Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 40 Bali 2


__ADS_3

"Jadi, bapak ibu. Sebelum pergi ke tempat tujuan, kita akan pergi ke tempat ibadah terdekat untuk melaksanakan shalat jumat. "


'Apa? ' serentak aku langsung kaget. Aku kira tempat pertama yang akan kami kunjungi adalah hotel untuk menaruh barang dan mandi. 


Ternyata tujuan pertama bukan kesana, namun langsung ke masjid untuk melaksanakan shalat. Ketika aku keluar dari bus, aku merasakan angin dan terik matahari Bali. 


"... Panas Sekali! " Ucapku sambil mencari tempat untuk berteduh. 


Memang benar saran dari staf yang lain, kalau ke Bali harus menggunakan Sunblock atau payung. Karena matahari di tempat ini menyengat sekali. Berbeda sekali dengan matahari di kampung halamanku. 


Sambil menunggu waktu Jumatan, aku hanya bisa ngobrol dengan orang di sekitar saja. Karena badanku terasa kengket sekali dan mengantuk karena kelelahan. Tidak ada mood sama sekali untuk membuka handphone. 


Kudengar beberapa rekan yang lain sudah pergi ke toilet terdekat untuk mandi. Aku sempat mempertimbangkan untuk mandi juga, namun akhirnya aku mengurungkan hal itu. 


Karena keluargaku tidak pada mandi, aku tidak enak kalau mandi sendirian. Sampai pada akhir nya, waktu shalat jumat tiba. Masih dengan keadaan badan belum suci dan bersih. 


Dengan tubuh yang lelah dan capek akibat perjalanan, aku berhasil melaksanakan shalat jumat dengan baik. Ini momen yang langka untuk melakukan shalat di tanah dewata. Aku kira masjid di Bali tidak ada yang bagus, ternyata dugaan ku salah. 


Masjid tempatku berasa juga unik. Aku tidak tahu persisnya ini di mana, namun selain masjid, sekitar tempat ini juga ada vihara dan gereja berdekatan. Hebat sekali bisa ada tempat ibadah berdekatan seperti ini. 


Tidak ada tanda tanda konflik pernah terjadi di tempat ini. Memang mungkin benar konon katanya kalau tempat di Indonesia yang paling toleransi adalah bali. Karena semua orang di dalamnya rukun dalam menjalankan ibadah masing-masing orang. 


Namun karena ini bukan hari minggu, sepertinya gerejanya sepi dan tidak digunakan. Masjid kita berada saat ini bertipe outdoor, pemandangan sekitar masih terlihat meskipun sudah masuk area masjid.


Untungnya cuaca terik dan tidak mendung atau ada pertanda hujan. Namun hal ini kembali menyebabkan masalah baru, suhunya jadi panas sekali. Berkat terkena air wudhu, suhu panas di sekitar agak terasa berkurang. 


"Ayo rombongan…  segera naik ke bus untuk menuju tempat berikutnya. " Teriak salah satu pemandu dengan menggunakan toak. 


Aku langsung kembali ke bus kemudian berusaha untuk menikmati pemandangan sambil pergi ke tempat tujuan. 


Saat ini kami juga makan di dalam bus untuk menghemat waktu. Agak ribet makan di dalam bus, namun apa daya, memang jadwalnya begitu. Untuk efisiensi waktu menurut petugas, sehingga harus makan di jalan. 


"Silahkan berkeliling selama satu jam. Nanti akan dihubungi kalau sudah waktunya berangkat ke tempat berikutnya. " Pemanduan mempersilahkan semua penumpang untuk jalan-jalan. 


Kami memiliki dua pemandu, satu cowok dan satu lagi cewek. Nama pemandu cowok adalah Bernan, sedangkan pemandu cewek bernama Maya. 

__ADS_1


Bernan meskipun katanya orang bali tapi mukanya mirip orang Jawa. Dengan kulit berwarna coklat dan badan kurus. Ia mengenakan pakaian tradisional bali. 


Maya memiliki kulit putih dan berwajah cantik. Ia juga menggunakan pakaian adat dari bali. Beberapa staf cowok dari tempat kerjaku sudah gerak cepat dan langsung follow pemandu yang satu ini. Memang kalau ada wanita cantik pada langsung seperti itu. 


Tempat kami berada kali ini sepertinya adalah sebuah pantai. Namun berbeda dengan pantai yang aku bayangkan. Wilayah ini cukup kotor, banyak sampah berserakan dimana-mana.


Hal ini mengakibatkan bau yang tidak sedap. Sayangnya aku tidak sempat membawa masker saat berada di tempat ini. di jalan juga aku melihat banyak ornamen bali beserta sajen-sajen. 


Anjing dan sesajen merupakan pemandangan yang lumrah saat di bali. Aku banyak melihat mereka saat perjalanan ke tempat ini. Hal ini merupakan salah satu yang membuatku mengalami culture shock. 


Terdapat banyak toko oleh-oleh sepanjang jalan menuju pantai. Tanganku kutahan karena jangan sampai aku belanja terlalu banyak. Meskipun kami mendapatkan sangu dari sekolah, tidak bagus untuk menghabiskannya pada hari pertama perjalanan. 


"Jadi ini, pantai di bali. " Ucapku sambil melihat pemandangan pantai di sini. 


'... Tidak berbeda dengan pantai di wilayahku' ucapku dalam hati. 


Aku memang jarang jalan-jalan. Sehingga mungkin aku kurang bisa membedakan kualitas dari sebuah pantai. Namun dari pandangan amatur milikku, tempat ini tidak jauh berbeda dengan lantai yang ada di dekat rumahku. 


Perbedaan nya, pantai ini lebih bersih dan lebih banyak bule yang ada di sini. Aku sempat melihat pak Jefri sibuk untuk ngobrol dengan bule yang ada di sini. 


Secara dia adalah guru bahasa Inggris, bahasa bukan masalah untuk guru tanpa rambut ini. Sekilas aku mendengar mereka mengobrol banyak hal dengan bahasa Inggris. Akun tidak tertarik dengan obrolan mereka, karena aku lebih fokus mengamati si bule. 


Dia ke pantai bersama dengan suami dan anaknya. Paling tidak itu yang aku perhatikan. Entah kedua cowok itu adalah suami dan anaknya atau bukan. Aku melihat sang suami sempat bermuka sedikit suram saat melihat pak Jefri ngobrol dengan istrinya. 


Semoga saja tidak akan terjadi masalah. Aku sendiri hanya berjalan di sekitar pantai saja, karena repot nanti kalau harus ganti baju di tempat ini. Sehingga aku tidak berniat untuk  nyebur ke air untuk saat ini. 


"Pak Ray, sini pak. " Pak Dani datang ke arahku dan memanggil. 


"Ada apa? " Tanyaku kepada temanku yang berkacamata itu. 


Pak Deni menunjuk ke salah satu orang dan berkata "Lihat itu pak, ada youtuber di sana? "


"Serius!? Yang benar itu pak?" Aku melihat ke arah yang ditunjuk oleh Pak Dani. 


Saat ini aku belum sering menonton youtube karena HP masih belum bagus, sehingga aku tidak mengenal tokoh yang Pak Dani tunjuk. Namun hal itu tidak menghalangi niat Pak Dani dan staf yang lain untuk meminta foto bersama dengannya. 

__ADS_1


Mereka kembali setelah puas berfoto dengan idola mereka. Kudengar mereka youtuber yang sering melakukan adegan ekstrim dengan motor. Mungkin aku akan mengecek mereka nanti kalau ada waktu. 


Belakangan setelah aku cek, mereka ternyata beneran YouTuber. Meskipun pada awalnya mereka hanya membuat konten di instagram, pada akhirnya mereka mulai upload juga di youtube karena banyak yang melakukan plagiat konten mereka. 


Kami kembali ke bus kemudian melanjutkan perjalanan untuk hari ini. Tempat kami berhenti selanjutnya adalah tempat oleh-oleh. Tidak ada yang spesial dari orang ini. Apalagi untuk diriku yang tidak ingin membeli oleh-oleh sekarang. 


Beberapa staf ada yang membeli oleh-oleh. Namun aku hanya melihat-lihat saja, tidak membeli apapun. Perjalanan kami lanjutkan setelah semua penumpang puas melihat oleh-oleh. 


"Bus hanya bisa berhenti di sini. Selanjutnya gunakan mobil kecil ini untuk ke sana. " Kami ganti kendaraan karena jalan menuju hotel cukup kecil. Bus tidak bisa berhenti langsung tepat di depan hotel. 


Kalau di Jawa, mobil seperti ini biasa disebut odong-odong. Namun tanpa gerbong kedua. Hanya memiliki satu gerbong saja. Karena jumlah orang kami cukup banyak, kami secara bergantian pergi ke sana. 


"Jadi ini hotelnya. " Kulihat hotel ini cukup kecil dari depan. Namun siapa tahu di dalamnya malah lebih panjang. Tidak boleh menjudge sesuatu hanya dari depanya saja. 


Setelah semua orang tiba, kunci kamar dibagikan untuk setiap grup. Aku sendiri mendapatkan satu kamar untuk bertiga. Bersama dengan Arip dan Lamda. 


Kami masuk ke lobby kemudian melihat ruang makan. Sepertinya nanti malam kami akan makan di sini. Di sebelah tempat makan ada kolam renang, cocok sekali untuk olahraga setelah makan. 


Sayangnya aku tidak melihat tempat gym di sini. Penasaran kalau ada tempat Gym, apakah aku bisa mencobanya secara GRATIS atau tidak. Sedih sekali karena tidak mungkin aku sempat nge gym saat melihat jadwal acara yang ada. Waktunya tidak mungkin sempat. 


Aku bersama dengan adik-adik langsung pergi menuju kamar tidur kami. Lantai tujuan kami adalah lantai dua. Karena cukup dekat, kami memutuskan kesana dengan menggunakan tangga. Meskipun sudah ada lift, aku memilih tangga agar sekalian olahraga. 


"Ini dia kamar kita" Ucapku sambil mencocokkan nomor di pintu dengan kartu yang aku pegang. 


*klik*


Aku membuka pintu setelah memasukkan kartu. Kemudian kartu tersebut aku cabut dan pasangkan pada tempatnya untuk menyalakan listrik di dalam kamar. Karena kalau tidak dilakukan, listrik di dalam ruangan tidak akan menyala. 


Sama seperti warna gedung di luar, kamar ini juga memiliki warna merah dan putih sebagai tema. Dengan kasur besar yang mungkin pas untuk kami bertiga. 


Sudah disiapkan juga handuk dan keset untuk kamar mandi. Jendela juga ada satu mengarah ke luar. Pemandangan ke luar cukup bagus. Aku bisa melihat pemandangan Bali dari tempat ini. Namun belum bisa melihat banyak karena sekarang sudah malam. 


Juga terdapat satu kursi dan meja di depan kasur. Dengan televisi terpasang ditembok pas menghadap kasur. Kami bisa menikmati televisi sambil tiduran di kasur. 


Aku juga mengecek kamar mandi dalam hotel. Terdapat shower dengan wastafel dan toilet duduk. Cukup standar lah untuk sebuah hotel. Sepertinya nanti pas buang air akan sulit karena aku kurang terbiasa toilet duduk. 

__ADS_1


Setelah beres menyimpan barang, kami sholat terlebih dahulu sebelum turun ke bawah. Karena sebentar lagi waktu makan malam akan tiba. 


Kira-kira makan malam apa yang akan kami nikmati malam ini? 


__ADS_2