
Perjalanan kami ke mol cukup memakan banyak waktu. Sekitar setengah jam lamanya kami harus menunggu sebelum sampai ke tempat tujuan. Memang jalanan di Jogja tidak heran kalau macet, apalagi lagi musim liburan seperti ini. Pastinya ada banyak pendatang yang mengunjung kota pelajar yang satu ini.
Mol yang kami tujuan kali ini adalah salah satu mol besar dan sudah lama berdiri di Jogja. Mol itu bernama Plazong. Semenjak aku masih kecil juga, mol ini sudah berdiri di pusat kota Yogyakarta. Namun baru saat aku kuliah saja, mengetahui jalan menuju tempat ini. Dengan bantuan Bole Map pastinya.
Jalan solo merupakan tempat kalian menemukan mal ini kalau kalian terus jalan ke arah timur, nanti akan sampai ke bandara Adi Sucipto. Tempat biasa yang aku tuju kalau akan menggunakan pesawat. Jalan ini cukup besar bisa sampai 3 mobil melaju bersebelahan. Hebatnya, jalanan ini masih saja macet meskipun sudah cukup lebar.
Aku dengar semua penerbangan dengan pesawat akan pindah ke bandara baru. Entah berita itu benar atau tidak. Karena kalau benar, bandara baru harus dibenahi karena angkutan umum belum lengkap di sana. Tidak seperti bandara yang sudah ada saat ini.
Mungkin saja nanti akan ada kereta bandara seperti yang ada di bandara soekarno-hatta. Namun aku belum pernah memiliki pengalaman pribadi menggunakan alat transportasi itu. Kalau hal itu benar terjadi, aku ingin suatu saat bisa menikmati fasilitas itu.
Mol ini memiliki banyak tempat parkir yang luas. Terdiri dari kurang lebih lima lantai. Kali ini kami parkir di lantai 4, tepat di bawah rooftop. Di sini juga terdapat pintu masuk ke dalam mol. Sama seperti mol lain, terkadang terdapat tekanan udara yang berbeda saat berada di luar mol dan masuk ke dalam mol. Sampai saat ini masih belum jelas kenapa hal itu bisa terjadi.
"Akhirnya sampai, ayo bangung, cepat pada turun. Jangan tidur melulu." Ucapku sambil membangunkan adik-adik yang masih tidur.
Kali ini kami membawa full team kecuali nenek dan bude ku. Arip juga ikut dalam jalan-jalan kali ini. Karena kami akan menonton film di bioskop ber sama-sama. Jarang sekali kami bisa melakukan hal ini. Karena Arip berada di luar kota untuk kuliah, untuk semua keluarga jalan-jalan adalah momen langka untuk saat ini.
Meskipun perjalanan tidak terlalu panjang, memang sudah kebiasaan kalau naik mobil semua anak tidur saat perjalanan. Aku juga sama seperti itu dulu, sekarang karena sudah besar aku lebih memilih untuk mendengarkan musik atau melihat pemandangan saja.
Keseringan tidur saat dalam perjalanan sampai membuat ayahku protes. Untungnya pada saat itu ibu yang selalu membuat tenang bapak. Dia protes karena kalau semua orang tidur, ia tidak ada teman ngobrol dalam perjalanan. Untungnya karena sekarang kami pergi jalan-jalan dengan supir. Bapak sudah tidak perlu memegang setir kemudi.
Kami langsung masuk ke dalam mol untuk mencari bioskop. Karena kami belum membeli tiket untuk menonton. Berbeda dengan anak-anak, orangtua masih belum terlalu menerapkan pembelian digital. Masih melakukan pembelian di loket pembelian tiket. Ngantri sudah pasti tidak terelakkan kalau beli di loket.
Berbeda dengan diriku yang sebisa mungkin membeli secara online. Karena lebih mudah dan tidak perlu ngantri. Tiket tinggal cetak secara mandiri saja. Memang kehidupan digital membuat hidup lebih mudah. Namun harus hati-hati juga, karena kemungkinan besar kemudahan pembelian akan membuat kita lebih mudah mengeluarkan uang. Memang hal itu bagus untuk perkembangan ekonomi, namun kalau terlalu boros. Akan buruk untuk keuangan kita.
"Mau kemana dulu sambil nunggu filmnya mulai?" Tanya ibuku kepada semua anak-anak.
"Makan! Aku sudah lapar nih! " Jawab adikku Lamda dengan semangat.
Memang adiku yang paling bungsu ini paling semangat kalau masalah makanan. Terlihat dari perutnya yang cukup bulat. Kalau sudah lapar, adikku yang satu ini rese sekali. Meskipun saat ini ia masih SD, namun terlihat kalau ia sudah semakin tinggi. Sepertinya saat ia SMP nanti. Tingginya bisa melebihi diriku.
Melihat jawaban dari adik, kami langsung menuju tempat makan terdekat. Kali ini kami memilih tempat makan yang aman saja. Hakben merupakan tempat pilihan kami.
__ADS_1
Restoran ini menyediakan masakan Jepang yang notabene cocok untuk lidah semua keluarga kami. Apalagi diriku yang memang menyukai budaya dari negara Jepang. Tanganku sudah terbiasa menggunakan sumpit untuk makan di tempat seperti ini.
"Cari tempat duduk dulu nak, ibu pesan dulu." Ibu meminta yang lain untuk mencari tempat duduk.
Hal ini harus dilakukan karena kalau tidak, khawatir kita tidak akan mendapatkan kursi. Aku sendiri memilih untuk menemani ibu karena takut tidak ada petugas yang akan membantu mengantar makanan ke meja. Masa iya kita membiarkan ibu kita membawa nampan berisi makanan sendirian.
Belum ada aturan untuk jaga jarak sehingga antrian untuk membeli makanan masih rapat. Namun berkat staff yang lihai, tidak membutuhkan waktu lama sampai giliran kami tiba.
“Pesan apa mas yang enak?” Tanya ibu kepadaku.
“Yang ini saja mah, enak kayaknya”
"Ok, misi mbak, saya pesan menu Paket… sebanyak 6. Sama minumnya air putih satu sisanya teh ocha. " Ibuku dengan cepat langsung memesan paket yang sama untuk kami semua berdasarkan saran yang aku berikan.
Untungnya selera keluarga untuk restoran ini semuanya sama, sehingga tidak perlu memesan yang macam-macam. Aku membantu ibuku setelah pesanan kami datang.
"Makanan sudah datang. Ayo segera dibagikan, berat nih. " Ucapku kepada adik yang lagi main game di meja makan restoran.
"Ayo semuanya berdoa dulu sebelum makan" Kami mulai berdoa sebelum makan. Jangan sampai kita barbar makan tanpa berdoa terlebih dahulu.
Makanan kali ini nasi beserta dengan daging sapi dengan siung bawang sebagai bumbu. Kemudian udang dan ayam tepung sebagai side dish. Kebanyakan paket bento di restoran ini menunya seperti ini. Tidak lupa minum harus dengan ocha. Kalau tidak ocha, belum lengkap menu masakan Jepang kita.
Ocha sendiri adalah teh Jepang yang bisanya tidak manis. Karena itulah tidak mungkin diabetes kalau minum ocha. Namun pastinya tidak semua orang menyukai teh ini. Apalagi dengan orang Indonesia yang notabene sudah terbiasa minum teh manis. Pastinya hanya orang yang sudah biasa minum ocha akan memesan minuman ini.
Alat makan yang digunakan pastinya sumpit dari bahan kayu, namun restoran ini juga menyiapkan sendok untuk yang tidak terbiasa menggunakannya. Hal yang unik dari sumpit adalah ada beberapa tata krama yang harus kita patuhi kalau menggunakan sumpit di Jepang. Contohnya tidak boleh menusuk makanan dan menunjuk orang menggunakan sumpit. Namun kalau di Indonesia tidak masalah, kecuali kalian sedang makan dengan orang Jepang asli.
"Alhamdulillah" selesai makan kami jalan-jalan ke lantai bawah terlebih dahulu sambil menunggu waktu tayang film di bioskop.
Di perjalanan, kami melihat banyak toko-toko di sekitar kami. Terdapat berbagai macam toko mulai dari fashion, toys, hingga kedai minuman.
Terdapat juga tempat bermain untuk anak-anak, Tenzon. Dulu biasanya aku senang bermain game arcade di tempat ini. Namun karena saat ini kita tidak punya waktu banyak, kami tidak mampir ke sini.
__ADS_1
Ibu gatel ingin belanja ke supermarket. Namun karena nanti repot membawanya saat nonton, ia berhasil menggagalkan niat itu.
"Sudah mau waktunya, ayo ke atas dulu untuk shalat kemudian masuk bioskop." Ucap bapak sambil mengajak kami ke masjid di lantai paling atas.
Entah sudah menjadi template atau apa. Biasanya masjid terletak di bawah dan atas dari mol. Namun untuk tempat ini lebih bagus masjid yang ada di atas. Berbeda dengan yang ada di bawah mol ini.
Kami pergi ke sana tidak menggunakan lift. Murni menggunakan eskalator dan jalan sampai ke sana. Untungnya bapak masih kuat untuk naik turun tangga. Pastinya harus dengan pengawasan karena takut kepleset. Karena bapak pernah kejadian terpeleset sehingga aku menjadi lebih waspada.
Masjid di mol ini memiliki desain standar dengan tempat shalat dan wudhu terpisah antar gender. Dengan corak dinding dominan warna putih. Sajadah berwarna merah dengan background masjid.
Untungnya masjid ini bertema semi outdoor sehingga memiliki kesan lega dan bersih. Aku senang sekali shalat di sini. Dahulu saat kuliah aku selalu shalat di sini kalau sedang ke mol ini. Masjidnya cukup adem dan jarang sekali merasa kepanasan kalau shalat di sini. Berbeda dengan mushola yang ada di lantai paling bawah.
Selesai shalat, kami segera kembali ke bioskop untuk gantian jaga barang. Agar tidak repot bawa-bawa barang, waktu shalat kami pisah jadi dua shift. Ketika yang cowok sholat, ibu dan Yana menjaga barang. Kemudian kami gantian menjaga barang ketika mereka sholat.
Sambil menanti yang lain shalat dan jadwal bioskop, aku biasanya bermain hp melihat status teman-teman. Kemudian juga sambil ngobrol ringan dengan adik dan bapak.
"Ayo masuk, sebentar lagi pintu studio bioskop di buka. Sudah tidak ada yang ketinggalan kan?" bapak mengajak masuk ke dalam bioskop setelah semuanya berkumpul.
"Papah, beli popcorn dulu." Ucap Adikku Yana sambil menunjuk ke arah kasir popcorn.
Biasanya kalau nonton satu keluarga seperti ini. Kami membeli popcorn dua macam. Asin dan manis. Namun kami tidak membeli minum karena takut kebelet saat menonton. Sayang sekali kalau melewatkan beberapa menit film hanya karena kebelet buang air.
Dengan tertib semua penonton duduk sesuai kursi masing-masing. Kami duduk sekeluarga satu deret karena memilih kursinya secara bersamaan. Tempat duduk bioskop masih lega dan nyaman seperti seharusnya. Aku sudah tidak sabar akan seperti apa film yang kami tonton.
*Setelah film selesai*
".."
Memang kalau film dari barat kebanyakan visual efeknya sudah bagus. Sudah tidak bisa dipungkiri canggihnya. Jauh sekali dari film Indonesia. Setelah selesai menonton, semua orang di dalam studio keluar secara tertib satu per satu. Tidak ada orang berdesakan apalagi saling mendorong-dorong ketika keluar.
Hal yang unik dari bioskop Plazong adalah kita bisa melihat beberapa ornamen seperti dalam museum saat keluar dari bioskop. Kita bisa melihat sejarah dibangunya tempat ini, juga beberapa momen sejarah di Jogja. Kalian juga bisa melihat pemandangan menakjubkan dari lantai yang tinggi ini.
__ADS_1
Melihat bagusnya film barat barusan, aku berharap semoga suatu saat nanti film Indonesia akan sebagus film dari luar. Aku percaya dengan potensi sinematografi negara Pancasila ini. Karena dari tahun ke tahun, kualitas film tanah air semakin baik. Hidup perfilman Indonesia!