Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 72 Acara Jejepangan 2


__ADS_3

Tidak terasa dari kami sejak pagi muter muter di acara jejepangan ini, sudah beberapa jam berlalu. Seru sekali melihat-lihat stand yang ada serta melihat banyak cosplayer jalan-jalan mengeliling venue. Kalau dulu saat kuliah aku sempat meminta foto ke beberapa cosplayer, Sekarang sih entah kenapa sudah mulai malas. Satu hal karena memang saya tidak terlalu suka mengambil foto, sisi lain aku juga malas ngobrol dengan orang asing.


“Eh gus, udah Dzuhur nih, sholat dulu yuk!” ucapku setelah melihat jam di handphone.


“Ayuk mas, mushola kayaknya ke arah sana deh” Ucap Gusti sambil menunjuk ke arah mushola


Karena sudah masuk waktu dzuhur, kami segera mencari mushola terdekat. Biasanya kalau ada acara seperti ini, sudah dipasang papan penunjuk arah mushola. Aku dan Gusti langsung mengikutinya untuk pergi ke mushola. Tempat seperti ini meskipun luas, biasanya musholanya tidak terlalu luas, seperti yang ada di venue ini.


Tempat wudhu yang hanya satu sehingga harus bergantian kalau mau wudhu. Kemudian musholanya cukup sempit serta panas. Apalagi ditambah dengan bau kaos kaki yang merata ke segala penjuru. Entah kenapa bisa seperti ini, padahal seharusnya kalau wudhu dengan benar. Bau kaki seharusnya tidak sepekat ini.


Namun tidak dipungkiri, event jejepangan ini padat dengan orang. Sehingga wajar kalau suhu sekitar menjadi panas sehingga menyebabkan para pengunjung menghasilkan keringat yang lebih banyak. Alhasil, terjadilah situasi seperti ini.


Setelah berjuang untuk melaksanakan shalat dalam kondisi itu, akhirnya aku dan Gusti berhasil keluar dengan selamat. Puas mencari barang yang kami incar, sekarang saatnya untuk mengisi perut kami. Hal ini adalah yang paling saya tunggu dalam acara jejepangan. Mencicipi kuliner yang mereka sajikan.


“Mau makan apa gusti hari ini?”


“Terserah Mas, saya mah ngikut saja.”


Seperti biasanya, Gusti hanya mengikuti aku makan siangnya apa. Saat ini karena aku sudah cukup lapar karena menempuh perjalanan yang cukup panjang, aku memutuskan untuk membeli menu bento. Isinya seperti biasa, ada nasi chicken katsu dan lauk pauk ala-ala jepang lainnya. Tidak lupa, kami juga membeli takoyaki sebagai cemilan dan teh ocha sebagai minuman kami.


Problemnya saat membeli makan seperti ini adalah...ngantrinya lama sekali. Di booth tempat kami akan membeli saja, masih harus menunggu 10 orangan lagi. Mau tidak mau, kami berdua sambil menunggu kembali ngobrol berbagai macam hal. Untungnya gusti ini orangnya sabar, tidak mengeluh saat menanti antrian dan hanya tersenyum-senyum saja sepanjang waktu. Memang enak sekali kalau pergi ke event bareng dia.


Sama seperti kami, pengunjung lain yang antri juga membicarakan beberapa anime, merchandise yang mereka beli di event kali ini, serta ada juga yang sedang bermain game gacha di handphone mereka. Seru sekali melihat macam-macam kegiatan orang saat menunggu antrian.


Giliran kami akhirnya tiba, aku langsung memesan bento dan membayar makanan tersebut dengan uang pas. Karena biasanya even seperti ini, booth kurang uang kembalian. Pada momen seperti inilah, uang elektronik sangat berperan penting sebagai alat pembayaran. Namun pada saat ini aku belum terlalu sering menggunakan pembayaran elektronik. Selesai membayar, kami masih harus menunggu beberapa menit sampai pesanan kami jadi.

__ADS_1


“Pesanan bentonya 2 dan ocha.”


“Ya, itu pesanan kami!”


Saat mendapatkan panggilan, kami langsung mengambil makanan kami dan pergi untuk mencari tempat duduk. Seperti even lainnya, tempat seperti ini biasanya susah mencari tempat duduk, karena banyaknya pengunjung yang hadir. Kami sampai harus pergi jauh ke ujung untuk mendapatkan tempat duduk, biasanya di balai kartini. tempat duduk yang kami dapatkan adalah di tempat parkir.


Tempat ini cukup berbahaya karena di atas kepala kami, ada jendela yang selalu terbuka. Sepertinya di dalam ruangan itu ada kantin juga. Biasanya Gusti yang kena jebakan batman di tempat ini. Aku sayang nya selalu terlambat saat hendak mengingatkan dirinya. Untungnya lukanya tidak terlalu serius karena tidak ada benda runcing yang kena tepat di kepala.


Selesai Makan dan melaksanakan shalat, biasanya kami pamit pada momen ini, sekitar jam 2 siangan. Karena kalau terlalu sore, nanti aku terlambat sampai ke Tangerang. Tidak enak kalau pulang lama-lama, kayak kurang gitu istirahatnya. Lagipula aku juga masih ingin melakukan hal lain di kontrakan saat liburan seperti ini.


“Mau kemana lagi mas?”


“Kayaknya udah dulu deh, gak ada barang yang ingin dibeli lagi kan?”


Gusti menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Kemudian kami berdua pergi ke tempat menunggu ojek online. Meskipun gusti kerja di Jakarta dan ada motor di Jakarta, ia lebih sering pergi dengan transportasi umum seperti ojek online. Katanya sih lebih enak dan tidak perlu menghadapi macet. Kalau dipikir-pikir, ia juga sih. Meskipun memang biasanya lebih berat diongkosnya, namun dengan menggunakan diskon yang tepat. Penggunaan ojol menjadi lebih terjangkau.


“Ok, saya pamit dulu Gusti, sampai jumpa lagi!”


“Iya mas, hati-hati di jalan”


Perjalanan pulang sama seperti saat berangkat. masuk ke stasiun Palmerah, keluar stasiun serpong, kemudian menaiki angkot hingga pulang ke kontrakan di tangerang. Biasanya aku main Handphone sebentar saat dalam perjalanan. Namun tidak terlalu lama aku bermain di dalam angkot, karena kurang nyaman melihat layar handphone saat di dalam mobil. Berbeda dengan saat di kereta yang aku lebih betah melihat layar gawai milikku.


*Menonton di Bioskop*


Selain acara jejepangan, aku dan Gusti juga sering nonton bersama kalau kebetulan film yang ingin kami tonton ada di bioskop. Contohnya anime yang sedang maraknya tayang di bioskop Indonesia. Sayangnya tidak semua bioskop menayangkan film anime. Ada beberapa bioskop yang tidak menampilkan anime sama sekali. Entah karena masalah lisensi atau masalah lainnya.

__ADS_1


Kota Tangerang sebenarnya memiliki bioskop yang ada film animenya. Namun aku biasanya menonton bareng Gusti kalau ada waktu. Kalau memang sedang sibuk ya, nonton sendiri lah di Tangerang, ngapain jauh-jauh ke Jakarta. Kali ini aku akan menonton filmnya di salah satu mol yang memiliki nama pahlawan pada tempatnya. Mol ini juga merupakan tempat teater JK 40. Mereka adalah grup idol jepang yang merupakan saudari dari idol group sejenis yang ada di Jepang.


Jumlah member dari grup tersebut bukan main. 40 orang seperti namanya. Dengan jumlah seperti itu, mereka biasanya bernyanyi sambil menari untuk menghibur penonton. Aku tidak tahu proses pembelian tiket karena sampai sekarang, aku tidak pernah masuk ke dalam. Karena aku takut akan kecanduan seperti yang diceritakan oleh salah satu teman kantorku, Banu. Karena ia memiliki teman yang sudah kecanduan. Gak ngotak ongkos untuk hobinya. Bisa-bisa duit gajian sebulan bisa ludes karena hal itu.


Sampai ke mol tersebut, aku masih menunggu beberapa menit sampai Gusti tiba.


“Halo mas, maaf ya nunggu lama.”


“Gapapa, sekarang mau makan dulu nih?”


“Iya mas, ke nahasama saja ya.”


“Yakin kesana?” jawab Gusti dengan mengangguk kepalanya. “Baiklah kalau begitu, mari kita nikmati menu all you can eat!”


Restoran Nahasama merupakan salah satu restoran Jepang yang menyediakan menu buffet atau All you can eat. Biayanya per sesi makan kita disediakan waktu 90 sampai 120 menit. Waktu itu bisa kita pergunakan untuk makan sepuasnya. Biasanya kalau ke tempat ini, aku tidak memakan nasi sama sekali.


Karena ingin banyak menikmati lauk, namun seharusnya lebih bagus kalau ada nasi masuk meskipun sedikit, agar lebih awet kenyangnya. Entah kenapa kalau belum makan nasi, perut ini pasti tidak akan pernah merasakan kenyang.


Hal itu membuat aku memilih untuk makan nasi sedikit, barulah makan sepuas-puasanya. Karena kalau tidak ada nasi sama sekali, perut cepat sekali kembali merasa lapar. Memang rakyat Indonesia makanya harus pakai nasi. Belum masuk nasi, gak mungkin kenyang. Makan mie instan saja harus pakai nasi. Padahal sama-sama karbohidrat juga isinya.


Puas makan sampai perut terasa sangat penuh, barulah kami melanjutkan perjalanan menuju bioskop. Biasanya Gusti sudah membeli tiketnya duluan secara online. Aku tinggal menggantinya saja nanti. Masa iya biaya di talangin tapi gak mau bayar. Ketika waktunya sudah tiba, kami berdua masuk ke dalam bioskop untuk menikmati film kesayangan kami.


Selesai menonton film, kami sempat duduk sebentar untuk membahas secara dalam mengenai apa saja yang sudah kami tonton. Biasanya kami diskusi banyak sekali akan hal ini. Meskipun sebelum menonton kami juga sudah membahas banyak hal mengenai filmnya ketika makan siang. Puas mengobrol, kami kembali ke kediaman masing-masing untuk kembali melanjutkan aktivitas seperti biasa.


Ketika sampai ke kontrakan, barulah terasa betapa pegalnya perjalanan ke Jakarta. Namun rasa rasa senang yang aku dapatkan sepadan dengan pengorbanan yang aku lakukan. Memang secara waktu perjalanan cukup panjang, namun dari sisi ongkos, sebenarnya tidak besar biaya pergi ke Jakarta dari Tangerang, hanya sekitar 20.000 an saja, kalian sudah bisa ke Jakarta dan muter-muter di sana.

__ADS_1


Semua ini berkat KRL dan juga transjakarta yang biaya perjalannya cukup bersahabat. Memang kalau menggunakan Ojek online, biaya akan lebih bengkak sedikit. Namun tidak terlalu signifikan. Karena yang penting adalah bisa sampai ke tujuan dan stasiun KRL dengan aman dan nyaman.


Bagaimana dengan kalian? apakah pernah pergi ke Jakarta juga sepertiku? Kira-kira, tempat apa yang akan kalian kunjungi kalau berkesempatan mampir ke Jakarta? Jawab di kolong komentar ya!


__ADS_2