Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 108 Kembali WFO 6


__ADS_3

Beberapa hari berikutnya, rutinitas yang aku lakukan tidak banyak berubah. Bangun pagi untuk sahur, beres-beres rumah, bermain sebentar saat pagi hari, berangkat ke kantor, kerja, pulang kantor, main lagi, kemudian barulah tidur. Selama ini kurang lebih inilah yang aku lakukan saat hari kerja dan selama bulan ramadhan. Belum ada hal-hal spesial yang terjadi selama ini terjadi.


Sesuai dugaan, bahkan hingga satu minggu ini, pak Tian sama sekali tidak memberikan shift untuk siapa saja yang harus kerja di kantor. Malahan semua karyawan dipaksa untuk masuk kerja kembali. Sudah tidak boleh WFH lagi. Memang benar tidak bisa percaya dengan omongan orang yang satu ini. Hanya manis di depan saja namun kenyataannya pahit.


Untungnya aku jadi mengontrak di tempat yang baru ini sehingga aku tidak bolak balik dari rumah orang tua ke Tangerang. Bisa-bisa badan encok nantinya. Kemarin saja pernah nyoba seperti itu baru satu hari saja badan sudah pegal sekali. Tentunya perlahan-lahan aku juga membeli beberapa barang-barang untuk membuat tinggal di kontrakan menjadi lebih nyaman. Seperti kata pepatah, rumahku adalah istanaku. Harus kita hias dan buat senyaman mungkin untuk kita tinggali.


Berbeda dengan saat ngekost jaman kuliah dulu. Kali ini dinding ruang kontrakan masih seperti seperti keadaan awal aku mengontrak. Tidak ada modifikasi yang aku lakukan. Poster dan merchandise anime lainnya semuanya tidak aku pasang di sini. Karena ini bukan rumah utama, mungkin nanti kalau sudah ada rumah, barulah aku mulai menghias rumah itu senyaman mungkin. Tetapi untuk kontrakan ini, hanya kebutuhan-kebutuhan pokok saja agar kehidupan kontrakan menjadi nyaman dan tentram.


Aku teringat saat awal ngontrak di tempat ini, masih banyak kecoa yang sering mondar-mandir. Awalnya aku kaget, namun untungnya aku sudah membeli semprotan pembasmi kecoa. Setelah dua kali menggunakan alat tersebut, kontrakan menjadi bebas dari mereka. Sepertinya semprotan ini ampuh juga untuk menangkal agar kecoa tidak muncul lagi.


Selain bekerja, ada hal lain juga yang sempat aku lakukan bersama dengan pak Suharno. Ternyata ia memiliki kepercayaan yang sama denganku. Karena itulah saat hari Jumat, beliau sempat berkata seperti kepadaku.


“Mau sholat jumat dimana, Ray?”


“Ngak tahu nih pak, masih belum tahu dimana saat pandemi ini masjid mana yang buka”


Saat pandemi seperti ini, beberapa masjid yang biasa aku samperin saat jumatan tidak beroperasi. Karena itulah aku sempat kebingungan mau shalat dimana. Apalagi karena aku tidak punya kendaraan, harus mencari masjid yang bisa dicapai dengan berjalan kaki. Mendengar perkataanku, dengan santai pak Suharno menjawab.

__ADS_1


“Tenang saja Ray, ada kok masjid dekat sini. Nanti berangkat bareng ya”


“Baik pak”


ketika waktu shalat jumat tiba, pak Suharno menutup layar laptopnya kemudian mengajakku untuk mulai jalan ke masjid. Aku mengikuti langkah pak Suharno dan menutup laptop kerjaku sambil membawa handphone dan juga dompet. Meskipun kemungkinan besar aku tidak akan beli makan (karena sedang puasa), namun tidak ada salahnya membawa dompet untuk berjaga-jaga. Harus hati-hati juga jangan sampai dompetnya hilang atau tertinggal.


Kami berdua turun dari gedung kantor kemudian menyeberangi Jembatan Penyeberangan Orang (JPO). Dalam perjalan, kami melihat ada juga beberapa orang yang sedang berjalan menuju masjid untuk menjalankan ibadah shalat jumat. Beberapa menit kami berjalan, akhirnya kami sampai ke masjid yang menjadi tempat tujuan kami kali ini. Selama perjalanan,  juga kami sempat mengobrol ringan hal-hal yang tidak terlalu penting.


Sampai di masjid, kami mencopot alas kaki yang kami gunakan kemudian kami berpisah setelah masuk masjid. Terutama saat menuju tempat wudhu, kami mulai berpisah sejak saat ini. Saat mengantri giliran wudhu, kulihat kebanyakan pria yang datang ke masjid ini semuanya mengenakan pakaian kantor. Mungkin kebanyakan memang orang kantoran yang shalat jumat di tempat ini.


Beres mengambil wudhu, aku memastikan barang bawaanku masih lengkap. Kemudian aku pergi menuju tempat shalat. Masjid tempatku berada ini cukup luas. Selain ada aula utama masjid. Teras yang biasanya menjadi tempat berjalan disulap menjadi tempat shalat dengan menggunakan terpal, karpet, maupun barang lainnya yang bisa digunakan sebagai alas. Karena itulah kapasitas menampung untuk tempat ini menjadi lebih besar. Bahkan masjid ini juga memiliki lantai dua yang bisa digunakan untuk shalat.


Shalat Jumat aku jalankan seperti biasa, tidak ada yang berbeda dari saat shalat jumat selain ramadhan. Namun kalau bulan biasa, biasanya beberapa masjid memberikan snack dan minuman kepada para jamaah. Tentunya karena sekarang kita tidak boleh makan dan minum saat siang hari akibat puasa, tidak ada petugas masjid yang memberikan takjil ataupun sejenisnya.


Berbeda saat berangkat tadi, aku tidak kembali ke kantor bersama dengan pak Suharno. Aku sudah menunggu beberapa menit namun tidak kelihatan juga batang hidungnya. Entah beliau sudah duluan kembali ke kantor atau masih lama berdoa. Merasa sudah menunggu cukup lama, aku kembali ke kantor seorang diri.


Ketika sampai di kantor, benar saja pak Suharno sudah kembali ke mejanya dan sedang istirahat. Kedatanganku membuatnya terbanugn dari tidurnya. Melihat pak Suharno sempat tidur, aku tergoda untuk melakukan hal yang sama. Karena itulah aku pergi ke kantorku yang lama untuk tidur siang sebentar. Kebetulan aku sempat menyimpan bantal di meja sana.

__ADS_1


Selesai tidur siang, aku kembali menjalani pekerjaan seperti biasa. Kurang lebih itulah yang aku lakukan selama kembali kerja di kantor. Tentunya terkadang beberapa karyawan ada yang tidak WFO dengan berbagai alasan. Namun feelingku mengatakan lama kelamaan WFO ini tidak akan bekerja secara maksimal. Karena kondisi pandemi masih seperti ini.


Selain pekerjaan, terkadang juga pak Tian datang ke ruangan kerja kami untuk melakukan rapat. Sama seperti biasa, apa yang keluar dari mulutnya selalu manis namun berbeda dengan kenyataan. Sok sokan ngomong soal krypto dan sebagainya. Memang perasaan ini buruk untuk disimpan, karena itu saat bertemu denganya, aku banyak-banyak mengucapkan istighfar di dalam hati untuk terhindar dari pikiran negatif.


Selama kerja WFO, aku juga merasakan ada feeling aneh yang mulai terasa. Ternyata feelingku ini nantinya beneran terjadi ketika selesai bulan ramadhan nanti. Namun sebelum sampai ke sana, ada hal-hal baru yang terjadi di dalam kantor.


Pertama, sekarang mulai diberlakukan absensi setiap hari. Jadi ketika kita masuk dan juga pulang dari kantor, harus mengisi lembar absensi yang disediakan. Kita juga harus memasukkan kegiatan apa yang telah kita lakukan hari ini. Melihat formnya saja aku sudah malas mengisinya. Namun karena formulir ini bersifat wajib, mau tidak mau aku harus melakukanya.


Kedua, ada beberapa proyek baru yang aku sama sekali tidak campur tangan di dalamnya. Hal ini membuat perasaan buruk yang tadi aku rasakan semakin besar. Namun untungnya saat meeting aku tidak disuruh keluar namun masih boleh mengikuti rapat, meskipun aku sama sekali tidak ikut campur di dalam proyek tersebut.


Ketiga, aku merasakan aku sama sekali tidak berkembang di tempat ini. Tools untuk membuat aplikasi tidak populer. Aku sama sekali tidak pernah mendengar ada lowongan kerja yang khusus meminta stafnya bisa menggunakan aplikasi ini. Aku khawatir kalau selama aku kerja di sini, tidak ada ilmu baru yang aku dapatkan.


Buktinya terlihat jelas saat pak Suharno memintaku untuk membuat sesuatu. Namun karena aku kurang lihai dalam live coding. Aku sempat mendapatkan semprot dari orang ini. Tentunya sebagai manusia ,aku tidak mau disalahkan dan melemparkan kesalahan kepada perusahaan yang tidak memberikan training. Namun alasan itu langsung ia tolak mentah-mentah. Agak kesal juga sih namun aku hanya bisa bersabar, apalagi sekarang sedang puasa. Ditambah dia memang lebih senior, sehingga aku harus menghormatinya di kantor.


Selain ketiga hal diatas ada juga beberapa hal yang terjadi di kantor. Seperti Angel yang tidak terlalu semangat untuk menyapa di pagi hari, serta masalah-masalah kecil lainnya. Namun ada satu insiden besar terjadi ketika aku mulai bekerja kembali di Tangerang.


Kontrakanku kemalingan…

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2