
Masih berada di kantor yang baru, aku menjalankan rutinitas seperti biasa. Tidak ada yang berbeda dari yang biasa dilakukan saat WFH. Hanya bedanya, sekarang fisik harus hadir di kantor dan bisa bertemu dengan teman kantor yang lain. Selain hal itu, tidak ada bedanya hal yang aku kerjakan di kantor dengan yang biasa aku kerjakan di rumah. Kembali aku masih bingung kenapa tidak kerjanya kembali WFH saja.
Nyaman WFH membuatku menjadi sangat tidak mood saat mulai bekerja kembali di kantor. Karena aku tidak bisa tidur siang dan istirahat sejenak kapanpun yang aku mau ketika sedang berada di rumah. Terlihat dari saat aku menoleh ke sekitar, terlihat teman kerja yang lain masing-masing serius melihat laptop mereka dan mengerjakan tugas mereka. Hal ini membuat diriku mau tidak mau aku harus ikut terus bekerja meskipun dalam keadaan konsentrasi sedikit bubar akibat kelelahan.
Beruntung aku bisa bertahan hingga jam makan siang datang. Salah satu hal yang membedakan kerja di office dan di rumah adalah adanya waktu makan ini. Karena kalau di rumah, kita bisa makan dan ngemil kapanpun kita mau. Berbeda dengan di kantor, tidak enak kalau kita makan melulu kalau belum jam istirahat. Ketika sudah memasuki jam makan siang, pastinya aku hendak pergi ke luar untuk mencari makan.
Tetapi karena sekarang aku berada di tempat yang baru, ditambah dengan tidak adanya kendaraan pribadi. Aku tidak mengetahui dimana tempat aku bisa mencari makan siang. Bisa saja aku pergi ke luar dan muterin wilayah sekitar untuk mencari makan. Namun kebetulan aku sedang malas untuk keluar, ditambah situasi cuaca yang tidak mendukung serta agak gerimis. Pada saat ini, teknologi sangat membantu kami para karyawan kantoran.
Salah satu rekan kerjaku, Wall. Menawarkan untuk membeli makan siang dengan menggunakan aplikasi online. Melihat ada kesempatan, aku tidak keberatan dan ikut memesan sesuai dengan apa yang ia pilih. Karena tidak enak kalau udah dibeliin, malah kitanya sibuk sendiri memilih makanan yang berbeda. Setelah selesai pesan, kami menunggu selama beberapa menit untuk pesanan tiba di kantor.
Sambil menunggu, aku istirahat dengan bermain handphone dulu selama beberapa menit. Menit demi menit berlalu, terlihat Wall sudah mulai berdiri dari kursinya kemudian pergi ke lantai bawah untuk mengambil pesanan. Karena gedung kami berada di lantai dua dan ojol tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam. Pada akhirnya, Wall kembali datang ke kantor sudah membawa makanan yang tadi di pesan. Ia sendiri yang turun ke bawah untuk menemui ojol yang sudah berada di gerbang depan.
“Nih, pak Ray. Sudah datang makanannya” Ucapnya sambil memberikan bungkus nasi kepadaku.
“Berapa ini habisnya?” Tanyaku kepada rekan kerjaku itu.
__ADS_1
Ia tidak memberitahukan habisnya berapa dan mengatakan kalau makan siang kali ini ia bayar. Melihat Wall bersedia untuk membayar makan untuk hari ini, dengan senang hati aku menerimanya. Lagipula besok siang sudah tidak akan ada makan siang karena aku sebagai muslim akan menjalani puasa ramadhan.
Tidak terasa, besok sudah tahun kedua aku menjalani puasa sebagai programmer. Namun belum masuk ramadhan, sudah ada ujian yang dimulai dengan aku harus pergi kembali kerja ke kantor. Hal yang sudah agak tidak nyaman aku lakukan karena sudah terbiasa melakukan kegiatan kerja di dalam rumah.
Selesai makan siang, aku kembali bingung karena tidak tahu harus dibawa kemana sampah makanan yang ada di depanku ini. Namun dengan teknik observasi yang baik, aku lihat pak Suharno menaruh piring yang digunakan di sudut meja. Perlahan-lahan, aku juga mulai mengikuti langkahnya dan menaruh piring di sana. Mungkin saja nantinya akan ada petugas yang membantu membereskan sisa makanan tersebut.
Perut sudah terisi, sekarang waktunya bagiku untuk melakukan ibadah siang hari seperti biasa. Kebetulan aku sudah mengetahui posisi mushola di tempat ini sehingga aku langsung pergi ke tempat itu. Karena masih prokes, sebelum wudhu aku melepas masker yang aku kenakan terlebih dahulu. Baru aku pakai masker lagi setelah selesai wudhu dan ketika shalat. Karena tidak enak kalau mengenakan masker yang telah basah terkena air. Kayak sesak gimana gitu saat dipakai.
Kulihat pak Suharno juga sedang melaksanakan ibadah yang sama. Aku berdiri di belakangnya dan menjadi makmum untuk shalat kali ini.
Ketika sholat sudah selesai, kami berdua berdoa terlebih dahulu. Kemudian aku dan pak Suharno mulai mengobrol ringan sambil kembali ke ruang kerja. Tidak banyak hal yang kami bicarakan, hanya hal-hal kecil saja dan tidak ada hal yang sensitif. Sampai kembali di ruang kerja, aku kembali berada di depan laptop dan melakukan pekerjaan seperti biasa. Tidak ada hal spesial yang terjadi sampai hari menjelang sore.
Masuk ke waktu sore, biasanya aku tinggal menjalankan shalat ashar dan langsung kembali pulang ke kontrakan. Namun kali ini, setelah shalat, datanglah pak Tian dengan gayanya sebagai boss dan wajah senyum namun kelakuannya tidak menyenangkan. Kami menyambutnya kemudian ngobrol sebentar sebelum masuk ke inti permasalahn.
“Jadi, saya mendapatkan laporan. Kalua Elektronik Jaya ini susah sekali dihubungi saat WFH. karena itulah management memutuskan untuk kembali membuat semuanya kerja dari kantor.”
__ADS_1
Mendengar hal ini, hatiku langsung bergetar. Dengan kondisi masih pandemi seperti ini, malah disuruh masuk ke kantor. Sambil berusaha menenangkan hatiku yang bergejolak, aku kembali mendengarkan penjelasan pak Tian.
“Karena itulah mulai besok, nanti akan dibuat jadwal kerja secara shift. Agar nanti kalau ada yang butuh urusan dengan Elektronik Jaya, merkea tinggal ke kantor saja untuk langsung bertemu. Nanti ruang kantornya kemungkinan besar tidak di sini. Kita akan carikan ruangan untuk menampung kalian semua.”
Setelah penjelasan diatas, Pak Tian mulai memberikan detail mengenai bagaimana proses kerja di kantor nanti .Karena jadwal shift belum selesai dibuat, untuk beberapa hari kedepan, kami semua harus masuk ke kantor setiap hari kerja. Hal ini membuat rencanaku berantakan total.
Awalnya aku mengira kalau kerjanya secara shift, aku bisa tetap tinggal di rumah dan hanya pergi ke kantor pada saat jadwalku saja. Tidak perlu menyewa kontrakan di Tangerang. Namun sekarang, karena beberapa hari ke depan harus masuk terus menerus, mau tidak mau aku harus kembali mengontrak seperti sedia kala.
Pak Tian kemudian mengobrol beberapa hal yang kebanyakan aku dengar sekilas saja. Karena berdasarkan pengalaman, jangan percaya dengan apa yang ia ucapkan. Orang ini sering mengucapkan hal-hal manis, namun pada kenyataannya omongan dari beliau semuanya kosong. Beberapa hari ke depan, barulah terlihat nanti bagaimana semua kata yang keluar dari mulutnya tidak seindah kenyataan.
Selesai memberikan arahan, pak Tian langsung pamit untuk pergi ke tempat lain. Memang orang yang satu ini sok sibuk karena berurusan langsung dengan owner kami, pak Bem. Namun kalau menurutku pribadi, skill personal miliknya nol besar. Apalagi nantinya, aku juga akan menjadi korban dari kelakukan orang yang tidak ada rambut ini.
Beberapa menit setelah pak Tian pergi. Satu per satu dari kami pamit untuk pulang ke rumah masing-masing. Tidak terkecuali diriku, aku juga mulai pamit dan akan kembali ke rumah tempat orang tuaku berada. Bukan ke kontrakan seperti dulu saat masih kerja di kantor. Ceritaku untuk kejadian ini masih belum selesai, ada beberapa hal yang harus aku lakukan sebelum aku bisa benar-benar istirahat untuk hari ini.
*Bersambung*
__ADS_1