Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 69 Tahun Baru


__ADS_3

Kost Rendra cukup dekat dari tempat kami sekarang. Dengan menggunakan motor, seharusnya hanya memakan waktu kurang dari lima belas menit. Tetapi, kami mengalami dilema baru.


Rendra ke tempat ini hanya menggunakan sepeda motor. Sedangkan kami di sini bertiga. Aku, Zul, dan Rendra. Ojol sudah tidak bisa dipanggil, akibat hujan dan saat ini malam tahun baru. Alhasil hanya satu motor yang bisa mengantar kami ke kontrakan Rendra.


Mau tidak mau, kami memutuskan untuk boncengan bertiga. Tidak mungkin kami meninggalkan teman kami sendirian di tempat ini. Selain itu, akan membuat Rendra lelah kalau harus bolak balik menjemput kami secara bergantian.


Akhirnya opsi terakhir digunakan. Namun jangan sampai kalian tiru. Karena itu sangat berbahaya, motor di desain untuk dinaiki oleh dua orang. Ada juga batas limit beban yang dapat kendaraan tahan.


Melakukan hal ini pasti akan ditilang polisi kalau ketahuan. Apalagi kami tidak menggunakan helm. Bisa kena berapa lapis ini tulangnya. Untungnya sekarang sudah tengah malam dan kami tidak bertemu dengan polisi sepanjang perjalanan.


"Serius ni bro, gayoran? "


"Iya serius, bisa kok gua."


Aku dan Zul saling menatap satu sama lain. Kemudian kami mencari posisi gayoran yang pass.


"Sudah siap semuanya, ayo berangkat. Bismillah"


Rendra menancap akan gas motornya kemudian kami memulai perjalanan menuju kontrakan Rendra. Jalanan sangat licin karena saat ini hujan masih turun di kota Jakarta. Selain sesak Gayoran, kami juga harus bertahan dari percikan hujan yang menusuk ke tubuh kami.


Malam hari dan hujan membuatku tidak bisa melihat pemandangan sekitar. Fokus diriku hanya untuk pegangan agar tidak jatuh dari motor. Beberapa menit kemudian, akhirnya kami sampai ke tempat tujuan kami malam ini. Untungnya Rendra dengan lihai bisa membawa kami gayoran. Aku belum tentu bisa melakukan hal yang sama.


*kos Rendra*


Saat sudah masuk ke parkiran kontrakan. Aku dan Zul turun dari motor terlebih dahulu. Tidak mungkin memarkirkan kendaraan saat penumpang Gayoran seperti ini. Rendra menyapa petugas parkir kemudian menaruh motornya di tempat yang telah tersedia.


Kami menanti Rendra parkir kemudian mengikuti dirinya untuk menuju kamar kontrakan miliknya. Banyak anak tangga kami naiki sebelum sampai ke kontrakan temanku yang kerja sebagai IT itu. Karena kamar tempatnya ngontrak berada di lantai 4. Lumayan juga kaki ini naik naik tangga.


"Ayo masuk bro, ini kamar gue." Ucap Rendra sambil membuka pintu.

__ADS_1


Aku masuk ke dalam kamar dan melihat kondisi kamar Rendra. "Lumayan juga kamar ini."


"Tapi Kecil juga ya? Berapa kontraknya per bulan?" Tambah Zul sambil melihat kamar Rendra.


"Satu juta per bulan bro. Sudah sama listrik dan lain-lain." Jawab Rendra sambil menaruh tas di dalam kamar.


Kamar Rendra cukup sederhana. Satu kasur di lantai dengan beralaskan karpet. Kemudian satu lemari, meja, dan kursi. Ada juga kantong plastik untuk menaruh sampah dan baju kotor. Kami melanjutkan obrolan setelah duduk santai di kamar Rendra. Kontrakanya juga ber Ac sehingga kami tidak kepanasan berada di dalam kamar.


Karena dia tidak ada kursi duduk, mau tidak mau kami hanya lesehan langsung duduk di lantai tidak beralaskan apapun. Kami memutuskan untuk menonton bareng sebuah film yang ada di Laptop Rendra.


Film yang kami tonton adalah salah satu film superhero yang sudah terkenal. Hanya Rendra yang belum menonton film ini. Aku dan Zul sudah pernah menonton nya. Jadinya cukup males nonton ulang, namun lumayan lah nonton sambil ngobrol. Ada juga momen Rendra bertanya sesuatu dan kami berdua menjawab pertanyaan yang ia berikan.


Selesai menonton film, aku izin ke toilet sebentar. Setelah meminta petunjuk dari Rendra, aku menuju lokasi toilet berada. Jalan ke sana cukup gelap dan agak menyeramkan. Apalagi ditambah kondisi lorong yang sepi karena saat ini sudah tengah malam.


Aku bergegas memasuki toilet dan berniat untuk menyalakan lampu.


Akibat mati lampu, aku hanya bisa memanfaatkan cahaya rembulan saja. Untungnya aku membawa handphone sehingga senter yang ada di HP dapat digunakan. Beres membuang air, aku kembali ke kamar Rendra. Mereka masih asyik ngobrol berduaan.


Kami melanjutkan obrolan hingga beberapa jam sebelum subuh. Puas ngobrol, aku dan Zul tidur dengan beralaskan kasur Rendra dan badan langsung menyentuh lantai. Sudah ketebak pasti nanti bangunya tidak enak. Aku berdoa sambil memejamkan mataku karena akan pergi ke alam mimpi.


"... Hmmm. "


Aku terbangun dan melihat bahwa sudah masuk waktu subuh. Saat aku bangung, ternyata hujan deras masih turun. Aku melaksanakan shalat subuh kemudian bermain handphone sambil menunggu hujan reda.


*cetar*


Suara petir bergemuruh membuat listrik di kontrakan Rendra mati. Sepertinya karena curah hujan tinggi. Semua infrastruktur menjadi rusak. Aku, Zul, dan Rendra ngobrol sambil gelap gelapan dan hanya bermodalkan senter HP sebagai sumber cahaya.


Meskipun gelap, aku memaksakan mandi pagi. Walaupun listrik masih padam. Karena tidak ada lilin, aku kembali menggunakan senter handphone sebagai alat penerangan. Bisa-bisa nanti salah gosoknya kalau mandi gelap-gelapan.

__ADS_1


Kali ini aku ke kamar mandi lantai 3. Karena menurut Rendra, pada jam segini air di kamar mandi lantai 4 biasanya tidak mengalir. Selesai melaksanakannya mandi, aku kembali nongkrong di kamar Rendra hingga siang hari.


Melihat hujan tidak kunjung Reda, aku dan Zul memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Agak nekat juga karena kami melihat kalau beberapa rute KRL mengalami kendala karena relnya kebanjiran.


Setelah mencari tahu rute angkot dari Rendra, kami diantar olehnya hingga sampai ke tempat ngetem angkot. Dia sekalian jalan untuk mencari makan siang. Untuk makan pagi tadi kami juga mencarinya di luar. Lumayan sekalian jogging di pagi hari. Meskipun agak basah terkena hujan.


Karena kontrakan Rendra tidak menyediakan dapur. Kami sarapan di minimarket terdekat untuk sarapan. Pagi ini aku sarapan dengan menu ala ala Jepang. Onigiri dengan sandwich sebagai pelengkap. Tidak lupa minum ocha untuk menambah estetik jepangnya. Untungnya sarapan itu cukup sebagai energi hingga siang hari.


Kembali membahas angkot, Aku dan Zul menaiki kendaraan tersebut bersama-sama namun memiliki tempat tujuan yang berbeda. Awalnya aku kira kita akan turun di tempat yang sama. Karena itulah aku kaget karena kami telah melewati tempat pemberhentian yang menjadi tujuanku.


"Lah, kamu gak turun di stasiun ini? " Tanyaku kepada Zul.


"Gak bro. Jadinya gue naik ini sampai ke kontrakan gua. "


'Eh lah dalah. Udah tahu gua turunya di sini. Malah diem aja. Kurang ajar!’ Ucapku dalam hati.


Mau tidak mau aku harus turun di tempat terdekat kemudian harus jalan cukup jauh untuk sampai ke stasiun. Setelah perjuangan yang cukup melelahkan, akhirnya aku sampai ke stasiun.


Stasiun Palmerah memiliki arsitektur yang cukup menarik. Dengan tema outdoor sehingga tidak terasa kita sedang berada dalam stasiun. Aku langsung tap kartu e-money kemudian menunggu kereta yang akan menuju Stasiun serpong.


Sambil menanti, aku bermain handphone dan melihat-lihat pemandangan. Ada yang kelihatan sedang terburu-buru menuju stasiun. Ada yang sedang duduk menunggu sambil main handphone sepertiku.


Ada juga yang sedang asik ngobrol bersama dengan temannya. Banyak sekali macam orang yang sedang menaiki kereta. Ada juga beberapa wanita cantik yang menunggu datangnya kereta. Memang observasi orang cukup menyenangkan kalau tidak ada teman ngobrol di sekitar. Ketika waktunya tiba. Akhirnya kereta yang kutunggu telah tiba.


"Kereta KRL dengan tujuan akhir serpong. Tujuan akhir serpong. Akan segera sampai ke stasiun. Penumpang yang akan menaiki stasiun Serpong silahkan menunggu di belakang garis kuning. "


Aku langsung bersiap ke tempat tunggu karena takut ketinggalan kereta. Tidak lucu kalau harus menunggu kereta selanjutnya. Aku menaiki kereta tersebut dan berdiri sambil bergelantungan sepanjang perjalanan. Memang agak sulit mendapatkan kursi di dalam kereta KRL, biasanya keduluan oleh orang lain dulu.


Mungkin hanya bisa duduk kalau kebetulan ada yang turun di stasiun berikutnya di dekat tempatku berdiri. Nantinya ada banyak waktu yang terbuang. Acara tahun baru ku masih akan berlanjut.

__ADS_1


__ADS_2