
Rendra melihat handphonenya. Kulirik di layar handphone miliknya, sepertinya sebentar lagi mobilnya sudah datang. Melihat hal itu, Rendra berkata kepada yang lain. "Sudah siap semua bro? Jangan ada yang ketinggalan ya barangnya. Repot nanti ngambilnya."
"Siap bro! ayo coba dicek dulu, ada barang yang ketinggalan gak?"
Aku kembali mengecek apakah ada barang yang ketinggalan. Karena sudah tahu perjalanan ini tidak akan berlangsung lama, aku tidak membawa terlalu banyak barang. Yang penting handphone saja tidak hilang. Kalau baju dan hal-hal lainnya tidak masalah hilang karena bisa beli lagi. Namun Handphone jangan sampai ketinggalan.
Mobil jemputan sudah datang dan setelah dicek, plat nomornya sesuai. Setelah memastikan semua orang naik. Kami segera berangkat ke bandara. Kali ini, aku kembali duduk di bangku paling paling belakang bersama dengan Roja. Sedangkan Ade dan Zul duduk di bagian tengah. Rendra seperti biasa duduk di kursi paling depan.
'Lelah juga ya, kurang tidur ini. Mataku tidak kuat.' itulah ucapan terakhirku dalam hati sebelum memejamkan mata kemudian tertidur di dalam mobil. Nikmat sekali memang kalau sedang naik mobil itu tidur dalam perjalanan. Meskipun anehnya, sangat tidur di mobil badan sama sekali tidak merasa segar, beda dengan saat tidur di atas kasur.
"Bagun woi, sudah sampai! " Teriak Rendra kepada kami semua.
Sebelum turun, aku mengingatkan kepada mereka jangan sampai ada barang yang ketinggalan. Kemudian kami satu per satu turun dari mobil. Karena aku dan Roja posisinya berada di paling belakang, kami harus menurunkan kursi di tengah terlebih dahulu. Barulah kami berdua bisa turun dari mobil.
Semua penumpang sudah turun dan mobil yang mengantar kami sudah pergi jauh. Namun aku baru sadar kalau ternyata handphone ku ketinggalan. Ironis sekali, padahal aku yang mengingatkan jangan sampai ada barang yang ketinggalan, malah aku sendiri yang meninggalkan barang.
"Astagfirullah, gawat ini, gawat! " Ucapku dengan panik sambil mengecek kantung dan juga tas yang aku bawa.
"Kenapa Ray? Belum minum obat kamu?" Tanya Rendra dengan nada bingung kepadaku.
__ADS_1
"Bukan, handphone ku ketinggalan."
Aku panik dan pasrah saja karena mobil sudah jauh pergi. Untungnya temanku langsung sigap dan menelepon driver yang mengantar kami. Ia langsung berbalik arah untuk mengantarkan handphone ku yang ketinggalan. Banyak-banyak aku berdoa agar handphone bisa kembali. Memang sih handphonenya murah, namun data pribadi di dalamnya yang lebih berharga. Bisa repot kalau disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Lama aku menunggu, akhirnya mobil itu datang. Si supir tidak keluar dan hanya membuka jendela mobil dan menyerahkan handphone kepada diriku. Dengan wajah yang bete ia berkata.
"Gimana sih mas, bisa ketinggalan. Bikin repot saja! " Ucap si pengemudi dengan nada kesal. Ia bahkan juga meminta ongkos bensin muter kembali ke tempat ini.
Mau tidak mau, aku memberikan uang sebesar 50.000 rupiah agar tidak terjadi perselisihan. Kemudian aku kembali ke tempat teman-temanku berada. Dengan lega aku mulai duduk kemudian kembali menyantap makan siang yang kami pesan. saat menelepon driver tadi, kami kebetulan sedang memesan makan siang.
"Gimana ya? Beres?" Tanya Rendra kepadaku.
Setelah itu, aku menceritakan apa saja yang terjadi saat aku mengambil handphone.
Rendra kemudian emosi dan heran "Buset dah, minta bayaran nganterin HP doang. Serasa kurir saja"
Temanku yang lain juga protes sama seperti Rendra. Namun karena semuanya telah lewat, aku hanya bisa tersenyum saja. Senang sekali punya teman yang peduli seperti ini. Kemudian kami melanjutkan makan siang sambil bercerita mengenai berbagai macam hal.
Selesai bercerita, kami ngemil ngemil dulu sebelum menaiki kereta. Meskipun sudah makan siang, kalau untuk cemilan, pastinya masih bisa masuk. Kami memakan cemilan sekarang karena di sekitar banyak yang jualan. Kalau sudah naik kereta, belum tentu cemilan di sana harganya sama dengan yang di sini. Bisa jadi lebih mahal. Beberapa menit kemudian, kereta kami sudah datang.
__ADS_1
"Kereta dengan tujuan Jakarta sudah sampai di peron… penumpang yang akan pergi ke Jakarta silahkan segera naik ke dalam kereta." Pengumuman kalau kereta kami datang sudah muncul.
Mendengar pengumuman, kami bergegas menuju peron kereta berada.Berbeda dengan kereta saat kami datang ke sini. Kereta yang kami naiki kali ini memiliki kualitas yang lebih bagus. Terlihat dari gerbongnya yang lebih bagus dan bersih. Selain itu, kursinya juga bisa diputar, sehingga kami semua bisa berhadapan kalau kursi diputar.
Kursinya juga empuk dan enak digunakan untuk senderan. Cukup nyaman untuk menempuh perjalanan kami yang panjang ini. Kami berangkat dari Jawa Timur saat siang hari. Kemungkinan besar kami akan sampai kembali ke Jakarta saat menjelang subuh.
Selama perjalanan, yang aku lakukan hanya tidur atau bermain handphone. Kemudian, aku juga ngobrol dengan temanku dan bermain game bersama. Cukup asik, namun lama kelamaan bosan juga kalau gak ada kegiatan atau cerita yang baru.
Kulihat, beberapa temanku sudah mulai tumbang karena lelah. Terutama Rendra, terlihat sekali dari wajah dan gelagat tubuhnya. Kalau badanya sedang tidak baik-baik saja. Dia juga mengakui hal itu. Wajar saja, karena ia kurang lebih yang mengatur perjalanan kami untuk jalan-jalan kali ini. Pastinya ia menghabiskan energi yang lebih besar daripada yang lain.
Sepertinya sisa hari minggu ini akan kami semua jalani untuk istirahat. Perjalanan ini membuatku bertekad, kalau pergi seorang diri, perjalanan jauh pakai pesawat saja. Terasa terasa sekali badan ini lelah kalau puluhan jam melakukan perjalanan.
Puluhan jam kami melakukan perjalanan. Aku melihat banyak perjalanan saat di jalan. Temanku yang lain bertindak sebagai guide karena mereka pernah kuliah di sekitar wilayah ini. Senang sekali, serasa dapat tour guide gratis. Namun seperti rel kereta yang lain, kebanyakan pemandangan adalah kalau tidak sawah, sungai, ya dalam hutan. Karena tidak mungkin bisa semudah itu membangun rel di area perkotaan.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang, akhirnya kami sampai di stasiun kami berangkat dari Jakarta. Sesuai dugaan, kami sampai di stasiun saat subuh. Kami semua keluar dari kereta satu per satu dan memastikan kalau tidak ada barang yang tertinggal. Kali ini aku bisa bernafas lega karena semua barang sudah lengkap di bawa.
Sebelum keluar stasiun, kami menanti subuh terlebih dahulu karena mushola stasiun tidak bisa kita masuki kalau kita sudah keluar dari peron tiket. Tidak perlu menunggu lama, adzan sudah berkumandang.
“Allahuakbar Allahuakbar” Adzan dengan alat digital dikumandangkan di mushola stasiun.
__ADS_1
Kami segera mengambil wudhu dan mengambil posisi shaft untuk melaksanakan shalat. Memang kalau di tempat umum seperti ini, terkadang adzan nya orang yang kumandangkan. Terkadang juga menggunakan alat digital yang sekarang sudah marak digunakan di tempat-tempat umum. Berbeda dengan mushola ataupun masjid yang ada di desa-desa, kebanyakan mereka masih ada muadzin untuk mengumandangkan Adzan.