Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 129 Berdoa untuk Bapak 2


__ADS_3

Pada waktu itu, sebelum aku pergi ke Ustadz Y. Aku mendapatkan telpon dari om Maman.


“Ray, lagi ada di mana?”


“Di rumah, ada apa Om?”


Om Maman menceritakan kalau dia ingin mengajakku mengunjungi kenalan ustadznya yang lain. Karena kemarin kami sudah sempat pergi meminta doa kepada ustad X. Kali ini ia mengajakku untuk pergi ke ustad yang lain lagi.


“Boleh, tempatnya di mana dia om?”


Pamanku lalu mulai menceritakan jalan yang harus kita lalui untuk menuju ke tempat itu. Mendengar ceritanya saja, rasa malas untuk pergi ke sana muncul dengan begitu besarnya. Apalagi saat mendengar kalau jalanan yang harus dilalui berlubang, menukik tajam, serta mobil tidak bisa lewat. Aku saja pergi ke luar rumah malas, apalagi harus mengunjungi tempat seperti itu?


Awalnya aku mengira perginya kami akan sendiri-sendiri dengan menggunakan sepeda motor. Namun kata om Maman. Aku boleh ikut nebeng saja dengan dirinya. Lumayan lah, gak perlu capek nyetir.


“Beneran gak papa nih om?”


“Gapapa, santai aja. Jangan lupa nanti siapin amplop untuk sedekah ya”


Sebelum berangkat ke sana. Om Maman sudah sempat membicarakan hal ini dengan ibuku. Menurutnya, untuk prosesi doa dengan ustadz ini. Harus memberikan sedekah dengan jumlah nominal tertentu. Tergantung dari seberapa besar doa yang akan ia bacakan.


Namun terakhir aku cek, sebenarnya ini juga tergantung kemampuan kita saja. Saat aku memberikan uang, ustadz tersebut tidak pernah menyebutkan harga, apalagi membuka amplop untuk mengecek jumlah uang di dalamnya. Ia langsung memasukkannya ke dalam kantong baju dan mengucapkan terima kasih lalu bersyukur kepada Allah.


Setelah diskusi dengan ibu, akhirnya aku menerima tugas untuk pergi ke ustadz Y ini. Karena kalau tempatnya jauh seperti ini, kasihan juga kalau ibu yang berangkat. Apalagi kalau cuma pergi berdoa dengan om Maman. Bisa berbahaya nantinya.


Kami berangkat dari rumah saat pagi hari. Sekitar jam 9 nan. Katanya agar jalanan tidak panas dan nanti pulangnya tidak kesorean. Sebelum pergi ke tempat sang ustadz, kami sempat singgah ke beberapa tempat terlebih dahulu.

__ADS_1


Tempat pertama yang kami singgahi adalah pak haji kenalan om Maman. Bilangnya sih, dia juga kenal dengan bapak. Namun aku pribadi tidak ingat siapa orang ini. Tempat kedua yang kami datangi adalah Blue Mart. Kami membeli makanan dan minuman di sini untuk diberikan kepada pak Ustadz. Minumannya nanti akan diberikan doa, kemudian akan dibawa kembali ke rumah. Nantinya minuman itu akan diminum oleh bapak, serta sisanya diminum oleh anggota keluarga yang lain.


Selesai dari Blue Mart, barulah perjalanan sebenarnya dimulai. Awalnya aku sempat skeptis karena dalam perjalanan tidak memasuki jalan yang sempit dan juga berbahaya. Namun pemandangan jalan yang awalnya masih terlihat kota, hanya dalam beberapa menit saja, tiba-tiba langsung berubah menjadi hutan dan perbukitan.


Aku sempat terkejut karena hanya beberapa menit dari jalan raya saja. Tiba-tiba jalanan sudah seperti ini. Melihat kondisi jalanan ini, aku tidak mungkin bersedia untuk pergi ke tempat ini dengan membawa penumpang. Bawa sendiri saja belum tentu aman, apalagi kalau berdua.


Perjalanan menegangkan itu berlanjut selama beberapa menit hingga pada akhirnya, kami sampai ke tempat pak ustad tinggal. Tempatnya cukup berada di pojok bukit. Kelihatan sekali rumahan sederhana. Serta yang paling saya ingat, susah sekali dapat sinyal di sini.


“Assalamualaikum”


“Waalaikumsalam. Ayo, silahkan masuk” Sang ustad menyambut kami dan mengantar kami masuk ke dalam rumah.


Bagian rumah yang kami masuki adalah mushola yang berada di samping rumahnya. Mushola ini juga merupakan tempat anak-anak belajar mengaji serta berkumpul untuk belajar nasyid. Nasyid sendiri kurang lebih adalah grup yang memainkan alat musik tepuk dan biasanya ada untuk mengiringi pentas lagu-lagu  rohani.


Setelah aku, om Maman, dan pak Haji masuk dan duduk ke dalam. Om Maman mulai menceritakan maksud kedatangan kami ke tempat ini.


“Ini pak Ustadz fotonya”


Sang UStad melihat foto yang ia lihat dari handphone ku. Kemudian ia terlihat berpikir sejenak kemudian menyampaikan pendapatnya dari sisi agamis dan juga spiritual. Entah benar atau tidak, namun dari saya dengar. Memang tubuh bapak sudah lemas akibat gaya hidupnya selama ini. Sehingga kemungkinan untuk sembuhnya tidak bisa dalam waktu yagn singkat.


Dia kemudian meminta nama lengkap bapak serta nama nenekku. Nantinya ia akan mendoakan sesuai dengan nama yang aku tulis. Dengan rapi aku mulai menulis nama pihak yang ia minta. Tulisan harus bisa terbaca, karena tulisan tanganku kalau buru-buru pasti acak-acakan. Setelah selesai menulis, aku kembali menyerahkan tulisan itu kepada sang ustadz.


“...”


Pak Ustadz terdiam sebentar lalu mulai membacakan doa. Setelah itu, air yang tadi kami bawa semuanya didoakan. Ia juga berpesan untuk segera menghabiskan air tersebut dan semua anggota keluarga harus minum. Karena kalau dibiarkan terlalu lama, khasiatnya bisa menghilang. Mendengar hal itu, aku berusaha agar jangan lupa meminta ibu dan yang lain untuk meminum air ini.

__ADS_1


Kemudian kami mulai ngobrol sebentar sampai waktunya untuk aku dan om Maman pulang. Sebelum kami pulang, Sang ustad mengucapkan doa terakhir dengan sangat jelas dan aku mendengarnya dengan telingaku sendiri.


“Semoga bapak xxx bin xxx pada hari xxx dan jam 11.35 kalau memang takdirnya sembuh. Segera cepat disembuhkan. Kalau tidak, semoga tidak diperlama sakitnya.”


Mendengar doanya itu, aku mengucapkan aamiin sekencang-kencangnya kemudian pamit bersama dengan om Maman. Sedangkan pak Haji masih menetap di sana karena ia masih ada urusan lain. Kami kembali melewati jalanan yang curam sebelum sampai kembali ke rumah.


“Makasih ya Om, sudah nganterin ke pak ustadz”


“Sama-sama Ray, yang tabah ya.”


“...” Aku hanya tersenyum kecil mendengar kalimat omku.


Setelah pamitan dengan om Maman. Aku berniat untuk istirahat. Namun sebelum itu, aku lihat ada pesan masuk ke pesan WA ku. Betapa terkejutnya aku melihat kalau yang mengirim pesan itu adalah ibuku dan isinya.


[Ray, papah tiba-tiba kritis. Sekarang mamah langsung pergi ke Bogor untuk menemani papah. Kamu jaga adik-adikmu ya di rumah]


Aku diam sesaat melihat pesan tersebut. Lalu membalas pesan kepada ibu supaya tetap sabar dan tegar dalam situasi ini. Pesan ini juga aku sampaikan kepada om maman karena ia harus menyerahkan air yang telah didoakan untuk bapak. Selesai menyebarkan kabar tersebut, aku terkejut saat melihat jam pesan ibu masuk ke dalam WA.


11.35 WIB


Melihat waktu yang tidak asing ini, aku jadi kembali teringat dengan doa yang diucapkan oleh Ustadz Y yang baru saja aku temui tadi.


‘Apakah…Jangan-jangan ini adalah suatu pertanda?’ Ucapku dalam hati sebelum akhirnya istirahat setelah menjalani perjalanan yang cukup panjang menemui pak ustadz.


Memang hal ini sudah menyentuh ranah ghaib. Namun untuk percaya atau tidaknya, terserah pendapat masing-masing. Tetapi saya pribadi, agak mempercayai hal-hal mistis setelah semua ini terjadi. Jangan lupa untuk tetap beribadah dan meningkatkan keimanan sesuai dengan agama masing-masing. Love and peace.

__ADS_1


*bersambung*


__ADS_2