
Karena aku belum tahu di mana rumah Uswa berada, aku menunggunya datang di tempatnya om Chen. Katanya sih, dari rumahnya ke sini tidak terlalu jauh. Saat aku sudah sampai, aku mengetuk pintu kontrakan om Chen terlebih dahulu. Dengan posisi motor sudah terparkir rapi di samping kontrakan om Chen.
“Siapa?” Ucapnya dari balik pintu.
“Saya a, mau nanya. Boleh gak minta Uswa ke sini? saya belum tahu rumahnya dia dimana.”
“Boleh dek, bentar ya.”
Setelah mengucapkan hal itu, ia langsung membuka handphone miliknya dan mulai menelepon Uswa. Telepon ia tutup setelah selesai memberikan kabar kalau aku sudah sampai di tempatnya. Kemudian, aku mulai mencari informasi apapun mengenai Uswa. Siapa tahu ada yagn bisa aku gunakan untuk topik obrolan nanti. Mulai dari apa yang suka ia lakukan hingga apa saja kegiatannya sehari-hari
Beberapa menit kemudian, akhirnya Uswa datang. Dari kejauhan, aku melihat wanita cantik dengan kulit putih serta memakai baju islami. Sekilas, dari penampilan ia sudah sangat cocok dengan tipeku. Gadi-gadis islami gitu. Sisanya tinggal aku mulai mengenal pribadinya perlahan-lahan. Hal seperti itu tidak mungkin bisa dinilai hanya dari penampilan saja.
“Halo kak. Kenalkan, saya Uswa”
“Namaku Ray, kita sudah kenalan di chat tapi baru pertama kali ini ya ketemu?”
__ADS_1
“Iya kak.” Ucapnya dengan wajah tersipu malu. Aku sempat gagap sedikit saat melihat wajahnya seperti itu.
Kami mulai ngobrol sebentar untuk mencairkan suasana. Setelah waktunya pas, kami berdua pamit kepada om Chen untuk pergi makan siang berduaan terlebih dahulu. Ini adalah pertama kalinya aku akan PDKT tanpa adanya kehadiran orangtua. Semoga ini adalah pertanda baik dan aku bisa lebih leluasa untuk memulai topik obrolan.
“Pamit dulu ya, om Chen.”
:”Iya de, hati-hati di jalan.”
Dalam perjalan, kami tidak ngobrol banyak karena durasi perjalanan menuju tempat makan kami tidak terlalu lama. Kurang dari lima menit. Saat sampai di tempat makan, yang berada di pinggir jalan. Terlihat sekali kalau Uswa memasang wajah yang agak kaget. Sepertinya ia tidak menduga akan makan di tempat seperti ini. Semoga saja pilihanku ke tempat ini adalah tepat. Karena aku cukup bingung memilih tempat pertama kami makan bersama di mana. Aku juga jarang ke tempat ini. Hanya saja entah kenapa aku kepikiran untuk mengajak Uswa ke tempat ini.
Setelah duduk di dalam, kami mulai memesan makanan kemudian mulai ngobrol sambil menunggu pesanan datang. Aku rasa sih, obrolan kami cukup nyambung. Ia juga terlihat wanita yang pendiam, benar-benar tipe yang aku cari. Semoga saja ia juga merupakan istri penurut seperti yang aku harapkan. Karena agak repot kalau punya pasangan yang sukanya emosian.
“Ini pesanannya kak, selamat menikmati.” Pelayan pergi meninggalkan kami setelah menaruh pesanan kami.
Kami berdua cuci tangan terlebih dahulu sebelum makan siang. Kita harus higienis dong, Cuci tangan sebelum makan. KIta tidak tahu apakah hal kecil seperti ini nantinya akan mempengaruhi banyak hal nantinya. Higienis adalah kunci dari memutusk persebaran penyakit. Makanan baru kami makan setelah kami berdua selesai membersihkan tangan kami.
__ADS_1
‘Lumayan juga nih ayamnya.’ ucapku dalam hati.
Kami berdua sama-sama pesan ayam di tempat ini. Karena katanya, ayam adalah menu andalan di tempat ini. Beruntung rasanya cukup enak
Memang aku sudah pernah ke tempat ini. Namun karena itu sudah lama sekali, aku sudah agak lupa rasanya seperti apa. Kulihat juga Uswa tidak menunjukkan ekspresi tidak menikmati santapan yang ada di depannya. Selama makan, tidak banyak pembicaraan yang kami lakukan. Karena aku tidak ingin nantinya terlihat tidak beretika kalau makan sambil berbicara.
“Alhamdulilah”
Selesai makan, aku berdoa dahulu barulah memulai kembali pembicaraan kami. Banyak hal yang kami bicarakan. Mulai dari hobi hingga rencana masa depan nantinya. Sejauh ini, aku merasa kalau kami berdua memiliki kecocokan. Hal yang tidak aku rasakan saat bersama dengan wanita yang lain. Mungkin karena ini pertama kalinya aku bisa ngobrol empat mata sehingga bisa lebih mudah obrolannya keluar.
Waktu terus berlalu. Hingga akhirnya, kami memutuskan untuk kembali ke rumah. Karena kalau terlalu lama ngobrol, takutnya Uswa masih ada kegiatan yang lain. Aku juga masih ada kegiatan lain yang tidak bisa aku tinggalkan. Setelah berpisah dengan suasana yang baik, aku mengantar Uswa pulang sebelum kembali ke rumahku. Meskipun aku sempat kaget karena harga makanan nya ternyata cukup mahal. Menurutku, harganya tidak sesuai dengan rasa dan pelayanan yang kami dapatkan.
Saat sampai di rumah Uswa, aku belum berniat untuk menemui orang tuanya sekarang. Aku berniat untuk melakukannya saat hubungan kami sudah fix akan menjadi lebih serius dari hanya sekedar teman. Dengan doa seperti itu, aku pulang dengan perasaan campur aduk. Senang karena kencannya sukses, serta was was apakah ia masih mau jalan kembali denganku.
Beruntung, jawaban dari kegelisahanku terjawab beberapa hari kemudian.
__ADS_1
“Dek, aa sudah tanya Uswa. Katanya sih, ia tertarik sama kamu dan lebih ingin mengenal kamu lebih jauh.” Berita dari Om Chen dari chat ini membuatku sangat senang. Sampai aku girang lompat lompat gak karuan di kamar. Beruntung tidak ada yang melihatku, kalau ketahuan, bisa malu aku.
Memang tidak mungkin hanya ketemu sekali bisa tahu segala sesuatunya mengenai seseorang. Karena itulah kami harus mengadakan pertemuan berikutnya untuk kembali mendekatkan hubungan kami. Sepertinya langkah pertama kali ini sukses, apakah langkah berikutnya akan lancar terus seperti ini? Semoga saja, wanita yang kali ini aku dekati merupakan jodohku, Aamiin.