
Meskipun kondisi bapak sekarang sedang berada di rumah sakit. sebagai pegawai kantoran yang memiliki tanggung jawab. Aku harus masih menjalankan tugas kantor yang datang kepadaku. Untungnya saat ini kerja sudah mulai dari rumah (WFH) sehingga kalau ada apa-apa, aku bisa langsung mengurus bapak karena saat ini domisili berada di rumah. Tidak ngontrak di Tangerang seperti tahun lalu.
Lagipula Kontrakan di sana sudah aku serahkan kembali. Karena kantor sepertinya masih lama melakukan WFH dan tidak ada indikasi akan masuk ke kantor kembali dalam waktu dekat. Untuk menghemat ongkos, aku memutuskan untuk melepas kontrakan yang ada disana.
Di saat aku sedang kerja di kantor, aku mendengar sebuah berita mengenai kondisi pemerintahan Indonesia saat ini. Bagaimana banyak pihak berusaha untuk membuat aturan secara singkat dan menolong banyak orang semasa pandemi ini. Karena semua negara belum siap untuk menghadapinya.
Dengan virus yang baru ini, kita juga memerlukan inovasi baru untuk mengatasi masalah ini. Namun selama solusi nyata masih belum terwujud, alangkah baiknya kita mengikuti anjuran pemerintah. Tidak terlalu sulit, kita hanya perlu mengenakan masker, mencuci tangan, dan menjauhi kerumunan. Ada banyak cara lagi untuk mengurangi covid, namun 3m yang saya sebutkan tadi merupakan cara paling mujarab yang telah diketahui untuk saat ini.
Mbah saya yang hampir tidak pernah keluar rumah saja bisa kena dari orang luar yang mampir. Apalagi orang yang sering bepergian nongkrong ngak jelas di luar rumah. Entah sekarang masih ada atau tidak, orang yang tidak percaya covid. Pastinya yang percaya adalah yang dari keluarga ada yang kerja sebagai dokter atau pernah sendiri mengalaminya.
Melihat presiden kita Mr J memberikan penjelasan mengenai isu terkini ini. Aku jadi teringat saat aku menjadi panitia KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) dahulu. Pada saat itu bulan April tahun 2019. Indonesia mulai ramai dengan pesta politiknya memilih presiden yang baru. Dengan dua calon presiden yang mencalonkan diri untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia.
Pada saat itu aku ingat sekali kalau belum ada sebulan aku kerja di Tangerang. Pada saat itu, aku mendapatkan telepon dari bapak mengenai hal ini.
“Halo bapak. Ada apa? tumben nelpon? "
“Begini Ray, bapak mau ngomong sesuatu.”
Di dalam telepon, ia menceritakan kalau aku dicalonkan sebagai panitia KPPS. Tanpa persetujuan dariku sebelumnya. Aku saja tidak tahu apa itu KPPS, tiba-tiba disuruh ikut. Pengurusan dokumen memang sejak aku mengajar sudah mulai diurus. Mulai dari pengumpulan surat keterangan kesehatan dan syarat-syarat lainnya.
Ingin sekali menolak tawaran itu namun karena bapak kekeh aku harus ikut. Dengan sifat bapak yang keras tidak mungkin mengubah keputusannya. Akhir Nya mau tidak mau aku terjebak masuk ke dalam anggota KPPS. Tidak disangka, saat aku baru mulai bekerja di Tangerang, malah sudah disuruh untuk mengemban tugas yang berat ini.
“Baiklah Ray, itu saja yang ingin bapak sampaikan. Nanti hari H pemilu jangan lupa datang ke sini. Jangan buat bapak Malu. ”
*Tuut..tuut…tuut*
__ADS_1
Setelah kalimat perpisahan yang menurutku agak mengancam itu, bapak menutup telepon. Aku hanya bisa menghela nafas saja dan memulai rencana untuk pulang kembali ke kampung halaman saat pemilu berlangsung nantinya. Untungnya dari Tangerang pulang ke rumah hanya memakan waktu sekitar 2-3 jam memakai kendaraan umum. Tidak sejauh kalau dari Jogja.
Aku berhasil kembali kurang lebih satu hari sebelum pemilu berlangsung. Karena Ada beberapa hal yang harus diurus sebelum hari H pemilu.
“Ray, pergi kamu sana menghadap pak RT, untuk absen sebagai KPPS.” Ucap bapak dengan nada tinggi Dan menyuruh-nyuruh.
Baru saja pulang dan naruh tas, belum sempat duduk , malah di suruh keluar lagi. Emosi sudah memuncak namun melihat ibu yang memberikan isyarat untuk sabar, aku hanya istigfar dalam hati kemudian langsung pergi menuju tenda KPPS yang sudah selesai di bangun.
“Eh, si Ray sudah datang. Ayo tanda tangan di sini terus ambil amplopnya.” Ucap pak RT sambil menyuruh tanda tangan di kertas yang sudah tersedia.
Kulihat sekilas, hanya ada beberapa orang saja yang menjadi panitia untuk pemilu kali ini. Mungkin tidak sampai sepuluh orang jumlahnya. Setelah tanda tangan, aku menerima ampok yang berisi upah untuk kegiatan yang akan terjadi esok hari.
“Tidak apa-apa ini dibagikan sekarang?” Tanyaku kepada pak RT.
Benar juga sih kata pak RT. Karena yang menjadi panitia adalah warga sekitar, tidak sulit untuk mencari keberadaan mereka. Apalagi tempat tinggalku berada persis di sebelah KPPS. Karena itulah aku tidak mungkin bisa melarikan diri.
Setelah ngobrol sebentar dengan pak RT dan anggota yang lain, aku langsung kembali ke rumah untuk istirahat lebih cepat malam ini. karena besok akan terjadi even yang sangat besar. Kalau besok kurang istirahat, bisa berabe nantinya.
*Keesokan harinya*
Aku terbangun setelah mematikan alarm yang aku siapkan. Shalat subuh aku laksanakan kemudian aku langsung segera sarapan karena untuk panitia KPPS ngumpulnya cukup pagi, pukul 06 tepat. Setelah mengenakan seragam celana panjang dan baju kemeja, aku dengan pede pergi ke tempat kami seharusnya berkumpul. Namun belum apa-apa, aku malah disuruh pulang untuk ganti baju.
“Ray, gak boleh pakai kemeja, ganti pakai batik lengan panjan saja. ada kan?” Ucap pak RT sambil memberikan isyarat untuk kembali pulang.
Mendengar perintah pak RT, mau tidak mau aku langsung pergi kembali ke rumah kemudian meminta ibuku untuk mengambilkan baju batik. Karena aku tidak tahu dimana letak baju tersebut disimpan.
__ADS_1
“Bagaimana dengan yang ini Ray?”
“Cocok mah, aku coba dulu ya”
Untungnya batik yang ibuku ambilkan ukuranya pas. Sambil berpose di cermin, aku kembali berpamitan dengan Sudan mengenakan baju batik. Setelah berkumpul, pak RT akhirnya memulai pembukaan acara pemilihan umum untuk tahun 2019 ini.
“Ayo, semuanya baris di sini. Kita mulai upacara pembukaan dulu”
Kegiatan ini mengingatkan diriku saat dulu upacara bendera. Memang kalau acara di badan pemerintahan seperti ini, semuanya penuh dengan seremonial yang kurang lebih memakan waktu yang tidak sedikit. Upacara ini dimulai dengan ucapan pembukaan, penjabaran kegiatan hari ini, kemudian ditutup dengan doa.
“Aamiin”
Setelah semua sesi pembukaan selesai, barulah kami mulai bergerak untuk membuka bilik suara dan yang lainnya.
“Baiklah bapak ibu, ayo stand by di tempat sesuai dengan instruksi kemarin”
“Siap” ucap semua panitia menjawab pak RT.
Akhirnya kegiatan pemilu dimulai. Kira-kira, apakah semuanya akan berjalan lancar? karena ini adalah pertama kalinya aku mengikuti kegiatan seperti ini. Semoga saja tidak ada kendala yang berarti untuk acara kali ini. Sehingga acara lancar jaya dari mulai hingga selesai nantinya.
Aku sendiri stand by dekat dengan pintu keluar, menjaga tinta dan memastikan semua pemilih yang sudah selesai jarinya sudah diolesi oleh tinta yang telah disiapkan. Pekerjaan yang cukup simple tapi harus dengan teliti. Tidak boleh lengah sehingga ada pemilih yang terlewat dan lupa mencelupkan jari mereka.
*bersambung*
*chapter sebelumnya belum sempar aku edit
__ADS_1