
"Anak-anak. Jangan lupa untuk selalu tenang dan jangan tegang saat lomba nanti. Kalian sudah berhasil menjadi petugas dengan baik. Tetaplah percaya diri. Jangan kalah sebelum perang." Pak Nanas memberikan semangat kepada para murid. Banyak murid yang awalnya bermuka murung kembali bersemangat setelah mendengar ucapannya.
"Bapak ibu peserta juga jangan mau kalah. Saat upacara nanti jangan lupa sikap sempurna nya. Secapek apapun kaki kalian, jangan sampai sikap sempurnanya buyar. "
"Beres pak"
Kami semua sebagai perwakilan dewan guru memberikan jawaban yang positif. Tidak hanya kami saja. Terdapat guru lain juga yang akan ikut saat lomba berlangsung.
Mereka tidak mengikuti lomba, namun bertindak sebagai koordinasi murid yang ikut lomba. Karena kita tidak ingin mereka ada yang ketinggalan atau atribut upacaranya tidak lengkap.
Beberapa murid ada yang berangkat dengan mobil dinas sekolah. Ada juga yang nebeng dengan mobil milik guru pribadi. Sedangkan sisanya menggunakan sepeda motor pribadi.
Guru memang memiliki gaji kecil namun mereka biasanya mendapatkan keringanan cicilan. Dengan menggunakan sertifikasi guru sebagai jaminan. Karena itulah tidak heran kalau guru senior biasanya memiliki mobil. Mereka mendapatkannya secara cicil.
Meskipun ada juga yang istri atau suaminya kaya sehingga mampu mencicil mobil sendiri. Saya rasa tidak mungkin mereka membeli mobil secara cash. Dilihat dari besarnya gaji yang mereka dapatkan.
Aku sendiri berangkat dengan motorku pribadi bersama dengan salah satu guru. Kalau kalian ingat pak Urfan?yang mengurus ekskul? Dialah yang ikut bersama ku.
Kami kurang lebih akrab sehingga tidak malu meskipun bonceng bareng. Kami berangkat tidak bersama dengan rombongan karena mengurus administrasi terlebih dahulu.
Tempat lomba diadakan cukup jauh dari sekolah. Kurang lebih membutuhkan waktu sekitar 15 menitan. Karena melewati jalan raya, kami harus mengenakan helm. Meskipun sebenarnya walaupun tidak ke jalan raya. Saat berkendara kita harus menggunakan alat pengaman. Keamanan adalah yang utama dalam berkendara.
Sampai di tempat lomba, kami sudah tinggal menunggu giliran saja. Karena undian giliran tampil sudah kami ambil. Kami mendapatkan jatah tampil kedua.
Lumayanlah tidak terlalu pertama dan juga tidak terlalu lama. Karena kalau keburu siang, upacara akan semakin sulit untuk dilakukan karena panas terik matahari.
Kami langsung menuju tempat menunggu para murid dan siswa. Terdapat tenda yang sudah disiapkan. Kami istirahat disana sambil menunggu waktu tampil.
Aku melihat peserta sebelum kami dari sekolah lain. Sama seperti sekolah kami, mereka juga sudah berlatih dengan baik. Performanya mereka secara umum sudah bagus namun penglihatan pak Nanas yang jeli melihat kekurangan dari mereka
__ADS_1
Melihat hal ini, pak Nanas langsung koordinasi dengan petugas bendera. Karena tingginya tiang mempengaruhi irama saat penarikan tali. Akhirnya setelah panitia selesai memberikan penilaian, giliran kami telah tiba. Muka semua peserta sudah siap untuk menunjukkan penampilan terbaik mereka.
Aku sudah menggunakan pakaian yang sesuai, sepatu pantofel, tidak lupa topi yang membuat ku semakin ganteng.
"Upacara bendera, dimulai. "
Sekolah kami memulai upacara. Kareba tidak ada hiburan dan kami tidak boleh bergerak sama sekali karena posisi sempurna. Kami hanya bisa melihat para murid berusaha dengan maksimal untuk melaksanakan upacara bendera.
Seperti saat latihan, ketika sudah mencapai pertengahan upacara. Aku merasakan kakiku mulai ngilu. Hal yang bisa aku lakukan hanya menahan sakit ini dan berusaha untuk membayangkan hal menyenangkan untuk mengurangi rasa sakit.
Karena kepala tidak boleh banyak bergerak. Aku hanya bisa melihat yang ada di depan badanku. Bahkan keadaan teman guru yang berada di samping tidak bisa aku ketahui.
Kurang lebih hampir 30 menit berlalu setelah upacara dimulai. Pemimpin upacara masih tetap gagah dari awal hingga akhir upacara. Suaranya lantang bagai komandan perang. Tubuhnya tegap seperti tiang yang menancap kokoh di lantai.
Petugas lainnya juga tidak kalah baik. Pembina upacara melakukan tugasnya dengan baik. Petugas pancasila tidak melakukan kesalahan. Suara MC selalu jelas dan tidak terburu-buru. Semua petugas berhasil menjalankan tugasnya dengan baik.
Namun entah panitia memberikan penilaian yang sama atau tidak. Setelah upacara selesai., kami semua membubarkan diri. Tentunya saat bubar pun kami keluar dengan tertib.
Sambil menunggu, aku pergi dengan beberapa murid untuk cari jajan di wilayah sekitar. Karena aku guru, mau tidak mau aku mentraktir beberapa murid.
"Pak Ray mau kemana? Ikut dong. Saya juga mau jajan. " Salah satu murid wanita datang kepadaku untuk meminta jajan.
Dia adalah Karlina. Memiliki wajah biasa saja dan berkulit sawo matang. Namun sikapnya yang ceria membuatnya memiliki pesonanya sendiri.
Sayangnya menurut para guru, Karlina ini memiliki kemampuan akademis yang kurang. Namun ia semangat sekali acara eksak seperti ini. Masih untuk dia semangat dalam ekskul. Karena kemampuan akademis bukanlah satu-satunya yang mampu membuat orang sukses.
Dia termasuk murid yang aktif, bahkan kalau yang lain sekolah cuma sampai siang dari pagi. Karlina ini masih tetap saja pulang sampai sore meskipun tidak ada kelas. Entah apa yang ia lakukan. Semangatnya benar-benar mempresentasikan semangat muda.
"Baiklah kalau gitu, mau beli apa? Saya akan traktir! Ayo cepat sebelum saya berubah pikiran"
__ADS_1
"Siap pak. Saya akan beli banyak jajan kali ini, mumpung gratis " Karlina dengan senang jajan makanan dan minuman. Aku tidak membelikan ya banyak jajanan karena khawatir Dompetku jebol
Mentraktir murid kemudian menikmati jajanan yang kami beli. Kurang lebih itulah yang kami lakukan hingga waktu adzan Dzuhur sudah berkumandang. Kami melaksanakan sholat di mushola terdekat. Karena aku menggunakan sepatu, cukup ribet ketika melepas dan mengenakan sepatu kembali setelah sholat.
Waktu sudah mencapai siang hari. Matahari telah terbit tinggi di atas langit. Hasil pengumuman lomba akan diumumkan. Kami hanya bisa bertawakal, karena sudah berusaha sebaik mungkin.
"Juara ketiga dari lomba upacara adalah… "
"Juara kedua adalah… "
"Selamat kepada sekolah… telah mendapatkan juara pertama lomba tingkat kecamatan. "
"Yes!!! "
Semua guru dan murid yang masih tersisa berteriak semangat. Kami tidak menyangka bahwa perlombaan ini akan berhasil kami menangkan. Meskipun kali ini kami hanya baru menang di tingkat kota. Selanjutnya kami akan melanjutkan ke tingkat provinsi.
Setelah mendapatkan piala dan hal administrasi lain. Kami pergi kembali ke sekolah terlebih dahulu. Karena harus mengembalikan atribut upacara yang kami pinjam. Sedangkan aku kembali ke sekolah bersama dengan pak Urfan.
Di perjalanan, karena ada celetukan dari siswa. Akhirnya para guru mengadakan traktiran bakso untuk murid yang masih berada di tempat. Otomatis mereka sangat senang sekali menerima ajakan ini.
Kami memilih bakso di pinggir jalan yang tidak memiliki rasa spesial. Baksonya memiliki rasa biasa saja. Namun karena ini gratis, siapa yang akan menolak. Aku juga tidak sungkan untuk menikmati traktrian ini.
Saat sudah sampai di sekolah, aku istirahat sebentar sebelum pulang ke rumah. Tubuh ini lumayan lelah karena perjalanan dan telah seharian berdiri sebagai petugas upacara.
Menurut pak Nanas, nanti kami akan kembali melakukan upacara kembali. Namun tempatnya adalah di lapangan sekolah. Tidak seperti lapangan hari ini.
"Walah, upacara lagi toh. " Aku hanya bisa menghela nafas mendengarkan hal ini.
Meskipun begitu, aku harus tetap semangat. Karena yang lelah tidak hanya aku. Semua peserta juga capek. Namun kami semua berjuang untuk mendapatkan kemenangan. Kemudian mengharumkan nama sekolah.
__ADS_1
Tetap semangat Ray. Kalau yang provinsi lolos. Kamu harus upacara lagi untuk mewakili ke nasional. Perjuangan untuk lomba upacara masih belum selesai.