayoritas beragama islam, harus shalat subuh terlebih dahulu. Aku termasuk salah satu orang yang memilih untuk shalat subuh di dalam mushola ruang tunggu. Beberapa ada yang lebih memilih shalat di dalam pesawat.
Aku sendiri lebih memilih untuk sholat di mushola, karena sholat saat di dalam kendaraan itu tidak enak. Gerakanya tidak semantap saat sholat di tempat ibadah. Namun memang hal itu diperbolehkan sejauh yang aku tahu. Masih mending sholat di dalam pesawat daripada tidak sholat sama sekali.
Ada momen kurang enak ketika ada sholat berjamaah, imamnya bacaanya terlalu panjang. Hal ini kurang tepat dilakukan karena kami sedang terburu-buru mengejar pesawat. Dari beberapa kajian yang kudengar, semua juga berpendapat yang sama. Imam harus melihat situasi makmumnya. Kalau mereka sedang ada keperluan dan tidak memiliki banyak waktu, imam tidak boleh membaca doa terlalu panjang.
Untungnya aku tidak mendapatkan imam seperti itu...karena akulah imamnya. Sebagai imam yang baik harus mengeluarkan bacaan sesuai dengan jamaahnya. Kalau sedang dikejar waktu seperti ini, harus lebih pendek bacaanya.
Kami untungnya berhasil naik ke dalam pesawat tepat waktu. Satu pesawat cukup untuk membawa semua rombongan kami. Tidak ada rombongan yang menaiki pesawat berbeda untuk berangkat ke Jogja.
Hal yang lucu ternyata waktu untuk ke Bali kurang lebih selama satu jam. Sama seperti saat pergi ke Jogja. Setelah membaca majalah pesawat, aku menghabiskan waktu di dalam pesawat dengan ngobrol dengan orang yang duduk disampingku kemudian memejamkan mata untuk pergi ke dunia mimpi.
*Satu jam Kemudian*
"Pesawat … telah sampai di bandara Ngurah Rai, Bali. Penumpang diharap mengecek kembali barang bawaan, jangan sampai ada barang yang tertinggal atau tertukar di dalam pesawat."
Aku langsung melihat ke arah luar jendela karena ini pertama kalinya aku tiba ke bandara ini. Namun kulihat sekilas, memang bandara ini sangat kental dengan budaya Bali. Semua pernak pernik dan hiasan yang ada di tempat ini sesuai dengan adat bali. Namanya aku tidak tahu tapi kalau dilihat sekilas, kalian pasti berpikir “wah, bali nih”. Kurang lebih seperti itu.
Berbeda dengan Jogja yang kental dengan budaya daerah wayang, keraton, dan sebagainya. Hiasan yang ada di bandara ini cukup unik sehingga kami mengambil beberapa foto di tempat ini. Tentunya tidak bisa mengambil foto terlalu banyak karena kami dikejar waktu dalam perjalanan ini. Kalau telat dan akhirnya tidak berangkat sesuai jadwal, bisa dimarahi kepala sekolah nanti.
Kami kembali harus menunggu proses administrasi yang diurus oleh panitia. Perjalanan selanjutnya akan kami lakukan dengan menggunakan bus. Namun bus ini berbeda dengan yang ada di bandara Soekarno Hatta. Tidak mungkin bus yang tadi di tempat kami berangkat dipakai kembali di tempat ini. Masa iya busnya mau dibawa dengan pesawat kemari.
"Ayo, rombongan dari … ikut saya untuk masuk ke dalam bus "
Mendengar arahan dari panitia, Kami semua dengan tertib pergi menuju tempat bus berada. Sama seperti sebelumnya, bus kali ini juga berjumlah dua. Dengan jumlah kursi yang mirip dengan bus tadi malam kami pakai.
Kami juga mendapatkan dua pemandu selama perjalanan kami kali ini. Mereka akan memandu kami mengelilingi Bali sesuai dengan rundown yang telah dibuat oleh panitia. Karena ada banyak tempat yang ingin kami kunjungi, menggunakan waktu seefisien mungkin dan mengunjungi tempat wisata sebanyak mungkin selama waktu masih ada.
__ADS_1
Kira-kira tempat apa yang akan kami kunjungi pertama kali di sini? Aku penasaran karena ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tanah Bali.