
Saat sudah sampai di tempat, tadinya kupikir semuanya akan berjalan lancar dan tanpa hambatan lagi. Namun ketika melihat jalan menuju resepsi pernikahan pak Dani, sepertinya aku masih terlalu cepat untuk merasa lega. Dengan tanjakan yang cukup curam ini, bahkan pejalan kaki harus berhati-hati. Kalau tersandung atau jatuh, bisa-bisa gelinding sampai bawah dan cedera parah. Jalanya cukup ekstrim.
Untung saat ini sedang tidak turun hujan. Kebayang bagaimana bahayanya kalau hujan turun. Jalan menjadi lebih berbahaya karena adanya lumpur dan becekan. Motor lebih harus hati-hati lagi. Karena tidak semua motor bisa kuat menanjak tinggi. Motor kecilku tidak mungkin bisa menanjak kalau membawa penumpang yang berat, apalagi karena badanku juga sudah termasuk kategori berat. Bisa-bisa merengek itu motorku dalam hati.
“Hahh..hahhh. Akhirnya sampai juga, kayaknya harus sering olahraga nih” Ucapku sambil menghela nafas panjang. Baru jalan sedikit saja, badanku sudah pegal begiti. Harus segera kembali melakukan olahraga secara rutin nih.
Sampai di acara resepsi, aku melihat rombongan sudah mulai mengantri. Aku nyempil dan ikut mengantri untuk mengambil makanan. Biasanya sih kalau di kondangan, aku mencarinya side dish dulu. Namun berhubung resepsi kali ini sepertinya tidak banyak makanan sampingan yang menarik, aku memilih untuk makan hidangan utama dahulu.
Tentunya sebelum makan, kami sudah bertemu dengan pak Dani terlebih dahulu. Terlihat sekali raut wajahnya sangat senang melihat kami sudah datang ke acara bahagianya hari ini.
“Eh, pak Ray sudah datang. Tadi bapaknya pak Ray juga udah datang. Kasihan tadi, naiknya susah katanya. Gak mau turun, jadinya pas turun dijemput pakai mobil!” Ucap pak Dani dengan nada bercanda. Aku hanya bisa tertawa karena wajar kalau adegan itu terjadi. Apalagi kondisi badan bapak memang sudah tidak sehat seperti dulu.
Setelah ngobrol sebentar, baru kami melanjutkan mengantri untuk ambil makan kemudian mencari tempat duduk untuk menikmati hidangan yang sudah diambil. Makanan yang disajikan standar, nasi dengan lauk beserta dengan kerupuk dan minumnya dengan air mineral. Pastinya kalau masakan acara seperti ini, pasti rasanya pedas. Hampir seratus persen acara di kawinan wilayahku menyajikan hidangan yang rasanya pedas.
Karena itulah selesai menyantap makanan, aku cukup mengambil banyak minum karena kepedasan. Untung ada minuman manis sehingga rasa pedasnya bisa sedikit terobati.
Rombongan kami pamit pulang kepada pak Dani setelah selesai menyantap makanan. Semua dari kami juga memberikan kepada tempatnya. Ada juga yang tidak membawa amplop namun sudah mengirimkan hadiah kepada pak Dani.
__ADS_1
Saat pamitan, kami kembali naik ke atas podium untuk memberikan kabar kalau kami akan pulang kembali ke sekolah. Karena itu merupakan tempat kami semua berangkat sebelumnya.
“Pamit dulu ya pak Dani.” Ucap salah satu dari kami sebagai perwakilan.
“Iya bapak ibu, terima kasih sudah datang. Saya senang sekali bisa pada datang ke sini.” Jawab pak Dani dengan wajah yang penuh senyum.
Kembali kami salaman satu per satu kemudian barulah kami pulang kembali menuju ke sekolah. Namun ternyata tujuan kami semuanya tidak sama. Dua mobil dari kami memiliki tujuan yang lain, yaitu melayat ke salah satu orang tua staf kami. Berhubung saya tidak tahu jalan kesana, saya memutuskan untuk kembali ke sekolah untuk mengembalikan mobil yang saya gunakan.
Lagipula, saya masih ada kerjaan WFH setelah ini. Karena itulah saya tidak enak kalau terlalu lama melakukan acara diluar saat masih jam kantor. Perjalanan menuju sekolah kali ini tidak sama dengan saat berangkat. Pak Irfan ikut dengan rombongan untuk melayat, sedangkan Danis memilih untuk pulang dengan nebeng sepeda motor staff yang lain.
Alhasil, hanya pak Jayus dan keluarganya yang bersamaku pulang dengan mobil. Dalam perjalanan, aku mengobrol seperti biasa dengan para penumpang. Namun aku ingat sekali, ada momen saat diriku hampir nyerempet angkutan umum.
“Tenang pak, masih aman kok” Jawabku dengan percaya diri. Padahal dalam hati, aku juga deg degan karena tidak mengira kalau angkutan umum itu sedang berhenti total. Memang kalau angkutan ini harus berhati-hati kalau kita posisi di belakang. Karena mereka sering belok dan juga berhenti tiba-tiba.
Selain kejadian di atas, untungnya tidak ada kejadian aneh lagi yang terjadi sepanjang jalan. Namun aku menemukan fakta baru yang menarik, ternyata sebenar mobil yang lain masih ada spot yang kosong. Tidak ada sama sekali anggota OSIS yang ikut ke acara resepsi pak Dani.
Memang sih, aku sama sekali tidak melihat rombongan siswa datang ke sana. Aku mulai bertanya-tanya, siapa yang berbuat iseng bilang kekurangan supir? padahal ruang untuk tempat duduk di mobil masih ada. Tetapi aku tidak terlalu menanggapi hal ini dengan serius. Tidak peduli benar atau tidaknya kabar itu, gak ada masalah kalau aku nyetir. Lumayan menambah skill mengemudi yang aku miliki. Lagipula, aku tidak perlu mengganti ongkos bensin, ini sudah menjadi keuntungan bagiku.
__ADS_1
Saat sudah sampai di sekolah, aku berhasil memarkirkan mobil sekolah dengan sempurna. Kemudian aku ikut bersama dengan pak Jayus dengan keluarganya masuk ke ruang guru untuk istirahat sejenak.
“Hebat ya pak Ray. BIsa nyetir sejauh itu. Saya aja yang duduk capek.” Ucap istri pak Jayus dengan nada kagum kepadaku.
“Biasa aja kok bu. Ini juga capek, cuma masih batas wajar lah. Memang kalau menyetri itu butuh konsentrasi sehingga energi bisa terkuras habis.”
Aku ngobrol santai sebentar dengan mereka sebelum pamit pulang ke rumah. karena aku masih ada kegiatan yang harus aku lakukan. Sesampainya di rumah, aku tidak bisa istirahat terlalu lama karena masih ada tanggung jawab yang harus aku selesaikan.
Kurang lebih itulah yang terjadi saat di pernikahan pak Dani. Selain pak Dani, aku juga sempat mampir ke pernikahan staf guru yang lain. Kebanyakan dari mereka melakukan acara resepsi di tempat yang sama. Yaitu tempat si pihak cewek. Mereka melakukan resepsi di jalanan sehingga menghalangi jalan orang lalu lalang.
Bapak sempat memberikan nasehat kepadaku untuk melakukan resepsi di gedung. Karena tidak ingin menggunakan jalan yang sebenarnya bukan hak kita untuk memakainya. Semoga saja aku bisa melakukan hal yang bapak inginkan itu.
Ada kalanya aku pergi ke kondangan seorang diri. Ada juga waktunya aku pergi bersama-sama dengan rombongan. Paling tidak kalau aku diundang, aku usahakan untuk datang. Paling tidak itulah yang harus kita lakukan sebagai orang yang menerima undangan.
Namun walaupun tidak bisa datang, pastikan kita juga memberikan kabar dan juga alasan kenapa tidak bisa datang. Aku sempat mengalami hal ini dan juga mengabari temanku akan hal itu. Sampai sekarang aku tidak enak memilih untuk pergi ke tempat lain saat pernikahan teman baikku itu. Untungnya kami masih berhubungan dekat dan sampai sekarang kontak kami tidak terputus.
Berbeda dengan teman kerja guru, aku sama sekali tidak pernah mendapatkan undangan saat bekerja sebagai programmer. Padahal aku lebih lama kerja di sana daripada saat menjadi guru. Memang misteri kadang kehidupan ini. lebih banyak undangan masuk saat mengajar daripada saat menjadi programmer.
__ADS_1
*bersambung*