
Pada saat cuci darah, ibu mendapatkan informasi dari suster. Saat itu, Ibuku dipanggil ketika sedang menunggu bapak cuci darah.
“Bu haji, ke sini sebentar” Ucap suster dengan nada bisik-bisik.
“Ada apa suster? pakai bisik-bisik segala?”
“Jadi begini bu…”
Suster mulai menceritakan detail masalah yang ingin ia bahas. terutama mengenai pasien bu haji yang tempo hari ibuku berikan balsem. Ternyata, ia baru saja meninggal dunia dan setelah diselidiki…ia meninggal karena covid.
Mendengar hal ini. tentunya ibuku jadi ketakutan kemudian meminta suster untuk mempersiapkan tes covid untuk bapakku besok hari. Karena ia melakukan kontak dekat dengan pasien covid itu.
“Tentu saja ibu, nanti besok bapak hajinya dibawa saja ke sini.”
“Baiklah kalau begitu, terima kasih ya suster atas informasinya”
“Sama-sama ibu.”
Ibuku sedikit lega karena bisa melakukan tes. Tes tersebut akan menentukan apakah ibuku dan juga bapak kena covid juga atau tidak. Namun siapa sangka, ternyata tidak perlu tes pun. Ciri-ciri sudah bisa terlihat saat esok hari tiba.
*Keesokan harinya, Ray POV*
“Mas…mas… ayo bangun. Subuhan dulu.”
“....Iya mah.”
Aku seperti biasa dibangunkan ibuku untuk melakukan shalat subuh. Memang sangat kurang enak kalau bangun dipaksa seperti ini. Namun apa boleh buat, ini sudah kewajiban dan tidak boleh aku tinggalkan sebagai seorang pemeluk agama islam. Wudhu aku lakukan seperti biasa kemudian aku melaksanakan shalat seperti biasa.
Namun ada hal aneh terjadi saat aku pergi ke ruang tengah. Disana, aku melihat bapak sedang digoyang-goyangkan oleh ibuku. Pemandangan ini seharusnya sudah sering aku lihat setiap hari. Tetapi ekspresi wajah ibu saat ini membuatku memiliki perasaan yang tidak enak.
__ADS_1
“Pak…bapak…Bangun pak. Subuh dulu!” Ucap ibu sambil berusaha menggoyang-goyangkan badan bapak dengan tenaga yang semakin kuat.
Biasanya bapak meskipun kadang tidak bangun, paling tidak memberikan respon seperti ngomong ataupun tindakan lainnya ketika sedang dibangunkan. Apalagi kalau sudah dibangunkan terlalu sering, bisa teriak marah-marah bapakku itu saat dibangunkan untuk sholat subuh. Namun saat ini, hal itu sama sekali tidak terjadi.
Berkali-kali ibu berusaha untuk membangunkanya, sayangnya hal itu tidak berhasil. Ia mulai panik kemudian langsung menelpon om dan menelepon warga sekitar untuk datang membantu.
“Dek, tolong ini kang Haji pingsan gak bangun-bangun! Tolong anterin ke rumah sakit ya!”
“Siap teh, tunggu ya”
Ibu berkali-kali menelpon adik bapak, sayangnya telepon yang ia lakukan tidak nyambung. Akhirnya ia berhasil melakukan kontak dengan om ku itu melalui istrinya. Sambil menunggu kedatangannya, kami semua bersiap-siap untuk membawa benda yang harus dibawa saat pergi ke rumah sakit.
Beberapa menit kemudian, datanglah warga dan juga om yang sudah kami minta tolong itu.
“Mana kang Haji? Ayo semuanya, bantu gotong ke mobil:” Ucapnya sambil meminta tolong kepada warga yang datang untuk menggotongnya ke mobil.
Bapakku memiliki berat badan yang tidak ringan sehingga tidak mungkin bisa diangkat seorang diri. Dengan bantuan beberapa orang, akhirnya bapak berhasil dimasukkan ke pintu belakang dan ibu pergi bersama dengan Arip ke rumah sakit. Aku sendiri ditugaskan untuk menjaga rumah dan adik-adik yang tidak bisa ditinggal.
Melihat dari kondisi kesehatan bapak tadi, kemudian dilihat dari cerita yang kudengar dari ibuku. Besar kemungkinan kalau bapak terkena covid. Padahal katanya hari ini baru saja mau dites. Aku juga sebenarnya sudah mulai tidak enak badan dari beberapa hari yang lalu. Apakah ini ada hubunganya juga?
‘Istighfar Ray, jangan mikir yang jelek-jelek. Sekarang waktunya untuk berdoa kesehatan untuk semua orang di rumah!’ Ucapku dalam hati sambil kembali membangunkan adik-adikku dan meminta mereka untuk mendoakan yang terbaik terjadi untuk keluarga kami.
Sambil menunggu kabar, aku berusaha untuk mengalihkan perhatianku dengan bermain handphone. Namun hal itu tidak berguna dan aku terus kepikiran. Meskipun kami sering bertengkar, memang tidak bisa dipungkiri kalau aku sangat peduli dengan kesehatan bapak. Sudah sering aku dan adikku peringatkan mengenai gaya hidup sehat. Selalu saja kurang diindahkan oleh bapak.
Padahal Yana akan masuk ke jurusan kedokteran, namun ayahnya sendiri tidak mengikuti saran dari calon dokter itu. Kalau nasihat istri dan anaknya saja tidak didengar, nasihat siapa lagi yang bisa masuk ke telinganya?
Beberapa jam kemudian, Arip kembali pulang dan memberikan kabar baru mengenai kesehatan bapak.
“Mas, Lamda, Yana. Papah ternyata positif covid”
__ADS_1
“!!!”
Mendengar berita buruk yang menjadi kenyataan itu, kami semua sebagai anak-anak merasa terpukul. Arip juga memberitahukan kepada kami kalau nanti siang akan ada dokter yang datang ke rumah untuk melakukan tes covid.
“Baiklah kalau begitu, sambil menunggu. Ayo kita beres-beres barang yang sering bapak gunakan. Siapa tahu bisa menghilangkan virus yang tertinggal di sana.”
Saran dari Arip membuat kami semua bergerak dan mulai bersih-bersih. Namun karena aku ada meeting, aku tidak bisa ikut secara penuh kegiatan ini. Kulihat semua adik-adik bekerja sama untuk bersih-bersih rumah. Hal ini jarang terjadi karena biasanya kami ada pembantu yang datang untuk bersih-bersih rumah.
Jam terus bergerak dan akhirnya waktu siang hari tiba. Kami semua tadi sudah sarapan, namun untuk makan siang kali ini, semua adik bapak (om-om dan tante-tante) gotong royong membantu kami dengan mengirimkan makanan.
“Katanya nanti akan ada yang ngirim makan” Ucapku kepada adik-adik sambil membaca pesan yang ada di dalam telepon.
“Asik” ucap adik-adikku dengan riang gembira.
Semoga saja berita mengenai makan siang ini paling tidak bisa membuat mereka sedikit terhibur. Karena keluarga kami sedang dalam kecemasan saat ini. Namun harapanku kembali diuji. Karena setelah makan siang datang, dokter yang akan memeriksa kami juga sudah tiba.
“Selamat siang, keluarga bu haji ya? Tadi sudah diberitahukan saya akan datang ke sini kan?”
“Oh iya, silahkan masuk ke dalam bu”
Di pintu masuk rumah kami, datang seorang dokter yang sudah menggunakan APD lengkap datang ke tempat kami. Tentunya kecurigaan tidak muncul sama sekali dan kami diperiksa covid satu per satu. tanpa menunggu waktu lama, hasil dari tes sudah keluar.
“Baiklah, ini semuanya positif ya. Jangan lupa untuk isolasi mandiri selama beberapa minggu ke depan.”
“Baik dokter! Terima kasih atas bantuanya”
“Sama-sama”
Dokter itu langsung izin pamit karena tugasnya sudah selesai. Ia tidak boleh berlama-lama di rumah karena ada resiko tertular juga. Setelah melihat dokter keluar dari rumah, kami melihat satu sama lain dan hanya bisa tertawa kecil saja. Kondisi kami saat ini sudah seperti zombie yang harus dipisahkan karena bisa menyebarkan bencana ke orang lain.
__ADS_1
Perjuangan kami untuk isolasi mandiri melawan covid…Dimulai.
*bersambung*