Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 116 Donor Darah 2


__ADS_3

“Tensi darahnya xxx. Bagus, bisa untuk donor” Ucap sang perawat sambil melihat angka dari alat pengukur tensi.


“Alhamdulilah”


Mendengar berita baik itu, aku langsung lega. Karena memang aku selama ini belum pernah mendapatkan hasil tes tensi tinggi. Adanya juga pernah kasus tensi terlalu rendah. Namun tetap saja, kita merasakan kesenangan ketika kita melakukan test dan dikatakan kalau status kita normal dan sehat.


Sang perawat mencatat hasil tes kemudian memulai mencopot alat tersebut dari lenganku. Senang sih cek oleh perawat yang cantik saat di rumah sakit, hehehe. Setelah semua alat tercabut, aku diminta ditunggu untuk dipanggil namanya. Sepertinya saat namaku kembali dipanggil, aku akan pergi ke ruangan lain. Namun harus mengantri dengan pendonor yang lain, karena jumlah petugas PMI terbatas, tidak bisa langsung melayani pendonor dalam jumlah banyak.


Sambil menunggu, aku ngobrol sejenak dengan kedua orangtuaku. Beberapa menit kemudian, aku mendengar namaku dipanggil dan aku masuk kedalam ruangan yang ditunjuk oleh perawat.


“Silahkan masuk ke dalam pak, nanti tinggal mengikuti arahan petugas saja.”


“Terima kasih mbak”


Saat memasuki ruangan, aku melihat ada dua kursi yang mirip sofa saat kita akan keramas di salon. Namun tentunya tanpa bak di belakangnya, Ketika melihat diriku masuk, petugas di sana memintaku untuk duduk di salah satu kursi.


“Pak Ray ya? silahkan duduk disini dulu pak. Nanti ikuti instruksi dari petugas dan rileks saja ya pak. Tidak perlu tegang.”


“Baik mas”


Aku mencopot alas kaki yang aku kenakan dan mulai duduk kursi. Lumayan empuk juga ternyata kursi dengan warna hitam ini. Sambil menunggu petugas bekerja, aku mengamati orang yang duduk di sampingku. Sepertinya ia juga pendonor, aku melihat bagaimana petugas memberikan instruksi kemudian menyuntikkan jarum suntik ke salah satu bagian lengan nya,


Orang itu beranjak dari kursi setelah proses donor selesai. Ia melihat ke arahku lalu berkata.

__ADS_1


“Loh, nak Ray toh? saya kira siapa. Donor darah juga ya?”


“Iya pak, tadi ibu nelpon suruh ke sini.”


Kami ngobrol sebentar kemudian ia pamit pergi karena urusannya sudah selesai. Aku sama sekali tidak mengenal orang tersebut. Memang wajahnya terlihat familiar, namun aku tidak mengetahui sama sekali namanya. Kemungkinan besar, ia orang dari tempat kerja ibuku sehingga aku agak mengenalnya. Maklum lah kenalan ibu banyak.


Selesai mengurus orang tersebut, sang petugas akhirnya mengalihkan perhatiannya kepadaku. Ia memberikan pertanyaan dan juga sedikit ngobrol ringan untuk membuatku rileks. Kemudian ia mulai memberikan instruksi untuk pengambilan darah.


“Ok pak, santai saja. Kepalkan tangan yang keras pak..Terus lebih keras lagi.”


Aku mengikuti arahan dari petugas. Sebelum disuntik, aku sudah mengucapkan banyak doa agar semua berjalan lancar. Namun ternyata, meskipun prosesnya lancar, rasa sakit dari jarum suntik tidak bisa terhindarkan.


“Ugh!!” Geramku sambil menahan rasa sakit.


Setelah jarum dijauhkan dari kulit, bekas suntikan masih terasa ngilu. Untungnya petugas langsung memberikan kapas dan juga mengobati bekas luka yang muncul dengan plester. Namun tetap saja, tangan terasa lemas setelah disuntik.


“Terima kasih atas donornya, bapak Ray. Silahkan terima bingkisan yang kecil ini. Kemudian bapak sudah boleh pulang. Proses donor darah sudah selesai.”


“Baiklah, terima kasih ya pak.” Ucapku sambil menerima bingkisan yang diberikan.


Saat dalam perjalanan kembali ke tempat ibu berada. Aku mengintip apa saja isi dari bingkisan yang aku terima.Ternyata, isi dari bingkisan ini adalah beberapa minuman dan juga suplemen yang bisa menambah jumlah darah dalam tubuh kita. Tidak lama berjalan, aku akhirnya kembali bertemu dengan bapak dan ibu.


“Bagaimana mana Rey tadi donornya? lancar semuanya?”

__ADS_1


“Lancar bu, alhamdulilah”


“Baiklah kalau begitu. Bapak dan ibu pamit duluan ya. Ray hati-hati di jalan bawa motornya” Ucap bapak sambil beranjak dari tempat duduknya.


Karena baru saja berobat, bapak membutuhkan sedikit bantuan saat ingin berdiri. Tentunya sebagai anak yang berbakti, aku langsung sigap untuk membantunya. Setelah melihat kedua orang tua masuk ke mobil dengan aman. Aku kembali melangkahkan kakiku menuju motorku yang ada di parkiran.


Semua berjalan aman sampai aku mencoba untuk menjalankan motor dengan kedua tanganku.


“Ya ampun, tanganku ngilu. Bisa Gak ya nih sampai ke rumah? Bismilah, semoga lancar”


Karena aku kesini sendirian. Mau tidak mau harus aku yang memegang stang motor. Tidak mungkin kan ia gerak sendiri. Perlahan aku mulai memacu gas motor dan mulai bergerak perlahan menuju rumah. Sepanjang perjalan, aku menahan rasa ngilu dari lenganku. Sepertinya ini efek tadi disuntik.


Dengan bersusah payah, akhirnya aku berhasil pulang ke rumah dan langsung istirahat setelahnya. Tidak disangka, ternyata donor darah membutuhkan perjuangan seperti ini. Gak kebayang gimana kalau nyetir dan harus donor darah. Wajar saja kalau proses ini tidak bisa terlalu sering dilakukan. Ada jeda waktunya setiap sesi donor darah, kalau gak salah setelah melakukan donor, kita harus kasih jeda 3-4 bulan setelah donor. Maksimal dalam setahun kita hanya boleh donor darah 5 kali. Tidak disarankan melakukan donor lebih dari frekuensi tersebut.


Karena saat ini sedang ada pandemi, ada syarat tambahan saat donor darah. Setelah mendapatkan vaksin, kita minimal harus menunggu selama 2 minggu dahulu sebelum boleh melakukan donor. Hal itu merupakan aturan dari pemerintah, sehingga kita harus menaatinya selama aturan tersebut masuk akal dan memang baik untuk dilakukan.


Sampai di rumah, aku langsung istirahat total selama beberapa hari kedepan sampai lenganku benar-benar sembuh. Untungnya memang aku selama ini hanya mencari kerja di rumah melalui internet. Tidak ada mencari kerja secara fisik melamar kerja dari toko ke toko dengan berjalan kaki. Aku selama ini tidak pernah merasakan hal yang seperti itu.


Setelah donor darah ini, sudah banyak lamaran yang aku serahkan secara online. Namun apa daya sebagai pencari kerja. Lama sekali perusahaan membalasnya. Ada juga yang reply cepat kemudian aku mencoba mengikuti sesi ujian nya. Dari semua lamaran yang aku kirim, tidak ada yang tembus dan aku belum mendapatkan pekerjaan.


Aku sempat depresi namun setelah aku pelajari lagi. Usahaku belum seberapa, ada orang yang lebih banyak mendapatkan penolakan saat melamar pekerjaan. Mendengar hal itu, semangatku bangkit kembali dan aku berusaha setiap hari mengirim lamaran sambil meningkatkan skill dalam bekerja. Terutama bidang IT yang merupakan senjata utama yang aku miliki. Kira-kira, pekerjaan seperti apa nanti yang akan aku dapatkan?


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2