
"Ray, ayo ikut om." Kata om Beni tiba-tiba mengajakku pergi ke suatu tempat.
"Kemana om? Tumben ngajakin pergi" ucapku dengan nada heran.
Om Beni memang tidak pernah berlaku yang aneh-aneh. Hubungan kami juga bisa dibilang cukup dekat namun tidak terlalu dekat. Aku rasa ini pertama kalinya ia mengajakku keluar bersama.
Kedekatan kami mungkin karena kami berdua sama-sama menumbuhkan jenggot. Selain itu Om Beni juga sering mengikuti kajian. Sehingga ilmu agamanya di atas rata-rata muslim kebanyakan.
"Sudah ikut saja, gak ke tempat aneh-aneh kok."
"Baiklah kalau begitu.”
Aku bersama dengan om Beni naik mobil untuk menuju tempat tersebut. Mobil yang ia kendarai berwarna hijau dan hanya memiliki 4 kursi di dalamnya. Paling mentok hanya 5 orang yang bisa menaiki mobil ini. Kalau tidak salah mobil seperti ini sudah jarang sekali dipakai saat ini oleh pengguna jalan.
Dari rumahku kami pergi sekitar 5 menit. Aku sampai di sebuah tempat yang banyak rumah kontrakan di kanan dan kiri. Sepertinya aku dibawa ke sebuah susunan rumah kontrakan.
"Ini om nganter kamu ke kontrakan. Sudah dibagi oleh mbah kamu dan jatah untuk bapakmu di sini. Kamu ya nanti yang urus. "
Aku kaget mendengarnya karena ini pertama kalinya aku mengetahui hal ini. Seharusnya hal penting seperti ini diberitahukan terlebih dahulu. Agar aku bisa bersiap-siap terlebih dahulu. Tidak dadakan seperti ini.
"Siap om, Kapan aku akan mengurus kontrakan ini? " Tanyaku kepada om Bani. Karena aku tidak pernah mengurus kontrakan sebelumnya. Harus belajar banyak dari senior dulu sebelum terjun ke lapangan.
"Hari ini ikut om aja dulu, sambil om kenalin kamu ke orang-orang sini. Nanti berikut nya kamu yang nagihin sendiri"
"Ok"
Kami menuju lokasi kontrakan berada. Karena jalannya sempit, mobil tidak bisa masuk ke wilayah tersebut. Aku dan Om Bani berjalan kaki sedikit untuk sampai ke sana.
Kontrakan yang aku urus kurang lebih terdapat dua puluh pintu. Terbagi atas dua bagian, atas dan bawah. Harga untuk satu bulan sewa adalah 450.000 rupiah. Meskipun ada juga yang lebih kecil, 375.000 ribu rupiah.
__ADS_1
Tidak semua kontrakan terisi, ada juga yang kebetulan sedang kosong. Om Bani mengetuk pintu kontrakan satu per satu kemudian menagih biaya kontrakan untuk bulan ini.
"Assalamu'alaikum, bu. Ini Ray. Nanti akan menggantikan saya nagih bedeng di sini. Mulai besok, sudah bukan saya lagi yang mengurus kontrakan di sini ya. Saya sudah tidak ada urusan di sini."
Setiap kami mampir dari pintu ke pintu, om Bani mengatakan hal itu. Semua ibu yang kami temui sedikit bingung namun mereka tidak memiliki reaksi yang berlebihan. Karena kejadian pindah tangan kontrakan ini sepertinya sudah sering terjadi. Dahulu seinget saya mbah yang sering berangkat nagihin kontrakan, kemudian dilanjutkan oleh om Beni kemudian barulah sekarang saya yang mengurusnya.
Sama seperti kontrakan lainnya. Ada juga yang bandel malas untuk membayar dan hutangnya sudah banyak. Om Bani juga bingung bagaimana mengurusnya yang ngontrak seperti itu. Beban ini nanti akan dilanjutkan ke saya.
Cukup lama kami muter-murer menagih biaya sewa. Kurang lebih satu setengah jam waktu habis terbuang hanya untuk berputar dan menagih kontrakan. Nagihnya sih sebentar, cuma yang bikin lama kadang ngobrol dengan mereka. Apalagi kalau mereka ada keluhan seperti bagian rumah yang rusak. Makin lama waktu yang terbuang hanya untuk dengerin mereka komplain hal yang sama berkali-kali.
Ada juga momen om Bani memberikan ceramah kepada yang nunggak agar cepat bayar. Entah efektif atau tidak kegiatan yang ia lakukan itu. Saya rasa kalau orangnya benar sih, tidak mungkin biaya hutang sampai segitu banyaknya. Karena mereka pasti nyicil secara perlahan agar hutang mereka lunas.
Selesai berkeliling, om Bani bertanya kepada ku saat kami sudah berada di mobil "Gimana Raya? Kira-kira bisa gak besok nagih sendiri? "
"InsyaAllah bisa om. Tinggal nagih doang harusnya tidak sulit. Yang sulit paling orangnya mau bayar atau nggak nanti." Aku menjawab pertanyaan Om Bani dengan penuh percaya diri.
Awalnya aku mengira menagih kontrakan tidak akn sulit-sulit amat. Namun kenyataan sebenarnya sangat pahit. Memang awalnya terlihat mudah mengurus kontrakan, namun kesulitan sesungguhnya terjadi beberapa bulan setelahnya.
Kembali aku ke kontrakan untuk menagih biaya sewa. Biasanya hari sabtu atau minggu sore aku ke tempat ini. Ternyata kalau dilakukan setiap minggu, kerasa juga capeknya.
Dengan keadaan seperti itu, terkadang ibu kurang perhatian dan memintaku untuk kesana setiap hari. Masa iya dalam keadaan capek habis mengajar kemudian pergi ke sana untuk menagih kontrakan, yang benar saja. Orang nggak kayak robot bisa kerja terus-terusan. Aku butuh yang namanya istirahat.
Lagipula kalupun datang tiap hari percuma. Karena mereka biasanya hanya membayar satu bulan sekali. Itu artinya, kalau 20 orang ini sudah membayar untuk bulan ini, tidak perlu kesana lagi untuk kembali menagih mereka. Sayangnya aku baru menyadari ini nanti setelah lebih berpengalaman dalam menagih kontrakan.
Untungnya aku masih bisa bersabar dan terus telaten dalam menagih. Karena kalau tidak rajin menagih, akan muncul orang seperti ini.
"Eh, pak Ray ditunggu baru datang sekarang, sudah kepake uangnya. Bulan depan lagi saja ke sini. ".
"Gimana sih bu, kalau ada uang saya belum ke sini ya disimpan dulu! Masa iya gak bayar kontrakan. Mana ada yang seperti itu! bisa amanah ngak ibu!? "
__ADS_1
Sayangnya tidak hanya satu dua kali aku mengalami kejadian seperti itu. Seringkali kejadian ini terulang dan pelakunya pasti itu itu saja. Harus sabar ekstra saat menghadapi orang model kayak gini.
Entah hal apa yang harus aku lakukan agar dia tobat. Semoga saja cepat bertobat, karena hutang harus dibayar. Repot nanti kalau hutangnya banyak dan mereka tidak bisa membayarnya. Apalagi kalau mereka duluan dipanggil oleh Allh SWT.
Yang lebih kesel lagi, kalau ada yang tidak setor kontrakan. Malah saya yang ibu marahin. Kan kebalik, mereka yang gak bayar kok saya yang kena semprot! Mereka dong yang seharusnya dia omelin. Saya mah, tugasnya nagihin doang, bukan ngurusin utang mereka.
Banyak sekali mereka beralasan untuk tidak bayar. Mulai dari duitnya sudah kepake lah, buat berobat lah, suami belum bekerja lah, kerja gak dibayar lah, dan berbagai macam alasan lainnya.
Normal masih cuma nunggak 3 bulan, cuma ada saja yang kurang ajar dan ngutang sampai hampir 6 bulan. Kalau gak mulai nyicil, kapak itu akan lunas hutangnya.
Syukur kali ini masih dekat domisili di dekat kontrakan. Tidak kebayang capeknya nanti kalau sudah mulai kerja di tangerang. Semoga saja aku masih kuat nanti untuk melakukanya saat sudah mulai kerja di Tangerang.
Perjalanan dari tangerang ke sini saja sudah habis 2 jam. Bolak balik 4 jam pakai bus. Kebayang setiap minggu harus habis 4 jam hanya untuk menagih kontrakan. Apa gak kecapean di jalan tuh? Semoga saja aku bisa menjalaninya dengan baik meskipun hal itu terjadi.
Hal lain yang membuat malas ngurus kontrakan adalah komisi yang saya dapatkan. Dari perbulan uang masuk saja komisi saya tidak sampai satu juta rupiah.
Makin kesel lagi saat orang bedeng sana pada nyeletuk "Enak ya dapat duit kontrakan, banyak duit nih."
'Heh, komisi saya gak segitu gedenya bu. Kalau gede mah, udah gak mau saya mengambil kerja di bawah orang. ' dengan susah payah aku berusaha tetap tersenyum menghadapi mereka.
Karena kebanyakan yang membayar uang sewa adalah ibu-ibu. Mau tidak mau aku harus bisa meladeni mereka dan banyak bersabar. Memang ilmu sabar ini dipakai kemana saja dan harus selalu dilatih.
Kesabaran menghadapi ibu-ibu. Ketelatenan dalam menagih, serta tegas kepada penghuni kontrakan yang menunggak. Kira-kira itulah yang harus kita kuasai dalam menagih kontrakan.
Selain itu juga, harus bisa membuat pencatatan keuangan yang rapi. Karena di awal mengurus kontrakan catatan terpisah dua, catatan buatanku dengan buatan ibu.
Namun karena aku sulit dalam memahami buku kas buatan ibu. Aku memilih untuk membuat sendiri versi ku sendiri saja. Terdapat catatan di buku fisik dan juga sudah aku buat di dalam digital dalam spreadsheet.
Dengan aku buat sendiri, cashflow kontrakan lebih mudah ku cek daripada sebelumnya. Namun hal ini membuatku kembali ngedumel. Masa udah kerja dobel gini, nagih dan mencatat keuangan. Bayaranya tidak sampai satu juta rupiah. Namun karena ini hitunganya membantu orangtua. Aku harus rasional lah.
__ADS_1
Karena selain biaya hidup, ibu juga masih harus membayar biaya sekolah dua adikku yang saat ini akan menduduki kuliah serta satu lagi akan masuk ke jenjang SMP. Mereka pasti masih akan membutuhkan biaya sampai mereka lulus sebagai sarjana.
Ya Allah, semoga penghuni kontrakan pada rajin bayar dan komisi dinaikkan, aamiin. Semoga komisiku juga akan naik ya Allah, Aamiin.