
Sejak pertemuan pertama itu, aku dan Uswa masih sering bertukar kabar melalui chat. Karena kesibukan kami masing-masing, kami tidak pernah melakukan ketemuan untuk kedua kalinya. Aku sendiri masih kerja di Tangerang, sedangkan Uswa juga mengajar les dan juga membantu omnya mengatur katering. Sehingga sulit sekali memiliki waktu untuk pergi jalan berdua.
Dilihat dari chat yang dikirim serta sarang dari teman-temanku, sepertinya ada kesempatan besar bagiku untuk mendapatkan wanita cantik yang satu ini. Setelah melakukan persiapan yang matang, akhirnya aku kembali mengajaknya bertemu untuk kedua kalinya. Karena hal seperti ini sebaiknya jangan ditunda-tunda.
[Uswa, ada waktu gak? Nanti makan siang bareng yuk pas hari Minggu]
[Boleh, makan siang di mana kak?]
Kami berdua membahas detail tempat ketemuannya. Namun berbeda dengan sebelumnya, kali ini aku langsung menjemputnya ke rumahnya. Tidak menunggu di rumah om Chen lagi. Karena aku sudah tahu dimana rumahnya berada. Selesai mengatur rencana ketemuan, aku hanya perlu menunggu dengan sabar hingga akhir pekan tiba.
Akhir Pekan
‘Huh, akhirnya datang juga momen ini.’ Ucapku dalam hati sambil pergi berangkat menuju tempat Uswa.
Pertemuan kali ini berbeda dengan pertemuan sebelumnya. Dengan bermodal agak sedikit nekat. Aku berniat untuk membina hubungan kami ke arah yang lebih jauh. Bukan hanya sekedar teman, namun juga bukan sekedar pacaran. Tapi melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius.
Pernikahan.
__ADS_1
Hal yang katanya didambakan semua orang dan merupakan penyempurna setengah iman. Aku sendiri entah sebenarnya sudah siap atau belum untuk menjalani lembar kehidupan yang baru ini. Namun kalau aku tunda terus-menerus, kapan nanti terlaksananya? Yang penting berani action dan tidak harus takut gagal. Karena gagal adalah keberhasilan yang tertunda.
Selesai menjemput Uswa, aku mengantarnya ke Mall yang sudah kami tentukan sebagai tempat jalan-jalan. Tempat makan juga sudah aku tentukan dan kami makan di restoran ayam geprek. Aku sempat terkejut saat melihat Uswa memesan cabe dengan level pedas yang tinggi, padahal aku sendiri hanya pesan pedas level satu.
Kami membawa pesanan kami ke meja yang kosong, kemudian kami bergiliran cuci tangan dulu sebelum makan. Aku cuci tangan terlebih dahulu kemudian aku menunggu Uswa cuci tangan sebelum mulai makan. Pada momen ini aku juga mulai membuat banyak simulasi dan menyiapkan mental sebanyak mungkin karena topik yang akan dibahas ini cukup menakutkan. Harus siap dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi.
Dengan wajah yang berusaha setenang mungkin, akhirnya Uswa datang dan mulai duduk di hadapanku. Sebelum mulai makan, aku memulai pembicaraan kepada Uswa.
“Hmm..Uswa. Aku mau ngomong sebentar boleh gak?”
“Boleh, mau ngomong apa kak?”
“Meskipun kita belum lama kenal, tapi aku merasa kita ada kecocokan. Kalau Uswa tidak keberatan, apakah Uswa mau melanjutkan hubungan ke tingkat yang lebih jauh?”
Uswa memasang wajah terkejut lalu bertanya “Hubungan yang lebih jauh seperti apa kak?”
Pembicaraan mulai berlanjut hingga pada akhirnya…Aku mendapatkan lampu hijau kalau ia mau melanjutkan hubungan ke jenjang pernikah.
__ADS_1
“Yess!!!” Sontak aku hampir berteriak. Namun karena ini di tempat umum, aku berusaha sebisa mungkin tidak mengeraskan suaraku. Uswa hanya senyum tersipu malu saja melihat tindakanku itu.
Dengan nada gembira, aku mulai menyantap makan siang kali ini. Rasanya sangat enak sekali, karena suasana hatiku sedang di atas langit. Namun meskipun aku sedang gembira, aku tidak boleh lupa kalau urusan kali ini belum selesai. Setelah selesai makan siang, aku masih harus bertemu dengan orangtua Uswa untuk membicarakan hal ini. Karena ini bukan hanya tentang kami berdua, keluarga masing-masing pihak juga memiliki peran untuk hal ini.
Pulang dari Mall, kami berdua pergi menuju tempat kediaman Uswa. Ia saat ini tinggal di salah satu kontrakan yang dimiliki oleh omku. Inilah juga yang membuat kami mulai saling mengenal satu sama lain. Saat aku ke tempat ini sebelumnya, aku buang muka dan masih belum berani untuk bertemu langsung dengan orangtua Uswa. Namun kali ini, situasi sudah berbeda. Aku sudah memiliki semangat baru untuk berhadapan dengan calon mertua.
Sayangnya, aku tidak menyiapkan apa-apa saat pergi ke tempat ini. Biasanya sih, momen ini calon menantu bawain martabak. Tapi kata Uswa, ngak papa kok mampir dengan tangan kosong.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Turun dari motor, kami berdua mulai masuk ke dalam rumah Uswa. Terdengar kalau ibu Uswa juga sedang ada di dalam rumah sedang bersantai. Ia sempat terkejut melihatku namun dengan cepat ekspresinya berubah menjadi normal lagi.
“Perkenalkan ibu, nama saya Ray. Jadi maksud kedatangan saya kesini…Ingin melamar Uswa dan membina hubungan kami ke tingkat yang lebih serius. Apakah ibu setuju?”
“...” Ibu Uswa terdiam sebentar lalu berkata “Alhamdulillah, senang ibu dengarnya. Kalua ibu sih, terserah Uswa saja. Karena kan toh, nanti yang menjalani pernikahan adalah kalian berdua. Kalua ibu mah, tergantung keluarga nak Ray saja. Keberatan gak dengan keluarga kami?”
__ADS_1
Kami memulai percakapan membahas mengenai hal ini. Kalau dari keluarga Uswa, sepertinya mereka tidak ada masalah dan menyerahkan semuanya kepada keluargaku. Kalau begitu, satu rintangan selesai. Sekarang hanya perlu untuk mempertemukan Uswa dengan kedua orang tuaku untuk meminta restu dari mereka. Barulah kami bisa membahas serius rencana resepsi dan ***** bengek rencana lainnya.
Duh, jantung sudah ah berdebar-debar seperti ini. Padahal ini masih belum tahap resepsi. Entah seperti apa nanti tegangnya pada saat itu tiba.