
Beberapa bulan lamanya bapak telah tidak bersama kami lagi. Salah satu sosok yang selalu bersama denganku dari saat aku lahir hingga sekarang. Saat ini ia sudah pulang kembali ke dalam tanah dan tidak akan bangkit kembali ke alam kita berada saat ini. Kita sebagai makhluk ciptaan sang maha kuasa, tidak bisa terlepas dari yang namanya kematian. Karena hal itu adalah yang paling dekat dengan kita. Dimanapun dan kapanpun, kita bisa saja mengalami hal ini, tanpa terkecuali.
Dengan hilangnya salah satu manusia yang selalu aku lihat setiap hari saat berada di rumah. Sekarang aku mengalami perasaan yang sebelumnya jarang sekali kurasakan.
Hampa…
Aku merasa ada salah satu dari bagian dalam tubuhku yang hilang. Kehilangan ini tidak merasakan sakit, namun membuatku merasakan perasaan rindu yang mendalam saat mengingatnya. Karena rasa rindu tidak bisa dilampiaskan kecuali dengan bertemu. Namun apa daya kami sudah tidak bisa menemui sosok tersebut.
Bahkan ketika gagal saat mendekati cewek, tidak ada perasaan kehilangan seperti ini. Rindu ini sepertinya tidak akan hilang selama apapun waktu berlalu. Hanya saat kegiatan ziarah ke makam saja aku bisa mengurangi sedikit perasaan rindu ini. Tidak ada cara lain yang bisa aku lakukan untuk mengatasi perasaan ini sejauh yang aku tahu. Ingatlah untuk sayang kepada keluarga dan juga kedua orang tua kalian, selagi mereka masih ada. Kita tidak akan tahu kapan teman akrab kita yang bernama ‘kematian’ itu akan datang menghampiri.
Kondisi rumah saat ini kurang lebih sama seperti yang aku rasakan. Semua anggota keluarga merasa kehilangan karena kepala keluarga kami sudah tidak ada. Bagaikan kapal yang sudah kehilangan kapten. Kami bagaikan kehilangan arah dan tidak tahu ke mana arah yang harus kami tuju
Karena aku anak pertama, mau tidak mau aku harus berusaha untuk paling tidak menggantikan posisi kapten yang kosong ini. Posisi tersebut tidak boleh dibiarkan kosong terlalu lama. Akan berbahaya bagi sebuah kapal tanpa kapten, bisa-bisa karam terkena karang ataupun ombak di lautan karena tidak ada yang memberikan awak kapal arahan yang tepat.
Saat ini orang yang berada di rumah adalah aku, Lamda, Yana, dan juga Ibu. Arip Sendiri posisinya lebih sering di Jakarta karena ia harus melakukan pekerjaanya sebagai karyawan. Kondisi seperti inilah yang kembali membuatku bersyukur sedang tidak mendapatkan pekerjaan. Kaerna aku bisa menemai ibu di rumah.
__ADS_1
Sayangnya takdir kembali menguji kami, rumah kami yang baru saja terasa sepi saat ditinggal oleh salah satu penghuninya. Dalam waktu dekat akan kembali mengalami hal yang sama. Kehilangan lagi salah satu anggotanya.
“Ibu, sebentar lagi aku harus kuliah. Kapan kita akan mencari kontrakan?” Tanya salah satu adikku, Yana.
Adikku yang satu ini saat ini sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Namun karena situasi pandemi, ia juga melakukan kuliah secara online. Aku mengira ia masih akan melakukan sekolah dalam kondisi ini dalam waktu yang lama. Ternyata dugaanku salah, semester depan, ia sudah mulai kuliah secara offline juga.
Berkat kondisi pandemi yang sudah mulai membaik. Dengan banyaknya program vaksin dan juga persentase kasus yang mulai turun. Pihak kampus tempat Yana berada memutuskan untuk mengadakan kembali kuliah secara offline. Hal ini karena ada beberapa kegiatan seperti praktikum yang sangat sulit sekali kalau harus dilakukan secara online.
Mendengar hal ini, aku langsung memikirkan kalau rumah kami akan kembali sepi saat satu satunya adik cewek ini pergi untuk sekolah. Ingin sekali rasanya aku mencegahnya pergi untuk menemani ibu. Sayang hal itu tidak mungkin dilakukan, karena mengejar pendidikan juga merupakan salah satu hal penting yang tidak boleh dilewatkan.
Ibu mulai mendiskusikan dengan Yana mengenai bagaimana prosedur untuk pencarian kontrakan untuk Yana. Karena ini bukan pengalaman pertama salah satu anak dari ibu akan masuk ke dalam indekos. Aku dan Arip dulu saat kuliah juga mengalami hal yang sama. Sayangnya, pencarian kontrakan kali ini tanpa disertai dengan bapak.
Kasus Yana berbeda, ibu kebingungan karena dari kota C kami menuju kota P tempat Yana kuliah cukup jauh. Kira-kira hampir 10 jam jarak perjalanan dengan menggunakan mobil roda 4. Karena itulah kami harus melakukan perencanaan yang matang agar semuanya dapat berjalan lancar. Dengan jarak yang cukup jauh itu, perbekalan serta biaya perjalanan harus dipersiapkan dengan matang sebelumnya.
Awalnya, kami berniat untuk pergi bersama dengan om Maman seperti biasa. Namun pakde Tamo serta Bude Weni menawarkan kepada kami bahwa mereka juga akan mengantar Yana untuk mencari kontrakan. Mungkin karena mereka merasa kasihan melihat Yana yang baru saja kehilangan bapaknya, sehingga mereka memutuskan untuk mengayomi keluarga kami sejauh yang mereka bisa.
__ADS_1
Hal itulah yang menyebabkan kami mulai merencanakan perjalanan dengan mereka. Namun saat kami akan berangkat ke kota P. Ada berita yang membuat kami gembira.
Salah satu dari sepupu di Jogja akan segera menikah.
Tentu saja kabar ini disebarkan ke grup keluarga hingga informasi sampai kepada kami yang berada di kota C. Kebetulan sekali tanggal pernikahan Sepupuku itu untuk cocok dengan tanggal kami mencari kontrakan Yanan. Karena itulah terbesit rencana untuk kami melakukan perjalanan panjang untuk melakukan dua kegiatan.
Mencari kontrakan Yana dan juga menghadiri pernikahan di Jogja.
Dengan adanya acara tambahan ini, tentu saja rencana awal kami yang tadinya akan ke kota P saja menjadi berubah. Karena kami harus menambahkan biaya perjalanan menuju kota Jogja setelah dari kota P.
Selain biaya, tentunya waktu juga menjadi unsur penting yang harus kami perhitungkan. Karena ada pekerjaan yang tidak bisa kami tinggal terlalu lama. Setelah kami mulai banyak menghitung, kami memutuskan untuk pergi selama satu minggu. Selesai menentukan waktu, berikutnya kami mengatur bagaimana prosesi perjalanan yang akan kami lalui nantinya.
Sambil terus bertukar kabar satu sama lain secara terus menerus, agar rencana yang sudah kami buat dapat berjalan lancar. Tidak mungkin kami biarkan rencana ini gagal dan hanya menjadi wacana. Bisa nangis nanti Yana kalau kami tidak jadi ke kota P untuk mencari kontrakan. Kontak secara rutin selalu kami lakukan, kami harus memastikan bahwa pakde dan juga Bude tidak akan mengalami perubahan rencana yang mendadak.
Kami yang ada di kota C juga harus bersiap-siap dengan pekerjaan yang harus kami selesaikan sebelum waktu berangkat tiba. Terutama ibu yang jauh–jauh hari sudah bekerja lebih banyak untuk segera menyelesaikan pekerjaan karena akan mengambil cuti yang agak lama.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya, Waktu kami pergi telah tiba.
*Bersambung*