Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 45 PSB


__ADS_3

Beres liburan ke Bali, aku kembali mengajar seperti biasa sebagai guru. Namun tidak hanya mengajar, ketika akan memasuki akhir tahun ajaran. Kami mendapatkan tugas baru. Saat akan terjadi pergantian tahun ajaran, pastinya kita harus mencari murid baru.


"Bapak ibu guru. Kita sebentar lagi akan memasuki masa Penerimaan Siswa Baru (PSB). Mohon segera dipersiapkan ya yang diperlukan seperti pamflet, banner dan yang lainnya. Bagaimana hasilnya? Apakah semuanya sudah beres?"


"Sudah beres semua Bu, tinggal di sebar saja."


"Bagus kalau gitu. Jangan lupa sosialisasi ke sekolah-sekolah ya bapak ibu. Biar semakin banyak murid yang masuk"


"Siap"


Setelah rapat, para guru memberikan tugas secara berpasangan, siapa saja yang harus pergi ke sekolah SMP untuk promosi sekolah. Untuk mempersingkat waktu dan lebih banyak sekolah yang kami gapai. Kami bagi tim sosialisasi menjadi beberapa kelompok.


Pastinya kami harus meminta izin ke sekolah yang bersangkutan terlebih dahulu. Tidak mungkin kami tiba-tiba datang tanpa diundang lalu pulang tak diantar. Kalau dari pihak sekolah tidak setuju, akan sulit juga bagi kami untuk melakukan sosialisasi.


Aku berpasangan dengan Bu Sulis pada kesempatan kali ini. Bu Sulis sudah lumayan sepuh dan lama mengajar di sini. Ia adalah guru olahraga untuk semua jenjang kelas. Semuanya dia yang menghandle. Tidak heran kalau dia sangat rajin dan disiplin dalam kegiatan ini. Memang dia salah satu guru yang bisa dijadikan panutan.


Melihat Bu Sulis, aku teringat kalau jam mengajar paling tidak enak adalah setelah jam olahraga kemudian jam terakhir sekolah. Apalagi mendapatkan dua duanya seperti saya .


Hal itu karena kebanyakan dari murid SMK adalah cowok. Karena itu mereka tidak memperhatikan bau badan mereka. Otomatis setelah usai olahraga, mereka tidak membersihkan badan mereka dengan benar.


Munculah bau badan yang sangat menyengat. Apalagi untuk yang memiliki hidung cukup tajam seperti diriku. Tersiksa sekali mengajar dalam kondisi kelas bau seperti itu.


Terlebih aku mengajar satu kelas yang semuanya laki-laki. Bau mereka setelah olahraga sangat tidak enak. Aku sampai pusing menciumnya. Bahkan kadang sampai mau muntah rasanya.


Mau tidak mau aku biasanya menunggu keringat mereka kering dan bau menyengatnya hilang atau berkurang. Hal ini membuat waktu mengajar juga lebih sedikit dari biasanya.


Kurang lebih itulah hal yang terjadi kalau kita mengajar setelah jam olahraga. Guru yang lain juga sepakat akan hal ini. Namun akan lebih parah lagi ketika dua hal di atas digabungkan.


Ngajar setelah olahraga dan pada jam terakhir. Kombinasi ini akan membuat banyak murid berkata seperti ini.


"Pak, pulang pak, sudah sore. Capek pak. Habis olahraga. Ayo pak pulang"


Setiap perkataan itu selalu berulang-ulang mereka katakan. Apalagi menjelang separuh akhir dari jam ***. Mau tidak mau aku harus menerangkan secara singkat dan lebih jelas materi kepada mereka. Entah apakah mereka bisa paham kalau materi disampaikan dengan buru-buru seperti itu.


Sempat mereka aku berikan pr. Namun ternyata mereka tidak mengerjakannya. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Belajar nggak mau, memberikan pr tidak dikerjakan. Maunya apa sih jad murid. Semoga meskipun mereka malas sekarang, ke depan ya mereka semua bisa menjadi orang yang luar biasa.


Kembali ke PSB. Aku mendapatkan giliran untuk pergi bersama Bu Sulis kali ini. Tempat yang akan kami datangi tidak terlalu jauh, mungkin hanya sekitar 15 menit dengan menggunakan sepeda motor.

__ADS_1


Pastinya aku sebagai laki-laki duduk di depan sebagai supir. Bu Sulis duduk di belakang ku. Alhamdulillah Bu Sulis tidak terlalu berat. Sehingga perjalanan berjalan dengan lancar. Tidak ada masalah yang muncul.


Ketika promosi di sekolah, Bu guru yang satu ini sudah cukup lihai. Aku hanya perlu mengikuti langkahnya saat promosi. Aku tidak berpikir banyak saat melakukan sosialisasi PSB.


*Beberapa menit kemudian*


Kami akhirnya sampai ke tempat tujuan kami. Meskipun jaraknya dekat, namun Medan yang kami lalui cukup menantang. Melewati rel kereta api serta melalui jalan arteri yang biasa digunakan oleh mobil besar seperti truk bahan bangunan.  Harus extra hati-hati saat melalui jalan seperti ini.


Apalagi rel keretanya tidak ada rambu lalu lintas, harus cek berulang kali sebelum akan menyebrang rel kereta. Takutnya akan ada kereta yang mau lewat. Untungnya ada warga sekitar yang biasa mengingat kan kalau hal itu akan terjadi.


SMP yang kami datangi kulihat cukup kecil. Namun aku hanya melihat bagian depannya saja. Aku tidak tahu apakah SMP ini akan luas sampai ke belakang.


Sekolah swasta ini menurut Bu Sulis juga sering mendaftarkan anaknya ke SMK kami. Karena secara jarak, sekolah kami dekat dari tempat mereka. Sehingga orang tua tidak perlu jauh mengganti rute mereka saat mengantar anak sekolah.


Meskipun seharusnya anak SMK tidak perlu diantar lagi. Namun kalau jarak sekolah lebih dekat, orangtua tidak akan terlalu khawatir anaknya akan nyasar atau main ke tempat yang jauh.


Karena akan lebih mudah bagi mereka mencari keberadaan anak mereka kalau hal itu terjadi. Namun biasa nya anak SMK sudah diberikan kebebasan yang lebih banyak. Mereka pasti akan lebih sering jalan-jalan jauh daripada saat masih duduk di jenjang SMP.


"Gimana Bu? Sudah hubungi guru sekolah ini?" Tanyaku kepada Bu Sulis.


"Sudah pak Ray, tinggal tunggu saja. Sebentar lagi jam istirahat. Kita akan sosialisasi pada jam itu " jawab Bu Sulis sambil mengirimkan SMS kepada guru yang bersangkutan.


"Bu Sulis dan pak Ray, ayo silahkan masuk. Ketemu dengan kepala sekolah dulu."


"Baik Bu, terima kasih. Ini oleh-oleh dari kami"


Barang yang kami berikan tidak ada maksud apa-apa. Hanya memberikan cindera mata saja. Mereka tidak menolak pemberian dari kami. Sepertinya hal ini sudah wajar dilakukan. Tidak terlihat kalau ini pertama kalinya mereka menerima bingkisan.


Kami menuju ruangan kepala sekolah. Ketika memasuki ruangan guru, aku cukup kaget karena tempatnya lebih kecil dari dugaanku. Mungkin karena guru mereka jumlahnya lebih sedikit? Atau karena lahan mereka lebih sempit?.


"Ayo silahkan duduk, bapak ibu" kepala sekolah mempersilahkan kami untuk duduk.


Bu Sulis memulai pembicaraan ringan dengan kepala sekolah. “Terima kasih atas waktunya ibu, kami dari sekolah… ingin melakukan sosialisasi tempat kami di kelas ibu. Boleh minta waktunya untuk satu kelas.”


“Boleh bu, silahkan. Tapi jangan terlalu lama ya. Kasihan kalau terlalu banyak mengambil waktu jam istirahat anak”


“Baik bu, terima kasih.”

__ADS_1


Beres koordinasi dengan kepala sekolah, kami masuk ke ruangan kelas setelah guru mengkondisikan para muridnya.


"Assalamualaikum anak-anak"


"Waalaikumsalam"


"Kami dari SMK … akan melakukan sosialisasi sekolah. Ada yang tahu sekolah kami?”


“tahu, yang di … kan?”


Bu Sulis melanjutkan “Betul sekali, Kenapa kalian harus memilih sekolah kami? Itu karena.."


Bu Sulis memulai promosinya dengan semangat. Sepertinya ia sudah sering melakukan hal ini dan pintar sekali dalam menarik perhatian murid.


Sedangkan aku tidak banyak bicara kecuali ketika membahas jurusan TKJ dan Multimedia. Karena aku tidak pernah mengajar murid dari jurusan lain. Ingin juga sekali-kali mengajar di jurusan lain.


"Jadi, TKJ itu singkatan dari Teknik Komputer dan Jaringan. Di dalam jurusan ini, kalian akan mempelajari mengenai komputer. Namun akan lebih fokus ke bidang jaringan."


Aku melanjutkan penjelasan mengenai multimedia


"Multimedia juga merupakan pelajaran mengenai komputer, namun bukan membahas jaringan. Multimedia akan lebih fokus kepada dunia editing seperti mengedit foto, video, dan pembuatan bidang multimedia lainnya."


Semoga saja penjelasan dariku tidak membuat mereka bingung. Apalagi mereka yang tidak pernah menggunakan komputer mungkin tidak paham dengan apa yang aku katakan.


“Kalau servis komputer gimana pak? apakah masuk ke TKJ juga?” tanya salah satu murid.


"Iya betul, kalian juga bisa membetulkan komputer, buka jasa desain, dan hal-hal berbasis komputer lainnya. Kalian juga bisa membuat usaha sendiri dari belajar ilmu ini. Tidak kotor-kotoran seperti kalau masuk bengkel dan kerja kasar yang lain" ibu Sulis menambahkan penjelasan yang aku berikan.


Semua murid yang ada semangat dan menanyakan banyak hal kepada kami. Untungnya kami berdua dapat menjawab pertanyaan mereka semua dengan baik.


Mereka sempat ragu dengan status akreditasi yang kami miliki. Kami hanya bilang silahkan saja cari di ban PT. Karena penilaian kami secara resmi tertera dengan jelas di sana. Tidak ada kecurangan yang kami lakukan. Setidaknya itulah yang aku tahu dari penilaian akreditasi kemarin.


Setelah puas beberapa menit presentasi, kami akhirnya pulang kembali ke sekolah. Masih ada beberapa hal yang harus kami lakukan.


Selesai sosialisasi, kami pamitan dulu kepada guru sekolah SMP ini. Tidak mungkin kami menghilang begitu saja.


Setelah sampai di sekolah, kami melaporkan apa saja yang telah kami lakukan kepada panitia PSB.

__ADS_1


Laporan telah selesai, Aku kembali mengerjakan tugas rutinku sebagai guru, mengajar. Meskipun beberapa jam sudah terpakai untuk sosialisasi. Masih ada pekerjaan lain yang harus aku lakukan.


__ADS_2