
Sudah satu hari lamanya kami istirahat di tempat Yangti. Adikku Arip tidur di kamar atas bersama dengan om Maman. Ibu dan bapak tidur di kamar lantai satu. Kemudian adikku Yana dan Lambda tidur bersama mereka.
Sisanya? Aku tidur kalau gak di sofa ya langsung di lantai hanya ditemani oleh Guling. Kadang akun juga menggunakan kasur ambal saja sebagai alas.
Untuk jangka pendek seharusnya tidak masalah tidur seperti ini, namun jangan sampai jangka panjang terus menerus tidur seperti ini.
Karena tidak baik untuk kesehatan. Paling tidak itu yang disampaikan oleh guru olahragaku saat SMP. Entah dunia medis sekarang menyetujui pendapatnya atau tidak. Aku belum pernah membaca jurnal ilmiah kedokteran. Katanya sih bisa kena paru-paru basah kalau terlalu lama tidur tanpa alas di lantai.
Masih untung ada bantal, tidak langsung muka yang ganteng ini menyentuh keramik lantai. Cowok seperti diriku sudah biasa tidur seperti ini. Apalagi ketika KKN dulu. Namun entah apa yang akan terjadi nanti dengan kondisi tubuh yang tidur di tempat seperti ini.
Seperti dugaanku, seharian kami istirahat akibat lelahnya perjalanan. Berangkat malam hari dan sampai di Jogja ketika menjelang siang hari. Alhasil semua penumpang teler sampai malam hari baru bisa bergerak. Aku juga termasuk di dalamnya.
Meskipun malam ini kami tidak jalan kemana-mana. Kami menikmati makan malam yang sedap bersama dengan nenek. Makanan sederhana saja kalau makan bersama dengan keluarga di Jogja. Rasanya menjadi berbeda, lebih enak.
Berbeda dengan saat di rumah, rumah Eyang ini memiliki sebuah kebiasaan unik. Setiap orangnya mencuci piringnya sendiri setelah makan. Kalau di rumah, kami biasa menggunakan pembantu sehingga jarang menerapkan kebiasaan ini.
Hal ini dilakukan agar cucian tidak menumpuk. Akibat kebiasaan ini, tempat cuci piring Eyangku tidak pernah penuh. Selalu terlihat bersih. Seharusnya kebiasaan seperti ini juga ada di rumahku yang ada di kampung halaman. Memang kalau kita di tempat yang berbeda, budaya yang kita lakukan juga akan berbeda.
Aku memutuskan untuk bermain dulu sebelum tidur setelah melaksanakan makan malam. Tentunya aku tidak melewati kewajibanku sebagai penganut agama untuk beribadah shalat lima waktu. Boleh saja bermain game, tapi kalau sampai mengganggu kewajiban ibadah, perbuatan itu bisa saja menjadi haram.
*Keesokan harinya*
“Bangun Ray, sudah masuk waktu subuh.”
“ehmm”
Sama seperti ibuku, Eyang juga memiliki kebiasaan membangunkan anggota keluarga lain yang belum bangun. Aku sendiri kadang bangun pagi, kadang juga bangunya siang. Menurutku jam 05.30 itu sudah kesiangan. Apalagi di jogja, waktu shalat dan terbit mataharinya lebih cepat. Karena dari yang aku dengar, tidak boleh shalat ketika matahari terbit.
Eyang biasanya bangung lebih pagi, sering malah ia melaksanakan shalat berjamaah di masjid untuk shalat subuh. Ketika bulan ramadhan, Eyang juga yang membangunkan untuk sahur. Memang sebuah misteri, orang tua biasanya lebih mudah bangun pagi daripada anak-anaknya.
__ADS_1
Kalau remaja wajar saja, karena menurut yang aku tahu. Hormon mengalami perombakan ketika memasuki usia remaja. Mereka sulit untuk tidur malam lebih cepat. Baru sekitar jam 12 malam mereka baru merasa ngantuk. Hal ini diperparah dengan kebiasaan menggunakan gadget sebelum tidur.
Sulit untuk tidur dan bangun lebih cepat. Namun kalau sudah terbiasa, tubuh juga pasti akan mengikuti. Karena itulah, ada juga yang bilang kalau kita harus mengontrol jam biologis kita dengan teratur.
Aku langsung mengambil wudhu dan shalat ketika sudah bangung dari tidur. Khawatir kalau tidak segera duduk atau bangun, tubuh secara otomatis akan mendapatkan gaya tarik magnet menempel kembali ke bantal. Akhirnya malah tidur kembali dan kebablasan tidak shalat subuh.
Meskipun waktu subuh terlewat, kalau memang kondisi kita baru bangun. Bukan bangung ketika subuh kemudian tidur lagi tanpa melakukan shalat terlebih dahulu. Kita harus langsung menjalankan shalat subuh yang terlewat.
Daripada tidak sama sekali. Karena shalat yang tidak dilakukan harus diganti. Kalau tidak dilakukan, akan repot nanti saat proses perhitungan amal, karena shalat adalah tiang agama. Jika tiangnya saja tidak kokoh, bagaimana bangunan bisa berdiri dengan kuat.
Karena ini waktu liburan, aku tidak perlu memikirkan RPL, KD, dan dokumen mengajar lainnya. Semua informasi tentang mengajar aku simpan terlebih dahulu. Kemudian aku memainkan semua game yang sebelumnya belum sempat aku mainkan.
Game yang aku mainkan cukup beragam. Namun untuk game HP saat ini aku hanya bermain game Fate Grand Order secara serius. Serius dalam artian selalu menghabiskan energi yang ada dan tidak pernah energinya bocor.
Mengingat kapan waktu harus main dan selalu main dengan teratur. Game Hp seperti ini kemungkinan besar tamatnya jarang. Selama masih ada pemain dan servernya tidak tutup, pastinya akan ada update terus menerus. Karena ada pundi-pundi uang di sana.
Jarang sekali aku bermain game karena laptop yang aku punya tidak mendukung game triple A. Hanya bermain game sederhana saja.
Selain bermain game, aku biasanya pergi hanya ketika sekeluarga memang memutuskan pergi. Entah jam berapa keluarga akan pergi ke luar. Karena sudah kebiasaan dari keluarga kami untuk berangkat secara dadakan.
Kemudian ketika berangkat belum pada siap, biasanya nanti ada yang teriak dan berkoar-koar. Kira-kira siapa menurut kalian dari keluargaku yang melakukanya? Seharusnya jawabanya sudah jelas dan tidak perlu di tanyakan lagi.
*Siang Hari*
“Ayo jalan-jalan. Segera siap-siap” Seperti biasa, bapak yang biasanya inisiatif untuk mengajak pergi. Namun jeleknya, kadang mengajaknya secara tiba-tiba kemudian kita yang diajak dipaksa agar bersiap cepat-cepat.
Cowok sepertiku mungkin tidak perlu waktu lama, tinggal ganti baju saja lalu beres. Namun kasihan ibu dan adik yang perempuan, Yana. Mereka pastinya butuh waktu untuk dandan dan hal lainnya bukan? Sayangnya bapak tidak peduli akan hal itu, ia pengenya hanya cepat jalan-jalan, kemudian ketika barang yang sudah ia incar dapat langsung minta pulang.
Tanpa meminta pendapat dari anggota keluarga yang lain. Memang sikap bapaku ini sudah mirip diktator, ngomong tentang “a” pokoknya semua harus ikut tanpa terkecuali. Paling tidak untuk saat ini. Entah nanti ketika ia semakin tua, lebih tua dari sekarang.
__ADS_1
Kita lihat apakah sikapnya akan berubah, paling tidak melunak lah jangan galak-galak seperti ini. Nanti Takutnya ada penyakit yang muncul nantinya.
Kadang bapak juga pengen pergi tanpa tujuan, apalagi ketika sedang di luar kota. Pada kesempatan ini biasanya anak-anak yang meminta request tempat tujuan wisata. Kalau dulu biasanya aku dengan adikku Arip yang vokal bilang mau pergi kemana. Namun saat ini, kebanyakan yang meminta jalan-jalan adalah Yana, adik yang cewek.
“Ke Gram*dia pah, mau beli buku.” Ucap adik sambil berkaca-kaca membayangkan apa saja yang akan ia beli
“Langsung\, Man. Ke Gram*dia.” Bapak langsung mengarahkan Om Maman untuk pergi ke Gram*dia terdekat.
kami langsung pergi menuju gram*dia terdekat tanpa basa basi. Adikku memang suka membeli buku. Sebagian besar ia membeli novel remaja seperti cewek-cewek masa pubertas lainya. Namun tidak jarang ia juga membeli komik sama sepertiku.
Gram*dia di kota Jogja cukup banyak. Karena ia termasuk ke dalam kota besar. Di kota kelahiranku sampai saat aku menjadi guru\, belum ada satupun toko buku itu. Jogja sendiri kurang lebih memiliki 4 toko buku gram*dia. Ada yang berbentuk gerai sendiri\, ada juga yang berada di dalam mol.
Ketika aku kuliah, aku sudah pernah mengunjungi tempat tersebut. Karena itulah sekarang saat aku sudah kerja, keinginanku membeli buku menjadi berkurang. Alasan utamanya karena orang tua sudah tidak memberikan jajan dan aku mengirit pengeluaran dari gaji yang aku miliki.
Kemudian karena sekarang buku sudah pindah ke digital. Aku lebih memilih buku dalam bentuk itu. Karena tidak memakan tempat dan biasanya harganya lebih murah. Namun pada saat ini belum banyak platform yang menyediakan.
Kemampuan membeli barang saat ini tidak setinggi dahulu saat aku kuliah. Karena Keinginanku membeli buku komik juga berkurang. Hal ini akibat kebanyakan cerita yang itu-itu saja.
Kemudian karena harga komik yang semakin mahal. Mungkin hampir setiap tahun akan terjadi kenaikan. Kuhitung paling tidak dalam sebulan bisa habis lebih dari lima ratus ribu hanya untuk membeli beberapa komik.
Karena saat ini harga satu komik sudah mencapai 25.000 untuk versi reguler. Bahkan sekarang sudah ada komik dengan versi premium dengan harga mencapai 40.000 an rupiah. Mau beli sepuluh komik saja sudah harus mengeluarkan biaya 250 - 400 ribu rupiah.
Aku rasa daripada boros untuk belanja, lebih baik aku jadikan modal untuk membuat sesuatu. Mungkin investasi ke suatu tempat atau hanya sekedar ditabung saja. Karena hemat pangkal kaya. Bisa juga digunakan untuk ikut pelatihan-pelatihan bersertifikat.
Perjalanan ke Gram*dia tidak terlalu lama. Kali ini kami sampai ke sebuah Gram*dia yang ada di pinggir jalan. Gram*dia ini unik karena merupakan gedung yang berdiri sendiri\, tidak seperti kebanyakan Gram*dia yang berada di dalam pusat perbelanjaan.
Dengan sigap adik langsung pergi ke lantai tempat buku dijual. Karena Gram*dia dengan lantai seperti ini menjual barang yang berbeda di setiap lantainya. Berbeda dengan Gram*dia yang hanya memiliki satu lantai.
Untuk Gram*dia di tempat ini, lantai pertama berisi peralatan elektronik dan gym. Kemudian lantai kedua berisi alat tulis dan mainan seperti puzzle dan sejenisnya. Barulah lantai ketiga berisi buku yang adikku incar. Kira-kira apa yang akan kita temukan di lantai penuh dengan buku-buku hebat ini? Liburan di Jogja masih akan berlanjut.
__ADS_1