Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 92 Mbah Kakung Dirawat


__ADS_3

Masih dalam keadaan WFH. Terkadang aku juga menggantikan ayahku untuk menjaga mbah saat malam hari. Entah kenapa mbah terkadang masih membutuhkan pengawalan meskipun di rumah sudah ada perawat. Mungkin ia kangen dengan anak-anaknya atau ada alasan lainnya. Hal ini juga sering aku lakukan saat aku masih mengajar dulu, karena mengajarnya masih satu kota dengan kampung halaman.


Pernah suatu hari aku bertanya kepada bapak kepada mbah melakukan hal itu “Ya, Mbah kamu itu takut duitnya ilang. Soalnya kan duitnya banyak dan ia gak mudah percaya sama orang. Karena itu ia selalu minta ditemani saat malam hari.” Entah benar atau tidak alasan dari bapak itu.


Kalau nginepnya sekali-kali sih gak papa. Tapi kalau tiap malam, capek juga badan ini. Untungnya untuk menjaga mbah ini,semua om dan tanteku melakukannya secara bergiliran.


Salah satu hal yang sampai saat ini aku sesali adalah pernah membentak mbah karena protes aku kelamaan datangnya.


“Kok lama Ray datangnya!”


“Sabar toh mbah, ini juga selesai shalat langsung ke sini. Masa nggak boleh shalat dulu mbah. Nanti berdosa kalau gak shalat dulu?”


Setelah mengucapkan hal ini, aku merasa bersalah, padahal bisa lebih simpel aja. Tinggal lakukan saja shalat di tempat mbah. Daripada aku membentak orang tua seperti itu, akan lebih baik kalau aku mencari jalan keluar yang seperti itu. Ya Allah, semoga mbah kakung bisa memaafkan kesalahan cucu yang masih banyak melakukan kesalahan ini ya Allah.


Setelah aku berkata seperti itu, ia langsung terdiam dan kembali ke kamarnya. Ini saat mbah masih cukup sehat dan masih sering jalan-jalan. Entah kenapa seiring berjalanya waktu, kondisi fisik mbah menurun secara terus-menerus. Kemungkinan besar triggernya adalah saat istrinya meninggal, dalam artian mbah yang perempuan sudah tiada.


Saat itu aku masih kuliah di Jogja sehingga tidak bisa menghadiri sesi pemakaman. Namun aku sempat mengunjungi makamnya saat aku sedang mengunjungi kampung halaman. Semenjak tidak adanya mbah putri, mbah putra kondisi fisiknya semakin menurun serta jadi semakin manja dan meminta untuk selalu ditemani anaknya saat tidur di malam hari.


Keadaan ini terus terjadi dari semenjak aku lulus kuliah hingga saat ini. Ada juga kalanya kondisi tumbuh mbah ngedrop karena alasan tertentu. Alasan medis yang aku sampai sekarang tidak terlalu paham. Entah kurang gizi anu atau kurang gizi apa gitu namanya. Namun sejauh yang aku dengar, kalau ada gizi yang kurang dari tubuhnya. Kondisi tubuh beliau akan drop.


Sering beberapa kali ia dirujuk ke rumah sakit. Kalau kalian ingat, satu hari sebelum aku kerja di Tangerang. Mbah sempat dirujuk ke rumah sakit di Bogor. Selain Bogor, mbah juga pernah di rawat di rumah sakit kota dekat rumah karena lasan yang sama. Memang kalau sudah umur tidak heran kalau sering bolak-balik rumah sakit. Aku sedih melihat hal itu terjadi kepada mbah dan mendoakan agar mbah cepat sembuh.


Untungnya masih ada perawat yang membantu keluarga kami untuk menjaga mbah. karena semua anaknya sudah sibuk kerja masing-masing sehingga tidak memiliki waktu setiap saat untuk menjaganya. Namun pastinya, kalau butuh sesuatu atau memanggil anaknya. Semua anak yang terdekat segera langsung pergi menghadap dirinya.

__ADS_1


Kejadian ini terus-menerus berlalu hingga pada akhirnya, malaikat pencabut nyawa datang untuk memberikan kabar tidak sedap kepada keluarga. Mbah akhirnya meninggal pada tahun 2021 ini. Penyebab utama beliau meninggal adalah…Covid 19.


Pada saat itu aku ditelpon oleh salah seorang tanteku. Ia adalah adik dari bapak yang memberikan mengenai kondisi mbah saat ini yang sedang dirawat di rumah sakit dekat rumah. Nanti malam, beliau akan dikirim ke rumah sakit bogor karena ruangan ICU khusus covid di rumah sakit ini kurang memadai.


“Ray, nanti nemenin mbah ya, biar suami tante ada yang nemenin”


Dengan berusaha menahan nada kesal aku menjawab “Baik tanit, nanti saya temenin ke Bogor.” Ucapku mau tidak mau menerima permintaan dadakan dan tanpa ada pemberitahuan sebelumnya itu. Tidak dibayar pula.


Pengawalan ini dilakukan untuk mengantar mbah dari kota ke Bogor. Perjalanan kesana kira-kira membutuhkan waktu sekitar 5 jam. Tentunya iringan ini kami lakukan sambil mengikuti ambulans untuk perjalanan ke sana. Aku sangat tidak suka disuruh-suruh seperti ini. Namun karena kebetulan aku sedang WFH, mau tidak mau aku yang terkena getahnya. Daripada repot nanti kesananya hanya gara-gara menolak mengantar mbah kakung saja.


Kami berangkat dari kota saat malam hari. Sebelum berangkat, aku sudah bersiap diri dengan makan malam dan membawa bekal serta persiapan lainnya. Keadaan Mbah memburuk dan harus dibawa ke Bogor karena beliau terkena virus yang sedang marak terjadi saat ini, covid.


Entah kenapa ia bisa terkena virus itu. Padahal ia tidak pernah keluar rumah sama sekali. Karena itulah kami sempat curiga bahwa salah satu orang luar yang sering masuk ke rumah membawa virus tersebut. Namun karena tidak enak main tunjuk orang, kami hanya sekedar tahu dan berhati-hati saja. Tidak menghakimi orang tersebut,entah orangnya sadar atau tidak.


Sebelum berangkat, kami harus mengurus dokumen terlebih dahulu. Oleh karena itu, aku sudah standby di rumah sakit untuk mengurus izin menggunakan ambulans. Karena proses pengiriman pasien riskan seperti mbah harus dengan proses dokumen yang cukup banyak.


Sambil menunggu pengurusan dokumen, aku juga mempersiapkan kartu e-money untuk perjalanan nanti. Untungnya hp milik ku sekarang sudah ada NFC sehingga tidak perlu mampir ke indomaret lagi untuk top up kartu. Beberapa jam setelah menunggu, akhirnya kami mulai berangkat ke Bogor.


Di dalam rumah sakit, ibu dan tanteku lah yang mengurus dokumen untuk pemindahan pasien mbah dari sini ke rumah sakit bogor. Aku dengan suami tanteku hanya duduk santai aja untuk istirahat. Karena nantinya kami akan melakukan perjalanan yang cukup panjang.


“Hati-hati Ray di jalan, jangan sampai tidur ya, temenin omnya”


“Baik bu”

__ADS_1


Setelah berpamitan dengan yang ada di rumah sakit, aku berangkat ke Bogor bersama dengan omku dan perawat mbah. Kami mengikuti ambulance memasuki tol dan terus hingga sampai ke RSUD Bogor. Karena disitulah tempat tanteku yang lain melakukan praktek sebagai dokter..


Selama perjalanan, sebisa mungkin aku melakukan pembicaraan dengan om Iskandar. Takutnya ia ngantuk di jalan sehingga aku selalu berusaha mencari topik yang aman untuk dibicarakan. Selama perjalanan aku mengenakan prokes ketat sehingga sulit sekali kalau ingin makan ataupun minum. Nafas aja udah sesak, apalagi melakukan hal yang lain.


Alhasil selama perjalanan berjam-jam airku tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman sama sekali. Perjalanan juga cukup menantang,karena kalau dengan ambulans, pastinya kami merupakan pengguna jalan prioritas sehingga semua mobil yang menghalangi jalan harus menyingkir untuk memberikan jalan kepada kami.


Om Iskandar melihat ke arah belakang mobil dan berkata kepadaku “Tuh, lihat Ray. Ada yang ngikutin kita tuh. hahaha”


Aku melihat ke arah belakang dan betul saja, ada mobil yang mengikuti kami. Pastinya kalau mengikuti belakang ambulans, mereka juga bisa lebih cepat melaju dalam perjalanan. Karena mobil di depan pastinya akan menyingkir. Namun biasanya, mereka mengikuti hanya beberapa menit saja, karena rutenya berbeda dengan kami.


Beberapa kali kami mengalami saat ambulance lewat, mobil di depan sudah memberi jalan. Namun saat kami yang mau lewat, eh malah mobil itu kembali ke jalur sebelumnya sehingga membuat kami tidak bisa lewat.. Om Iskandar langsung klakson mobil itu dan untungnya tidak ada masalah yang terjadi sepanjang perjalanan.


Saat kami akan sampai ke daerah bogor, tiba-tiba ambulans di depan kami berhenti.


“Kenapa mereka berhenti om” Tanyaku kepada om Iskandar yang ada di sampingku.


“Ngak tahu nih, coba tanyakan kepada mereka.”


Kami melaju ke sampingnya dan bertanya kepada sopir ambulans. Kaca mobil kami buka kemudian aku berkata “Kenapa pak berhenti?”


Sopir ambulans yang mukanya tidak kelihatan karena menggunakan masker menjawab kepadaku “Duluan aja pak, kami gak tahu jalan. Nanti kami ikuti dari belakang.”


Mendengar jawaban supir tersebut, aku dan om Iskandar satu sama lain. Kemudian kami menancap gas dan berpindah posisi menjadi di depan ambulans. Bisa-bisanya sopir ambulans gak tahu jalan ke rumah sakit. Ada-ada saja. Ini namanya staf kurang persiapan. Kira-kira, apa yang akan terjadi selanjutnya dalam perjalanan ini?

__ADS_1


*bersambung*


__ADS_2