
*biip biip biip* Bunyi alarm hp ku telah berbunyi. Menandakan kalau saat ini sudah waktunya subuh.
“Hmm… Sudah pagi ya.”
Mendengar alarm sudah berbunyi, aku berusaha dengan keras untuk bangun dari tidurku. Ini adalah salah satu alasan kenapa aku tidak suka jalan-jalan. Seringnya tidak nyaman kalau tidur selain di rumah sendiri. Meskipun saat ini aku sudah tidur di kontrakan Arip, tetap saja aku merasa tidak pulih dengan maksimal.
Untungnya badan masih bisa digerakkan dan aku paksa untuk shalat subuh. Karena memang shalat itu harus dipaksa. Bisa-bisa, setan nantinya yang akan menguasai kita kalau kita tidak bisa mengontrol diri.
Selesai melaksanakan shalat, aku mengecek terlebih dahulu jadwal untuk acara hari ini. Kemudian bermain game sambil menunggu waktu nya sarapan.
“Mas, mau makan apa nih pagi ini?” Tanya Arip kepadaku.
“Makanan apa yang enak di sini.?”
Arip mulai menyebutkan satu per satu makanan yang ada di tempat ini. Mulai dari nasi uduk sampai bubur. Ternyata menu makanan di pagi hari tidak jauh berbeda dengan di Kota C ataupun di Tangerang. Setelah berpikir sejenak, aku memutuskan untuk memilih bubur sebagai sarapan kali ini.
“Ok, tunggu disini saja mas. Aku belikan dulu.”
“Sip, terima kasih ya.”
Setelah menerima pesanan, Arip langsung keluar setelah ganti baju. Aku tinggal menunggu saja ia kembali ke kontrakan untuk sarapan. Beberapa menit kemudian, Arip akhirnya telah tiba dan membawakan bubur yang ia janjikan.
“Wah, kelihatannya enak nih.” Ucapku saat mulai mencium aroma bubur ketika mulai membuka bungkusannya.
__ADS_1
Tidak ada yang spesial dari bubur ini. Sama seperti bubur kebanyakan. Namun sepertinya memang benar kata orang. Meskipun makanannya biasa, kalau makan rame-rame, rasanya jadi lebih enak.
Selesai sarapan, aku mulai menyiapkan barang yang akan aku bawa saat pergi ke Bogor nantinya. Berbeda dengan teman-temanku yang lain, mereka semua memiliki kontrakan serta tempat tinggal di dekat Bogor. Aku hanya memiliki tempat tinggal di Kota C. Hal inilah yang membuatku membawa banyak barang, terutama baju ganti karena aku mudah keringetan. Perlengkapan seperti alat mandi juga sudah aku sediakan di dalam tas.
“Baiklah, sudah siap semuanya. Aku pamit dulu ya Arip.”
“Hati-hati dijalan mas”
Aku berpamitan dengan Arip sambil mulai berjalan menuju tempat untuk menunggu ojol. Karena kalau menggunakan angkutan umum, aku khawatir bisa telat nantinya. Setelah beberapa menit menunggu serta naik ojol, akhirnya aku telah sampai di stasiun. Dengan santainya aku masuk ke dalam stasiun sampai aku sudah berada di rel tempat kereta akan tiba.
Namun mendadak aku terkejut…ojol yang tadi belum dibayar!!!
Mengingat hal ini, sontak aku langsung pergi ke aplikasi. Tidak mungkin aku keluar stasiun lagi karena nanti akan memakan waktu untuk masuk kembali. Karena stasiun Tanah Abang ini jalannya cukup berputar-putar.
“Hah…untung bisa ngasih tips” Gumamku dalam hati.
Baru mau jalan saja sudah terjadi hal seperti ini. Apalagi nanti saat sudah sampai di Bogor? Tidak, Ray. Kamu tidak boleh berpikir negatif seperti itu. Takutnya nanti kejadian. Lebih baik aku berdoa semoga acara hari ini semua berjalan lancar.
Sambil berdoa, aku juga mengecek posisi Rendra saat ini. Karena kami akan berangkat bareng dari stasiun yang sama. Tentu saja Rendra ini sama sepertiku, kalau datang ketemuan rata-rata ontime. Tapi lebih tepat waktu saya pastinya, hehehe.
Kami menunggu kedatangan kereta sambil mengobrol satu sama lain. Rendra juga ngobrol sambil memperhatikan pesan dari pacarnya. Karena saat sedang pergi-pergi begini. Pasti ditanya-tanyain. Aku hanya bisa tertawa melihatnya seperti itu. Semoga saja, aku tidak akan mendapatkan perlakuan yang sama saat mendapatkan pasangan nantinya. Eh, salah. Aku sudah punya. Beruntung pasanganku sangat toleran dan jarang sekali nanya ke aku lagi ngapain hari ini. Karena ia juga sibuk dengan pekerjaannya sendiri.
“Sudah datang keretanya. Ayo kita naik, Rendra”
__ADS_1
“Ashiap”
Setelah naik KRL, kami tadinya hendak menghabiskan waktu di jalan dengan mengobrol. Namun salah satu petugas datang dan memperingatkan kami untuk tidak berbicara selama dalam KRL. Ini adalah salah satu aturan baru yang berlaku karena saat ini sedang ada pandemi. Mau tidak mau, kami mengikuti anjuran tersebut dan berhenti mengobrol sepenuhnya. Akhirnya di dalam kereta aku hanya menghabiskan waktu dengan membaca novel saja. Gak enak kalau nonton di kereta, ada sensasi goyangnya.
Sampai di stasiun Bogor. Aku sempat melihat kesana kemari. Karena ini pertama kalinya aku ke tempat ini. Terlihat kalau stasiun ini cukup besar dan terdapat jembatan penyeberangan untuk sampai menyebrang jalan. Aku dan Rendra saat ini sedang mencari tempat makan untuk siang ini.
“Ray, mau makan di mana? udah laper nih gue.”
“..Gimana kalau kesana saja. Aku lagi pengen makan ayam.”
Aku dan Rendra setuju untuk pergi ke restoran cepat saji KPC yang ada di dekat stasiun. Memang sih kalau lagi di jalan gini, enaknya makan di tempat seperti ini. Karena bisa makan secara cepat. Apalagi kalau sedang di kejar waktu, meskipun saat ini kami memang tidak ada penaltinya meskipun telat ngumpul. Masa iya temen dikasih hukuman kalau telat saat meet up, kan gak asik.
Sembari makan siang, kami juga mengecek posisi Zul saat ini. Temanku yang satu ini memang sudah sering kasus sering datang telat. Entah kenapa hal itu sering terjadi padanya. Aku jadi teringat akibat dia telat, aku tidak kembali ke kontrakan saat tahun baru sehingga semua isi kamar menjadi berantakan akibat banjir. Sulit sekali untuk melupakan hal itu, karena aku mengalami kerugian secara materil.
“Hi bro, apa kabar nih. Lama gak jumpa ya!!” Ucap Zul dengan semangat saat sudah bertemu dengan kami.
Selesai makan siang, akhirnya Zul datang juga. Kami langsung melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojol. Namun kali ini, kami memesan mobil, bukan motor. Sehingga kami bisa naik di satu mobil saja. Karena jumlah kami hanya 3 orang. Beruntung kami masih bisa naik mobil dan mematuhi protokol yang ada.
Perjalanan dari KPC menuju tempat ngumpul cukup jauh, agak naik bukit juga ternyata. Beruntung sang supir sudah handal sehingga kami tidak mengalami kendala apapun saat di jalan. Kebetulan aku juga tidak tidur sepanjang perjalanan karena dalam perjalanan aku selalu ngobrol dengan Rendra dan Zul. Tumben bagnet ini dapat sopir yang pendiam. Biasanya ikut nimbrung ngobrol juga. Apa ini juga adalah protokol baru ya? supir tidak boleh ngobrol sepanjang perjalanan dan hanya untuk hal penting saja?
Akhirnya kami telah sampai di tempat tujuan kami setelah mengalami perjalanan yang panjang. Aku sendiri sudah satu hari lebih meninggalkan Kota C untuk pergi ke tempat ini. Apakah perjuangan itu akan sebanding dengan keseruan yang akan aku dapatkan kali ini?
*Bersambung*
__ADS_1