Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 139 Vaksin 4


__ADS_3

Kalau sebelumnya aku harus bersama dengan rombongan untuk menerima vaksin. Kali ini aku, ibu, dan juga Yana hanya pergi bersama dengan bu RT  saja. 


Beda dengan sebelumnya, kali ini kami bisa mengambil vaksin di puskesmas yang dekat dengan rumah. Kalau tempat vaksin sebelumnya, kami harus menggunakan angkot dulu baru bisa sampai ke sana. 


Puskesmas yang berada di dekat rumah sudah cukup rapi. Namun tempatnya hanya berupa dua lantai dan tidak terlalu luas. Berbeda saat melakukan vaksin di GOR sebelumnya. Karena itulah, sebelum masuk ke dalam. Kita harus masuk sesuai antrian terlebih dahulu. 


"Ray, silahkan masuk"


Aku baru mulai masuk saat namaku dipanggil. Kita tidak boleh masuk ke dalam sebelum diperbolehkan oleh petugas. Jangan sampai kita mengabaikan prosedur yang sudah ada di dalam puskesmas


"Langsung naik ke lantai 2 ya mas. Terus tunggu di panggil lagi. 


"Ok. Makasih mbak"


Mengikuti arahan petugas, aku perlahan-lahan menaiki tangga dan pergi ke lantai 2. Saat memasuki lorong, aku melihat sudah ada banyak kursi yang tersedia di setiap sudut ruangan. Kira kira ada sekitar puluhan kursi telah disediakan. 


Saat aku sudah duduk di kursi, aku lihat ada bu RT duduk di dekatku dan ia bertanya. 


"Ray, ibu sama Yana kemana? "


Ia bertanya karena saat daftar, ibu mendaftarkan vaksin untuk 3 orang. Namun saat waktu vaksinasi tiba, baru aku seorang yang datang. 


Hal ini karena Yana masih dandan sehingga membutuhkan waktu yang lama. Sedangkan ibu menemani Yana sehingga ia juga ikutan terlambat. Alhasil, hanya aku yang datang tepat waktu ke puskesmas. 


"Begitu toh. Disuruh cepetan datang ya. Bentar lagi dipanggil itu mereka berdua. "

__ADS_1


"Siap bu. "


Aku menghubungi mereka menggunakan aplikasi chat. Beberapa menit setelah aku kabari,  mereka akhirnya tiba juga di puskesmas. 


Ibu dan Yana terlihat sekali terburu-buru berangkat ke tempat ini. Wajah mereka sudah mulai berkeringat dan sedikit dari make up mereka mulai luntur. 


"Ray, ibu xxx, Yana" Nama kami bertiga dipanggil oleh petugas. 


Kami masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruangan itu, terdapat beberapa orang lagi yang juga duduk di sana. Terlihat mereka menunggu dipanggil kembali untuk disuntik. 


Kulihat juga mereka membawa secarik kertas yang dibagikan oleh petugas. Tentunya aku juga mendapatkan kertas tersebut dan data yang harus diisi mulai aku isi satu per satu. 


Sepertinya isi dari kertas ini hanya identitas dan mendata kapan terakhir aku mendapatkan vaksin dosis pertama. Tidak ada data sensitif yang harus kita berikan kepada puskesmas. Di zaman serba canggih ini, kita harus berhati-hati dengan data yang kita berikan apapun bentuknya dan kemana saja dikirimnya. 


Karena hanya orang yang telah jeda selama bulanan baru boleh ambil vaksin dosis dua. Entah satu bulan atau berapa bulan jedanya, aku sudah agak lupa. Intinya, jangan terlalu dekat dengan saat vaksin dosis pertama. 


"Bapak Ray, silahkan menuju tempat vaksin"


Aku pergi ke sumber suara kemudian melanjutkan perjalanan menuju tempat penyuntikan. Petugas sudah siap dengan jarum suntik nya dan dengan gaya yang apik, menyiapkan isi dari jarum suntik itu. 


"Lipat lengan bajunya pak. Kemudian rileks, jangan tegang. "


Tubuh ini aku usahakan agar rileks. Karena kalau terlalu tegang, nantinya jarum suntik tidak bisa masuk. Aku mencoba untuk memikirkan hal hal yang bisa membuatmu rileks


"Jleb"

__ADS_1


Dengan lihai petugas menyuntik jarum kemudian memasukkan vaksin ke dalam tubuhku. Seperti biasanya, aku merasakan rasa sakit seperti digigit oleh semut. 


Saat proses menyuntik, aku juga berusaha agar mimik wajah tetap tenang dan cool. Karena aku tidak ingin malu maluin. 


Selesai menyuntik, aku masih harus menunggu lagi untuk mendapatkan kartu vaksin. Untungnya aku bisa bermain dengan menggunakan handphone milikku sambil menunggu. Kalau tidak, bisa bosan aku bengong saja di puskesmas. 


Saat proses menunggu ini, aku meninggalkan ibu dan Yana karena aku harus menunggu di ruangan yang berada di lantai satu. Sama seperti di lantai dua, lantai satu juga sudah disiapkan banyak kursi untuk peserta vaksin menunggu. 


Beberapa menit kemudian, Yana dan ibu mulai turun ke bawah. Pada akhirnya, kami bertiga menunggu bersama-sama sampai kartu vaksin kami selesai. 


Namun saat aku menunggu, aku melihat Yana masih membawa berkas yang seharusnya diserahkan kepada petugas 


"Loh, Yana? Itu kenapa nggak di kasih ke petugas? "


Yana terkejut lalu berkata "eh!? Ini harus dikasih ke petugas ya! ? "


Mengetahui hal ini, Yana langsung bergegas kembali ke lantai dua untuk menyerahkan berkas tersebut. Akibat kejadian ini, Yana akhirnya harus menunggu lebih lama untuk kartu vaksin miliknya selesai. 


"Pak Ray, pak xxx, bu xxx" Petugas memanggil namaku beserta dengan pasien yang lain. 


Aku pergi untuk mengambil kartu vaksin dan langsung pulang setelah pamitan kepada ibu dan Yana. Karena mereka berdua masih belum mendapatkan kartu vaksin mereka. 


Sampai dirumah, aku mulai kembali melakukan kegiatan seperti biasa yaitu menulis dan juga melamar pekerjaan yang cocok dengan kompetensi yang aku miliki. 


*bersambung*

__ADS_1


*chapter lebih pendek karena penulis sedang berada di luar kota untuk acara keluarga. Sehingga tidak ada waktu untuk menulis chapter dengan panjang yang normal. Semoga chapter berikutnya panjang chapter bisa kembali normal. 


__ADS_2