
Pakaian sudah rapi dan badan juga wangi setelah menggunakan parfum. Aku tidak sisiran karena rambutku masih tipis. Mungkin aku harus beli sisir dan cermin nanti kalau rambut sudah mulai lebat. Entah kenapa dari jaman sekolah dulu, aku lebih suka rambut tipis seperti ini. Tidak perlu disisir sehingga tidak ribet.
Setelah memastikan pintu terkunci, aku berjalan keluar rumah dan menuju jalan raya. Kontrakan tempatku berada berada cukup di dalam gang. Sehingga butuh jalan sekitar 5 menit untuk menuju jalan raya. Jalan masih bisa dilalui oleh mobil, tapi kalau sudah satu mobil lewat, mobil yang lain harus menyingkir terlebih dahulu.
Saat ini aku belum menggunakan ojol karena hp belum mendukung. Maklum storagenya kecil sehingga tidak muat untuk mendownload aplikasi yang dibutuhkan. Aku memutuskan untuk menaiki angkutan umum kali ini. Rute menuju kantor sudah aku ketahui dari bertanya kepada saudara dan juga maps.
'oh iya, aku belum sarapan' gumamku sambil merasakan perut yang keroncongan.
Karena aku belum membeli stok makanan untuk di kontrakan, aku harus membeli makanan di luar hari ini. Di sekitar sini kira-kira ada makanan tidak ya?
Melihat kesana kemari, aku menemukan ada yang jualan bubur ayam. Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju ke tempat itu. Karena kulihat pelanggan lumayan ramai, seharusnya rasa bubur di tempat ini cukup enak.
Aku mulai duduk di tempat yang disediakan kemudian mulai pesan "Pak, buburnya satu ya makan sini."
"Siap pak, mohon tunggu sebentar." Ucap mamang bubur sambil mengeluarkan mangkok.
Kulihat yang makan disini kebanyakan orang kantoran juga. Terlihat dari pakaian dan barang yang mereka bawa. Namun ada juga keluarga yang sedang mengajak anaknya makan pagi. Entah mereka hari ini sedang mengambil cuti atau memang kerjanya yang shift siang atau malam.
Aku juga melihat ada orang yang habis jalan pagi makan di tempat ini. Memang sepertinya cocok sekali kalau habis capek olahraga, makan bubur untuk sarapan. Kalau tidak salah ingat, temanku yang ada di Jakarta juga makan bubur setelah ia pergi joging.
"Ini mas buburnya, selamat menikmati" mamang bubur menyuguhkan bubur dan menaruh sate di samping nya.
"Terima kasih ya."
Aku lihat memang ia juga melakukan hal yang sama kepada pelanggan lain. Bubur ditaruh disuguhkan bersama dengan sate sebagai pelengkap. Pastinya akan ada biaya tambahan setiap tusuk sate yang kita ambil.
Kulihat ada beberapa macam sate yang ia sediakan. Mulai dari sate telur, ampela, dan usus. Setiap daerah mungkin berbeda isinya bisa berbeda-beda. Namun kalau di sini, harga per sate sekitar dua ribu rupiah.
Sedangkan buburnya sendiri seharga 12.000 rupiah. Sebelum makan, aku berdoa terlebih dahulu dan melihat sekilas bubur yang aku dapat.
Bubur standar dengan kacang, daun bawang, serta bumbu-bumbu lainnya. Aku dengar ada hal lucu mengenai bubur. Terutama mengenai kaum diaduk atau tidak diaduk.
Aku sendiri memilih diaduk sehingga aku mengaduk buburku setelah menambahkan lada secukupnya. Enak sekali bubur kalau ditambah lada. Kemungkinan besar bubur ini akan menjadi menu andalanku saat sarapan nanti.
Selesai makan, aku kembali berdoa lalu membayar makanan yang barusan aku santap. Kemudian aku mencari angkot untuk menuju tempat kerja.
Angkot ada dua warna, biru dan hijau. Menurut tanteku, kalau untuk kantorku yang sekarang, kedua angkot sama-sama lewat kantor. Belum ada perbedaan rute sehingga tidak mungkin kesasar.
Tanpa menunggu lama, angkot sudah datang dan langsung aku naiki. Sama seperti diriku, sepertinya kebanyakan orang yang naik angkot juga untuk pergi bekerja.
__ADS_1
Untuk jam saya ngantor sepertinya sudah tidak ada anak sekolah yang menggunakan angkot. Semua yang naik semuanya orang dewasa. Aku tidak melihat ada anak sekolahan naik angkot pada jam segini.
Ada juga yang menuju stasiun, karena angkot ini jalurnya juga melewati tempat itu. Meskipun jaraknya dari kontrakanku lumayan jauh. Mungkin sekitar setengah jam lebih baru sampai di stasiun.
Sebagai cowok normal, aku senang melihat ada pegawai wanita yang menaiki angkot. Karena biasanya mereka menggunakan pakaian ketat kemudian rok mini.
Aku hanya melihat sekilas kemudian langsung memalingkan pandangan. Karena tidak sopan kalau melototin cewek itu terus. Ajaran yang dianut mengharuskan diriku untuk menjaga pandangan. Karena Itu aku sekedar lihat sekilas saja kemudian langsung memalingkan muka.
Selain tidak sopan, aku merasa tidak enak kalau melakukan hal itu secara terang-terangan. Karena itulah aku biasanya hanya fokus ke jalan dan hanya sesekali melirik mereka.
Penglihatan harus fokus karena ini pertama kali kalinya aku ke kantor. Khawatir nantinya karena terlalu tidak fokus melihat jalan, nantinya kesasar dan terlambat sampai ke kantor.
Perjalanan dengan angkot durasinya variatif. Terkadang cepat kalau memang nggak lama ngetem. Biasanya dia berhenti di depan mol atau jembatan penyeberangan. Untungnya mereka ngetemnya tidak lama-lama banget. Sehingga kemungkinan terlambat ke kantor menjadi sedikit berkurang. Untungnya aku sudah memberikan cukup jeda sehingga tidak terlambat.
"Kiri bang!" Teriak diriku kepada supir angkot.
Hal itu aku lakukan karena takut suaraku tidak kedengaran. Bisa juga kalian mengetuk jendela atau atap angkot untuk mendapatkan perhatian sang supir. Tinggal kita sebagai penumpang lebih nyaman cara yang mana untuk memberhentikan angkot. Karena kali ini aku duduk agak di belakang, aku harus teriak agak sedikit kencang agar suaraku terdengar.
Kalau terlalu kencang, khawatir nanti di tabok sama yang duduk di samping karena berisik. Setelah turun, aku membayar biaya sesuai dengan jarak tempuh. Pastinya sebelum turun aku sudah menyiapkan uangnya sehingga bisa menghemat waktu pembayaran.
Untuk perjalanan saat ini. Kira-kira menghabiskan ongkos 4000-5000 rupiah. Artinya, dalam sehari menghabiskan ongkos 10.000 per hari dan 200.000 rupiah dalam sebulan. Hitungan ini berdasarkan hari kerja dengan Sabtu dan Minggu dihitung libur. Perhitungan ongkos perjalanan seperti ini penting sekali karena kita harus mengetahui uang yang kita punya masuknya dari mana dan keluarnya ke mana.
Lebih baik aku mencari makanan di sekitar kantor saja. Untuk pagi ini aku melihat ada yang jual ketoprak dan nasi kuning. Mungkin bisa menjadi opsi kalau bosan sarapan dengan bubur. Namun sepertinya harus lebih pagi belinya karena kudengar kalau terlalu siang, nasinya keburu habis.
Pada saat interview kemarin, aku sudah mengetahui di mana kantorku berada. Namun aku belum mengetahui lantai tempatku bekerja. Karena ruko tempatku kerja memiliki 3 lantai.
Mau tidak mau aku menunggu dahulu setelah memberikan pesan kepada seniorku. Aku juga sempat melihat ada beberapa orang yang kemungkinan bekerja di ruko yang sama. Karena ia bolak balik dari ruko seharusnya tempat kantorku berada.
Sayangnya karena aku pemalu, aku tidak berani menyapa mereka. Lagipula mereka pagi-pagi sudah ngudut. Aku tidak suka dengan rokok. Namun bukan berarti aku benci perokok. Benci kelakuannya merokok boleh, tapi jangan benci orangnya. Itu dua hal yang berbeda, paling tidak itulah yang kudengar dari salah satu podcast yang aku dengar.
*PING*
Muncul pesan yang memintaku untuk ke gedung sebelah. Ternyata itu adalah tempat owner perusahaan tempatku bekerja saat ini.
Dia jugalah orang yang melakukan interview kepadaku tempo hari. Tidak kusangka ia adalah owner perusahaan ini. Kaget diriku saat tahu kalau orang yang melakukan interview kepadaku adalah orang tertinggi jabatanya di tempat ini.
Aku menunggu sekretaris nya mempersilahkan diriku masuk setelah membunyikan bel di pintu masuk. Sama seperti ruko sebelah, gedung tempat pak Bem berada juga terdapat mesin fingerprint di pintu depan.
Setelah menunggu beberapa menit, sekretaris pak Ben membuka pintu kemudian mempersilahkan aku masuk. “Dengan pak Ray ya? silahkan ikuti saya. Akan saya antarkan ke ruangan pak Bem”
__ADS_1
“Ok, terima kasih atas bantuannya”
Aku mengikuti cewek itu kemudian kami pergi ke ujung ruangan di lantai dua. Ternyata ruangan pak Bem terdapat di pojokan. Sekretaris itu mengetuk pintu kemudian terdengar suara dari dalam ruangan.
“Masuk”
Sang sekretaris membuka pintu kemudian berkata “Permisi pak, pak Ray sudah datang”
“Oh, sudah datang dia. Ayo masuk pak Ray, Silahkan duduk. Makasih ya Tari, silahkan kamu kembali ke ruangan”
Sekretaris bernama Teri itu langsung keluar untuk kembali ke ruangannya. Alhasil di dalam ruangan ini hanya ada aku dan pak Bem saja. Aku sempat gugup karena ini pertama kalinya aku bertemu dengan boss di tempat ini.
Kami memulai basa-basi sebentar kemudian pak Bem bertanya “Kemana pak Rawan? sudah dapat tugas dari dia belum?”
“Belum pak, saya belum melihat beliau serta tidak mendapatkan pesan apapun darinya” Jawab diriku dengan jujur.
Sang pemilik ruangan, pak Bem langsung menelepon pak Rawan. Pak Rawan adalah nama senior tempatku bekerja di tempat ini. Aku sudah kenal beliau saat ia mengirimkan email interview ke dalam inbox emailku.
"Rawan, kamu sudah di mana? Ray sudah datang nih. Sudah kamu berikan tugas belum untuk hari ini?” Tanya Pak Bem melalui saluran telepon.
"Belum pak, Nanti sampai sana baru saya kasih. Pak Ray ambil laptop saja dulu."
Mereka mulai membicarakan beberapa hal kemudian pak Bem menutup telepon.
"Baiklah Ray, selamat bergabung di tempat kami. Semoga kamu bisa bekerja dengan baik di sini." Ucap beliau sambil menyodorkan tangannya kepadaku.
Aku menjabat tangan beliau kemudian berkata "Iya pak Bem, terima kasih"
Sebelum aku pergi, pak Bem sempat bertanya dimana tempatku tinggal saat ini. Dia sempat kaget karena aku tidak tinggal di mess karyawan.
"Kok tidak tinggal di mess? Lumayan loh hemat ongkos sewa. Nani coba kamu tanyakan ada mess yang kosong tidak?"
"Siap pak. Terima kasih atas informasinya. Nanti coba saya tanyakan."
Setelah berbincang sebentar, aku kembali ke ruko untuk menunggu pak Rawan datang ke kantor..
*Ting*
Pak Rama memberikanku pesan untuk naik ke lantai 3. Seperti nya itu adalah kantorku saat ini. Namun sayangnya, aku tidak bisa masuk ke dalam ruko. Untuk masuk ke dalam, jariku harus didaftarkan ke dalam mesin finger print terlebih dahulu. Karena ini hari pertama diriku bekerja, tidak mungkin jariku sudah termasuk ke dalam sistem tersebut.
__ADS_1
"Waduh, harus apa aku sekarang?" gumamku sambil melototin pintu yang terkunci oleh mesin sidik jari. Langkah apa yang harus aku lakukan selanjutnya?