
Setelah memastikan bahwa aku sudah deal akan mulai mengajar di sekolah. Aku menanyakan perihal mengenai jam mengajar yang aku dapatkan. Karena informasi ini nantinya akan sangat berhubungan dengan schedule sehari-hari. Jangan sampai jadwalku berantakan karena ketidaktahuan mengenai hal ini.
“Pak Ray mendapatkan jatah mengajar 52 jam seminggu. Apakah bapak keberatan atau memiliki permintaan untuk mengatur jadwalnya?”
“Tidak ada bu, atur aja gimana baiknya. Saya tidak ada permintaan aneh-aneh”
Meskipun wakasek kurikulum menawarkan padaku untuk permintaan jam mengajar. AKu tidak mengambil tawaran itu. Karena aku tahu, betapa sulitnya untuk mengatur jadwal semua guru dengan semua kelas yang ada. Kalau ditambah dengan request guru masing-masing. Bisa-bisa gak selesai-selesai itu jadwal. Aku menghindari memberikan request karena alasan ini.
Lalu aku pamit pulang setelah pembicaraan kami selesai. Tidak ada tanda tangan kontrak dan juga tidak ada tes yang dilakukan sebelum aku mengajar. Karena aku sudah punya track record mengajar di tempat ini sebelumnya. Sehingga aku tidak melalui tes macam-maca. Meskipun saat pertama kali mengajar di sini pun, aku tidak melakukan sesi tes interview ataupun wawancara.
Sampai di rumah, aku mulai memikirkan mengenai langkahku berikutnya. meskipun dari kedua tempat kerja membolehkan aku untuk kerja ganda. Tidak perlu melepas pekerjaan di Darka. Melihat jadwal yang aku dapatkan, serta membayangkan apa saja yang akan aku lakukan kedepannya. Sepertinya memang aku harus melepaskan Darka.
Bisa-bisa aku jadi kehilangan nyawa akibat kecapean. Penyebab kematian yang menurutku sangat aneh dan tidak masuk akal. Masa iya ada orang yang dengan sengaja kerja melebihi kapasitas yang ia bisa sampai meninggal. Karena itulah dengan segera aku memulai prosedur untuk melepas pekerjaan di Darka.
[Selamat siang. Mas Steven. Saya mau ngabarin kalau pengajuan cuti di dashboard teacher sudah saya lakukan. Kira-kira, apa langkah berikutnya?]
__ADS_1
[Loh, kok tiba-tiba keluar. Ada apa mas Ray?]
Aku mulai menjelaskan alasan aku melepas pekerjaan tersebut. Mendengar kisahku, mas steven menghargai keputusanku dan membalas chat.
[TIdak apa-apa. Mas Ray. Saya hargai pendapat dirimu. Meskipun sayang sekali kamu harus pergi. Karena kinerjamu bagus di sini. Semoga, nanti kita bisa bertemu lagi dilain kesempatan]
[Terima kasih, mas Steven]
Menurut informasi yang aku dapatkan, pengunduran diri dari Darka memerlukan waktu yang tidak cepat. Tergantung dari seberapa banyak murid paid yang aku miliki. Karena aku memiliki lebih dari 7 murid paid, aku harus menunggu selama 15 hari agar aku bisa keluar dari Darka. Sambil menunggu momen itu, aku masih harus mengajar kelas paid sampai waktunya habis.
Kelas demo tidak bisa aku ambil lagi dan telah diblokir dari pihak Darka. Hal ini dilakukan agar aku tidak bisa mendapatkan murid lagi. Melihat kalau sepertinya waktuku di Darka sudah tidak lama lagi, aku hanya bisa nostalgia pengalaman berharga selama beberapa bulan terakhir di Darka.
“Baiklah, waktunya untuk bersiap-siap mengajar di SMK”
Aku mulai bersiap-siap untuk kelas yang akan aku ajar di SMK nanti. Karena aku sudah mendapatkan kasaran akan mengajar materi apa. Sedikit demi sedikit aku mulai mengumpulkan materi yang harus aku ajarkan. Hanya ada satu hal yang membuatku bingung.
__ADS_1
Kurikulum Merdeka
Aturan yang baru diperlukan beberapa tahun belakangan. Mengganti kurikulum yang lama. Semua mapel dan juga prosedur banyak diubah dengan dasar untuk menghasilkan lulusan yang lebih baik. Entah akan seperti apa nanti hasil dari kurikulum ini. Apakah bisa dibilang sukses atau tidak, hanya masa depan yang dapat menentukan.
Karena aku tidak memiliki banyak data akan hal ini, aku hanya bisa mencari banyak hal dari yang sudah beredar di internet. Meskipun aku tidak bisa melakukan verifikasi apakah data yang aku cari valid atau tidak. Mungkin saja nanti kedepannya, akan ada pelatihan ataupun workshop agar aku bisa lebih mudah memahami hal ini. Bisa juga aku nanti akan mencari informasi tentang hal ini dari guru lain.
Perasaan takut dan gelisah pastinya muncul akibat dari ketidaktahuan hal baru ini. Namun aku yakin, semua masalah ada solusinya. Kita tidak tahu, bisa saja solusi masalah ini muncul dari hal yang tidak terduga-duga. Semoga saja, masalah yang ini juga akan selesai dengan cara yang sama.
Pastinya banyak berdoa dan tetap harus berusaha untuk menjalani hidup dan memecahkan setiap masalah yang ada. Karena tidak mungkin selama kita hidup, semuanya berjalan dengan enak dan lancar. Masalah cepat atau lambat pasti akan muncul dihadapan kita. Tinggal bagaimana cara kita untuk mengatasinya.
Saat ini aku kembali menjadi guru. Berkat pengalaman sebelumnya, aku sudah tahu secara garis besar apa saja masalah yang akan aku hadapi. Tinggal bagaimana aku mengatasinya dengan resource yang aku miliki. Percayalah, Allah tidak akan memberikan masalah kepada hamba melebihi kapasitasnya.
Tetap semangat menjalani kehidupan dan berusaha berbuat baik sebanyak mungkin. Karena itulah salah satu hal yang membuat kita bisa bahagia di dunia ini.
“Hah, kira-kira murid seperti apa yang nanti akan aku hadapi?”
__ADS_1
Pikirku sambil melihat ke arah langit nun jauh di sana.
*Tamat*