
Kondisi rumah sudah cukup senggang. Dari beberapa hari belakangan kami harus mengurus acara Tahlilan bapak. Sekarang keluarga kami sedang memasuki fase istirahat dan harus menunggu selama 40 hari sebelum kembali melakukan acara tahlilan.
Pada momen ini, barulah aku bisa fokus untuk mencari pekerjaan kembali. dari sebelum-sebelumnya aku harus fokus untuk merawat bapak. Sekarang aku sudah bisa fokus kembali mencari pekerjaan.
Apa yang kalian bayangkan saat mencari pekerjaan? kalau kalian ingat, dua pekerjaanku sebelumnya semua berasal dari kekuatan koneksi. Pekerjaan menjadi guru kudapat dari tanteku, sedangkan pekerjaan kedua kudapatkan dari omku yang ada di Tangerang. Tanpa adanya faktor itu, mungkin bisa saja aku akan memiliki pekerjaan berbeda. Serta waktu mendapatkan pekerjaan yang lebih lama tanpa adanya hal ini.
Meskipun begitu, aku tetap berterima kasih bisa sempat mendapatkan pekerjaan dari kedua tempat tersebut. Karena dari dunia kejarlah, kita sebagai manusia bisa menjadi tumbuh lebih baik. Namun harus hati-hati, bisa juga lingkungan kerja yang buruk bisa merubah kita menjadi orang yang jahat juga. Kita sendiri harus memiliki pendirian yang kuat sebelum mulai terjun ke dalamnya. Seperti kisah temanku yang kerja di BUMN sering curhat mengenai pekerjaan saat kami nongkrong.
Karena tidak dipungkiri, kita harus bekerja untuk hidup. Seperti kata pepatah ‘kalau tidak kerja, tidak akan dapat nasi’. Kita harus bekerja agar mendapatkan upah, kemudian uang tersebut kita gunakan untuk mencukupi kebutuhan kita. Selain mengatur pemasukan, kita juga harus bisa mengatur pengeluaran agar kita tidak mati duluan sebelum hari gajian tiba.
Hari gajian bisa berbeda dari satu tempat dengan tempat lainnya. Ada yang gajian di akhir bulan, tengah bulan, ada juga yang kerja di akhir bulan. Semuanya kembali terhadap kebijakan masing-masing perusahaan tempat kalian bekerja.
Sekarang, aku sedang kembali browsing mengenai lowongan kerja yang sedang ada saat ini. Namun aku tidak sepenuh hati mencari pekerjaan baru, karena ada dua faktor utama.
Pertama, aku ingin mencoba hidup dari menulis. Sudah sejak lama aku takjub dengan dunia novel. Penasaran sekali ingin merasakan hidup dari karya dan imajinasi yang kita miliki. Peluang pastinya ada, namun semuanya kembali kepada seperti apa kemampuanku menulis, serta bagaimana reaksi pembaca terhadap karya ku nantinya.
Kedua, ada isu dari Bule Yeni kalau aku akan diberikan pekerjaan. Semenjak keluarga besar mengetahui aku sedang mencari pekerjaan. Mereka dengan semangat menawarkan aku pekerjaan. Sehingga aku mencari kerja setengah hati karena aku ingin melihat bagaimana hasil dari kedua hal tersebut. Namun ternyata realita berkata lain. Karena terkadang, kenyataan tidak seindah dengan bayangkan serta rencana kita.
Novel yang sudah aku buat dengan susah payah, kuhabiskan waktu untuk mengetik kata per kata dan juga menghabiskan waktu untuk mencari ide. Sedikit sekali yang mencoba dan membaca karya milikku. Apalagi dengan jumlah bab yang masih sedikit, karya milikku masih belum boleh mengajukan kontrak.
Karena itulah dalam waktu satu bulan, aku mencoba agar mencapai target kalimat minimum untuk pengajuan kontrak. Perjuangan itu berhasil aku lalui dan aku senang sekali saat tombol pengajuan kontrak di halaman karyaku sudah bisa diklik. Tetapi kenyataan begitu kejam, sebelum kontrak turun, masih banyak hal yang harus aku perbaiki.
__ADS_1
“Waduh, kenapa gagal ini!?” Ucapku sambil melihat tulisan di layar komputerku.
Disana tertulis jelas kalau aku tidak lulus review awal. Ternyata sebelum kontrak, aku masih harus kembali melewati beberapa tahap sebelum novelku akan dikontrak secara resmi. Baru tahap awal saja, ternyata novelku sudah ditolak mentah-mentah. Sudah susah payah memenuhi minimum jumlah kata, malah ditolak.
“Coba aku lihat, apa sih yang kurang dari karyaku hingga tidak lulus review?” Pelan-pelan aku mulai membaca apa komentar dari pihak yang menolak karya milikku.
Mereka mengatakan (atau mengetik) kalau sinopsis karya masih kurang serta belum ada cover sampulnya. Aku kira sinopsis jangan terlalu panjang agar pembaca penasaran apa isi dari karya kita, ternyata jumlah kata yang aku masukkan untuk sinopsis terlalu sedikit.
Ilustrasi? aku ini kan penulis. Kenapa juga masih memikirkan ilustrasi juga saat di awal karya? Memang sepertinya sudah tidak relevan pepatah mengatakan ‘Jangan nilai buku dari covernya’. Setelah membaca kedua penyebab gagalnya review awalku, aku dengan segera memperbaiki semua kekurangan yang ada.
“Baiklah, jadi aku hanya perlu tambahkan synopsis saja serta tambahkan cover?”
“Hah!? Harus nunggu satu bulan untuk mengajukan kontrak lagi!!!” Kaget sekali diriku saat melihat ternyata harus menunggu satu bulan lagi untuk mengajukan kontrak ulang. Kalau tahu akan seperti ini sih, seharusnya di awal jangan sampai salah saat mengajukan kontrak.
“Hah, mau tidak mau. Harus nunggu deh”
Memang benar kata orang, setiap hal yang akan kita lakukan. Pasti ada tantangannya. Bahkan untuk menjadi penulis juga tidak terlepas dari segala rintangan. Namun aku berangan-angan. Kalau misalkan yang ingin menjadi novelis adalah orang yang butuh uang dengan cara cepat. Apakah novel merupakan jalan yang cocok untuknya?
“Aku rasa tidak, tidak ada yang instan di dunia ini.”
Ketika menyadari hal ini. Aku sempat berpikir ulang apakah aku akan melanjutkan menulis novel ini. Karena sebenarnya aku masih ada kegiatan online yang lain juga yang semuanya berpotensi untuk menghasilkan uang. Ingat…”Berpotensi”
__ADS_1
Semua kegiatan online memang mungkin bisa menghasilkan uang. Namun apakah semuanya bisa secara instan dan bisa mendapatkan harta yang banyak? Belum tentu. Ada kalanya orang bisa cepat viral dan mendapatkan uang yang cepat, namun setelah itu orangnya menghilang karena sudah tidak viral lagi juga dalam waktu yang singkat.
Ada juga orang yang sudah bertahan lama di industri digital. Setelah mendapatkan penghasilan yang cukup, mulai berpindah ke platform yang lain karena persaingan digital sudah mulai kurang sehat. Saat memikirkan hal ini, aku langsung mencari riset tentang hal ini dari segi novelis. Ternyata…aku menemukan hal yang mengejutkan.
“Ke..Kenapa semuanya genre beginian semua?” Ketika aku melihat novel apa yang sedang top saat ini di platform tempatku berada sekarang. Aku terkejut karena ternyata, genrenya sangat berbeda dari cerita yang kusuka.
Sebagai cowok, aku biasanya suka cerita mengenai kultivasi dan juga sistem. Pastinya aku juga suka kalau ada elemen romance di dalamnya. Namun bukan itu hal yang utama. Karena novel aksi merupakan salah satu kegemaranku. Apalagi kalau ada game elemennya serta bumbu dunia lain. Top banget lah itu.
Namun ternyata saat aku melihat novel-novel yang top. Kebanyakan semua masuk ke genre romance. Jarang sekali ada genre selain itu. Malah ada juga genre-genre yang agak ‘Berbahaya’ masuk ke dalam jajaran top juga.
“Ternyata. mau dimana saja. Semuanya sama saja ya ternyata”
Tidak hanya di dunia medsos saja ternyata orang menyukai hal-hal berbau romantis dan agak sedikit berbahaya. Ternyata di sini juga sama saja. Menyadari hal ini, sempat terbesit di otakku untuk berhenti melakukan hal ini.
“Aku tidak boleh menyerah! Dengan total 200 juta lebih orang di Indonesia ini. Masa iya semuanya suka romance doang. Pastinya mereka kadang juga mencoba membaca genre lain.”
Pada akhirnya aku memutuskan untuk mulai mencoba seperti apa novel-novel top dengan genre yang aku sukai. Daripada memaksakan diri menulis suatu cerita yang menjual tapi penulisnya tidak suka. Lebih baik membuat novel sesuka hati sehingga tidak akan berhenti ditengah jalan. Selama tidak melanggar aturan yang dibuat oleh platform.
Dengan semangat yang membara ini, aku mulai kembali menuliskan kembali novel sehingga nantinya saat waktu kontrak telah tiba. Jumlah bab di dalamnya sudah cukup banyak. Mengenai tawaran dari Bule Yeni? Akan aku bahas pada chapter berikutnya.
*Bersambung*
__ADS_1