Dunia Kerja Penuh Warna

Dunia Kerja Penuh Warna
Ch. 114 Pemutusan Kontrak 2


__ADS_3

Setelah mendapatkan kabar kalau aku tidak bekerja di tempat ini lagi. Aku langsung galau dan tidak tahu harus melakukan apa. Melakukan pekerjaan seperti biasanya juga aku sudah tidak mood. Mau tidak mau, aku langsung menelpon orang tuaku untuk memberitahukan kabar ini. Ternyata, beruntung juga tidak ada orang yang sedang ke kantor hari ini. Jadi tidak ada orang yang melihatku saat sedang terpuruk seperti ini.


Ibuku mendengarkan ceritaku dengan baik hingga aku selesai memberikan semua keluh kesah yang aku rasakan, ia berkata sebelum menutup telepon.


“Gak papa nak. Meskipun sudah tidak kerja di sini lagi. Percayalah, Allah pastinya akan memberikan yang terbaik untuk hambanya. Serta tidak mungkin Allah memberikan cobaan melebihi kemampuan hambanya.”


“Baik bu, Ray akan tetap bersabar. Sampai jumpa lagi ya bu. Nanti setelah selesai mengurus masalah di sini. Aku akan kembali pulang.”


Beres curhat dengan ibu, aku langsung menutup telepon. Kemudian aku menghubungi teman dekatku untuk kembali curhat. Namun kali ini hanya melalui chat. Seperti biasa, banyak dari mereka yang mengucapkan bela sungkawa. Kebanyakan dari mereka juga menyuruhku untuk tetap tegar.


Memang aku sedih, namun aku sudah sempat merasakan feeling ini dari beberapa minggu yang lalu. Terlihat dari ada beberapa staf yang sepertinya mulai menjauhi diriku. Kemudian terlihat dari diriku yang tidak mendapatkan pekerjaan baru. Apalagi kalau dilihat dari trak kerjaku, hampir setahun ini, aku tidak melakukan pekerjaan apapun.


Karena itulah kalau dilihat dari segi itu, wajar saja kontrak diriku tidak diperpanjang. Aku tidak masalah mengenai hal ini. Namun masalah besarnya adalah, pemberitahuan yang terlalu mendadak. Masa iya cuma dikasih waktu satu hari sebelumnya kalau kontraknya diputus.


Mengingat kejadian itu, kembali amarahku memuncak. Ingin rasanya aku memukul-mukul wajah pak Tian itu. Dengan kepalanya yang tidak ada rambut serta mimik wajahnya yang tersenyum saat memberitahukan aku tidak kerja di sini lagi. Membuat amarahku kembali memuncak.


*Buk Bak Buk.* Suara tanganku mulai memukul kursi. Kursi di kantorku cukup empuk sehingga tidak menimbulkan suara saat dipukul. Mau tidak mau aku harus menyalurkan amarah ini ke suatu barang.


“Haah…haaah….Astagfirullah” Ucapku saat sudah mulai lelah memukul kursi. Dengan badanku yang jarang olahraga ini, tidak heran kalau aku cepat merasakan kelelahan.

__ADS_1


Setelah emosi lebih stabil, aku kembali membaca istigfar kemudian melihat ke sekitarku. Apakah ada orang yang melihat apa yang barusan aku lakukan. Karena malu sekali kalau ada yang lihat.


“Untungnya gak ada yang lihat!”


Memastikan bahwa situasi aman, aku kembali merenung apa saja yang sudah terjadi selama ini. Terlihat sih, pekerjaan kantor mulai tidak enak setelah pak Tian hadir. Karena ini orang tiba-tiba muncul entah darimana terus sok sokan memerintah tim kami. Ia juga memiliki tim sendiri yang merupakan IT juga namun mengerjakan proyek lain. Saat mendengar hal ini, aku curiga akan segera terjadi sesuatu yang besar di perusahaan ini.


Apalagi saat korona, terlihat sekali kalau situasi semakin tidak jelas. Pak Randy mengundurkan diri. Kerjaan menjadi tidak enak semanjak pak Tian masuk ke sini. Pokoknya menurutku pekerjaan menjadi tidak enak semenjak kehadiran orang yang tidak memiliki rambut kepala itu.


Memang dari satu tahun yang lalu. Aku sudah mikir untuk pindah kerja. Karena aku sama sekali tidak mengerti apa yang harus aku lakukan saat ini. Saat korona menimpa, aku kesulitan untuk mengerjakan tugas karena tidak bisa menanyakan kepada senior bagaimana cara mengatasi masalah yang aku temukan. Meskipun sudah dijelaskan via WA ataupun video call, aku masih tidak bisa paham dan belum menemukan jawabannya.


Mungkin ini juga pertanda bagiku untuk segera ganti pekerjaan. Selama kita giat berusaha, pastinya tidak akan menghianati hasil yang kami dapat. Mengingat hal itu, aku kembali menjadi bersemangat dan langsung membereskan apa yang harus aku lakukan sebelum pindah tempat kerja.


Kemudian kita harus mendelegasikan tugas yang kita emban saat ini. Kita berikan kepada karyawan lainnya yang masih kerja di sini. Kalau ada pekerjaan yang belum selesai, merekalah yang bertugas untuk menyelesaikan nya. Aku mengurus hal itu dengan menghubungi pak Sabar dan pak Rawan.


Pak Sabar untuk mengembalikan laptop kantor dan pak Rawan untuk mendelegasikan tugas yang belum sempat aku selesaikan. Kebetulan banyak file yang telah hilang, karena laptop kantor sebelumnya telah dicuri. Karena itulah berkas yang harus aku serahkan tidak terlalu banyak.


Tentunya mereka berdua sempat kaget melihatku melakukan hal ini. Ketika ditanya, aku jawab saja sejujurnya, kalau besok sudah tidak kerja di sini lagi.


[Waduh, mendadak amat ini. Ya sudah kalau begitu. Ray tetap semangat ya meskipun sudah tidak di tempat ini.]

__ADS_1


Kurang lebih begitulah kalimat chat yang aku terima dari mereka. Mereka semua kaget mendengar berita kalau aku tidak lagi bisa kerja bersama. Terlihat kalau sepertinya keputusan ini juga dibuat dengan terburu-buru dan tidak diberitahukan ke rekan yang lain sebelumnya.


Memastikan semua urusan sudah beres, aku hanya memikirkan langkah yang aku harus lakukan setelah ini. Pastinya besok aku akan ke kantor lagi, untuk membereskan pemindahan berkas dan juga serah terima alat kantor. Kemudian aku harus menunggu surat pengalaman kerja yang dikeluarkan oleh perusahaan. Sepertinya satu minggu atau beberapa hari kedepan, aku akan kembali ke kantor ini untuk mengambil surat tersebut.


Kemudian yang terakhir, aku harus kembali pindah kontrakan. Semua barang yang ada di sana sudah harus dipindahkan karena aku sudah tidak akan bekerja di Tangerang lagi untuk saat ini. Setelah selesai mencatat semua kegiatan tersebut, aku kembali mencari kesibukan sambil menunggu jam kerja pulang untuk hari ini.


Setelah jam kerja datang, dengan cepat aku langsung menaruh barang di lemari kantor. Kemudian pulang kembali ke kontrakan. Nyicil bersih-bersih sekalian menyiapkan hal-hal yang lain. Biar nanti gak terlalu berat kerjanya saat hari pindahan tiba.


*Keesokan harinya*


Aku kembali ke kantor untuk melakukan serah terima alat kantor serta dokumen kerjaan yang belum selesai. Saat sampai di kantor, aku hanya menunggu pak Sabar saja untuk menyerahkan alat fisik berupa laptop kantor. Untuk dokumen mengenai pekerjaan, semuanya sudah saya kirimkan secara online melalui email.


“Wah, yang semangat ya pak Ray. Tenang saja, Allah pasti akan ganti yang lebih baik.” Ucap pak Sabar sambil menerima laptop yang aku serahkan.


“Makasih ya pak. Saya juga cukup kaget sih tiba-tiba dapat pesan seperti ini.”


Kami melanjutkan berbincang dan aku menemukan fakta yang menarik. Ternyata, aku bukan orang pertama yang mendapatkan pemecatan secara tiba-tiba seperti ini. Sudah ada korban sebelum diriku yang juga mendapatkan perlakuan yang sama. Apalagi kondisinya dia sudah berkeluarga dan anaknya baru saja masuk kuliah. Lebih ekstrim lagi kondisinya daripada diriku.


‘Ternyata kelakuan nya banyak juga ya’ Ucapku dalam hati sambil mendengarkan gosip lainnya dari mulut pak Sabar.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2