
Saat menerima baju APD, aku terdiam selama beberapa saat. Karena ini pertama kalinya aku menyentuh baju APD yang belum terbuka. masih rapi terbungkus dengan segelnya. Berbeda sekali bentuknya saat dibuka dan setelah digunakan. Aku kira baju APD digantung seperti baju dan ada lemarinya. Ternyata dibungkus dalam bungkus kotak seperti ini, mirip dengan yang kita dapatkan kalau sedang membeli baju baru.
Bule Yeni melihat ke arahku dan ia mengajari ibuku mengenakan APD sambil berkata “Ray, ini diperhatikan cara pakainya. Agak sulit sih kalau sendiri, tapi mudah kok kalau tahu caranya.”
Mendengar ucapan Bule yeni, aku menjadi fokus kembali dan melihat dengan seksama bagaimana cara mengenakan APD. Mulai dari melepas jaket milikku terlebih dahulu, karena nantinya baju APD lengan panjang. Kemudian aku mengenakan celananya terlebih dahulu. Sama seperti atasnya, celana APD juga ukuranya panjang menutupi kaki.
Kemudian pakai juga kain APD namun untuk alas kaki. Barulah setelah itu rangkap menggunakan sepatu atau sandal. Bagian bawah selesai, sekarang kita pakai baju atasnya. Mirip saat pakai jas hujan yang terpisah baju dan celananya, kurang lebih seperti itu baju APD. Namun ada tali yang kita ikatkan ke bagian belakang tubuh kita. Sehingga bagian badan penuh tertutup oleh APD.
Terakhir, bagian kepala menggunakan tudung yang nyambung dari baju. Seperti jaket lah. Kemudian diikat rapat dengan selotip. Lalu mata ditutup dengan menggunakan kacamata mirip kacamata renang. Tidak lupa double masker sebagai pelengkap. Semua yang ada di wajah harus ditutupi dengan selotip agar tidak ada celah masuk ke dalam tubuh. Hal ini jugalah yang membuat pakaian APD aman dari virus.
Namun apakah kalian tahu apa yang terjadi setelah itu? badan terasa panas sekali. Pengap karena mau nafas harus melewati banyak layer. Apalagi badan menjadi terasa sesak sekali selama memakai APD. Ketika mengetahui hal ini, aku sangat mengacungi jempol para APD yang siap sedia memeriksa pasien dengan mengenakan baju ini. Aku saja seperti cuma setengah jam pakai baju ini sudah ngos-ngosan. Tidak terbayang betapa hebatnya petugas kesehatan bisa berjam-jam memakai baju seperti ini.
Tidak heran hal ini membuat beberapa wajah perawat belakangan ini ada bekas maskernya. Bekas itu muncul akibat pemakaian APD dengan frekuensi tinggi.
“Sudah siap semua? Ayo masuk ke dalam” Ucap Bule Yeni sambil pergi ke arah pintu masuk ICU.
Saat kami telah sampai di pintu masuk, Bule Yeni sekali lagi mengingatkan untuk patuhi protokol kesehatan dan juga apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan di dalam ICU. Pokoknya harus nurut lah sama dokter yang kalau nanti masuk ke sana.
__ADS_1
Kami berdua mengangguk kemudian mengikuti Bule Yeni yang masuk ke dalam. Dari pintu masuk, ternyata ruangan tempat bapak berada itu cukup dekat. Hanya sekitar beberapa meter saja dari pintu masuk. Sampai di sana, akhirnya aku bisa melihat bapak secara dekat, tidak dari CCTV.
Kulihat raut wajah bapak semakin membaik saat melihat kami berdua. Sepertinya ia senang sekali karena kami jenguk. Melihat kondisi bapak seperti ini, aku menjadi kasihan terhadapnya. Semoga saja bapak cepat sembuh dan kedatangan kami ini bisa mempercepat hal itu terjadi.
“Ah..ahh” Bapak terlihat berusaha untuk ngomong sesuatu tapi suaranya tidak bisa keluar.
Benar kata Bule Yeni. Karena bapak memakai alat bantu pernapasan, sehingga ia sulit untuk berbicara. Hanya terdengar suara teriakan saja dan kalimat apapun yang bapak keluarkan tidak bisa kami dengar jelas. Sempat Bule Yeni menawarkan untuk memberikan alat tulis dan juga kertas untuk menuliskan apa yang ingin diucapkan. Namun bapak menolak dan berusaha untuk berbicara dengan mulutnya sendiri, tetapi gagal terus menerus.
Sepanjang menjenguk, ibu bilang banyak hal kepada bapak dan memberikan semangat. Sambil memegang tangan suaminya tercinta itu. Melihatnya aku hanya bisa meneteskan air mata dan memegang satu tangan bapak lainnya yang masih kosong. Beberapa menit kami lalui dengan tenang dan hanya mendengarkan suara ibu yang ngobrol dengan bapak. Aku hanya ngomong pada momen yang tepat saja, tidak terlalu banyak.
“Hmmm..ehmmm” Bapak mengerang sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia tidak ingin kami pulang dan tetap berada di sini.
Melihat hal itu, ibu sempat bimbang namun tetap teguh untuk pulang. Karena kami juga yang menjenguk perlu istirahat. Tidak hanya bapak yang saat ini sedang sakit di keluarga kami. Ada juga adik-adikku yang masih memerlukan pengawasan dari kami.
“Gak papa pak. Kami pamit dulu. Nanti bapak akan kami jenguk lagi.”
Setelah beberapa menit negosiasi, akhirnya bapak setuju untuk membiarkan kami pulang. Sebelum pergi ke mobil, kami melepaskan baju APD dulu di ruang perawat. Berbeda dengan tadi saat memakainya, melepasnya lebih mudah. Karena tidak perlu berhati-hati melepasnya, APD yang sudah terpakai langsung dibuang ke tempat sampah.
__ADS_1
Pantas saja APD sempat mengalami kesulitan, karena pemakaian hanya sekali atau beberapa kali pakai. Beruntung stoknya saat ini sudah membaik sehingga pasien covid masih bisa ditangani dengan baik. Setelah APD terlepas, kami mencuci tangan dengan sabun agar tidak ada virus dan bakteri yang tersisa.
Kami akhirnya keluar dari ruangan perawat setelah semua badannya bersih. Barulah kami kembali ke mobil untuk pulang ke rumah. Saat sampai di parkiran, Bule Yeni pamit kepada kami.
“Makasih ya teh, Ray. Sudah mau datang. Nanti kalau kang xxx ada apa-apa. Saya hubungi deh.”
“Baiklah, terima kasih ya Yeni. tolong dijaga kang xxx baik-baik.”
Setelah pamit, kami kembali ke kota C untuk istirahat. Perjalan total bisa setengah hari habis di jalan dari bogor kembali ke rumah bolak balik. Memang capek, namun untuk menjenguk bapak tercinta, tidak masalah kami mengalami hal ini. Karena kami ingin bapak cepat sembuh, semoga setelah ditengok. Kondisi kesehatan nya akan membaik.
Namun sepertinya, takdir berkata lain. Ada saja hal yang membuat kami was was saat bapak dirawat. Mulai dari ia membutuhkan donor untuk cuci darah, kemudian bapak menolak untuk dipasang selang, sampai ada isu kalau oknum perawat tidak merawat bapak dengan baik sampai Bule Yeni omelin.
Berita-berita buruk ini membuat kami yang di rumah semakin khawatir. Karena itulah kami semakin sering bolak balik pergi ke Bogor. Hal ini juga membuat mobil yang kami pakai membutuhkan reparasi yang banyak. Mulai dari spooring mobil sampai harus mengganti persneling. Tidak hanya itu, kami juga harus mengeluarkan banyak biaya untuk pengobatan bapak.
Keadaan ini terus menerus terjadi selama 3 minggu lamanya hingga akhirnya..Bapak sudah tidak bersama kami lagi.
*Bersambung*
__ADS_1