
Ketika kami sudah memasuki restoran, aku lihat tempat ini cukup bagus interiornya. Semuanya berwarna merah dengan paduan warna biru. Tempatnya juga cocok untuk nongkrong dengan AC yang menyala sehingga tidak membuat gerah.
Sebelum pesan makanan, aku meminta Lamda untuk mencari kursi terlebih dahulu. Karena tempat ini tidak menyediakan sistem booking. Sehingga siapa yang cepat, dia yang dapat.
Takutnya kalau semuanya ikut ngantri pesan makanan, malahan nanti tidak kebagian tempat duduk. Masa iya udah capek jalan ke sini makanya masih harus berdiri.
Saat Lamda sudah menemukan tempat, aku mulai mengantri untuk memesan makanan. Untung nya ngantrinya tidak terlalu lama, karena aku sudah capek kalau harus berdiri mengantri terlalu lama. Mungkin karena sekarang masih pagi, sehingga jumlah orang yang mengantri tidak terlalu banyak.
Tidak hanya pelanggan, aku juga melihat ada beberapa ojol yang sudah standby untuk memesan makanan. ternyata tidak hanya kami yang memesan fast food sebagai sarapan. Kalau sekali-kali sih tidak apa. Cuma kalau setiap hari makan fast food terus, apakah kesehatan tubuhnya baik-baik saja?
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya aku sampai ke meja kasir dan disambut. "Selamat datang di KPC, mau pesan apa?” Tanya mbak kasir kepadaku.
"Saya mau pesan paket yang itu kemudian tambahan nasinya ya" Ucapku sambil menunjuk menu yang aku pilih.
"Baik mas, tunggu sebentar ya"
Setelah menerima pesanan ku, ia langsung pergi ke belakang untuk mempersiapkan makanan yang aku pesan. Paket yang aku pesan nasinya kurang sehingga aku meminta tambahan nasi. Kalau makan cuma lauk doang, Lamda yang biasanya makan banyak mana mungkin kenyang.
Beberapa menit kemudian, pesanan sudah selesai dan ia menyerahkan pesanan tersebut di atas nampan. Memang tempat fastfood ini pelayanannya cepat karena tinggal ambil makanan yang sudah siap saji. Kalau ternyata ada yang menunggu pesanannya lama, itu bisa saja terjadi karena makanan belum matang atau staf nya kurang lihai dalam packing makanan.
"Ini pesanan ya sudah semua ya mas, totalnya jadi.. "
"Sep, ini mbak uangnya. Terima kasih ya"
"Uangnya saya Terima ya, ini kembaliannya. Terima kasih sudah datang ke KPC."
Mbak mbak kasir menerima uangku kemudian memberikan kembalian dari kelebihan yang aku bayarkan. Saat ini aku belum terlalu menggunakan fitur cashless sehingga masih menggunakan uang kertas. Karena aku masih khawatir masalah jaringan serta masalah-masalah lainnya yang muncul kalau menggunakan aplikasi tersebut.
Setelah menerima makanan, aku mengantarnya ke tempat Lamda duduk.
"Yey, makanan sudah datang!" Ucap Lamda dengan riang gembira.
"Cuci tangan dulu sebelum makan, nanti mas siapkan mejanya."
Sebelum makan, kalian harus mencuci tangan, karena kita tidak tahu, kuman apa saja yang menempel dari barang yang kita pegang. Seharusnya kalau kita menerapkan cuci tangan sebelum makan, akan berkurang kemungkinan tubuh kita terserang penyakit.
__ADS_1
Lamda selesai mencuci tangan dan kembali ke meja makan. Kemudian, gantian aku yang harus cuci tangan. Takutnya, kalau semua barengan ke wastafel secara bersamaaan, bisa hilang nanti mejanya diduduki orang. Aku mencuci tanganku dengan ari dan juga sabun yang telah disediakan. Setelah beres, aku kembali ke meja makan setelah mengeringkan tanganku dengan dryer.
"Berdoa dulu Lamda sebelum makan. "
"Iya mas. "
Selesai berdoa, barulah kami memakan makanan yang kami pesan. Menu kali ini cukup sederhana. Hanya nasi, ayam, dan cola saja. Memang restoran cepat saji makannya yang seperti ini. Rasanya enak namun untuk kualitas gizinya masih perlu diteliti lebih lanjut.
Enak dirasa, tapi jangan sampai terlalu sering makanya. Takutnya tidak baik untuk kesehatan. Apalagi keliatan banget pastinya ada kolesterolnya makanan ini. Kami juga makan langsung dengan menggunakan tangan. Entah kenapa, restoran barat kok tidak menyediakannya alat makan? Apakah di tempat aslinya mereka juga makan seperti ini?
Kalau sedang makan seperti ini, biasanya keluarga kami semuanya diam, tidak ada yang berbicara. Karena takut tersedak dan terjadi hal hal yang tidak diinginkan lainnya. Sesi makan kami kali ini tidak banyak obrolan yang terjadi. Karena memang Lamda anaknya pendiam dan hanya ngomong seperlunya saja.
Beres sarapan, aku mengajak Lamda untuk membeli minum untuk orang yang ada di dalam mobil seperti Yana dan Om Maman. Takutnya mereka dehidrasi ditinggal di dalam mobil.
"Ngapain mas kita ke sini? " Tanya Lamda sambil nada agak tinggi. Sepertinya ia sudah tidak sabar ingin kembali ke mobil.
"Beli minum de, kamu mau minum apa? "
Mendengar aku menawarkan minum, Lamda langsung berubah menjadi ceria dan pergi ke rak tempat minuman berada. Ia melihat berbagai macam minuman yang ada dengan mata berbinar-binar.
Kami harus berhati hati saat menyebrang karena masih banyak orangtua yang mengantar anaknya wisuda. Sehingga membuat lalu lintas di sekitar kampus adikku menjadi padat. Jangan lupa untuk melihat ke arah kiri dan kanan sebelum menyebrang jalan.
Ketika sudah sampai di mobil, kami kembali sibuk masing-masing dengan gadget kami sambil menunggu orang-tua ku dan Arip kembali ke mobil.
"Beberapa menit kemudian*
"Mas, itu papah dan mamah bukan? " Tanya Yana kepadaku sambil menunjuk ke kurumuman.
Saat aku melihat arah yang Yana tunjuk, benar saja, mereka sudah selesai acara wisuda. Bapak dan Ibu, mengenakan pakaian yang rapi. Kemudian Arip masih mengenakan pakaian wisuda lengkap dengan topinya. Mereka tiga sudah kelihatan menunggu kami dan om Maman dengan sigap langsung mulai menjalankan mobil.
"Om, pergi ke sana om untuk jemput mereka."
"Siap!"
Om maman langsung menjalankan mobil agar persis berhenti di samping mereka. Tidak mungkin kami membiarkan orang tua kami jalan kaki terlalu jauh. Melihat mobil yang sudah datang, ketiga orang yang sudah menunggu tadi langsung naik ke mobil secara perlahan-lahan. Namun kami tidak boleh terlalu lambat dalam naik mobil, kasian yang di belakang ngantri menunggu kami.
__ADS_1
Saat semuanya sudah naik ke dalam mobil. Aku memberikan selamat kepada Arip.
"Selamat wisuda ya Arip. Semoga cepat diterima kerja dan menjadi anak yang shaleh.”
"Aamiin, makasih mas"
Selain diriku, semua anggota keluarga yang lain juga memberikan selamat kepada Arip. Sebelum pulang, kami mampir ke fakultas tempat Arip kuliah terlebih dahulu.
"Mau apa ke sana Arip? "
"Ada acara Pah di sana, sekalian sholat dzuhur aja disana terus nanti cari makan siang. "
Dari kampus pusat ke fakultas Arip tidak jauh, hanya beberapa menit saja, tidak sampai 2 kilometer jauhnya. Saat sampai di sana, Arip langsung melanjutkan acara sedangkan keluarga yang lain shalat terlebih dahulu.
Musholanya tidak terlalu besar, cukuplah untuk level mushola Fakultas. Sayangnya, karena banyak yang hadir di sini akibat acara wisuda, tempat ini terasa sesak. Aku khawatir dengan ayahku karena sudah berumur, karena itulah aku selalu jalan dekat denganya agar jika terjadi sesuatu, aku bisa dengan cepat membantunya.
Beres shalat, kami menunggu Arip selesai acara kemudian melanjutkan acara makan siang.
Entah apa yang dilakukan Arip saat acara Fakultas. Apakah dia hanya ngobrol saja? Atau ada hal penting yang dekan Fakultas ingin bicarakan? Aku tidak mengetahuinya dan memang tidak menanyakan hal itu karena menurutku, itu sama sekali bukan urusanku.
Beres acara wisuda, kami sekeluarga pergi mencari makan siang. Saat sudah muter muter ke sana kemari, akhirnya kami memutuskan makan bakso untuk siang hari ini.
Tidak ada yang spesial dari bakso di tempat ini. Namun yang membuat bakso ini enak adalah kami semua bisa makan lengkap satu keluarga makan bareng. Entah berapa kali momen seperti ini dapat kami lakukan. Setiap momen bersama seperti ini harus dinikmati sesering mungkin.
Bakso yang aku makan hanya aku berikan bumbu kecap dan sedikit sambal. Karena aku tidak terlalu suka makanan pedas. Di lidah enak, tapi nanti di perutnya bisa mules sehingga nantinya akan bolak balik kamar mandi.
Setelah makan bakso selesai, kami kembali ke rumah untuk menjemput nenek dan bude yang ada di sana. Karena setelah ini, kami akan mengambil foto untuk mengabadikan momen sarjana adiku Arip.
Tempat kami mengambil foto cukup jauh dari tempat nenek. Mungkin sekitar setengah jam lebih perjalanan harus kami tempuh untuk sampai ke sana. Ditambah dengan kemacetan di jalan, tidak heran kalau jalan-jalan di kota pelajar ini dapat digunakan untuk menguji kesabaran orang saat menyetir. Karena penuh dengan kemacetan.
Pastinya kalau akan foto foto. Setiap orang yang ikut harus menggunakan kostum yang bagus agar terlihat tampan di kamera.
Member yang ikut berfoto cukup banyak. Mulai dari aku, Arip, ayah, ibu, Lamda, Yana, Nenek, dan bude Nana. Entah nanti saat foto kami semua akan bisa masuk ke dalam satu frame atau tidak. Karena isinya keluarga kebanyakan adalah kelas berat.
Kira-kira, seperti apa pakaian yang akan kami gunakan untuk sesi foto nanti? Saksikan di chapter berikutnya dalam novel dunia kerja penuh warna.
__ADS_1
*bersambung*