
Kembali ke masa setelah selesai mengurus akhir semester. Semua guru mendapatkan liburan sama seperti muridnya. Inilah salah satu kelebihan sebagai guru. Mendapatkan libur sama seperti siswa yang dapat libur panjang. Berbeda dengan karyawan kantoran yang harus mengambil cuti hanya untuk mendapatkan libur panjang.
Pada liburan kali ini, semua anggota keluarga sudah sangat bergembira. Karena kami sedang bersiap untuk pergi liburan. Apalagi momen ini hanya datang satu semester sekali. Ketika adik-adik dan orang tua mengambil cuti liburan untuk bepergian.
"Sudah siap anak-anak? Sebentar lagi akan berangkat." Ucap ibuku sambil mengecek apakah semua barang telah dibawa.
"Ayo cepat, lama amat sih, jangan lelet." Omelan bapaku sambil duduk di kursi depan. Tidak membantu bawa apapun namun pengen kegiatan berkemas cepat selesai. Kalau mau cepat ya bantuin kek. Memang aneh kadang-kadang kelakukan bapakku yang satu ini.
Sebagai anak yang paling tua, pastinya aku harus membantu ibu untuk berkemas. Perjalanan kali ini kami membawa banyak barang. Terutama baju ganti. Karena kami akan menetap di Jogja selama beberapa hari.
Untuk bajuku sendiri tidak bawa banyak. Karena baju saat aku kuliah masih ada di Jogja. Kesempatan pergi ini juga adalah waktu yang tepat untuk mengambil nya kembali. Daripada menumpuk di jogja tidak terpakai dan hanya menjadi tempat berkumpulnya debu.
"Ayo kakak, cepet naik. Biar lebih cepat ketemu eyang."
"Ayo kak naik"
Kedua adikku Yana dan Lamda memintaku untuk cepat naik ke mobil. Mereka berdua masih kecil sehingga tidak membantu bawa barang yang berat. Namun semangat mereka juga sudah cukup untuk membuatku bertenaga. Setelah beres berkemas, aku naik ke dalam mobil.
"Sudah beres semuanya nak?" Tanya ibu kepadaku.
"Sudah Bu, semua sudah beres. Barang sudah masuk ke dalam mobil."
Ibu mengecek kembali barang di belakang mobil. Tentunya kami juga mengecek apakah sudah mengunci pintu depan rumah. Tidak lupa pintu belakang juga harus di cek sudah terkunci dengan benar atau belum.
"Sudah siap, ayo berdoa dulu sebelum berangkat. Berdoa dimulai." Bapak memimpin doa sebelum memulai perjalanan. Kegiatan seperti ini tidak boleh sampai terlewatkan. Karena kita tidak akan tahu apa yang akan ada di jalan. Kita harus berusaha untuk mengemudi dengan aman ditambah berdoa kepada yang Maha Kuasa.
"Berangkat Maman"
“siap"
Kami menggunakan mobil bapak untuk pergi ke Jogja. Mobil Pajero sport keluarga ini sudah menjadi andalan kami untuk perjalanan jarak jauh. Sedangkan mobil kecil digunakan saat berkeliling dalam kota.
Di dalam mobil terdapat 6 orang. Bapak dan om Maman di depan. Ibu dan Yana di tengah. Sedangkan aku bersama dengan Lamda duduk di belakang. Sedangkan Arip masih berada di Jogja sehingga ia hanya menanti di tempat tujuan saja untuk menyambut kami.
Beserta banyaknya barang di bagasi, kami berangkat ke Jogja saat malam hari. Kebiasaan keluarga kami, ketika akan pergi jauh, pasti berangkatnya malam.
Karena biasanya kami tidur saja dan membiarkan supir melakukan tugasnya. Kemudian barulah saat bangun sudah sampai ke tempat tujuan. Namun aku sebisa mungkin melek saja kemudian mendengarkan musik dengan handphone yang sudah di colokan earphone pada tempatnya.
__ADS_1
Perjalanan dari tempat kami ke Jogja cukup jauh. Kurang lebih 12 jam harus kami tempuh untuk sampai ke sana. Apalagi kalau macet, pasti semakin lama durasi perjalananya.
Di awal perjalanan aku masih sempat melek untuk melihat pemandangan di jalan. Meskipun bosan sekali hanya melihat pemandangan yang monoton itu itu saja.
Hanya musik yang bisa mengurangi sedikit rasa bosanku dalam perjalanan. Karena kalau sambil menonton video di jalan, mataku terasa berputar dan kepala menjadi pusing.
Musik yang aku dengarkan cukup beragam dan berbagai genre. Namun biasanya aku mendengarkan lagu dari negara sakura. Jarang aku mendengarkan musik barat atapun Indonesia.
"Belok dulu ke minimarket biru man"
"Siap kang" dengan sigap Om Maman langsung belok masuk ke minimarket.
Sebelum masuk tol biasanya kami mampir ke minimarket “biru” terlebih dahulu. Kadang kalau saldo e-money habis di sini, kami pergi ke minimarket “merah” sebagai alternatif.
Tentunya bukan bapak yang masuk ke dalam untuk beli. Aku menemani ibu untuk mengisi saldo e-money dan belanja untuk bekal perjalanan. Sebagai anak yang baik, akulah yang membawakan barang belanjaan untuk ibu.
"Totalnya … bu." Ucap kasir sambil membacakan jumlah rupiah yang tertera.
Kami langsung kembali ke mobil setelah ibu selesai membayar. Kalau belanja terlalu lama, biasanya bapak ngomel lagi kenapa belanja doang kok lama. Aku dan yang lain hanya bisa tertawa pahit saja setiap bapak ngomong seperti itu.
Ketika semua sudah duduk dengan benar, kami melanjutkan perjalanan. Jangan sampai ada yang ketinggalan. Tidak lucu kalau hanya karena buru-buru, sampai ada orang yang tertinggal.
Lucunya, bapak malah jadi doyan jalan-jalan saat menginjak usia senja. Dulu pas masih muda dan kuat, diajak jalan malah ogah-ogahan. Ketika sudah ada waktu senggang seperti sekarang, malah tidak bisa pergi jauh karena masalah usia. Kasihan juga melihat bapak yang seperti itu
Namun itu semua sudah risiko bapak karena kurang menjaga kesehatan dan masih tetap merokok meskipun sudah diingatkan berkali-kali. Dia harus berani bertanggung jawab atas pilihan yang ia ambil.
‘Semoga saja perjalanan menuju Jogja kali lancar tanpa hambatan’ doaku dalam hati sambil menutup mata untuk tidur.
*Beberapa jam kemudian*
Mobil berhenti di rest area untuk mengisi bahan bakar. Kesempatan ini aku gunakan untuk pergi ke toilet. Karena aku trauma dimarahi ketika minta kencing saat sedang perjalanan. Saat berhenti di rest area, aku selalu pergi ke toilet.
Hal inilah yang juga menyebabkan diriku jarang minum saat perjalanan. Karena khawatir kebelet di jalan dan dimarahi kembali. Dari kecil sudah seperti itu sehingga aku membuat kebiasaan untuk menghindari hal tersebut. Sepertinya inilah yang sering dibilang trauma.
“ayo, ada yang mau ke kamar mandi gak?" Tanyaku kepada semua orang di dalam mobil.
Om Maman biasanya menggunakan kesempatan berhenti untuk meregangkan tubuh kemudian ngudut sebentar. Sedangkan aku biasanya ke toilet sambil mengantar bapak dan Lamda.
__ADS_1
Usia bapak ini sudah memprihatinkan, saat di jalan seperti ini harus dijaga. Khawatir tiba-tiba bapak jatuh tanpa ketahuan.
Jalan saja sudah mulai sempoyongan. Tapi digandeng malah kadang gak mau. Jadi bingung bagaimana cara menghadapi bapak ini. Aku hanya banyak berdoa saja agar bapak jauh dari bahaya.
Sedangkan Lamda saat ini masih kecil sehingga kalau tidak dijaga, takutnya ia diculik, tersesat, atau terkena masalah yang lain.
Momen berhenti ini juga jarang dilakukan. Mungkin hanya beberapa jam sekali. Kadang berhenti kalau mau melakukan shalat atau ada yang lapar saja untuk mencari makan. Selain itu, om Maman dengan sigap selalu meluncur untuk sampai ke tujuan tanpa henti.
*Memasuki Jogja*
"Ayo bangun nak, sudah mau sampai"
"Hmm?.."
Ketika sebentar lagi akan sampai di Jogja. Ibu langsung membangunkan semua yang ada di mobil untuk bersiap. Agar nanti saat sampai di tempat Eyang, kami bisa langsung ganti tempat tidur. Tidak perlu ada drama ngambek ketika dibangunkan dari tidurnya.
Karena biasanya semua anggota keluarga sulit untuk dibangun kan. Membangunkan terlebih dahulu sebelum sampai di tempat tujuan sudah menjadi kebiasaan dari keluarga ini.
Di waktu ini aku juga sudah bisa mengenali beberapa jalan di sini. Karena aku pernah kuliah di Jogja. Tidak terasa aku sudah kembali lagi ke tempat ini, meskipun belum ada setahun aku menjalani wisuda.
Apalagi kalau ke Jogja melewati Magelang. Aku sudah familiar dengan tempat itu. Karena dulu biasanya aku jalan-jalan ke daerah ini. Mengingat dari kampusku bisa melihat Merapi setiap pagi. Hanya butuh waktu satu jam dari kosku di Jogja untuk mencapai Magelang.
Setiap melewati jalan ini aku jadi nostalgia. Ini kedua kalinya aku ke jogja setelah lulus kuliah. Pertama kali kembali ke sini adalah ketika aku mengambil tes di salah satu rumah sakit di Jogja.
"Alhamdulillah, kita sampai dengan selamat" setelah bersyukur bisa sampai dengan selamat. Perlahan kami semua keluar dari mobil.
Pertama kami turunkan bapak dulu, agar ia bisa langsung istirahat. Karena repot nanti kalau dia ngomel saat turun dari mobil dan kami masih berada di dalam.
Jalan di tempat eyangku penuh dengan lalu lalang kendaraan, karena terletak di pinggir jalan raya. Sering kali mobil lalu lalang lewat di tempat ini. Jangankan kendaraan roda empat, terkadang bus pariwisata malah melewati tempat ini. Memang bisa dibilang cukup ekstrim untuk parkir di daerah ini.
Jadinya ngeri sendiri saat lihat bus mepet dengan mobil kami yang parkir di pinggir jalan. Karena rumah Eyangku tidak memiliki bagasi mobil. Kalau setiap hari parkir mobil seperti ini, bagaimana yang punya mobil bisa tidur dengan tenang. hahaha.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Alhamdulilah sudah sampai, ayo duduk dulu. Ada yang mau minum?"
Setelah selesai menurunkan semua barang, kami langsung istirahat dengan tenang. Tidak mungkin kami langsung pergi karena baru Saja sampai di Jogja. Mungkin besok barulah kami mulai jalan-jalan keliling Jogja.
__ADS_1
Apalagi dengan usia bapak dan ibu yang sudah tidak muda lagi. Kita tidak bisa memaksakan jalan kalau badan mereka belum pulih dari capeknya perjalanan. Lagipula masih ada hari esok, tidak perlu dipaksakan jalan-jalan saat ini juga.