
Masih ingat mengenai tes kerja yang sempat ku bahas saat pengawas sekolah datang? Kali ini saya akan menjelaskan beberapa tes kerja yang aku lalui sebelum berhenti mengajar sebagai guru. Cukup banyak yang harus dilakukan ketika melakukan tes kerja, apalagi kalau tesnya di luar kota. Waktu tempuh, ongkos perjalanan, dan hal lainnya harus dipertimbangkan dengan matang selain persiapan untuk mengikuti tes.
Terdapat tiga tes yang aku lakukan sebelum mendapatkan kerja di tempat yang baru. Tes berkas, tes tulis, kemudian tes wawancara serta praktek. Dari banyaknya pelamar untuk pekerjaanku kali (sekitar puluhan orang). Hanya 2 atau 3 orang yang diterima. Terasa sekali persaingan yang ketat dalam hal ini. Namun hal ini tidak boleh membuatku patah semangat.
Tempat tes kali ini dilakukan di kota pelajaran, Yogyakarta. Dahulu aku juga pernah kuliah di kota ini. Tidak terasa aku sudah kembali berkunjung lagi ke sini. Kalau kalian ingat, aku tidak jadi mencari kerja di Jogja karena masalah dengan budeku. Saksikan chapter awal-awal untuk mengetahui detail masalahnya.
Awal dari aku mendapatkan informasi mengenai lowongan di sana adalah dari ayahku tercinta. Meskipun ia galak, suka marah-marah dan nyuruh-nyuruh. Namun masalah kerja dia juga yang paling semangat mencari lowongan.
Bahkan lebih semangat dari aku yang mencari pekerjaan. Entah beruntung atau tidak punya ayah seperti ini. Namun aku bangga menjadi anak bapak. Semoga aku bisa berbakti kepada mereka.
Sempat ada kejadian lucu mengenai lamaran ke Jogja ini. Berkas untuk lamaran ternyata harus dikirim via fisik. Aneh sekali, di zaman digital seperti ini masih harus mengirimkan berkas secara fisik. Namun mau tidak mau aku harus melakukannya.
Pengiriman berkas ini cukup membuang banyak waktuku. Apalagi karena aku juga sedang mengajar, sehingga aku hampir melupakan pengiriman berkas ini. Untung aku mengirimkan berkas itu tepat pada waktunya.
Beberapa waktu berlalu semenjak berkas terkirim. Tiba-tiba bapak datang ke kamar sambil marah-marah. Pada saat ini aku sedang nyantai sambil bermain di laptop.
"Bagaimana sih nak! Kok belum dikirim berkasnya!? Teman papah bilang belum sampai berkasnya!"
Mendengar suaranya yang keras dan posisi aku lagi capek ketika baru pulang kerja. Membuatku ingin memberikan pukulan ke mukanya. Untungnya aku masih bisa menahannya. ‘Sabar Ray, kamu harus sabar.’ ucapku berkali-kali dalam hati.
"Sudah kok pak, ini nomor resi juga sudah ada. Nanti di cek ya berkasnya kemana."
Setelah kami berdebat untuk beberapa waktu, ayah akhirnya kembali ke kamarnya.
Penelusuran kode resi memberikan kabar bahwa berkas sudah sampai ke tempat tujuan. Dengan satpam yang menerima berkas tersebut. Sepertinya berkas itu tidak diteruskan ke atasan dan menghilang di kantor satpam.
Bapakku marah besar mendengar hal itu dan langsung melaporkan hal ini ke temanya yang ada di perusahaan tersebut. Alhasil aku berhasil lulus uji berkas meskipun sempat ada masalah.
Lulus uji berkas, kali ini aku harus mengikuti ujian tulis. Pastinya aku mempersiapkan materi yang akan diujikan. Semoga saja semuanya berjalan lancar. Terasa kembali menjadi murid, harus bersiap untuk tes seperti ini.
Tanggal ujian tulis sudah muncul. Melihat syarat dan ketentuan ujian, sepertinya aku harus pergi ke Jogja untuk melaksanakan tes. Tidak bisa dilakukan secara online. Lumayan lah, sekalian bisa jalan-jalan ke Jogja.
Aku langsung memesan tiket melalui aplikasi online yang tersedia. Untungnya tiket pesawat dari daerahku menuju Jogja tidak terlalu mahal. Harganya tidak berbeda jauh dengan bus. Namun lebih cepat waktunya daripada kendaraan darat itu.
Pada saat ini aku masih meminta ongkos kepada orangtua, karena gajiku sebagai guru tidak seberapa. Kedua orangtuaku memaklumi hal itu dan bersedia membayarkan biaya perjalanan bolak balik.
__ADS_1
*Satu hari sebelum waktu ujian*
Hari keberangkatan tiba, aku sudah mempersiapkan barang bawaan saat malam hari sebelum keberangkatan. Setelah berpamitan dengan kedua orang tua dan adik-adik. Aku pergi ke bandara dengan menaiki DAMRI.
Perjalanan dengan DAMRi memakan waktu cukup lama, sekitar 2 jam. Aku berusaha untuk tidak tidur sambil memeluk tas di perjalanan. Bisa repot kalau pas bangun ternyata barang bawaan hilang diambil maling.
Saat ini aku belum memiliki hp yang bagus, karena itulah aku tidak bermain game di dalam bus.Terlebih goncangan saat menaiki mobil membuat kepalaku pusing saat bermain gadget. Aku sudah pernah mencoba nya. Tidak enak kalau di perjalanan pusing seperti itu. Khawatir akan muntah dan merepotkan penumpang lainnya.
Karena itulah aku hanya melihat pemandangan dan ngobrol dengan tetangga sebelah saja. Untungnya sebelahku ramah dan enak untuk diajak ngobrol. Sayangnya sebelahku hanya bapak-bapak biasa saja, bukan cewek cantik.
Sampai di bandara, aku sudah mempersiapkan tiket dan hal-hal lainnya. Karena jaman sekarang sudah bisa menggunakan cek in mandiri. Kita bisa mencetak tiket sendiri, tidak perlu ke resepsionis lagi. Hal ini mempersingkat waktu dan mengurangi jumlah antrian. Karena mesin cetak mandiri tiket jumlahnya banyak. Jarang sekali mengantri untuk hal ini.
Bandara tempatku berada cukup ketat dan melalui metal detector sebelum masuk. Bahkan kami di cek sebanyak dua kali. Cukup repot namun apa boleh buat, memang seperti ini aturannya. Kita sebisa mungkin harus mengikuti aturan yang sudah dibuat. Selama tidak terlalu aneh aturanya.
Kedua pengecekan tersebut selalu tentang barang bawaan seperti tas, dompet, dan lain-lain. Handphone dan alat elektronik lainnya juga harus di rak yang khusus. Jarang sekali masalah muncul dalam hal seperti ini. Karena kebanyakan orang yang terbiasa naik pesawat pasti sudah lihai melalui pengecekan seperti ini.
Aku duduk di ruang tunggu setelah melalui semua pos periksa tadi. Meskipun hp masih butut, aku hanya bisa bermain dengan hp yang ada. Untungnya untuk membaca berita ataupun novel masih enak di hp ini.
"Nomor penerbangan … akan segera datang. Silahkan penumpang jurusan … - Yogyakarta bersiap untuk memasuki pesawat."
Suara pengumuman sudah memberitahukan pesawat yang aku tumpangi datang. Para penumpang yang akan berangkat susah mengantri sambil membawa tiket dan KTP masing-masing.
Sambil menunggu antrian, aku biasanya melihat beberapa notifikasi di hp. Namun ketika sudah dekat ujung antrian, hp langsung aku masukkan ke dalam kantong. Bisa bahaya nanti kalau keasikan melihat hp dan tidak maju ke depan sehingga menghambat antrian.
Masuk ke dalam pesawat, aku disambut dengan pramugari cantik yang ada di sana. Pastinya sebagai cowok normal, aku langsung menikmati pelayanan mereka. Pastinya pekerjaan seperti mereka ada syarat “berpenampilan menarik.” Tidak seperti pekerjaan yang lebih membutuhkan teknik daripada estetik.
"Kursi nomor …" langkah kakiku perlahan menuju kursi yang tertera di dalam tiket.
Biasanya nomor kursi sudah jelas tertulis di bawah bagasi pesawat. Mereka juga sudah berurutan sehingga kita tinggal mengikutinya saja. Semua orang disini bergerak cepat dan biasanya tidak berdesakan satu sama lain.
"Misi pak, mau duduk"
"Ya, silahkan"
Berbeda dengan saat naik bus, biasanya penumpang pesawat lebih cuek daripada penumpang bus. Karena waktu tempuh pesawat lebih pendek. Kalau tidak salah, perjalanan di pesawat hanya membutuhkan waktu selama satu jam. Bengong saja melihat langit kita bisa tiba-tiba sudah sampai ke tempat tujuan.
__ADS_1
Setelah aku duduk, aku langsung menggunakan sabuk pengaman dan menunggu pesawat take off.
"Pesawat … akan segera take-off. Para penumpang diharap menggunakan sabuk pengaman dan duduk di tempat nya masing-masing."
Aku melihat ke arah jendela sambil membaca majalah yang dibagikan. Seperti biasa, isi majalah di pesawat pasti mengenai tempat wisata yang dapat pesawat jangkau dan souvenir pesawat.
Untungnya ada beberapa halaman yang berusia cewek-cewek cantik yang dapat aku nikmati. Memang mungkin benar kata orang, "kalau cantik mah hidup mudah". Banyak kesempatan yang bisa kita dapatkan kalau kita cantik, namun pasti ada konsekuensi dari kelebihan yang mereka miliki itu
“aaaaa, hiks, hiks” Terdengar suara anak menangis dari kursi belakang.
Kasihan sekali orang tua yang membawa anak kecil. Pastinya mereka akan kaget ketika mengalami turbulensi. Biasanya untuk mengatasi hal ini, cukup dengan menutup hidung kemudian tiup dengan keras. Telinga biasanya akan membaik setelah melakukan hal itu.
*Ting*
Aku tidak melepaskan sabuk meskipun pesawat sudah stabil. Aku merilekskan badanku kemudian memejamkan mataku secara perlahan. Sepanjang perjalanan, aku tidur dengan pulas.
Sebelum aku tidur, seperti aturan penerbangan lainnya. Para pramugari memperagakan tata tertib saat menaiki pesawat. Juga arahan yang harus dilakukan ketika terjadi masalah saat penerbangan. Aku memperhatikan dengan seksama saat pramugari cantik memberikan arahan.
Berbeda dengan saat naik bus, aku bisa dengan aman tidur di dalam pesawat. Barang aman ada di kabin pesawat. Maling juga tidak mungkin mau capek-capek ngeluarin duit hanya untuk maling di dalam pesawat. Sulit sekali untuk kabur dari atas udara seperti ini.
*1 satu jam kemudian*
“Pesawat … telah sampai ke bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Terima kasih telah menggunakan maskapai kami. Jangan sampai ada barang yang tertinggal di dalam pesawat. Sampai jumpa di penerbangan berikutnya. Kami menantikan kehadiran anda di penerbangan berikutnya. "
"Hoaah…"
Mataku terbuka setelah mendengar pengumuman. Telingaku terasa penuh berisi udara. Hal ini wajar terjadi kalau kita berada di ketinggian.
"Fiuh…"
Setelah mengatasi telinga, aku menunggu pesawat benar benar berhenti sebelum melepas sabuk pengaman.
Karena menurut yang aku baca. Momen berbahaya pesawat adalah ketika take off dan landing. Saat ini posisiku masih belum aman.
Setelah pesawat sampai di Hangar, aku turun bersama dengan penumpang lainnya. Saat menuju pintu keluar pesawat, pramugari sudah siap di depan untuk menyambut kami.
__ADS_1
"Jogja, akhirnya aku kembali lagi ke sini."
Perjalanan ke Jogja akhirya telah berhasil aku lalui. Sekarang aku harus pergi ke rumah nenek terlebih dahulu. Barulah aku memikirkan mengenai tes masuk. Badanku sudah lelah akibat perjalanan kali ini. Mungkin sampai di rumah Eyang nanti, aku akan puas istirahat untuk persiapan tes besok. Tidak lupa juga terus belajar untuk menghadapi tes tulis.