
“Huh, gagal lagi ya” Ucapku di depan layar komputer milikku.
Beberapa hari setelah istirahat dari trip ke Jogja, aku akhirnya kembali untuk mencari pekerjaan kembali. Masih dengan hasil yang sama, banyak lamaran yang dikirim, tapi tidak ada balasan. Ada juga lamaran yang ditolak, ada juga beberapa yang sampai ke sesi wawancara, namun pada akhirnya tidak dapat juga. Setiap perusahaan memiliki waktu yang berbeda dalam membalas surat lamaran yang diterima.
Pada saat istirahat, aku mulai teringat dengan rekan kerjaku di tempat kerja sebelumnya. Ada yang saat aku menjadi guru serta saat aku menjadi programmer. Terdapat perbedaan yang sangat signifikan dari kedua tempat kerja tersebut. Dari jumlah teman kerja hingga kondisi lingkungannya sangat jauh berbeda. Mungkin perbedaan demografi juga mempengaruhi hal itu.
Saat aku bekerja sebagai programmer, tidak banyak komunikasi yang terjadi. Kami hanya bersapa saat pagi hari saja, menyapa rekan kerja dengan ucapan ‘selamat pagi’. Sesekali ngobrol saat makan siang dan menjalankan ibadah. Selain dari itu, semuanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masign. Jarang sekali saya ngobrol mengenai masalah pribadi mereka yang tidak ada hubungannya dengan urusan kantor. Suasana kantor di Tangerang otomatis lebih sepi dan sunyi.
Hal inilah yang menyebabkan saat aku keluar dari Elektronik Jaya. Hampir hubunganku dengan teman kerja di sana putus total. Tidak ada kami saling bertukar kabar mengenai kondisi satu sama lain. Sudah seperti orang asing saja. Namun sesekali aku mengontak mereka kalau sedang ada hari raya tertentu. Karena tidak semua orang di sana memiliki kepercayaan yang sama denganku.
Berbeda dengan teman kerja saat mengajar sebagai guru. Karena tempat kerjanya dekat dengan tempat tinggalku saat ini, aku masih sempat menyempatkan diri untuk silaturahmi ke tempat kerja tersebut. Mereka juga terbuka menerima kedatanganku kesana. Padahal kesana hanya untuk sekedar mimpi dan ngerecokin pekerjaan mereka saja, hehehe.
Terutama kepada pak Dani, kami masih melakukan kontak setelah aku berhenti menjadi guru di sana. Meskipun kebanyakan hanya berisi mengenai kondisi laptop yang sedang diservis. Namun selain itu, aku sering mampir ke kantor mereka untuk sekedar ngobrol saja dan cuma bercanda. Walaupun durasi ngobrolnya tidak selama kalau aku ngobrol dengan temanku, paling tidak adalah waktu sebulan beberapa kali silaturahmi ke tempat mereka.
__ADS_1
Berbeda terbalik dengan tempat kantorku di Tangerang, aku sama sekali tidak pernah mampir lagi ke sana setelah mendapatkan surat pengalaman kerja. Karena menurutku, sudah tidak ada lagi urusannya aku pergi mengunjungi mereka. Ditambah dengan jarak perjalanan yang membutuhkan waktu dua jam perjalanan membuatku mengurungkan niat tersebut.
Karena aku percaya, silaturahmi itu akan menyambungkan rezeki. Namun ini juga bisa menjadi pedang bermata dua. Kalau kita terlalu sering silaturahmi, kapan kita punya waktu untuk mengurus diri sendiri dan juga keluarga? Kedua hal itu juga sangat penting menurutku. Sesuka apapun kita nongkrong dan pergi untuk ngobrol dengan orang lain. Pasti ada masanya kita ingin berdiam diri untuk memikirkan beberapa hal serta lebih fokus terhadap keluarga sendiri.
Selain teman kerja, ada juga silaturahmi yang aku tidak pernah putus. Yaitu dengan teman yang ada di kota C, kebanyakan berasal dari satu SMA yang sama denganku. Kebetulan mereka semua masih ada di Kota C saat akhir pekan karena masih ada keluarga yang tinggal di sini. Meskipun mereka kerja di luar kota, tidak mungkin mereka tidak menyempatkan waktu paling tidak sebulan sekali untuk mampir mengunjungi orang tua. Kecuali bagi mereka yang memang kerjanya jauh sekali dan hanya bisa mampir satu tahun dua kali. Saat libur semesteran dan libur lebaran.
Sekalinya aku ngobrol dengan mereka, bisa dari jam 7 malam hingga jam satu pagi. Apalagi kalau obrolan kami sudah semakin panas. Semakin lama kita duduk bersama untuk melanjutkan obrolan kami. Namun kegiatan ini tidak rutin kami lakukan. Paling tidak kami lakukan hanya satu kali sebulan. Karena kalau terlalu sering, khawatir akan muncul yang rasanya bosan. Hal inilah yang harus dihindari.
Manusia tidak diciptakan serupa satu sama lain, bahkan saudara kembar saja pasti memiliki perbedaan. Jangan terlalu dibesar-besarkan kalau ada yang berbeda dengan kita. Hal yang bisa kita lakukan hanya memberikan saran saat perbedaan mereka terlalu jauh melenceng dari norma kepercayaan yang ada. Selebihnya? itu urusannya dengan sang pencipta. Manusia tidak berhak menghakimi seenaknya. Jangan sampai kita menjadi orang yang seenak jidat menzalimi orang lain.
Sayangnya temanku saat SD, SMP, maupun kuliah kebanyakan sudah Lost kontak. Kadang sesekali sih saya kirim DM ke mereka melalui Lamagram. Namun tidak ada komunikasi intens seperti yang saya lakukan dengan teman-teman SMA ini.
Kebetulan kami juga semuanya berasal dari ekskul yang sama. sehingga kami akrab daripada teman biasa. Memang katanya sih banyak teman lebih baik. Namun kalau sudah nyaman dengan lingkaran pertemanan saat ini, tidak perlu aku memaksakan diri untuk menjalin pertemanan baru.
__ADS_1
Bisa saja, aku malah terjebak saat bertemu dengan orang baru. Karena kita membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menilai seseorang. Kalau kita berteman dengan tukang parfum, kita juga akan kecipratan wanginya. Jika berteman dengan tukang oli, maka akan kecipratan oli. Sebisa mungkin usahakan memiliki lingkungan pertemanan yang baik dan positif sehingga besar kemungkinan kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik.
"Udah lama ya ngak ketemuan, coba ajakin pada ngumpul lah. " Ucapku saat sudah selesai merenung kan lingkaran pertemanan ku saat ini.
Langsung aku mengirimkan pesan ke grup chat mengenai agenda ini. Biasanya aku mengirimkan tawaran untuk meet up beberapa hari sebelumnya. Paling anti aku membuat acara dadakan.
Saat pandemi kemarin, biasanya kami melakukan zoom meeting. Meeting secara online. Namun karena sekarang situasi sudah mulai normal, kami mulai sering mengadakan meet up secara offline kembali. Tentunya temanku seperti Jiran akan sulit untuk ikutan karena ia tinggal di luar kota. Semoga saja kami masih bisa menjalin silaturahmi walau jarak memisahkan kita.
Biasanya aku yang memulai wacana untuk meeting, barulah kami mencari waktu yang tepat agar semua orang bisa ikut. Semoga saja, acara meet up kali ini dapat berjalan dengan baik.
Bagaimana dengan kalian? Seberapa sering kalian berkumpul bersama teman teman kalian? Jangan lupa untuk selalu berbuat baik dan menjalin tali silaturahmi.
*Bersambung*
__ADS_1