
Setelah kereta berhenti sempurna dan pintu kereta terbuka. Aku langsung naik setelah menunggu orang yang akan turun. Etika dari naik kereta adalah membiarkan yang di dalam untuk keluar terlebih dahulu. Kemudian jangan berdiri menghalangi jalan penumpang yang turun. Karena mereka yang harus didahulukan. Setelah penumpang turun, barulah penumpang baru mulai menaiki kereta.
Kalau di stasiun Palmerah ini biasanya tidak terlalu ramai. Karena kebanyakan orang sudah naik dari tanah Abang. Dari stasiun sini yang naik malah jumlah orangnya sedikit. Namun biasanya kereta sudah penuh akan orang. Jarang sekali bisa dapat kursi duduk untuk kereta ini.
Aku berdiri di posisi bisa melihat ke arah jendela. Paling tidak aku bisa melihat pemandangan Jakarta sepanjang perjalanan. Kalau sedang bosan, aku biasanya mendengarkan musik dengan earphone sepanjang perjalanan. Atau membaca beberapa artikel di internet dengan menggunakan handphone.
Nikmat sekali mendengarkan lagu favorit saat sedang naik kereta seperti ini. Memang agak repot kalau tiba-tiba sinyal internet hilang. Bisa-bisa mati musiknya akibat buffering. Lebih aman kita menyimpan lagu dulu secara offline agar bisa kita dengarkan kapanpun dan dimanapun. Selama handphone masih ada baterai. Namun aku tidak melakukan hal itu karena hanya akan membuat storage hp penuh.
Jarang sekali aku melakukan pembicaraan di dalam KRL. Terutama kepada penumpang yang duduk. Karena kebanyakan dari mereka memejamkan mata atau sibuk dengan handphone mereka sendiri. Biasanya aku hanya melakukan observasi sekilas saja penumpang dalam kereta.
Karena ini suasana tahun baru. Aku melihat hanya sedikit orang yang menggunakan seragam atau pakaian untuk pergi kerja. Kebanyakan penumpang adalah orang yang sedang trip dan membawa barang seperti koper.
Gerbong tempatku berada campur antara cewek dan cowok. Heran sekali kenapa ada cewek yang tidak menempati gerbong kereta khusus wanita. Namun dari isu yang aku dengar. Gerbong itu malah lebih bar-bar daripada yang campuran. Kebayang aja kalau satu ibu-ibu ceweknya kayak apa, tiba-tiba lawannya ibu-ibu yang lain. Apa ngak hectic itu gerbong?
Aku teringat ketika sedang pergi nonton ke Jakarta, aku berada di stasiun Sudirman. Isi dari kereta penuh sekali dan berdesakan. Bahkan tanpa pegangan pun aku tidak akan jatuh. Kejadian itu akan aku ceritakan di lain waktu. Untuk saat ini, aku masih berada dalam perjalanan untuk kembali ke kontrakan Tangerang.
Kereta tempatku berada sekarang cukup lega dan tidak terlalu sesak. Meskipun aku tidak mendapatkan tempat duduk. Kakiku masih bebas untuk bergerak ke sana kemari. Karena gempor juga kalau kaki harus menggunakan otot yang sama untuk berdiri terus menerus. Satu jam lebih kemudian, aku akhirnya sampai ke Serpong.
Kulihat cuaca masih hujan. Untungnya aku selalu membawa payung saat berangkat ke kantor. Karena dulu saat pulang kerja, aku pernah kehujanan. Semenjak itulah, aku selalu menyiapkan payung di dalam tas. Seperti kata pepatah, sedia payung sebelum hujan.
Dari stasiun aku pergi ke jalan tempat angkot ngetem. Sama seperti angkot kebanyakan, mereka berjejer menunggu penumpang naik ke dalam mobil mereka. Seperti yang biasa kulakukan, aku memilih angkot yang berada di paling ujung.
Karena biasanya angkot yang sudah diujung akan berangkat dan tidak akan ngetem terlalu lama. Berhasil menaiki angkot, aku kembali menunggu sekitar setengah jam hingga sampai ke tempat tujuan. Turun di dekat JPO seperti saat pulang kerja.
Di perjalanan, aku melihat dengan jelas dampak hujan yang deras tadi malam. Sampai sekarang hujan masih turun ke atas bumi. Banyak sudut kota yang tegang oleh air hujan. Pastinya akan banyak jalan rusak yang muncul setelah kejadian ini.
Untungnya aku tinggal jalan kaki saja sampai ke kontrakan. Tidak masalah meskipun ada becek, tinggal melangkahi atau melompatinya saja. Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya aku sampai ke kontrakan.
Aku sudah tidak sabar untuk istirahat di istanaku ini. Karena rumahmu adalah istanamu. Namun betapa kagetnya aku, saat sudah membuka pintu, semua barang di dalam sudah berantakan dan penuh dengan air dan lumpur.
"Astaghfirullah, apa yang terjadi di sini? Apakah ada maling?' ucapku dalam hati.
__ADS_1
Melihatku yang terkejut, tetangga ku mengatakan kalau tadi malam terjadi hujan lebat. Sehingga mengakibatkan air masuk ke dalam kontrakan dan menyebabkan banjir. Aku hanya bisa pasrah bahwa semua barang elektronik sudah rata akibat banjir. Karena banyak sekali barang yang aku taruh di bawah.
Mulai dari laptop, PS Vita, hingga buku dan komik yang aku beli. Semuanya tanpa pandang bulu terkena banjir. Entah setelah selesai mengurusi ini, ada yang bisa selamat atau tidak. Sedih sekali kalau ternyata alat-alat elektronik yang selama ini menamiku sudah rusak semua.
Saat ingin membersihkan kontrakan, aku teringat kalau di dalam kontrakan sama sekali tidak ada kain pel. Karena itulah aku meminjamnya dari punya ibu kos.
"Assalamualaikum, permisi Bu. Boleh pinjam kain pelnya? Saya mau bersih-bersih habis kebanjiran kemarin kamarnya."
Ibu kos langsung masuk ke dalam untuk mengambil barang yang kuminta "Ini mas, tadinya mau saya bersihkan, ternyata dikunci pintunya. Terus di telpon dan sms gak diangkat. Mau saya bantu beres-beres?"
"Gak perlu Bu, saya bisa sendiri. Nanti sprei kasur dan karpet bisa saya laundry di sini Bu? Basah semua karena hujan."
"Boleh banget, langsung bawa saja ke sini."
Selesai meminjam alat, aku langsung membersihkan kamar ku. Semua barang yang tidak selamat seperti kardus dan bahan makanan langsung saya buang semua. Dari dalam kamar, semua barang yang sudah tidak bisa digunakan aku lempar ke luar rumah. Meskipun ini tidak sopan, namun untuk mempercepat bersih-bersih, aku terpaksa melakukannya.
Kamar kontrakan terdiri dari 3 bagian. Bagian depan, tengah, dan belakang. Bagian depan biasanya aku taruh sepatu, kardus, dan barang-barang yang jarang aku sentuh. Seperti gudang fungsinya ruang depan ini.
Aku memutuskan untuk membersihkan bagian depan terlebih dahulu. Karena disini mudah dibersihkan. Semua barang yang ada di sini otomatis menjadi sampah. Ruang depan beres, barang yang ada di tengah dan masih bisa diselamatkan aku letakkan ke depan terlebih dahulu.
Barang-barang seperti buku dan baju aku taruh di depan yang sudah bersih. Setelah itu barulah aku membersihkan bagian belakang. Bagian ini cukup mudah karena hampir tidak ada barang di sini. Hanya ada baju kotorku dan kompor saja.
Sayang, sepertinya kompornya sudah waktunya dibuang. Nanti aku akan mencobanya setelah beres bersih-bersih. Kalau sudah tidak berfungsi, waktunya kompor ini berhenti untuk menghabiskan space di tempatku. Dua jam berjuang, akhirnya kamar kontrakan selesai aku bersihkan. Semua lumpur dan becekan di dalam kamar semuanya sudah bersih. Lantainya juga sudah aku pel. Ini pertama kali aku mengepel lantai kosku.
Aku memberikan karpet yang basah ke tempat laundry. Selain karpet, aku juga memasukkan baju-baju yang tidak selamat dari banjir untuk dicuci oleh mereka. Karena aku ingin besok istirahat penuh sehabis membersihkan kamarku ini.
"Ini mas, pakai saja dulu."
"Wah, yang bener Bu? Makasih ya, saya pinjam dulu."
Ibu kos meminjamkan karpet untuk tidur. Untungnya kasurku merupakan kasur angin, sehingga meskipun basah terkena air. Airnya tidak akan merembes ke dalam kasur dan kasur masih bisa digunakan. Namun sayangnya, karpet yang ada di dalam kamar tidak selamat. Padahal karpet ini berguna sekali untuk aku melakukan aktivitas selama di ruang tengah. Untungnya ada karpet yang diberikan oleh ibu kos, sehingga malam ini aku masih ada karpet sehingga kulitku tidak perlu merasakan dinginnya lantai.
__ADS_1
Setelah menaruh karpet, aku mencari makan di luar dan makan di luar juga. Karena semua alat makan belum saya cuci. Semua stok makanan seperti beras, mie, dan kornet semuanya aku bersihkan. Khawatir ada kuman atau bakteri di dalamnya. Untuk cari aman, aku membuang semua stok makanan yang aku miliki.
"Misi Bu, makan di sini satu."
"Siap mas, gimana kabarnya? Aman dari banjir?"
"Alhamdulillah basah semua Bu, hahaha."
Saat ini aku sedang berada di restoran padang langgan. Sudah sering aku membeli makanan di sini. Biasanya sih belinya di bungkus, namun karena kali ini aku belum sempat mencuci peralatan makan. Kali ini aku memiliih untuk makan di tempat. Pelayan di tempat ini cukup baik. Tidak perlu menunggu waktu lama sampai makanan datang ke atas meja.Karena tinggal mengambil makanan jadi, tidak perlu masak terlebih dahulu.
“Ini mas makananya, selamat menikmati!”
“Terima kasih. bismillahirrahmanirrahim”
Setelah makanan datang, aku mencuci tangan kemudian berdoa terlebih dahulu. Rasa makanan ini nikmat sekali, apalagi setelah capek beres-beres kamar tadi. Aku merasakan beberapa persen energi dalam tubuhku kembali setelah selesai makan. Beres makan malam, aku kembali ke kontrakan dan update kabar terkini ke ibu dan saudara yang lain.
"Alhamdulillah kabarmu baik nak. Gapapa barang rusak bisa dicari lagi. Yang penting kamu sehat dan gak kenapa-napa"
"Iya mah, terima kasih. Sudah dulu ya, aku mau tidur dulu. Badan sudah lelah"
Aku mengabari ibu tentang situasi saat ini. Mulai dari barang apa saja yang rusak. Kegiatan saat tahun baru, hingga kondisi terkini kamarku saat ini. Kalau dilihat sekilas, kamarku sekarang sudah beradap style minimalis, karena sudah banyak barang yang dibuang akibat terkena banjir.
Setelah mengucapkan salam kepada ibu, aku mematikan telepon. Memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal, aku bersiap-siap untuk tidur. Sambil memejamkan mata, aku membayangkan apa saja yang sudah terjadi seharian ini.
Terjebak di Jakarta karena hujan deras, pesta tahun baru, dan kontrakan terkena banjir. Banyak sekali hal yang sudah aku alami selama satu malam. Namun kalau diingat, sepertinya semua ini terjadi karena Zul telat datang ke tempat ngumpul.
Kalau saja dia datang sesuai jadwal dan aku pulang sesuai rencana, tidak mungkin aku mengalami kehilangan seperti ini. Amarah mulai tumbuh di dalam diriku dan hendak memukul orang tersebut kalau ia ada di depanku.
'cukup Ray, sabar. tidak boleh menyalahkan orang seperti itu. Kamu harus memperbaiki diri sendiri. Hal itu lebih penting daripada menyalahkan orang lain!' mudah sekali untuk menyalahkan orang lain saat suatu kejadian terjadi. Namun lebih baik kalau kita mengarahkan semuanya kepada kita. Agar kita menjadi pribadi yang lebih baik dan memiliki mindset yang berkembang.
Contohnya coba saja aku bisa lebih cepat untuk memutuskan pulang, coba saja aku tidak mengiyakan menginap ke tempat teman. Atau bisa saja aku menitipkan kunci ke ibu kontrakan. Banyak sekali hal yang bisa aku lakukan untuk menghindari kejadian ini.
__ADS_1
Namun nasi telah menjadi bubur. Aku yakin rencana yang di Atas lebih baik dari semua rencana. Suatu saat nanti, siapa tahu akan ada hikmah yang kudapatkan dari kejadian ini.