Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 64 Konflik dalam Kantor


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu semenjak kehadiran Banu. Kehadirannya membuatku cukup bersemangat karena ada teman ngobrol dan main game yang seumuran. Saking inginnya main bersama dirinya, aku sampai membeli handphone baru yang speknya lebih bagus untuk bisa bermain dengannya.


Sama sepertiku, Banu juga ditugaskan untuk mengurusi pembuatan program. Namun aku heran karena sepertinya tidak ada tugas untuk masalah pemrograman ini. Karena aku dan Pak Rawan sudah mengurusnya. Karena Itulah pak Randy biasanya memberikan tugas yang aneh kepada si Banu.


Contohnya tugas seperti review suatu aplikasi, membuat laporan untuk suatu hal, dan masalah-masalah sepele lainnya. Belum ada kerja konkrit yang selama ini ia lakukan. Tadinya aku kira ia akan kerja di bidang Hardware, namun ternyata dugaanku salah. Untuk masalah Hardware, sudah ada pegawai lain yang ditugaskan untuk hal itu.


Pak Triyono namanya. Ia berasal dari sister company Elektronik Jaya yang akhirnya join ke dalam perusahaanku berada saat ini. Namun entah karena masalah legalitas atau hal lain. Ia sulit sekali untuk disuruh ngantor datang ke sini. Beribu alasan ia keluarkan agar tidak pergi kerja di kantor ini.


Hasilnya ia jadinya tidak pernah kelihatan kerjanya. Entah masalah gaji siapa yang memberikan dia gaji. Apakah sudah perusahaanku atau masih si sister company. Aku kurang paham karena tidak mengurusi hal itu. Lebih penting aku belajar untuk membuat program yang menjadi tugas ku untuk saat ini.


Namun sepertinya, kehidupanku di dalam perusahaan mulai terusik atas kehadiran seseorang. Orang itu bernama pak Tian. Aku tidak tahu kepanjangan namanya siapa dan asalnya dari mana. Dia adalah orang suruhan pak Bem yang tugasnya untuk membantu (ngerocokin) perusahaan kami dari dalam.


Pada suatu ketika, kami semua pegawai dipanggil ke dalam ruang rapat. Di dalam ruangan itu sudah ada saya, Banu, pak Rawan, Pak Sabar, pak Randy, dan Pak Tian. Semuanya duduk di dalam satu ruangan.


Awal pertemuan Pak Tian memperkenalkan diri “Perkenalkan dulu nama saya Tian. Saya ditugaskan oleh pak Bem untuk sekedar bantu-bantu di sini. Awalnya saya gak mau karena sudah menyerah untuk belajar programming. Sudah tidak sampai otak saya. Namun karena disuruh oleh boss, mau gimana lagi. Mau gak mau saya harus ikut nimbrung di sini.”


Banyak sekali hal yang dibicarakan. Namun kebanyakan semuanya hanya omong kosong belaka. Dari aura dan cara bicaranya saja, aku sudah mengetahui seperti apa kinerja dari makhluk yang satu ini. Bahkan pak Rawan saja setuju kalau ia kurang sreg dengan pak Tian. Ternyata tidak hanya aku yang kurang senang dengan orang yang satu ini.


Memang tidak boleh judge orang sembarangan. Namun kalian pasti pernah merasakannya kan? saat bertemu dengan orang baru kemudian mulai kenal setelah ketemuan beberapa kali. Kalian merasakan perasaan tidak enak dan merasa tidak cocok dengan orang itu. Kurang lebih pak Tian seperti itu di mataku.


Bahkan pak Sabar juga berkata setelah selesai rapat dengan nya “Dia sih memang bilangnya ada orang baru ngerecokin, ya dia sendiri orangnya. Lucu kan pak Ray, ceramah panjang lebar gitu padahal dia sendiri pelaku dari yang dibicarakan.”


Memang pak Tian sempat cerita kalau ada momen ketika tim IT kedatangan manager baru, justru malah ia membuat keributan/masalah. Karena memaksakan mengambil proyek yang tim tidak mampu selesaikan. Setelah dipikir-pikir, sepertinya yang dibicarakan adalah dirinya sendiri.


Tidak butuh lama untuk membuktikan feeling yang aku punya. Beberapa Minggu setelah pertemuan itu. Mulailah perdebatan antara diriku dengan bapak keras kepala yang satu ini.

__ADS_1


*Beberapa minggu kemudian*


“Pak Ray, mohon segera ke ruangan saya.”


TIba-tiba ada pesan WA masuk dari pak Tian. Memang aku sudah mengetahui nomornya karena sempat tukuren kontak beberapa waktu yang lalu. Karena memang sedang tidak banyak tugas, aku pergi ke kantornya setelah pamit dengan pegawai yang lain.


Tempat kerja pak Ian berada di seberang gedung tempatku bekerja. Tidak jauh, hanya terpaut beberapa meter saja. Jalan kaki saja tidak sampai memakan waktu 5 menit. Setelah bertanya ke pegawai sekitar, ruangan pak Ian berada di lantai dua. Aku menaiki tangga sambil menjinjing laptop yang katanya disuruh aku bawa ke dalam ruangan.


Sebelum masuk ke dalam ruangan, aku mengetuk pintu terlebih dahulu.


*tok tok tok*


“Masuk”


“Oh ya, silahkan masuk pak Ray. Ayo duduk dulu”


Setelah aku duduk dan menaruh laptop di atas meja. Pak ian tanpa basa basi langsung masuk ke dalam inti pembicaraan.


“Jadi begini pak Ray, kemarin saya diberikan tugas untuk membuat sebuah aplikasi. Kalau bisa dalam waktu cepat buatnya. Nanti cara kerjanya saya memasukkan tabel ke dalam database, kemudian kamu buat ke dalam bentuk coding. Bagaimana caranya bebas, yang penting database yang saya buat nanti disesuaikan saja”


Serentak jiwa programmer diriku langsung bergejolak. Projek macam apa ini? Gak ada desain databasenya, gak ada dfdnya, tanpa ada planning dan desain UX. Langsung nembak database dan dibuatkan codingnya. Disuruh kerja cepat lagi dengan waktu yang sedikit. Are you Fuc*ing kidding me!?


Ingin rasanya aku langsung memukul wajah orang yang satu ini. Dengan postur agak tinggi dan rambut botaknya itu. Ditambah sikapnya yang cukup mengesankan, apalagi cara kerjanya seperti ini. Sudah jelas sekali kalau saya tidak akan cocok dengan orang yang satu ini. Pertama kalinya dalam aku kerja di sini selama beberapa bulan, keinginan untuk pindah tempat kerja akhirnya muncul begitu saja.


Karena tidak ingin ribut, pertemuan pertama dan beberapa pertemuan berikutnya aku ladeni saja dulu orang ini. Namun pak Rawan dan yang lain sudah memberikan saran untuk berhati-hati saat bekerja dengan nya. Takutnya akibat waktu yang mepet, nanti malah aplikasinya tidak selesai.

__ADS_1


Daripada nanti aku yang disalahkan, lebih baik aku lempar bola saja. Benar saja, pertemuan setelah mendapatkan nasihat itu. Aku langsung clash dengan pak Tian.


“Jadi, bapak tidak mau mengerjakan ini?” Serentak langsung badanku teriak untuk langsung menonjok orang ini dan mengeluarkan air mata.


Terdengar dari nadanya saja sudah mengancam. sepertinya ia juga sudah sering melakukan hal ini di tempat kerja sebelumnya. Karena menurut informasi yang sudah pak Rawan cari. Memang reputasi tempat kerja orang ini sebelumnya semuanya bermasalah. Mendengar nada yang menantang itu, aku langsung membalas.


“Iya pak, saya gak akan melanjutkan mengerjakan projek ini. Mungkin diserahkan ke yang lain saja.” Ucapku sambil melambaikan tangan untuk berjabatan dengan nya.


Sampai di ruangan kantor, Pak Rawan dan yang lain melihat gelagat diriku yang berbeda setelah bertemu dengan pak Tian.  Aku hampir menangis dan bercerita mengenai apa saja yang terjadi dengan pak Tian barusan. Untungnya mereka semua mendukungku dan memang menganggap bahwa di sini pak Tian yang salah.


Keadaan mentalku membaik dan setelah ini aku telah bersiap-siap kalau sewaktu-waktu mendapatkan surat pemutusan hak karyawan. Mau bagaimanapun juga, aku tidak ingin kerja seperti ini. Biasanya kalau pulang kerja aku bisa santai di rumah tidak perlu mikir tentang kerjaan.


Tetapi pak Tian ini sepertinya menganggap orang seperti robot. Masa iya pulang jam kerja masih terus di suruh kerja. Mana saat hari sabtu dan minggu juga disuruh lanjutin itu pekerjaan. Ini sudah tidak sehat menurut saya. Karena kalau kerja terus setiap hari, kapan waktu untuk istirahat nya?


Pak Sabar juga pernah digituin seperti itu oleh pak Tian. Ia hanya berkata “Pak, boleh rajin kerja. Tapi juga harus ada waktu istirahat. Gimana ngurus istri dan anak kalau Sabtu dan MInggu juga tetap bekerja” Pak Tian hanya terdiam dan tidak berkomentar apa-apa setelah itu.


Lega setelah membeberkan semua masalah dengan pak Tian, aku akhirnya melanjutkan pekerjaan yang aku lakukan sebelum diganggu oleh si kepala botak. Namun masalah dengan pak Tian belum selesai, kali ini pak Bem juga ikut turun tangan.


Sepertinya kejadian kemarin telah terdengar ke telinga pak Bem. Sudah jelas dari mana pak Bem tahu masalah yang terjadi antara aku dengan pak Tian. Hmm.. Kira-kira bagaimana aku harus menanggapi ini?


*bersambung*


*Catatan penulis*


Maaf ya sudah lama tidak update. Karena ada kesibukan di dunia nyata. Setelah chapter ini semoga bisa kembali update secara reguler (paling telat 3 hari sekali). Sampai jumpa pada chapter selanjutnya dan tetap dukung novel ini ya. Sampai jumpa

__ADS_1


__ADS_2