Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 125 Positif covid 4


__ADS_3

“Hmm…” Aku terbangun saat menyadari kalau cahaya matahari masuk menyinari mataku.


Mataku terbuka dan terlihat kalau sekarang kamu sudah sampai di rumah sakit umum Bogor. Entah bagaimana perjalanan menuju kesini sebelumnya, karena aku tertidur akibat kelelahan perjalanan dan juga karena sedang mengalami covid. Beruntung om Maman bisa membawa kami dengan selamat.


Kulihat disampingku om Maman masih duduk di kursi pengemudi dengan kondisi jendela dan pintu mobil terbuka. Kaca di samping kiriku juga sudah terbuka sama seperti kedua jendela yang ada di kursi tengah. Setelah melihat situasi di sekitar mobil, aku menyadari kalau ternyata ibu tidak ada.


“Ibu kemana om?” tanyaku kepada om Maman yang sedang ngudud di sampingku.


“Ibumu lagi ngurus administrasi ayahmu, lagi di dalam dia.”


“Oh”


Aku terdiam setelah mendapatkan informasi yang kucari. Kemudian aku melihat handphone milikku untuk melihat waktu saat ini.


“Walaah, sudah jangan segini. Belum shalat subuh lagi.”


Jam sudah menunjukkan pukul 08 pagi. Otomatis aku sudah kebablasan untuk melaksanakan shalat subuh karena sudah lewat waktunya. Namun karena aku baru bangun, seharusnya tidak masalah untuk menggantinya saat ini juga. Saat aku hendak keluar rumah dan mencari mushola terdekat, barulah aku ingat kondisiku saat ini.


Karena sekarang aku sedang covid, tidak boleh aku keluyuran. Harusnya aku isolasi mandiri. Itu juga alasan awalnya aku tidak ingin ikut ke Bogor. Namun karena desakan dari Bule Yeni, mau tidak mau aku harus melakukannya. Mengingat hal ini, aku akhirnya memutuskan untuk shalat di dalam mobil saja. Agar tidak menularkan virus ini ke orang-orang.


“Assalamualaikum Wr. Wb”


Selesai shalat, aku kembali istirahat untuk paling tidak membuat kondisi tubuhku lebih baik. Karena saat ini badanku sedang bau sekali akibat belum mandi pagi, serta sedang lelah akibat covid yang sedang aku derita. Hanya istirahat yang paling tidak bisa mengurangi sedikit gejalanya. Namun saat aku sedang istirahat, tenggorokanku terasa kering.


‘Wah, iya juga. Aku belum minum’ Ucapku dalam hati.

__ADS_1


Aku mencari ke sekitar tempatku duduk apakah ada air atau tidak. Sayangnya, aku sama sekali tidak menemukan benda yang aku cari. Pada akhirnya, aku memberanikan diri untuk keluar sebentar membeli air mineral.


“Om, pergi dulu ya mau beli minum. Mau nitip sesuatu gak?”


“Gak usah lah Ray. gampang itu mah”


Setelah pamitan, aku pergi ke tempat penjualan minuman terdekat. Tentunya aku sudah full pakai jaket dengan mengenakan masker. Harus menerapkan 3M dengan baik dan benar karena aku tidak ingin menulari orang lain terkena covid juga.


Beberapa menit berjalan, akhirnya aku sampai ke sebuah warung yang menjual makanan. Warung ini terletak di dalam wilayah rumah sakit sehingga aku tidak perlu jauh-jauh sampai nyari keluar untuk mencari minuman. Tempat ini sama seperti minimarket yang lain. Ada berbagai macam makanan dan minuman. Serta kebutuhan rumah tangga semuanya ada disini.


Tempat ini juga sudah memiliki mesin kasir dan model bisnisnya seperti swalayan. Kita tinggal mengambil sendiri barang apa yang ingin kita beli, kemudian kita serahkan kepada kasir terlebih dahulu untuk dibayar. Bedanya, minimarket di dalam rumah sakit ini sepertinya temanya outdoor. Karena berada di tempat yang cukup terbuka.


Selesai mengambil barang yang aku perlukan, aku pergi ke kasir dan mulai membayar barang yang aku ambil.


Aku membayar sesuai dengan jumlah yang ia sebutkan. Karena aku ingin mengurangi kontak sebisa mungkin. Sehingga membayar pas agar tidak perlu kontak lagi mengambil kembalian. Semoga saja ia baik-baik saja dan tidak tertular covid dariku. Seharus Nya sih pembayaran cashless biar lebih aman. Namun aku tidak melihat kalau minimarket ini menerima metode pembayaran seperti itu.


Segera aku kembali ke mobil setelah mendapatkan apa yang aku cari. Barulah setelah aku duduk di dalam mobil, aku meminum barang yang kubeli. Segarnya merasakan air setelah hari ini sama sekali belum masuk air ke tenggorokan.


Kegiatan aku lanjutkan dengan mengobrol dengan om Maman sambil menunggu ibu datang kembali ke dalam mobil. Selain itu, aku juga menghabiskan waktu dengan bermain hp dan memberikan update kepada adik-adik mengenai situasi saat ini di Bogor.


Beberapa menit kemudian, ibu kembali dan masuk ke mobil sambil menghela nafas panjang.


“Jadi gimana bu? Apakah kita akan menginap disini hari ini?” Tanyaku kepada ibu.


Sebagai istri yang baik, pastinya ibuku memiliki rencana untuk menginap di tempat ini. Namun jawaban ibu membuatku berpikir dua kali untuk membuat kesimpulan terlalu cepat.

__ADS_1


“Gak mas, ibu gak bawa baju. Lagipula kalau lagi covid kayak gini juga, susah cari tempat menginap.”


Kalau dipikir-pikir, benar juga apa yang ibu katakan. Kami tidak bisa sembarangan menginap saat mengidap covid seperti ini. Bisa -bisa kalau kami menginap, malah membuat cluster baru penyakit ini. Atas pertimbangan inilah, kami memutuskan untuk pulang kembali ke kota C, tempatku lahir dan dibesarkan.


Sebelum pulang, kami mampir dulu ke rumah Bule Yeni, katanya kami akan diberikan sesuatu. Dari rumah sakit, kurang dari 15 menit waktu perjalanan yang kami butuhkan untuk sampai ke sana. Ketika telah sampai, kami meminta om Maman yang turun dan mengambil barang yang akan kami bawa. Agar lebih aman.


Saat kami sampai, Bule Yeni keluar dari rumahnya dan menyapa kami sambil mendekat ke arah kami. Ia juga memberikan om Maman bingkisan yang akan kami bawa. Tentunya ia juga menggunakan peralatan masker lengkap serta baju lengan panjang.


“Eh, Ray juga datang. Baguslah ibunya ada yang nemenin” Ucap Bule Yeni sambil menatap ke arahku.


Kami ngobrol sebentar dan langsung pamitan untuk pulang. Karena sebagai dokter, Bule Yeni juga meminta kepadaku dan ibuku untuk jangan terlalu dekat-dekat. Karena ia juga takut tertular penyakit ini. Setelah semuanya beres, akhirnya kami pulang kembali ke rumah. Selama perjalanan, kebanyakan yang aku lakukan adalah tidur. Kadang juga aku terbangun sebentar untuk melihat pemandangan saja.


“Ah, akhirnya pulang juga” Ucapku sambil rebahan diatas kasur.


Tentunya setelah sampai rumah, aku sudah ganti baju dan mandi. Karena Yana cerewet akan hal ini. Katanya agar badan bersih dan juga kuman serta bakteri yang dibawa dari luar bisa lebih cepat dibersihkan. Beres melakukan itu semua, akhirnya aku bisa rebahan dan kembali beristirahat untuk hari ini.


‘Papah, semoga papah cepat sembuh seperti sedia kala’ Aku mendoakan bapak sambil perlahan-lahan menuju alam mimpi.


Keesokan harinya, perjuangan kami belum selesai. Untuk urusan kerja, aku meminta libur dahulu karena sekarang sedang terkena covid. Adikku Arip yang tadinya akan berangkat ke Jakarta untuk mulai ngantor, meminta izin untuk tetap WFH karena statusnya ia saat ini terkena covid.


Sedangkan untuk Lamda dan Yana tidak terlalu pengaruh karena Yana saat ini hanya sedang menunggu waktu masuk kuliah beserta Lamda sampai saat ini sekolahnya masih online.


Hanya ibu yang sangat berpengaruh karena ia membutuhkan lebih banyak istirahat daripada kami. Beberapa hari berikutnya, ia hanya rebahan saja di kasur kecuali untuk makan dan mandi. Tentunya kami semua yang di rumah selalu mendoakan kesehatan untuk bapak. Semoga bapak cepat sembuh.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2