
Beres menjalankan shalat hari raya. Apa yang biasanya kalian lakukan bersama dengan keluarga? Apakah kalian kembali aktifitas biasa dan sibuk dengan urusan masing-masing? Atau kalian melakukan sebuah kegiatan bersama-sama dengan anggota keluarga yang lain?
Keluargaku melakukan beberapa hal setelah shalat hari raya. Pertama-tama, saat sampai rumah, kami menunggu hingga semua orang berkumpul. Karena yang ibu-ibu biasanya shalatnya lebih lama karena harus mengurus anak-anak dulu.
Entah itu minta jalan muter-muter dulu atau minta jajan sesuatu saat dalam perjalanan. Karena itu biasanya yang bapak-bapak sudah menunggu dengan tenang di dalam rumah. Namun ada kalanya kami terdampar di luar, karena kuncinya pada di bawa emak-emak.
Selesai berkumpul, kami melakukan kegiatan foto-foto terlebih dahulu. Karena biasanya pada saat lebaran, semuanya menggunakan baju bagus dan baru. Mengambil foto merupakan salah satu hal yang dilakukan saat kita sudah berdandan rapi.
Kemudian kami melakukan kegiatan halal bi halal. Semua orang saling mohon maaf lahir batin kepada seluruh keluarga. Biasanya dilakukan secara berurut dari yang paling tua, hingga yang paling muda. Lalu berbaris untuk saling salaman-satu dengan yang lain.
Aku sendiri berada di tengah-tengah karena ibuku adalah anak keempat. Berbeda dengan bapak yang merupakan anak pertama. Saat halal bi halal selesai, kami kembali melakukan foto keluarga.
Pengambilan foto sudah selesai, kami melanjutkan dengan acara makan-makan. Momen lebaran seperti ini pasti sudah disiapkan hidangan yang enak-enak. Notabene opor dan ketupat merupakan kombinasi ultimate saat menjalani hari raya. Pastinya aku sangat menikmati kedua menu makanan itu.
"Gimana Ray opor nya? Enak gak? " Tanya Eyang saat aku sedang makan di meja makan.
"Enak Yang, lezat sekali. " Jawabku sambil mencicipi opor yang ada di atas meja.
Selesai makan, kami melakukan silaturahmi ke saudara-saudara kami yang berada di Jogja. Berkeliling kota selalu kami lakukan saat momen lebaran. Karena jumlah saudara yang banyak, aku sampai tidak hafal semua nama mereka. Meskipun aku kalau melihat wajah mereka sih seharusnya masih ingat.
Saat kecil dulu memang biasanya aku pendiam dan jarang sekali memperlihatkan muka dan ngobrol dengan orang. Saat aku memasuki dunia kuliah dan kerja aku baru memulai coba berubah dengan mulai ngobrol para sepuh dan menghafal nama mereka satu per satu.
__ADS_1
Sebelum berkunjung ke rumah saudara, kami mengunjungi makam Yangkung. Kakekku yang satu ini adalah bapaknya ibuku. Ia sudah meninggal saat aku menginjak kelas 3 SD. Kurang lebih 15 tahun yang lalu.
Pada saat itu aku masih bingung kenapa para orang tua menangis. Namun saat besar aku baru menyadari kalau itu adalah momen berkabung karena kehilangan salah satu sosok yang mereka cintai.
Makam kakek terletak di daerah yang cukup harus masuk ke dalam gang. Untung nya mobil masih bisa untuk memasuki tempat ini. Kalau tidak, repot nanti setiap ingin ziarah ke sini. Mobil kami parkir dahulu dan sisa perjalanan ke makam kami lakukan dengan berjalan kaki.
Selesai ziarah, barulah kami berkunjung ke rumah saudara-saudara. Ada salah satu saudara yang tinggalnya dekat dengan makam yang baru saja kami kunjungi.
"Eh, sudah pada datang, ayo masuk." Ucap pemilik rumah saat mengetahui kami baru saja habis ziarah dan akan silaturahmi ke rumahnya.
Kami memasuki salah satu rumah saudara yang kami tuju. Karena kami barusan dari malam, semuanya harus cuci tangan dan kaki terlebih dahulu. Untuk membersihkan kotoran atau kuman yang menempel saat melakukan ziarah.
Selain jalan-jalan, kurang lebih itulah yang aku lakukan saat menjalani liburan idul fitri. Setiap tahunya. Tidak ada perubahan sejauh yang aku tahu. Karena memang aku orangnya tidak terlalu suka keluar, lebih suka melakukan kegiatan di dalam rumah. Beberapa hari setelahnya, kami harus kembali pulang ke tempat kerja masing-masing. Karena waktu liburan akan segera berakhir.
Perbedaan yang aku sadari hanya semua orang yang ada semakin tua setiap tahunya. Kadang ada beberapa saudara yang sudah tiada dan ada beberapa saudara baru yang lahir. Itulah roda kehidupan. Tidak ada yang bisa menghindari kematian dan sangat tidak boleh untuk melarang bayi dalam kandungan untuk lahir ke dunia.
Momen lebaran seperti ini hatiku cukup bimbang. Antara senang dan tidak senang bisa melaksanakan lebaran di tempat kelahiran ibuku ini. Beberapa hal membuatku senang dan juga sedih saat melaksanakan lebaran di tempat ini.
Ibu dan bapak sudah membuat kesepakatan. Untuk paling tidak akan pergi ke Jogja setiap setahun dua atau tiga kali. Yaitu saat liburan lebaran dan liburan akhir semester. Karena hanya pada momen itulah semua anggota keluarga memiliki waktu libur lebih dari seminggu.
Senang sih bisa liburan di kota pelajaran itu. Bisa bertemu dengan banyak saudara, bisa jalan-jalan, dan menikmati liburan dengan suasana yang berbeda di luar kota.
__ADS_1
Namun pada dasarnya aku memang tidak suka melakukan perjalanan jauh. Capek sekali menjalani waktu tempuh lebih dari 12 Jam hanya untuk sampai ke Jogja. Lebih enak naik pesawat. Hanya membutuhkan waktu satu jam saja.
Sayangnya kalau untuk berangkat sekeluarga. Tidak mungkin menggunakan pesawat karena biayanya nanti terlalu mahal. Kalau kita kisaran bolak balik dari Jogja butuh ongkos 700.000 per orang, berarti untuk seluruh keluarga ku berjumlah 6 orang, keluarlah uang sebesar 4.200.000 rupiah.
Saya rasa jumlah sebanyak itu agak sayang kalau hanya untuk ongkos transportasi saja. Karena itulah selama ini tidak pernah kami menggunakan pesawat untuk transportasi liburan keluarga. Hemat itu penting, kalau ada pengeluaran yang bisa dipotong, opsi itulah yang akan dipilih.
Selama perjalanan puluhan jam itu. Aku hanya bisa tidur, mendengarkan musik, atau melihat pemandangan sepanjang jalan. Sayangnya kalau saat malam hari, sama sekali tidak bisa terlihat pemandangan itu. Karena manusia tidak terbiasa untuk melihat dalam gelap.
Saat berada di Jogja. Ada masanya aku tidak pergi ke mana-mana. Entah karena memang keluarga sedang capek malas keluar atau alasan lainnya. Pada momen ini aku biasanya memainkan game di laptop kesayangan yang kumiliki.
Pada saat aku mulai bekerja, laptop ini adalah pemberian dari orangtua dengan sumbangan dari kakek. Belilah aku salah satu laptop gaming yang lumayan pada masanya. Game yang kali ini aku mainkan adalah game tembak tembakan dengan zombie.
Biasanya aku tidak membeli game buatan Amerika. Namun seri ini merupakan salah satu yang aku ikuti. Karena itulah aku masih membelinya. Faktor utamanya adalah karena diskon di Stom. Kalau tidak diskon, pasti tidak beli.
Harga game resmi untuk PC cukup mahal, apalagi game AAA seperti ini. Selain laptop dengan spek tinggi, tidak mungkin bisa memainkan game ini. Karena itu lah memang dunia game harus memiliki modal yang cukup untuk bisa lebih banyak memainkan variasi game. Tidak mungkin laptop kentang bisa memainkan game-game baru yang membutuhkan spek yang tinggi.
Meskipun laptop gaming, agar saat bermain tidak mengalami lag. Harus dilakukan sambil mencolokkan charger. Entah kenapa hal itu tidak terjadi, mungkin karena memang untuk game yang butuh performa tinggi, harus memiliki daya listrik yang tinggi juga.
Laptop gaming juga memiliki kekurangan, selain harganya yang kurang merakyat. Bobot dari laptop ini biasanya cukup berat. Hitungan kasar saja kurang lebih hampir 5 kilogram beratnya. Membawanya dalam perjalanan juga cukup merepotkan.
Aku sayang sekali denganlaptop ini. Karena aku sangat senang bermain game PC dari dulu. Namun sepertinya takdir berkata lain. Karena suatu kejadian, aku harus berpamitan dengan laptop kesayanganku ini.
__ADS_1