Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 126 ICU


__ADS_3

Beberapa hari setelah mengantar bapak ke Bogor. Kami semua yang ada di rumah selalu mendoakan kesembuhannya. Tentu saja kami ingin agar bapak kami tercinta itu kembali sehat sedia kala. Karena jarak dari kota C ke kota Bogor cukup jauh, kami tidak bisa menjenguk bapak setiap hari.


Biasanya, setiap seminggu dua kali kami menjenguk bapak yang ada di Bogor. Setiap momen itu, om Maman selalu bersedia menjadi supir kami untuk mengantar ke sana. Karena kalau hanya keluarga kami sendiri yang berangkat, takutnya tidak kuat untuk menyetir. Suatu hari saat bapak sedang dirawat, ibu menerima telepon.


“Halo Yeni, ada apa?..”


Sepertinya telepon itu dari Bule Yeni. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu. Wajah ibu yang awalnya terlihat biasa saja perlahan menjadi sedikit sedih. Setelah ngobrol selama beberapa menit, ibu menutup telepon dan berkata kepadaku.


“Ray, besok lagi nggak kerja kan?”


“Iya, besok Ray sedang tidak kerja karena masih cuti. Memangnya mau ada apa bu?”


“Temenin ibu ya, jenguk bapak. Dia kangen katanya.”


Mendengar permintaan ibu yang sangat tulus itu, tentu saja aku tidak mungkin menolaknya. Meskipun aku merasa malas harus menempuh berjam-jam perjalanan untuk sampai ke Bogor. Demi bapak tercinta, aku rela untuk pergi ke sana. Lagipula, kesana cuma perlu duduk doang karena yang nyetir om Maman. Apa susah ya cuma nemenin ibu ke sana? Sebagai anak, kita harus berbakti kepada kedua orang tua yang telah melahirkan kita ke dunia ini.


Keesokan harinya, kami berangkat dengan kondisi tubuh yang sudah agak mendingan. Meskipun badan kami masih sakit, mau tidak mau kami harus berangkat ke sana karena bapak sudah menunggu. Kalau kita tidak datang, bisa rewel nanti bapak saat dirawat. Sebelum berangkat, tentunya kami harus menyiapkan beberapa barang terlebih dahulu.


Pertama-tama, kita menyiapkan kartu tol dulu. Karena biaya tol ke kota Bogor dari rumah kami lumayan mahal. Kurang lebih 500.000 rupiah bolak balik. Kedua, kami harus menyiapkan bensin. Jangan sampai di jalan nanti mobil mogok karena kehabisan bensin. Ketiga, membeli bekal. Karena saat menempuh perjalan jauh, kami menyiapkan bekal jaga-jaga kalau tiba-tiba lapar di jalan dan malas untuk berhenti di jalan. Terakhir, kami membawa oleh-oleh untuk perawat yang ada di sana.


Kurang lebih hal-hal itu yang ibu siapkan setiap berangkat menuju Bogor. Karena kami akan melakukan perjalan ini selama berkali-kali. Kalau dihitung, mungkin sepuluh kali lebih kami bolak balik hanya untuk mengunjungi bapak dalam beberapa minggu ke depan.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan\, biasanya aku habiskan dengan mengobrol dengan om Maman dan juga ibu. Selain itu\, aku juga terkadang dengerin podcast kalau kepalanya lagi kuat dari HP ku. Kalau sudah tidak kuat\, hanya tidur kegiatan yang bisa aku lakukan. Karena memang saat ini\, kondisi kesehatan masih belum masih maksimal. Kami juga sudah menyiapkan obat serta tol*ak an*in kalau diperlukan.


Dulu biasanya saat perjalanan jauh, aku tidak membutuhkan minum jamu seperti itu. Namun ternyata semakin umur bertambah, badan bisa berada dalam bahaya kalau lupa minum itu saat menempuh perjalanan jauh. Karena pernah saat aku pergi hanya beberapa menit saja, langsung sakit hanya karena tidak memakai jaket. Memang badan ini harus dirawat dan lebih hati-hati saat pergi ke luar memah. Memang hidup rumahan adalah yang paling cocok untuk diriku.


Saat membeli oleh-oleh, biasanya ibu memilih beli di toko-toko roti yang cukup besar. Namanya juga cukup terkenal, cocok dengan harga barangnya yang agak mahal. Biasanya kami mampir ke toko tersebut saat melewati daerah tangerang. Pasti ibu membeli roti dalam jumlah banyak untuk diberikan kepada perwata dan juga dokter. Sepertinya memang sudah tradisi, karena kulihat keluarga pasien yang lain juga melakukannya.


Setelah semua barang lengkap, barulah kami melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit.


*Beberapa jam kemudian*


Kami telah sampai ke rumah sakit tempat bapaku berada. Ibu menelepon bu Yeni dulu untuk menuntun kami ke ruang bapak dirawat. Karena ibu masih belum ingat rute menuju tempat tersebut. Tidak lama menunggu, Bule Yeni akhirnya datang dan mengantar kami ke tempat bapak berada.


“Eh, nak Ray juga ikut. Adik-adiknya pada kemana?”


Beberapa menit kami berjalan hingga kami sampai ke sebuah ruangan. Terlihat jelas kalau di atas pintu tersebut ada tulisan besar yang dibaca ruangan ICU. Sepertinya disinilah tempat bapak dirawat.


Menurut cerita bule Yeni, terdapat dua macam ICU, yaitu covid dan non covid. Sehingga pasien yang sedang menerima penyakit pandemi ditempatkan di ruangan berbeda. Sekilas aku liat, lorong ruangan itu penuh dengan suster dan juga dokter yang lalu lalang keluar masuk ruangan ICU.


Jalan menuju ICU bisa dibilang cukup kedap udara, karena di dalamnya harus steril. Orang yang masuk juga semuanya harus mengenakan APD. Sehingga ruangan selalu dalam keadaan bersih. Aku dan ibu masuk ke dalam ruangan tempat dokter dan suster biasanya berkumpul. Entah apa nama ruangan ini, namun aku sebut saja ini adalah ruang perawat.


Di dalam ruangan ini, terdapat satu meja bundar besar yang berisi semua berkas yang harus dokter dan juga perawat isi setiap melakukan kegiatan. Kemudian di sebelah kiri ada loker tempat APD dan juga aksesoris kesehatan lain di tempatkan. Sebelah kanannya ada komputer dan juga tempat berkas-berkas disimpan. Ada juga pintu di ujung ruangan yang entah mengarah ke beranda atau ke tempat yang lain. Aku tidak tahu karena tidak pernah melewati pintu itu.

__ADS_1


Dekat pintu masuk juga ada dua kamar mandi yang bisa kami gunakan. Karena sebelum masuk, kami harus mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer. Pokoknya patuh banget dengan prokes. Sedangkan toilet di dalamnya juga cukup bersih. Saat kebelet, beberapa kali aku sering menggunakan toilet di tempat ini. Di dalam ruangan juga ada televisi yang terhubung dengan CCTV.


“Itu Ray, bapakmu ada di kamera nomor xx” Ucap bu Yeni sambil menunjuk ke salah satu CCTV yang ada.


Televisi yang ada di ruang perawat ini menampilkan seluruh ruangan ICU. Dokter, perawat, dan juga keluarga pasien bisa melihat keadaan mereka dari tv ini. Rekaman ini merupakan rahasia sehingga tidak boleh difoto oleh sembarang orang. Karena rekaman dari CCTV live langsung kondisi terkini pasien.


Pasien ICU tidak boleh dijenguk oleh sembarang orang, seingatku, hanya keluarga dekat yang bisa menjenguk. Karena itu kami harus bertanya kepada perawat siapa saja yang boleh menjenguk.


Aku dan ibu melihat kondisi bapak melalui CCTV. Terlihat kalau ia sekarang masih terkulai lemas dan sedang bermain hp dengan tangan masih diinfus. Terlihat sekali kalau wajah bapak juga masih belum segar.


“Bisakah kami masuk ke dalam Yeni? saya kangen ketemu sama kang xxx” Tanya ibu kepada Bule Yeni.


“Bisa teh, nanti ikuti saja prosedurnya” Ucap bule Yeni sambil mengeluarkan alat-alat yang diperlukan serta menjelaskan prosedur menjenguk pasien ICU.


Karena semua orang yang ada di dalam merupakan orang yang memerlukan kebutuhan khusus. Banyak sekali aturan yang harus kita patuhi sebelum masuk ke dalam. Masih beruntung kita boleh menjenguk masuk. Kalau kondisi pasien tidak memungkinkan untuk dijenguk, bisa saja kami jauh-jauh kesini hanya bisa melihat bapak dari CCTV saja.


Namun untungnya, bapakku pada tahap ini masih boleh dijenguk. Karena kehadiran keluarga katanya bisa membuat kesehatan pasien membaik.


“Baiklah Ray, teh xxx. pakai APD ini terus masuk ke dalam”


Aku menerima benda yang Bule Yeni berikan. Benda itu adalah…APD.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2