
"Bagaimana, sudah siap semuanya? " Tanya ibu kepada kami sambil melihat barang yang akan kami bawa.
Kali ini kami akan melakukan perjalanan menuju kota P. Kota yang nantinya akan menjadi tempat Yana menimba ilmu. Perjalanan dari kota kami ke sana cukup jauh. Karena itulah kami menerima tawaran bude Weni untuk mengantar kami. Bersama Pakde Tarno tentu nya.
Aku, ibu, Yana, dan Lamda akan berangkat bersama dengan mereka. Sedangkan Arip tidak ikut karena ia masih harus kerja di Jakarta. Alhasil, akulah sebagai kakak tertua yang menemani ibu melakukan perjalanan jauh. Kebetulan juga aku belum memiliki pekerjaan. Sehingga memiliki waktu untuk melakukan perjalanan jauh.
Kami setuju untuk berangkat bersama Bude karena aku sendiri masih belum boleh untuk menyetir keluar kota. Padahal aku sih berani berani saja, selama ngak dadakan dan aku bisa siap siap dulu. Karena kalau menyetir, tidak boleh mengantuk. Harus tidur dan istirahat yang cukup dulu sebelum melakukan perjalanan jauh.
Mungkin karena sudah terlalu sering menjadi penumpang. Sehingga bawaannya kalau naik mobil itu pasti ngantuk. Namun untungnya selama menjadi supir, aku belum pernah merasa ngantuk. Kalau sampai hal itu terjadi, aku hanya bisa menepi untuk istirahat sebentar atau ganti supir. Jangan memaksakan diri untuk menyetir kalau sedang ngantuk, karena itu adalah hal yang sangat berbahaya.
"Sudah siap xxx? Kami sudah mulai otw ke sana. Ditunggu ya. " Ucap Bude Weni melalui saluran telepon.
"Ok.kami juga sudah siap di sini. "
Bude Weni dan keluarga sedang menghadiri acara pernikahan di Jakarta. Karena itulah mereka berencana untuk sekalian menjemput kami di kota C kemudian pergi ke kota Tangerang untuk istirahat. Barulah kami bersama-sama pergi ke kota P lalu kota Yogyakarta. Kota P untuk mencari kontrakan Yana dan pergi ke Yogyakarta untuk menghadiri acara kondangan sepupuku.
Tangerang menjadi tempat istirahat kami karena di sana ada anaknya Bude Weni, Mbak Livi. Mbak Livi adalah anak kedua dari 3 bersaudara. Ia memiliki kakak bernama Darius serta adik bernama Deva. Mbak Livi ini satu satunya anak perempuan dari anaknya Bude Weni.
Mbak Livi sudah menikah dan sekarang tinggal bersama dengan suaminya. Karena itulah kami bisa menginap secara gratis di tempat itu. Tapi tetap saja, kita harus menjaga sopan santun dan menjaga kelakukan kita saat sedang berada di rumah orang lain. Hal inilah yang membuatku sepertinya tidak bisa istirahat dengan optimal nanti.
Entah kenapa setiap sedang keluar kota ataupun melakukan perjalanan jauh. Ada saja hawa hawa badan ini merasa tidak sehat sama saat perjalanan. Aku sendiri tidak tahu alasan ilmiahnya kenapa itu hal terjadi. Namun aku ada beberapa asumsi kenapa hal itu aku rasakan.
__ADS_1
Pertama karena aku memang tidak terlalu menikmati jalan-jalan. Lebih senang dirumah saja stand by daripada harus repot-repot untuk pergi ke luar rumah. Karena itulah aku biasa saja ketika covid datang dan dilarang oleh pemerintah untuk keluar rumah. Memang saat keadaan biasa saja, aku tidak terlalu suka jalan-jalan.
Kedua karena perubahan lokasi. Sama saat kita pertama kali mendaki gunung. Tubuh ini akan merasakan dampak saat lokasi kita berada berubah secara cepat. Meskipun ada beberapa orang dengan tubuh yang cepat beradaptasi. Mungkin kasus untukku ada sedikit berbeda. Lebih sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.
Kita kira kedua hal diatas lah yang menurutku membuat tubuh ini seringnya terasa tidak fit saat sedang melakukan perjalanan jauh. Meskipun sudah ada waktunya untuk istirahat, namun sepertinya persentase efektifitas kegiatan itu lebih kecil daripada tidur di rumah sendiri.
Walau begitu, aku mau tidak mau harus pergi ke luar kota untuk menemani ibu. Karena aku harus menggantikan posisi bapak sebagai laki laki paling tua di dalam keluarga. Pastinya hal itu tidak mudah, namun kalau kita tidak mulai melangkah dan menjadi pribadi yang lebih baik mulai dari sekarang, kapan lagi?
Kalau kegiatan ini tidak bisa aku hindari, aku hanya bisa berusaha untuk menikmati perjalanan ini sebaik mungkin. Siapa tahu aku bisa menemukan inspirasi ide baru untuk cerita novel ku. Karena inspirasi bisa datang dari mana saja dan kapan saja.
tok tok tok .
Aku mendengar suara ketukan pintu dari depan rumah. Apakah mereka sudah datang? Kalau itu benar, mereka sampai lebih cepat dari dugaan keluarga kami.
*krek* Aku membuka pintu kemudian melihat Pakde Tarno\, Bude Weni\, dan juga mas Deva telah berdiri di hadapanku. Mereka akhirnya telah sampai ke rumah setelah menghadiri acara perkawinan kerabat mereka.
"Wah, ayo Bude, Pakde, mas Deva. Silahkan masuk. "
Aku langsung mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam rumah. Ibu yang tadinya ada di kamar saat ini telah keluar rumah dan mulai mengobrol dengan mereka. Kegiatan itu ibu selingi sembari menyiapkan barang barang yang akan kami bawa. Karena masih ada barang yang belum beres di packing..
Obrolan mereka aku ikuti karena saat ini posisiku berada di ruang tamu. Masa iya ada tamu datang jauh jauh tidak diajak ngobrol. Alhasil pembicaraan lintas zaman terjadi. Hal ini membuatku harus berpikir keras untuk mengikuti pembicaraan mereka. Karena terkadang ada topik pembahasan yang masih belum aku pahami.
__ADS_1
Kalau dulu saat aku kecil, tidak mungkin aku bicara dengan orang dewasa karena aku lebih banyak ngobrol dengan saudara yang seumuran. Tidak bicara dengan orang dewasa karena pastinya nanti tidak akan nyambung obrolannya.
Sekarang saat aku sudah dewasa, perlahan apa yang mereka bicarakan bisa aku pahami. Meskipun kebanyakan aku hanya dengar telinga kanan keluar dengan telinga kiri. Terkadang, ada pembicaraan para orang dewasa yang menyakiti hati ataupun tidak relevan dengan zaman sekarang.
Hal yang penting untuk sekarang kita paham. Saring informasi yang kita Terima. Karena informasi yang kita dapat sekarang sudah terlalu banyak. Kita harus pintar pintar memilah milah data yang berguna dan tidak berguna untuk kita. Informasi yang berguna kita simpan sedangkan yang tidak bermanfaat kita buang.
Dengan kondisi seperti inilah percakapan berlangsung hingga keluarga kami siap untuk berangkat.
"Sudah siap xxx? Ayo kita berangkat. " Ucap Pakde Tarno saat melihat barang bawaan kami sudah siap.
"Tentu saja siap, ayo berangkat Pakde! "
Kami akhirnya mulai memasukkan barang bawaan kami satu per satu ke dalam mobil. Perjalanan jauh seperti ini kami harus membawa baju, alat mandi, handuk, dan keperluan pribadi yang lain. Semakin banyak orang yang berangkat, semakin banyak barang bawaan yang harus kami siapkan.
Karena keluarga kami ada 4 orang, tidak perlu dipertanyakan akan seperti apa barang bawaan yang kami perlukan. Semoga saja dengan mobil yang kami pakai ini, bagasi dalam mobil cukup untuk menyimpan nya. Tidak enak kalau akibat barang bawaan kami, perjalanan menjadi tidak nyaman karena bagasi mobil over kapasitas.
"Ayo semuanya masuk. Tidak ada barang yang ketinggalan kan? Ayo kita berangkat"
Setelah semua barang bawaan masuk ke bagasi. Kami semua mulai naik ke dalam mobil. Barulah kami berangkat ketika semua orang sudah berada dalam posisi.
Mobil mulai distarter dan akhir nya sang supir, Mas Darius. Mulai mengendarai kendaraan menuju tempat mbak Livi yang ada di Tangerang.
__ADS_1
Kira kira, apa yang akan aku alami dalam perjalanan kali ini?
*Bersambung*