Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 111 Kemalingan 3


__ADS_3

Setelah turun dari ojek, aku telah sampai perempatan tempat kantor polisi berada. Tempatnya cukup asri, terdapat sungai di antara jalan raya. Kemudian di seberang kantor polisi ada bengkel dan juga pom bensin. Selesai melihat keadaan sekeliling, aku mencari pintu masuk dari kantor ini. Dimana ya pintu masuknya?


‘Sepertinya di sini deh pintu masuknya’ Ucapku dalam hati sambil melihat ke arah gerbang.


Pintu masuk dari kantor polisi ini dijaga oleh petugas bersenjata. Terdapat juga beberapa spanduk yang bertuliskan “Pakai masker dan patuhi 3m”. Kemungkinan besar kita harus mematuhi protokol kesehatan kalau ingin memasuki kantor ini. Hal itu tidak masalah, karena memang aku sudah mengenakan masker sesuai dengan aturan standar.


Perlahan aku menuju pintu masuk dan bertanya kepada petugas di gerbang terlebih dahulu.


“Selamat siang pak.”


“Siang, ada urusan apa ke sini pak?”


“Saya ingin mengurus surat kehilangan”


“Silahkan pergi ke arah sana pak untuk mengurusnya”


Pak polisi memberikan arah dan juga petunjuk untuk menuju loket yang aku butuhkan. Setelah memastikan bahwa aku tidak salah jalan, aku mulai melanjutkan perjalanan sambil mengucapkan terima kasih kepada petugas tersebut.


Dari pintu gerbang, hanya berjarak sekitar beberapa puluh meter saja sampai ke gedung yang harus aku masuki. Di depan nya juga sudah terlihat jelas spanduk yang bertuliskan kalau melalui pintu tersebut adalah tempat untuk mengurus kehilangan. Sebelum masuk, aku baca dengan seksama semua tulisan yang ada di sana. Siapa tahu ada informasi yang harus aku ketahui sebelum masuk ke dalam. Kemudian barulah aku mulai membuka pintu dan masuk ke ruangan.


Saat masuk ke dalam, terasa bahwa ruangan ini memiliki AC. Sama seperti di bagian depan, di dalam ruangan ini banyak sekali tulisan-tulisan. Terutama mengenai syarat-syarat apa saja yang harus dibawa saat harus mengurusi barang hilang. Kulihat untuk handphone berada di bagian teknologi. Aku cukup bingung karena sepertinya ada beberapa syarat yang kurang. Namun karena sudah terlanjur ke sini, aku mencoba untuk membuat laporan terlebih dahulu.


Aku tidak mengambil tiket antrian karena kebetulan saat ini loket sedang sepi. Setelah giliranku tiba, aku mulai maju ke depan kemudian duduk di kursi depan loket. Jantungku agak gugup juga, karena ini pertama kalinya aku mengurus barang hilang.

__ADS_1


“Ada barang apa pak yang hilang?”


“Jadi begini pak.”


Aku mulai menceritakan kronologi kejadian tadi pagi. Petugas juga menambahkan beberapa pertanyaan untuk penambahan data. Namun betapa kagetnya diriku, ia malah marah dan mengusirku karena aku tidak memiliki bukti yang cukup. Karena aku tidak membawa bukti kwitansi pembelian hp ataupun laptop yang hilang. Petugas ini kekeh tidak mau membuat surat kehilangan tanpa bukti yang cukup.


Melihat hal ini, awalnya aku hendak pergi dan berusaha untuk mengumpulkan barang bukti lagi. Namun hal itu aku batalkan dan aku mengganti laporanku untuk hari ini.


“Kalau begitu, aku akan melaporkan kehilangan nomor handphone pak.”


“Boleh mas kalau gitu. isi data yang ini ya” Ucap petugas tersebut masih dengan nada tingginya yang penuh dengan emosi.


Untungnya untuk mengurus nomor yang hilang. Hanya membutuhkan data standar saja seperti fotokopi ktp. Selesai mengisi formulir, aku menyerahkannya kembali kepada petugas. Kemudian bapak itu menyerahkan kembali dokumen yang aku bisa bawa pulang. Nantinya dokumen ini lah yang akan diminta oleh provider untuk mengurus kehilangan nomor handphone.


“Sama-sama. Besok besok, kalau bawa laporan kehilangan, bawa barang buktinya yang lengkap ya” Kembali petugas itu menutup obrolan dengan nada tinggi dan mengesalkan.


Aku hanya tersenyum saja kemudian pergi keluar ruangan. Karena ini masih berada di tempat umum. Tidak mungkin aku marah dan membuat keributan di sini. Luapan emosi mulai menumpuk saat aku sudah berada di luar. Aku mengambil nafas panjang untuk meredakan emosi yang muncul.


‘Sabar Ray, sabar. Ini ujian.’ Ucapku dalam hati berkali-kali sambil mengucap istigfar. Lagipula ini masih bulan Ramadhan, tidak baik kalau emosian melulu.


Setelah emosi mulai tenang, aku kembali melihat data-data yang dibutuhkan untuk melaporkan nomor hp yang hilang. Sepertinya hari ini aku akan mengurus nomor terlebih dahulu. Karena bisa lebih mudah kembali daripada menemukan handphonenya. Tetapi setelah dicek, ternyata masih ada beberapa dokumen yang kurang. Apesnya, data ini seingatku ada di rumah yang saat ini sedang tidak bisa aku hubungi. Karena nomorku yang baru belum bisa digunakan akibat tidak adanya data kartu keluarga.


Kebingungan mengenai apa yang harus aku lakukan, muncul notifikasi dari sebuah aplikasi.

__ADS_1


‘Pacebok..Ia juga ya! Aku bisa pakai ini.’ Langsung muncul ide saat aku termenung di dekat fotokopian yang ada di kantor polisi.


Pacebok merupakan media sosial yang bis akita gunakan untuk berhubungan dengan orang yang jauh dari tempat kita. Bahkan kita bisa berhubungan dengan orang luar negeri. Aku ingat kalau ibu dan juga Arip menggunakan aplikasi ini. Kebetulan Arip dan juga Mamah sedang online. Tanpa pikir panjang, aku mencoba untuk menghubungi mereka.


“tuut..tuut. Haloo?”


“Alhamdulilah tersambung. Arip, lagi sibuk ngak? ini mas Ray. Bisa bantu kakak sebentar?”


Lega sekali saat aku bisa menghubungi orang yang dirumah. Aku lalu mulai menceritakan apa saja yang menimpaku tadi pagi. Kemudian, aku meminta data KK dan data-data lainnya yang aku perlukan untuk mengurus nomor hp yang hilang. Setelah semuanya beres, aku menutup telepon dan menunggu dokumen yang aku butuhkan tiba.


Beberapa menit kemudian, dokumen tersebut semuanya akhirnya terkirim melalui Pacebok. Aku save data tersebut kemudian dengan nada riang, aku mulai pergi menuju counter XS yang tadi aku kunjungi. Melihat waktu yang ada, sepertinya aku masih sempat mengurusnya hari ini. Lebih cepat lebih baik. Biar tidak bisa disalahgunakan nomor tersebut oleh orang lain.


Namun masalah kembali muncul. Saat aku hendak pergi ke sana, di jalan aku sama sekali tidak melihat angkot yang lewat. Aku juga tidak melihat ada pangkalan ojek di sekitar sini. HP juga masih belum bisa digunakan untuk memesan ojek online.


‘Hah, apa boleh buat.’ Bisikku dalam hati sambil mulai melangkahkan kaki menuju gerai XS.


Dengan tidak adanya kendaraan yang bisa aku pakai, jalan kaki satu-satunya solusi yang aku punya. Apalagi aku juga tidak memiliki kenalan untuk di daerah ini. Kalau ini dirumah sih, aku bisa telepon kenalan yang tidak sibuku untuk membantu. Tidak masalah, lumayan lah jalan kaki untuk olahraga.


Perjalanan aku lalui cukup lama, mungkin sampai 30 menit lamanya aku berjalan dari kantor polisi hingga sampai ke tempat tujuan. pakaian yang dikenakan sampai keringetan banget akibat aktivitas yang aku lakukan. Sebelum masuk ke dalam, aku kibas-kibas baju dulu dan mengelap keringat yang ada. Tidak mungkin dong aku masuk ke ruangan AC dengan keadaan basah kuyup. Bisa-bisa nanti masuk angin.


Setelah kondisi tubuh oke, aku mulai masuk ke dalam counter. Apakah kali ini proses mengurus nomor bisa berjalan lancar? atau..?


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2