Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 105 Kembali WFO 3


__ADS_3

Sebelum waktunya pulang kantor. Aku sudah memikirkan jalur untuk pulang kali ini. Biasanya saat aku pulang ke rumah, aku menggunakan bus untuk pergi ke sana. Namun dari tempat kantorku saat ini, lebih cepat kalau pulang dengan menggunakan kereta. Saat jam kerja, aku sudah memesan tiket untuk pulang dari stasiun Rangkasbitung.


Dari Serpong ke Rangkasbitung, aku menggunakan KRL dengan jadwal yang sudah disediakan. Setelah hitung-hitungan, seharusnya aku bisa sampai di waktu yang tidak terlalu malam. Selesai membuat rencana, aku langsung menjalankanya ketika waktu pulang tiba. Dengan sigap aku langsung naik angkot sampai ke stasiun.


Untungnya kondisi jalan masih cukup ramai sehingga masih ada cukup banyak angkot lewat. Saat menaiki angkot, aku memperhatikan situasi jalan dan juga waktu yang ada. Karena bisa repot kalau sampai telat naik kereta. Bisa-bisa, aku terdampar di jalan nantinya. Kulihat kali ini yang naik angkot cukup banyak, terutama ibu-ibu. Karena rute angkot ini melewati sebuah pasar.


Sampai ke dekat stasiun, aku langsung turun tanpa menunggu angkot berada persis di seberang stasiun. Karena kondisi jalan sangat padat dan macet. Angkot majunya sangat pelan kalau saat ini terjadi. Mau tidak mau, sisa perjalanan aku jalani dengan kedua kakiku sendiri. Dengan membawa laptop di pundakku, aku berjalan mengiringi aspal hingga sampai ke stasiun. Lebih cepat jalan kaki dalam kondisi seperti ini.


Wajar saja wilayah sekitar stasiun menjadi macet. Karena banyak orang pergi ke sini untuk bepergian. Pastinya lalu lalang orang di sini cukup padat. Ditambah di dekat stasiun ada pasar. Sudah komplit lah faktor-faktor yang membuat jalanan ini macet. Orang yang sering lewat di sini pasti sudah tidak heran dengan kondisi macet ini.


Dalam perjalanan aku jua mencium bau-bau berbagai macam barang yang ada di pasar. Mulai dari bau asin ikan, hingga bau harum buah-buahan. Untungnya aku berhasil melewati itu semua dan sampai ke stasiun dengan berjalan kaki.


Saat sudah berada di stasiun, aku langsung tap pintu masuk KRL dan menunggu kereta datang. Aku sudah pede saldo e-money ku cukup karena aku bisa memeriksanya dengan menggunakan handphone milikku. Tidak sia-sia aku membeli handphone yang memiliki NFC. Memang ternyata fitur seperti ini kalau di Tangerang sangat membantu. Tidak perlu repot cek saldo di stasiun ataupun top up melalui minimarket terdekat. Tinggal beli melalui handphone saja, lebih praktis.


Saat sudah menaiki kereta, aku bernafas lega karena sudah tidak mungkin aku terlambat menaiki kereta lokal dari Rangkas nanti. Namun tantangan masih belum usai, aku harus masih berdiri satu jam lebih sebelum sampai ke stasiun Rangkasbitung. Memang ini merupakan salah satu tantangan saat menaiki KRL. Karena KRL ini berangkat dari Tanah Abang, sehingga kecil sekali kemungkinan aku bisa mendapatkan tempat duduk. Hanya bisa berharap ada orang yang duluan turun di dekat tempatku berada saat ini.


Sampai di Rangkasbitung, aku langsung membeli air kemudian meminumnya langsung di tempat sebelum lanjut naik ke kereta lokal. Karena setahuku, peraturan saat ini tidak membolehkan penumpang makan dan minum di kereta dengan jam perjalanan dibawah dua jam. Setelah kondisi tubuh sudah stabil, aku kembali naik kereta sampai ke stasiun dekat rumahku.


Perjalanan terakhir aku lalui dengan angkot kemudian sisanya dengan berjalan kaki. Karena lokasi drop off angkot ke rumah tidak terlalu jauh. Hanya sekitar lima menit. Sampai ke rumah, badanku sudah sangat lelah karena harus berjalan sambil membawa laptop di ransel milikku. Ibu yang melihatku kembali ke rumah kaget dan langsung bertanya kepadaku.


“Loh Ray! kok langsung pulang ke sini? gak ngontrak di sana aja?.” Tanya ibuku dengan heran melihatku pulang dengan kondisi badan sudah lelah.


“Jadi gini mah ceritanya”

__ADS_1


Aku mulai bercerita mengenai kejadian full di kantor. Mendengar ceritaku, ibu langsung khawatir dan berkata. “Sudahlah nak, tidak perlu berharap akan kerja shift. Lebih aman besok langsung ngontrak saja ya, istirahat di sana. Gak papa kok nanti aja akhir minggu baru pulang lagi ke sini.”


Mendengar pendapat ibu, aku setuju dengan nya dan langsung menghubungi kontrakan tempatku ngontrak dulu. Kemudian malamnya aku menyiapkan beberapa barang yang akan ku bawa ke kontrakan seperti baju dan lain-lain. Namun aku tidak membawa terlalu banyak barang, aku memutuskan untuk nanti membeli baju baru saja di sana. Karena aku ingin di rumah masih tersisa baju yang bisa aku kenakan.


Beres mengurus semuanya, aku langsung istirahat di kamar setelah menjalani hari yang melelahkan. NIkmat sekali setelah capek seharian, mandi di rumah, kemudian tidur di atas kasur yang empuk.


*Keesokan harinya*


Aku bangun kemudian langsung segera bersiap-siap. Berbeda dengan kemarin, kali ini aku akan mencoba untuk pergi ke Tangerang dengan menggunakan kendaraan umum. Ditambah dengan baju yang bisa kubawa serta kasur lipat yang aku pakai dulu, barang bawaanku hari ini cukup berat.


Sebelum berangkat, ibu berpesan kepadaku untuk menitipkan barang saja di satpam, nanti saat pulang baru diambil lagi. Aku mengangguk mendengar perkataan ibu kemudian mulai kembali berjalan ke Tangerang.


Sama seperti kemarin, aku menaiki kereta lokal kemudian KRL. Bedanya, kali ini aku naik kereta di pagi hari. Berbeda dengan kemarin aku naik yang sore hari. Sampai di kantor, mengikuti nasihat ibu. Barang bawaan aku titipkan ke satpam kantor.


“Ya, ada apa?”


“Bisa nitip dulu nggak pak barang ini, nanti pas pulang kantor saya ambil lagi.”


Satpam itu menerima barang yang aku berikan dan memberikan senyum sambil menantikan kedatanganku nanti saat pulang kantor. Beres masalah barang, aku kembali ke ruangan aku kerja kemarin dan menjalani hari-hari sama seperti biasa. Di depan laptop kemudian mengerjakan aplikasi yang diminta oleh user.


Perbedaanya, hari ini sudah mulai puasa, sehingga aku tidak harus makan siang. Namun akibat tadi aku habis dari perjalan yang cukup jauh, badanku lemas seharian ini. Beruntung aku bisa bertahan dan menyelesaikan pekerjaanku dengan baik hari ini. Ketika sudah waktunya pulang kerja, aku langsung pamit dan kembali ke ruangan satpam untuk mengambil barang yang aku titipkan.


“Misi pak, mau ambil barang yang tadi”

__ADS_1


“Oh iya, ini mas barangnya. Aman terkendali.”


“Terima kasih ya pak”


Setelah berterima kasih kepada satpam, aku langsung menaiki angkot. Berbeda dengan kemarin, kali ini aku terus naik sampai ke tempat aku biasa turun di kontrakan Tangerang. Namun bedanya, kali ini aku ngontrak di tempat yang berbeda. Meskipun masih berada di komplek yang sama Setelah turun dari angkot dan berjalan beberapa meter, akhirnya aku sampai di tempatku ngontrak sebelumnya.


“Eh, mas Ray sudah datang. Monggo mas masuk dulu. Buka puasa dulu.” Ucap ibu kos sambil membukakan pintu setelah aku mengucapkan salam.


“Terima kasih bu.”


Kebetulan karena sekarang bulan ramadhan, jam kantor pulang lebih cepat. Hal ini membuat waktu kedatanganku ke kontrakan pas dengan waktu berbuka. Dengan lahap aku menyantap semua makanan dan minuman yang mereka sajikan. Kami berbuka sambil ngobrol beberapa hal, terutama mengenai kontrakan yang akan aku tempati.


“Iya mas Ray, tempat yang kemarin mas Ray tempati sudah ada yang ngisi. Sekarang adanya tempat lain yang kosong, gak papa? Karena memang kontrakan yang itu cepet banget diisi oleh orang lagi.”


“Boleh deh, nanti coba sebulan dulu, kalau nyaman. Lanjut ngontraknya.”


“Baiklah kalau begitu, ayo sini saya antar ke kamarnya”


Aku mengikuti pemilik kontrakan dan mengikutinya ke daerah belakang. Dalam perjalanan, aku melihat kamar kontrakan yang aku tempati sebelumnya. ternyata memang benar sudah ada yang menempatinya. Terdapat beberapa kenangan indah selama beberapa bulan aku tinggal di kontrakan yang satu ini. Sesaat aku sempat terdiam untuk mengenang hampir satu tahun lamanya, menetap di kontrakan ini. Sebelum melanjutkan perjalanan ke kontrakan yang baru.


Saat sampai di kamar kontrakan, ibu kontrakan membuka pintu kemudian memperlihatkan isi dari kontrakan tempatku akan tidur hari ini. Terdapat dua ruang, ruang depan dan belakang. Ruang depan cukup luas dengan ukuran kira-kira 3x3 meter. Cukup untuk aku tidur seorang diri.


Ruang belakang berisi tempat menaruh kompor dan juga kamar mandi. Memang lebih sempit dan murah dari kontrakanku sebelumnya. Namun saya rasa, cukuplah untuk tinggal sementarak. Toh, nantinya kalau tidak betah bisa pindah kontrakan lagi bulan depan. Sebelum kontrakan ini ditempati, masih ada yang harus dilakukan…. Beres-beres

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2