
*Beberapa menit sebelum pemberitahuan delay*
"Sebentar lagi kita akan sampai di bandara i Gusti Ngurah Rai. Barang bawaan anda jangan sampai ada yang tertinggal. Terima kasih telah mempercayakan jasa travel kami untuk perjalanan kali ini. Kami tunggu kedatangan anda di perjalanan berikutnya." Ucap petugas travel kepada rombongan kami.
Pada saat sapao di Bali, tempat ini adalah yang pertama kali kami datangi. Namun berbeda dengan sebelumnya, kali ini suasana malam di Bali membuat tempat ini terasa berbeda.
Lampu jalan menyinari seluruh bandara. Landasan pesawat juga mendapatkan perlakuan yang sama. Terdapat banyak lampu berada mengelilingi landasan landing pesawat.
Sebuah insiden terjadi ketika kami memasuki bandara.
"Eh, papah! Tolong pegang tangan Mamah!"
"Apa sih mamah, berisik amat!"
Ibuku hampir saja jatuh karena tersandung koper dan barang belanjaan kami. Bapak yang kurang peka bukanya menolong ibu, malah memarahi ibu karena berisik tidak jelas.
Untung aku berhasil memegang tangan ibu tepat waktu. Sehingga ia tidak terjatuh secara keras. Aku hanya bisa tersenyum pahit melihat sikap bapak kepada ibu.
Apa boleh buat, memang sudah sikap bapak cuek seperti ini. Sudah tidak bisa merubah lagi karena dari sananya begitu. Ini semua karena lingkungan dan kehidupan yang sudah ia jalani selama ini. Membentuknya Menjadi pribadi seperti ini.
Ibu juga sudah menyerah untuk membenarkan sifat jelek bapak yang satu ini. Kalau istrinya saja sudah menyerah, apalagi saya yang cuma anaknya. Pasti tidak akan mendengarkan nasehat dari anaknya yang lebih muda ini.
Setelah insiden kecil itu selesai, kami mendengar pengumuman delay saat sudah sampai di ruang tunggu.
*Setelah pengumuman delay*
Pengumuman delay sudah diumumkan, banyak penumpang yang kecewa atas pengumuman ini. Ternyata tidak hanya grup kami yang kecewa. Aku hanya bisa pasrah dan mulai istirahat dengan duduk di kursi terdekat.
Karena tidak ada kerjaan lain, aku hanya bermain hp saja sambil menghabiskan waktu. Aku juga ngobrol dengan guru lain serta dengan orangtua ku sambil menunggu delay.
Ada kalanya aku juga mulai berkeliling tempat ini. Karena berbeda dengan saat sampai di sini, kami bisa lebih puas mengelilingi tempat ini. Mumpung pesawatnya belum tiba.
Aku seperti anak kecil berjalan ke sana dan sini. Mendata Semua toilet yang ada, mengetahui dimana posisi mushola. Dan melihat banyak lagi hal lain.
Tidak lupa aku juga melihat ada beberapa toko yang ada di lobby tunggu ini. Namun aku sama sekali tidak membeli apapun karena aku ingin berhemat.
Ketika baterai telephone sudah habis, aku menggunakan tempat charger terdekat untuk mengisinya. Bandara ini sudah seperti mol saja, serba ada fasilitas yang ada di sini. Tidak heran kalau kadang ada orang yang membeli oleh-oleh di bandara saja, kalau kelupaan membeli oleh-oleh saat perjalanan.
__ADS_1
'untung saja ada tempat cash' ucapku dalam hati sambil mencolok kabel charger ke dalam konektor hp.
Sambil menunggu hp terisi, aku membaca beberapa majalah yang ada di sekitar tempat charger sambil melihat kegiatan anggota yang lain.
Beberapa ada yang seru sekali ngobrol, terutama ibu-ibu. Namun ada juga bapak-bapak yang melakukan hal ini. Ada juga yang sibuk bermain dengan gadget yang ia miliki. Dan masih ada yang melakukan kegiatan yang lain. Semuanya berusaha untuk mengisi waktu yang ada sambil menunggu pesawat tiba.
*Beberapa jam kemudian*
"Pesawat menuju … sebentar lagi akan tiba. Penumpang pesawat … silahkan naik ke jalur … "
'akhirnya, tiba juga waktunya.'
Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya waktu kami kembali ke kampung halaman telah tiba. Aku memastikan tidak ada barang yang ketinggalan. Kemudian aku berbaris untuk masuk ke dalam pesawat bersama dengan yang lain.
Kami semua naik ke dalam pesawat dengan tertib. Pada penerbangan kali ini, kebanyakan dari penumpang mukanya sudah pada lelah karena dalam perjalanan. Tidak ada insiden saat semuanya menaiki pesawat.
Sepertinya perbedaan waktu juga mempengaruhi badan kami. Kemungkinan besar jetlag terjadi karena kami akan pindah dari Waktu Indonesia Tenga, ke waktu Indonesia Barat. Gak kebayang kalau jetlag ke negara lain rasanya seperti apa.
'hmm' aku merasakan ada yang bersandar di kedua punggungku. Sepertinya kedua temanku yang ada di samping semuanya kelelahan sehingga memilih untuk tidur.
Aku sudah berada di pesawat, pesawat ini sudah take off dan kami berada di udara. Namun karena sudah tengah malam, kami tidak bisa melihat apapun dari jendela. Hanya gelapnya malam yang bisa kami lihat.
Masih mending kalau cewek, keduanya ternyata adalah cowok. Apa daya aku berada di posisi tengah, sudah merupakan risiko berada di posisi ini.
Turun dari pesawat, kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus. Sama seperti sebelumnya, aku juga kebanyakan tidur pada kesempatan kali ini.
"Enak amat kamu nak, bisa tidur. Pan*tat ini pedas sekali kebanyakan duduk." Ucap bapaku yang ngomel di sampingku.
'mana ada yang nyaman tidur di bus.' ucapku dalam hati.
Meskipun aku dalam kondisi merem, namun aku masih bisa mendengar kalau ada yang ngomong kencang seperti bapak. Aku malu sekali bapak ngomong kencang seperti itu. Karena didengar oleh penumpang yang lain.
Ibu seperti biasa hanya bisa menghela nafas saja karena memang bapak sikapnya sudah seperti ini, senang jalan-jalan tapi gak mau capeknya, malah ngomel gak jelas. Kan malu ada di hadapan orang banyak seperti ini. Untungnya semua anggota rombongan tidak terlalu mempermasalahkan sikap bapaku.
Kami akhirnya sampai ke rumah setelah perjalanan dengan bus selama beberapa jam. Badan sudah pasti terasa capek meskipun di perjalanan kami sudah tidur dan hanya duduk selama perjalanan.
Bapak membawa kami dengan mobil hingga sampai ke rumah. Setelah sampai dirumah, aku langsung istirahat di atas kasurku yang empuk. ‘Ah, enak sekali sudah sampai rumah dan bisa istirahat’. Pikirku sambil memejamkan mata dan mengistirahatkan badan yang lelah.
__ADS_1
*Beberapa jam kemudian*
Matahari sudah cukup naik tinggi. Mungkin sekarang sudah sekitar jam 09 pagi. Setelah melaksanakan shalat subuh, aku kembali tidur lagi karena badan sangat kelelahan. Alhamdulillah setelah tidur beberapa jam setelahnya, aku sudah ada cukup energi untuk mengajar.
Aku segera bersiap-siap kemudian berangkat ke sekolah untuk mengajar seperti biasa.
"...hah. Akhirnya sampai juga ke sekolah" Ucapku sambi duduk di kursiku.
"Mm?"
Betapa kagetnya aku ketika melihat banyak kursi guru yang kosong. Ketika aku cari, ternyata mereka semua tepar di perpustakaan.
Menurut cerita dari sumber yang terpercaya, mereka semua tumbang setelah melaksanakan upacara. Wajar karena sampai ke rumah pastinya mereka sudah telat sekali dan kurang istirahat.
Aku sendiri melakukan kecurang karena datang lebih siang. Pak Dani lebih hebat lagi, dia bisa istirahat penuh karena hari Senin adalah jadwalnya libur mengajar. Karena itulah, ia bisa bebas istirahat di rumah.
Mengajar untuk hari ini cukup berat akibat badan yang lelah. Namun aku harus tetap semangat dalam belajar.
"Pak Ray, mana oleh-oleh"
"Eh, pada mau oleh-oleh?"
"Mau!!"
Semua murid Sangat girang dan menantikan oleh-oleh dari Bali. Biasanya hanya guru wali kelas yang memberikan oleh-oleh. Namun aku tidak pelit dan memberikan oleh-oleh juga mereka.
Kelas yang aku ajar semuanya mendapatkan oleh-oleh. Sayangnya tidak semuanya dapat. Hanya murid dari sepuluh besar saja yang mendapatkan nya.
Namun entah mereka jujur atau tidak saat mengambil oleh-oleh. Bisa saja mereka pura-pura memiliki ranking 10 besar. Aku tidak ambil pusing dan tetap membagikan kepada mereka saja.
"Terima kasih pak Ray"
"Sama-sama" ucapku sambil tersenyum.
Semua murid yang mendapat kan oleh-oleh mengucapkan terima kasih. Namun sayangnya, murid yang tidak dapat malah pada cemberut. Apa boleh buat, aku tidak bisa membawa banyak barang saat ke Bali. Takutnya harus masuk ke bagasi. Repot nanti kalau harus mengurus penambahan bagasi untuk pesawat.
Barang yang kuberikan bukan yang memiliki bentuk yang aneh. Kalau kalian ke Bali, pasti pernah melihat benda dengan bentuk yang kurang sopan. Pastinya untuk para murid, aku memberikan gantungan kunci yang aman saja untuk mereka pakai.
__ADS_1
Capek sekali mengajar dan memberikan oleh-oleh. Namun aku puas melakukanya. Mungkin kalau lain waktu jalan-jalan ke luar kota, aku bisa membeli mereka oleh-oleh lagi. Entah kapan hal itu akan terjadi. Karena biasanya, aku orang yang tidak suka bepergian. Pergi jauh hanya kalau ada acara penting saja dan kepepet. Sisanya, aku lebih senang di rumah.