Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 118 Jalan-jalan ke Villa 2


__ADS_3

“Ray, bagnung Ray. Ayo sholat subuh dulu.”


“Mh…ok”


Aku mendengar ada yang memanggilku kemudian aku membuka mataku. Seperti biasanya, ibu kembali membangunkan diriku saat pagi hari untuk menjalankan shalat subuh terlebih dahulu. Karena hari ini aku sedang menginap di villa, jadinya badanku agak terasa pegal karena tidak tidur di alas yang layak pakai. Sehingga terasa sekali sekujur tubuh ini sakit semua. Setelah peregangan tubuh ringan, aku pergi ke kamar mandi untuk wudhu terlebih dahulu.


Karena tidak ada keran di kamar mandi, aku menggunakan shower untuk wudhu. Keren kan, wudhu saja pakai shower. Setelah beres mengambil wudhu, aku kemudian menjalankan ibadah subuh yang selalu rutin aku lakukan. Selesai shalat, aku keliling-keliling ke sekitaran villa ini. Sebelumnya, aku belum muter-muter karena saat sampai di sini, hari sudah terlalu sore, sehingga tidak akan bisa melihat apa-apa saat pergi ke pantai.


Aku mengajak semua anggota keluargaku untuk melihat matahari terbit. Kami masih memiliki waktu sebelum kejadian itu dimulai. Namun akibat baru pada bangun, tidak semua orang mau jalan pagi. Selain bapak, semua anggota keluarga kami jalan kaki menuju ke arah pantai. Kami langkahkan kaki menuju pantai setelah memastikan perlengkapan yang kami pakai sudah lengkap.


Ibu, Lamda, Yana, Arip, dan aku pergi bersama-sama keluar dari kamar. Saat keluar rumah, jangan lupa untuk memakai masker dan membawa hand sanitizer. Hal ini untuk mengurangi kemungkinan kita terjangkit penyakit covid. Karena meskipun vaksin sudah mulai beredar, penyebaranya masih belum merata ke seluruh pelosok Indonesia yang luas ini.


Jangan lupa juga untuk menerapkan 3m. Mencuci tangan, menggunakan masker, dan menghindari kerumunan. Tiga langkah ini mudah untuk dilakukan dan ampuh untuk mencegah penyebaran covid. Pastinya kita tidak ingin orang yang kita cintai terjangkit penyakit ini bukan?


Perjalanan dari villa kami menuju pantai tidak jauh, hanya sekitar lima menit saja. Di jalan, kami bisa menghirup udara segar pantai dan juga merasakan hawa dingin pagi. Sampai di pantai, matahari masih belum terlihat. Kami masih harus menunggu selama beberapa menit sebelum waktu matahari terbit.


“Wah, lihat mas. Matahari terbit!” Ucap Yana sambil menunjuk ke arah laut. Kami semua langsung menengok ke arah yang Yana tuju.


Kebetulan tempat kami berada ternyata bisa melihat matahari terbit dengan jelas. Meskipun kami tidak berada di dataran tinggi, kami bisa melihat dengan jelas matahari terbit dari tempat kami berada sekarang. Berdiri di tepi pantai membuat pemandangan kami tidak terhalangi oleh gedung dan halangan lainnya.

__ADS_1


Selain menikmati matahari terbit, kami juga melakukan foto-foto bersama dengan background matahari terbit. Puas mengambil foto, kami kembali ke villa. Karena setelah makan pagi, katanya akan diadakan lomba dan kegiatan bersama lainnya.


Dalam perjalanan menuju ke villa, aku jadi teringat suatu kejadian yang terjadi saat aku pertama kali menginap di villa ini. Sebenarnya hari ini adalah kedua kali keluarga kami menginap di villa ini. Namun pada saat menginap sebelumnya, ada sebuah insiden terjadi yang masih teringat di benakku hingga saat ini.


*Pada saat pertama kali menginap di Villa*


Saat itu kegiatan masih sama seperti sekarang. Ngumpul bersama, makan bersama, kemudian juga melakukan berbagai macam kegiatan bersama-sama dengan keluarga besar lainnya. Pada waktu itu juga kami menginap satu malam juga di tempat ini. Namun kejadian yang tidak akan kulupakan adalah pada saat esok harinya, setelah menginap semalam di villa ini.


Setelah selesai makan pagi, pada momen itu seluruh anggota keluarga kembali melanjutkan kegiatan yang dapat dilakukan bersama-sama seperti lomba dan kegiatan lainnya. Namun ada juga anggota di balik layar yang sedang mempersiapkan hal-hal untuk acara nanti siang. Acara itu adalah makan bersama di restoran setelah check out dari villa ini.


Seperti menginap di hotel, villa juga memiliki waktu batas kita harus check out. Kalau tidak salah sebelum siang hari tiba, sekitar jam satuan. Kami harus sudah selesai beres-beres dan melakukan check out tempat ini. Karena sepertinya akan digunakan oleh pelanggan villa yang lain. Maklum lah, nasib menggunakan villa yang disewa, belum punya sendiri. Semoga saja suatu saat nanti, bisa memiliki villa sendiri, Aamiin.


Sebelum waktu siang tiba, salah satu tante, tante Ina. Memintaku untuk membawa mobilnya ke restoran tujuan kami makan siang nanti.


“Buat apa tante?” Tanyaku sambil memegang kunci mobilnya.


“Anterin tante Yuk, ke restoran nanti makan siang. Booking tempat sama pesan makanan nya duluan.” Ucapnya sambil bersiap-siap mengambil tas dan dompetnya.


“Tapi tante..”

__ADS_1


“Sudah, gak perlu banyak alasan! malas amat sih disuruh nyetir doang!”


Mendengar tanteku yang tidak mau menerima alasan. Aku malas berdebat dan mengikuti tante menuju tempat mobilnya parkir. Memang aku sudah bisa menyetir, namun karena biasanya aku menggunakan mobil matic, belum pandai aku menyetir mobil kopling. Namun tante Ina tidak memperdulikan hal itu dan tetap menyuruhku untuk melakukannya. Padahal masih ada anak dan juga suaminya yang bisa melakukan hal tersebut.


Ketika kami hendak keluar, terlihat kalau ada mobil yang menghalangi jalan kami. Karena itulah, tante Ina mencari tahu keberadaan si pemilik mobil.


“Oh, teh Ina mau keluar. Boleh nih kuncinya. Nanti dibalikin aja lagi ke posisi sebelumnya kalau sudah selesai.”


Kembali aku menerima kunci mobil dari saudara yang lainnya. Gampang sekali mereka menyerahkan kunci mobil. Kalau aku jahat, sudah ada dua mobil yang berada di genggamanku.


‘Sudah Ray, gak usah mikir yang aneh-aneh’ Aku menghilangkan pikiran aneh itu kemudian memindahkan mobil tersebut sebelum akhirnya aku dan tante Ina keluar dari Villa dengan menggunakan mobilnya.


Aku tidak tahu mengenai otomotif. Setahuku, mobil tante Ina hitungannya mobil kecil dengan empat pintu dan hanya bisa muat 5 orang maksimal, 6 kalau dipaksa. Kemudian mobilnya cukup rendah, mungkin tingginya hanya sekitar satu meteran saja. Pastinya mobil lain akan terasa lebih tinggi kalau kita masuk ke dalam mobil ini. Mobil ini rawan nyangkut di polisi tidur kalau terlalu ceper bagian depannya.


‘Bismillahirrahmanirrahim’ Banyak doa aku ucapkan sebelum mulai pergi dengan mobil.


Karena ini pertama kalinya aku menggunakan mobil asing dan kecil seperti ini. Sebelumnya, aku pernah mengendarai mobil dengan 8 kursi yang lebih tinggi dari mobil ini. Aku nyaman dengan ketinggiannya dan terbiasa menggunakan mobil dengan tipe itu. Terasa sekali saat menggunakan mobil kecil seperti ini, feelnya sangat beda. Apalagi, mobil ini menggunakan gigi manual sehingga aku perlu adaptasi lagi saat berkendara.


Saat hendak keluar dari Villa, langsung aku mendapatkan rintangan. Ternyata jalan keluar menuju villa cukup menanjak. Aku langsung bingung bagaimana menghadapi tanjakan saat menggunakan mobil kopling. Karena saat kursus mobil, aku tidak banyak mendapatkan medan seperti ini. Alhasil, ada momen aku malah kembali turun dan tidak kuat naik mobilnya. Mungkin jenis mobil nya juga berpengaruh, karena kemarin pakai mobil dengan delapan kursi masih lebih mudah pakainya.

__ADS_1


Dengan bersusah payah, akhirnya aku berhasil keluar dari Villa dan masuk ke jalan utama menuju restoran. Bagaimana perjalananku setelah ini? apakah semuanya akan berjalan mulus dan baik-baik saja tanpa hambatan?


*Bersambung*


__ADS_2